Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Hendy yang perhatian


__ADS_3

Setelah grand opening beberapa hari lalu, orderan butik Kikan membeludak. Banyak orang yang memesan baju ke butiknya, ada pula yang datang dan langsung membeli baju yang ready stock. Kikan bersyukur, karyanya banyak diminati orang banyak. Pelanggan nya pun tidak hanya datang dari kotanya saja tapi juga ada beberapa yang datang dari luar kota.


Oleh sebab itu beberapa hari ini, Kikan selalu sibuk. Mulai ruko buka, dia sudah berkutit dengan buku sketsa kemudian menuangkan nya ke lembar pola kemudian ke kain, dipotong sesuai pola lalu mulai dijahit. Kikan kini juga menambah beberapa tenaga penjahit untuk membantunya menyelesaikan pesanan pelanggannya. Seperti hari ini, dari mulai buka Kikan sudah sibuk di depan meja kerjanya, ia hampir lupa kalau istirahat makan siang hampir terlewat.


 


"Mbak, pesan makanan delivery ya ?", tanya Amel yang sudah datang menghampirinya. Kikan kaget dan menghentikan kegiatannya sebentar.


"Enggak, Mel. Aku gak pesan apa-apa tuh ", jawab Kikan.


"Tapi, Masnya kok bilang pesanan atas nama Mbak Kikan, alamatnya juga betul kok. Coba di cek ke bawah, Mbak", ajak Amel. Kikan segera bangkit dan bergegas turun ke bawah.


"Pesanan untuk siapa, Mas ?", tanya Kikan begitu dia sampai di bawah.


"Pesanan atas nama Mbak Kikan, Mbak namanya Kikan ?", tanya mas kurir itu.


"Iya, saya Kikan tapi saya gak merasa memesan ini semua", jawab Kikan.


"Ini semua sudah dibayar kok, Mbak, dan dipesan oleh Pak Hendy untuk Mbak Kikan. Jadi Mbaknya tinggal terima saja", jawab mas kurir itu. Kikan hanya terdiam begitu mendengar nama Hendy, sedang Amel dan Rika hanya senyum-senyum menggoda Kikan.


"Udah Mbak, diterima saja, mubasir kalau gak diterima lagian Mbak Kikan dan kita semua juga belum makan siang kan ?", kata Rika.


"Kalau gitu, taruh sini aja, Mas", sahut Amel kini menyuruh mas kurir meletakkan makanan itu di meja.


"Tunggu dulu, kalian ini kok main terima saja sih ", ucap Kikan sewot.


"Sudah Mbak, diterima saja", ucap Rika kini.


"Iya Mbak, masak harus saya bawa balik ke restoran malah nanti saya yang kena omel. Urusan Mbak sama Pak Hendy, nanti saja yang penting di terima dulu. Saya juga harus mengirim ke tempat yang lain ini", ucap mas kurir itu menjelaskan.


"Ya sudah, taruh situ saja Mas. Nanti saja saya telpon Pak Hendy", ucap Kikan akhirnya.


"Nah gitu dong, Mbak. Saya harus bergegas ini, silakan tanda tangan disini Mbak", ucap kurir itu sambil menyodorkan secarik kertas.

__ADS_1


"Mel, kamu tanda tangani, geh ", suruh Kikan.


"Kok saya Mbak ?", kata Amel balik tanya.


"Lah, kan emang kamu yang terima, sudah cepet tanda tangan, kasihan Masnya nungguin", suruh Kikan lagi. Akhirnya dengan bersungut, Amel menanda tangani nota itu.


"Makasih ya, Mbak. Saya permisi dulu", pamit kurir itu sopan. Kikan hanya mengangguk. Ia tak habis pikir mengapa Hendy memesan begitu banyak makanan, apa dia tahu kalau aku sedang sibuk ?.


"Mbak, ayo kita makan !. Banyak banget ini makanannya", ajak Rika.


"Iya, panggil Ida dan Yenni juga untuk turun dan ikut makan, mereka belum makan juga kan ", perintah Kikan. Rika langsung mengangguk dan bergegas memanggil Ida dan Yenni, dua karyawan baru yang membantu Kikan menjahit.


"Mbak Kikan, gak ikut makan ?", tanya Amel kini ketika mereka berempat mulai makan.


"Nanti saja, aku selesaikan pekerjaan ku dulu", jawab Kikan acuh dan bergegas naik ke lantai dua kembali ke meja kerjanya.


