
Mobil Adrian sudah terparkir rapi di rumah keluarganya. Sudah lima menit yang lalu dia datang ke rumah. Mama senang sekali menyambut kedatangan Adrian. Senyum manisnya terus tersungging di bibir tipisnya.
"Kamu sudah makan, Sayang ?", sapa mama begitu Adrian datang.
"Sudah Ma, aku tadi baru bertemu klien dan sekalian makan malam dengannya ", ucap Adrian santai sambil langsung duduk di sofa. Papa hanya diam melirik gelagat Adrian yang dipikirnya aneh.
"Ada yang mau kamu bicarakan dengan Mama, Ian ?", tanya mama lagi.
"Iya Ma ", ucap Adrian sambil membenahi duduknya.
"Apa ada masalah di kantor ?", tanya papa menimpali.
"Tidak Pa, ini soal pertunanganku dengan Tania ", ucap Adrian membuat Mama tersenyum.
"Mama yakin kamu sudah sadar dan memilih Tania sebagai istrimu kan ?. Tania lebih baik daripada pilihanmu kan ?. Bagaimana ? Apa kamu ingin mempercepat pernikahanmu ", ucap mama sambil tersenyum. Adrian hanya diam, papa ikut tegang mengamati mereka berdua.
"Adrian minta waktu Ma, setidaknya satu tahun. Adrian minta Mama dan Tania jangan mengganggu Adrian selama satu tahun ini. Biarkan Adrian menyelesaikan semua urusan Adrian tanpa ikut campur Mama ", ucap Adrian akhirnya.
"Maksudmu Tania tidak boleh menemui atau menghubungimu begitu ?", tanya mama.
"Ya, Adrian minta seperti itu, Ma ".
"Tapi bagaimana kalian saling kenal dan menyesuaikan kalau tidak sering bertemu secara intens ? apa kamu tidak ingin mengenal Tania lebih dekat ? dia kan nantinya akan menjadi istrimu, teman hidupmu dan ibu dari anak-anakmu ?. Kamu serius melakukan ini Adrian ?", tanya mama kini. Adrian tertawa kecil.
"Ma .... sejak awal aku sudah menolak perjodohan ini kan ?. Tapi Mama malah menjebakku di pesta ulang tahun Om Kevin kemarin ?. Aku sudah menuruti kemauan Mama dengan tidak mempermalukan Mama dan Papa di depan keluarga. Sekarang saatnya Mama memenuhi persyaratan dariku. Kalau Mama menolaknya maka aku juga memutuskan pertunangan ini ", ucap Adrian lagi. Mama dan papa terdiam. Tepat dugaanku, Adrian pasti punya rencana lain, pikir papa.
"Jangan usik kehidupan pribadiku selama satu tahun ini maka aku akan teruskan pertunangan sialan ini ", ucap Adrian lagi.
"Hanya itu saja syaratmu, Ian ?", tanya mama.
"Ya, aku harap Mama juga memberi tahu ke Tania. Aku tidak mau dia tiba-tiba muncul di kantorku dan mengaku-ngaku tunanganku lagi ", kata Adrian.
"Tapi setelah satu tahun kamu akan menikah dengan Tania kan ?", tanya Mama. Adrian terdiam.
__ADS_1
"Kita lihat saja, apa Tania masih berminat menjadi istriku atau tidak ", ucap Adrian.
"Adrian ... kalau kamu keberatan dengan pertunangan ini kenapa tidak kau tolak saja atau langsung membatalkan ?", ucap papa kini membuat Mama menoleh kaget.
"Papa ...., papa ngomong apa sih ?", ucap mama.
"Pa .... apa Papa yakin Mama akan menerima penolakan ?. Semalam saja, Mama sudah menjebakku. Kadang aku heran Mama benar-benar Mama kandungku atau Mama tiri ?", ucap Adrian membuat Mama terdiam dan menunduk lama.
"Ini ...., aku sudah membuat draft perjanjian kita, disitu ditulis kalau aku akan menerima pertunangan ini dengan syarat seperti yang aku katakan tadi ", ucap Adrian sambil mengeluarkan sebuah map berisi draft perjanjian tertulis antara dia dan mama.
"Kamu apa-apaan sih, Ian, pakai bikin gini segala ?", ucap mama.
"Jujur saja Ma, aku sudah tidak percaya dengan Mama lagi. Aku sudah tanda tangan disini, silakan Mama dan Papa menandatangani juga. Aku sudah membuat perjanjian ini rangkap dua, satu untukku dan satunya untuk Mama". Mama dan papa terdiam lalu membaca perjanjian itu, kemudian membubuhkan tanda tangan mereka di tempat yang telah disediakan.
"Baiklah ... sudah semua, ini untuk Mama dan ini untukku ", kata Adrian sambil memasukkan map itu ke tasnya lagi.
"Apakah menurutmu ini yang terbaik kamu lakukan, Adrian ?", tanya papa. Adrian terdiam.
