
Adrian terduduk lesu di kamarnya, ia menyesal harus datang ke pesta Om Kevin tadi malam, andai ia bisa mengulangnya. Kepulan asap keluar dari mulutnya, beberapa batang rokok sudah menemaninya semalaman padahal ia sudah lama tidak menghisapnya. Tapi entah mengapa kekesalan dan kesedihannya membuat ia kembali menghisap rokok lagi.
Jam sudah menunjukkan angka 7, biasanya jam segini dia sudah bersiap dan rapi untuk berangkat kerja. Tapi sekarang ia tampak lusuh, berantakan dan tak bersemangat. Bajunya yang dipakai semalam masih melekat di tubuhnya, rambutnya kusut berantakan, matanya merah seperti orang belum tidur semalaman.
Bunyi bel menggema di apartemen Adrian, lagi-lagi bunyi bel itu terdengar di apartemen kecilnya. Dengan malas Adrian bangkit dari duduknya, langkahnya lunglai dan goyah seperti orang yang sudah lemah.
Adrian membuka perlahan pintu apartemennya tampak Irene dan Feril sudah berdiri dengan wajah kuatir menatap Adrian.
"Ian .... kamu gak pa-pa ?", tanya Feril. Meskipun Feril dan Adrian saudara sepupu tapi mereka sangat dekat seperti seorang sahabat saja. Adrian hanya mengangguk sambil menghempaskan tubuhnya di sofa putih.
"Aku datang terlambat tadi malam, aku datang saat pengumuman pertunanganmu dengan Tania. Aku mengejarmu semalam tapi kamu pergi begitu saja ", ucap Feril lagi. Adrian hanya mengangguk sambil meremas-remas rambutnya.
"Ian .... mengapa kamu tidak menolaknya ?", tanya Feril lagi.
"Aku sudah menolaknya berulang kali, Ril. Aku sudah bilang kalau aku sudah punya pilihan. Aku sudah punya Kikan, aku lebih memilih dia. Tapi Mama malah menjebakku. Aku kadang heran dengan Mama, dia Mama kandungku atau Mama tiriku sih. Mama mana yang rela menjual kebahagiaan anaknya demi obsesinya sendiri ", kata Adrian. Feril mendekat dan merangkul Adrian.
"Kamu yang sabar ya ?. Aku yakin Tante Tika punya alasan lain sampai melakukan ini padamu".
"Aku kasihan Kikan, aku sudah janji padanya. Aku sudah janji tidak akan menyakitinya. Aku sudah janji akan meminangnya. Aku sungguh gak bisa hidup tanpanya. Ya .... Tuhan ... aku sangat berdosa padanya ", ucap Adrian kini sedikit terisak.
"Apa ini karmaku karena kenakalanku dulu ya ? hingga Tuhan menghukumku untuk terus menjauh dari orang yang kusayang ", ucap Adrian lagi.
"Aku yakin ini semua sedikit rintangan untukmu, untuk membuktikan kesungguhan cintamu, Ian. Aku yakin kamu pasti bisa melaluinya ", ucap Feril.
"Iya, Adrian. Sabar ya, aku tahu ini sulit tapi ini juga saatnya kamu membuktikan dirimu, membuktikan kesungguhan cintamu. Kamu jangan menyerah memperjuangkan cintamu ya. Aku dan Feril pasti akan mendukungmu", ucap Irene kini. Adrian sedikit tersenyum mendengar nasehat dari kedua sahabatnya itu.
"Terima kasih, kalian mau datang dan menghiburku. Aku sedikit tenang sekarang, mungkin aku akan berdamai dengan Mama sambil mencari cara untuk menyudahi pertunangan sialan ini ", ucapnya sambil tersenyum lagi. Irene dan Feril ikut tersenyum melihat Adrian yang kembali bersemangat.
__ADS_1
"Kamu tidak bersiap-siap untuk bekerja ?", tanya Feril lagi.
"Ya ...., aku akan bersiap-siap sekarang. Ada banyak hal yang harus kulakukan hari ini ", ucap Adrian sambil tersenyum.
Adrian tersenyum, ada semangat baru yang dia bawa setelah mendengar dua sahabatnya yang bertandang ke apartemennya tadi.
"Pagi, Pak !", sapa Sari begitu melihat Adrian datang.
"Siang, Sari. Ini sudah siang dan aku bangun kesiangan tadi ", kata Adrian. Sari hanya diam dan bergegas mengikuti Adrian ke ruangannya.