"Mbak Kikan kenapa ya ?. Ada cowok yang merhatiin malah cuek gitu dan kesannya juga gak suka. Padahal kalau dilihat Pak Hendy yang tempo hari datang ke ruko juga gak jelek-jelek amat, ganteng malahan cuman tubuhnya aja kurang proporsional jadi kelihatan terlalu kurus", ucap Rika.


"Iya, iya ... kita wajib bersyukur dapat rejeki nomplok hari ini", jawab Rika lagi.


"Huh ... dasar kamu ", kata Amel disambut tawa ketiganya.


Sementara itu di lantai dua, Kikan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Namun, baru saja konsentrasinya terfokus tiba-tiba sebuah nada dering telepon masuk ke ponselnya. Kikan melirik ponselnya dan melihat kalau yang menelpon adalah Hendy. Dengan ragu, akhirnya dijawab juga panggilan dari Hendy.


"Halo ....", sapa Kikan.


"Halo Kikan, sudah makan siang belum ?", tanyanya.


"Iya, ini lagi makan. Eh ... terima kasih ya kirimannya ", kata Kikan berbohong.


"Kamu suka ?", tanya Hendy lagi. Jujur saja Kikan bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia tidak tahu menu apa saja yang dipesan Hendy untuknya selain itu ia juga tidak mau menyinggung perasaan Hendy.


"Kamu gak suka ya ? kok diem saja ", tanya lagi.

__ADS_1


"Eh ... enggak aku lagi mengunyah makanan.


Nih ...", bohong Kikan sambil mengadukan gigi-giginya supaya terdengar sedang mengunyah makanan.


"Hehehe ... maaf aku jadi mengganggu mu ya ?".


"Ya sudah kalau gitu terusin makannya ya ?. Nanti aku telepon lagi", pamit Hendy. Kikan buru-buru menutup ponselnya. Huh, gara-gara Hendy aku jadi lapar. Kikan bangkit dan bergegas turun ke bawah.


"Mbak, mau makan ?", tanya Amel. Kikan hanya diam melihat keempat karyawannya sedang asyik menikmati makanan.


"Sini Mbak, sudah saya siapin tadi buat Mbak Kikan ", ucap Amel lagi. Kikan segera berjalan menuju meja yang sudah disiapkan Amel, lalu duduk dan memulai makan.


Ada gurami asam manis, capcay, mie goreng, ayam goreng,sambal, lalapan dan jus alpukat. Ini sih sudah banyak banget kalau harus dihabiskan Kikan sendiri. Kikan menoleh keempat karyawannya yang sedang asyik makan, mereka sangat lahap.


"Kalian gak ada yang mau nambah lagi ?. Aku gak bakalan bisa menghabiskan semuanya", seru Kikan.


"Enggak Mbak, kami sudah kenyang. Porsinya emang banyak banget", seru Rika yang diiyakan oleh ketiga temannya.


Kikan hanya menghela nafas, lalu mulai menyantap makan siang kiriman dari Hendy. Memang semua menu itu adalah favoritnya dan semua rasanya enak. Pasti Bobby yang sudah memberi tahu Hendy semua kesukaannya. Ah, anak itu selalu saja ikut campur urusannya meskipun Kikan tahu tujuannya baik tapi tetap saja Kikan kesal dengan sifat Bobby itu. Mungkin, aku harus menegur Bobby yang terlalu ikut campur urusan pribadiku. Ya ... aku harus menegurnya, pikir Kikan.


"Huk huk huk ..". Tiba-tiba Kikan terbatuk-batuk akibat pikiran kesalnya terhadap Bobby.


Amel dan Rika bergegas mengambil air minum untuk Kikan.


"Hati-hati Mbak ", ucap Rika. Kikan hanya mengangguk sambil meminum air yang disodorkan Rika.


"Mungkin Mbak Kikan lagi kepikiran Pak Hendy ya ? jadi tersedak gitu makannya ", goda Amel.


"Huh ... ngawur kamu, Mel. Aku dan Hendy gak ada apa-apa kok, cuma teman ", jelas Kikan.


"Ada apa-apa juga gak pa-pa kok, Mbak ", goda Rika kini.


"Ih, kalian ini. Sudah, ayo cepetan kalau sudah selesai makan lanjutkan pekerjaannya", kata Kikan mengalihkan topik pembicaraan. Rika, Amel, Ida dan Yenni hanya senyum-senyum melihat tingkah Kikan yang tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2