"Maafkan aku, Pa. Aku seperti ini juga karena Mama. Seandainya Mama tidak menjebakku semalam aku pasti tidak seperti ini. Aku kecewa, Pa, Ma. Aku kecewa kepada kalian ", ucap Adrian. Ada seraut kesedihan di matanya. Mama hanya diam saja tak bersuara.
"Puas kamu ? Gara-gara ulahmu, Adrian sekarang membenci kita ", ucap papa kesal ke mama.
"Pa ... jangan salahkan aku, kamu juga membiarkan Adrian untuk memasangkan cincin tadi malam", ucap mama.
"Tapi kalau kamu membatalkan jauh-jauh hari, kejadian tadi malam tidak akan terjadi. Kamu yang egois, kamu yang terlalu obsesi dengan keinginanmu sendiri dan sekarang korbannya anak kita, Adrian. Aku rasa Adrian benar, kamu memang bukan ibu kandungnya ".
"Pa .... kamu kok bicara begitu. Aku sembilan bulan mengandungnya, aku yang melahirkannya dan kamu tahu sendiri itu ", ucap mama membela diri.
"Kalau kamu benar-benar ibu kandungnya seharusnya kamu tidak mengorbankan kebahagiaan anakmu untuk obsesimu itu. Sudahlah, Papa rasa kamu harus membiasakan diri tanpa kehadiran Adrian lagi ", ucap papa sambil berlalu. Mama hanya duduk lemas dan terdiam. Bulir-bulir airmata jatuh perlahan di pipinya. Apa ini semua sebuah kesalahan ? padahal aku hanya ingin Adrian bahagia bersama gadis yang kupilih ?. Aku tidak ingin dia jatuh ke pelukan wanita yang hanya ingin memanfaatkannya saja. Aku hanya ingin Adrian bahagia, itu saja, gumam mama dalam hati masih dengan sesenggukan.
Adrian memacu mobilnya dalam gelap, ia ingin cepat pulang dan menyudahi hari yang melelahkan ini. Ia ingin menyudahi kesedihan dan kekesalan yang melandanya sepanjang hari ini. Mobil Adrian sudah memasuki parkiran apartemennya, ia berhenti dan keluar dari mobil.
Baru beberapa langkah Adrian menjauh dari mobilnya, tiba-tiba sebuah tangan memeluk pinggangnya dari belakang. Adrian menoleh kaget dan melihat sosok cantik dengan wajah teduhnya sedang tersenyum manis padanya.
__ADS_1
"Sayang ......, kamu sudah pulang ?", seru Adrian kaget sambil membalas memeluk Kikan. Kikan mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu langsung kesini ?", tanya Adrian.
"Iya, aku ingin bikin kejutan buat kamu ", ucap Kikan. Adrian kembali tersenyum dan memeluknya lagi seakan tidak mau melepasnya.
"Aku hanya pergi sehari loh, kok kamu kayak ditinggal lama sih ", ucap Kikan lagi.
"Walau sehari rasanya setahun kalau tidak bersama kamu ", ucap Adrian sambil mengecup rambut Kikan. Kikan hanya tersenyum geli melihat tingkah Adrian.
"Ayo, kita masuk dulu !", ajak Adrian sambil menggandeng Kikan. Kikan menurut dan mengikuti Adrian.
"Kamu sudah makan ?", tanya Adrian begitu sudah di apartemennya.
"Sudah, kamu kelihatan capek banget hari ini. Matamu juga merah, kamu kurang tidur ya ?", kata Kikan.
"Iya, semalam aku banyak kerjaan ", ucap Adrian bohong.
"Oh ya, gimana pesta ulang tahun Om Kevin ? meriah ?", tanya Kikan lagi. Adrian lupa kalau kemarin sebelum berangkat ke pesta ulang tahun Om Kevin dia SMS Kikan. Adrian langsung mengangguk.
"Iya, meriah kok. Sayang banget kamu gak ikut datang ", ucap Adrian lagi.
"Iya, lain kali aja deh. Oh ya, aku punya oleh-oleh buat kamu ", ucap Kikan sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Adrian segera membuka kotak kecil itu, sebuah pena sangat sederhana tapi terlihat elegan.
"Terima kasih ya, Sayang ...", ucap Adrian kegirangan.
"Suka ?". Adrian mengangguk.
"Tapi sebenarnya kamu tidak perlu repot membelikanku hadiah atau oleh-oleh karena aku bisa mengambilnya sendiri ", ucap Adrian membuat Kikan bingung.
"Maksudnya .... ", tanya Kikan bingung.
__ADS_1
"Maksudnya begini ...... ", ucap Adrian sambil menarik Kikan ke pelukannya dan mencium lembut bibirnya.
"Cukup ini saja oleh-oleh untukku ", ucap Adrian sambil menatap Kikan penuh binar cinta.