"Maaf Pak, ini jadwal Bapak hari ini ", ucap Sari sambil menyodorkan sebuah berkas. Adrian membacanya sebentar lalu meletakkan di mejanya.
"Aku minta tolong buatkan draft perjanjian dan kirim ke emailku. Tolong kamu kosongkan saja untuk point-point pentingnya nanti biar aku isi sendiri. Kalau bisa secepatnya ya !", kata Adrian.
"Ini tentang perjanjian apa, Pak ?".
"Baik, Pak", ucap Sari sambil berlalu dari ruangan Adrian. Adrian tersenyum sendiri merasa puas dengan ide yang akan dijalankannya.
Ponsel Adrian berbunyi, ada panggilan dari mama. Kebetulan sekali, Ma, pikir Adrian.
"Halo .... ", sapa Adrian.
"Ian ... kamu kemana semalam ? mengapa langsung pergi meninggalkan pesta ? semua keluarga menanyakanmu termasuk Oma ", kata mama di telepon.
"Aku capek Ma, ngantuk jadi aku langsung pulang", jawab Adrian santai. Ada apa dengan Adrian ? mengapa dia tidak marah-marah padaku ? apa ini artinya dia menyetujui perjodohan ini ?, pikir mama. Sebuah senyuman tersungging di bibir mama.
"Oh ... begitu Mama pikir kamu pergi kemana. Baiklah kalau begitu ", ucap mama merendahkan nadanya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Ma. Nanti sepulang kerja aku akan mampir ke rumah. Mama ada di rumah kan ?", kata Adrian lagi.
"I ...iya, Mama di rumah terus kok. Ya sudah kalau gitu tentu kamu sedang sibuk sekarang ".
"Iya Ma, sampai jumpa nanti !", ucap Adrian mengakhiri teleponnya.
"Pa ... sepertinya rencana Mama berjalan lancar ", kata mama ke papa.
"Apa maksudnya, Ma ?", tanya papa.
"Aku tadi barusan telepon Adrian dan dia biasa saja. Tidak marah-marah, tidak ketus nada bicaranya, biasa saja. Sepertinya dia sadar kalau pilihanku itu lebih baik dari pilihannya", kata mama sambil tersenyum bahagia.
"Masak sih, Ma. Mungkin dia sedang ada tamu di kantornya jadi berbicara sopan padamu dan tidak marah-marah", ucap papa.
"Gak, Pa. Tadi suasana kantornya sepi kok. Adrian pasti sudah sadar dan akhirnya menuruti kemauan Mama. Aku tahu Adrian itu anak yang manis, senakal-nakalnya dia pasti selalu menurut pada Mamanya ", Mama tersenyum lagi. Papa kembali terdiam, padahal dia semalam tampak sedih dan kecewa. Adrian juga kelihatan putus asa dan pulang begitu saja meninggalkan pesta masak sekarang dia sudah baik-baik saja dan menurut pada Mamanya. Pasti ada sesuatu yang direncanakan Adrian, pikir papa.
"Oh ya ..., Papa hari ini tidak pergi kemana-mana kan ?", tanya mama lagi.
"Aku ada janji main golf dengan Herman, memangnya kenapa ?".
"Pergilah main golf, tapi jangan pulang terlalu malam. Tadi Adrian bilang akan mampir kesini sepulang dari kantor. Mama rasa Adrian akan membicarakan tentang pernikahannya. Ah ... Mama senang sekali, Pa ", ucap mama lagi. Papa kembali terdiam. Apa yang sedang kamu rencanakan Adrian, pikir papa.
"Mungkin lebih baik aku memberi kabar ke Diana dan Tania tentang sikap Adrian ini. Aku yakin Adrian pasti akan suka Tania. Tania itu cantik, pintar dan seorang artis lagi. Aduh .... ,Pa rasanya kita harus merayakan dengan makan bersama keluarga besok. Aku harus memberi tahu Julian dan Tanti juga. Ternyata kalian semua kalah kan sama Mama ", Mama kembali tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan senang dulu, mungkin saja Adrian hanya ingin membahas pekerjaan saja. Dia kan sudah lama tidak laporan secara langsung ke Papa, meskipun laporan tertulisnya selalu rutin dikirim ", ucap papa.
"Ah ... Mama gak peduli, pokoknya hari ini Mama senang sekali. Mama mau ke salon dulu ah .... ", ucap Mama sambil ngeloyor pergi. Papa hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mama.
__ADS_1