
Kikan senang sekali Bu Nungki tidak merevisi skripsi yang disodorkan tadi, beliau malah menyuruh Kikan melanjutkan ke bab berikutnya.
Kikan berjalan riang menuju perpustakaan ada beberapa buku bahan skripsi yang harus dipinjam.
"Kikan !", sapa seseorang. Kikan segera menoleh tampak Intan sudah berlari mengejarnya.
"Tumben kamu ke kampus ?", tanya Intan yang kini sudah jalan beriringan.
"Iya, tadi aku barusan nyerahin skripsiku. Tapi masih bab 1 ".
"Terus ...."
"Tanpa revisi, aku disuruh Bu Nungki melanjutkan ke bab selanjutnya", ucap Kikan kesenangan.
"Wah hebat ! aku doain lancar ya. Oh ya, kamu perlu bantuanku gak untuk acara pernikahanmu besok ?" kata Intan menawarkan diri.
"Tentu dong, kamu harus nginep di rumahku 1 minggu ya ?".
"Siap deh ", jawab Intan sambil mengacungkan jempol. Lalu mereka tertawa bersama.
"Eh, aku harus balik dulu. Aku ada kelas, besok kamu kabarin aku ya tanggalnya, aku pasti bersedia kok membantumu", kata Intan sambil berpamitan. Kikan mengangguk.
"Aku duluan ya !", ucap Intan sambil beranjak pergi. Kikan hanya tersenyum dan melambaikan tangannya.
Kikan segera masuk ke perpustakaan dan meminjam buku yang diperlukannya. Ia tidak mau terlalu lama membuang waktu karna ia harus ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan. Ia takut terjebak macet, jarak rumah sakit dan kampusnya lumayan jauh, belum lagi kalau harus menunggu antrian di rumah sakit seperti bulan kemarin, benar-benar melelahkan.
Kikan menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang di dalam taxi online yang sudah dipesannya.
"Tujuan sesuai aplikasi ya Mbak ?", tanya sopir taxi tersebut.
__ADS_1
"Iya Pak", jawab Kikan. Mobil pun mulai berjalan menuju rumah sakit tujuan Kikan. Kikan mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi Ranu.
"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif ", suara yang terdengar dari ponsel Ranu. Mungkin mas Ranu belum selesai meeting, pikir Kikan. Kikan segera membuka WA dan menulis pesan untuk Ranu.
"Aku baru otw ke rumah sakit mas, tadi sebelumnya ke kampus dulu. Bab 1- ku disetujui Bu Nungki tanpa revisi. Aku seneng banget ", ketik Kikan di ponselnya.
Namun yang tampak dilayar hanya centang satu berwarna abu-abu. Kikan mendengus kesal, huh masih mati HP-nya pikirnya.
Akhirnya Kikan hanya diam mengambil headset lalu menyalakan musik dari hpnya supaya dia tidak bosan selama di jalan.
Hampir satu jam perjalanan, akhirnya Kikan tiba di rumah sakit. Setelah membayar taxi, Kikan bergegas masuk ke ruang pendaftaran dan segera menuju poli kandungan seperti yang dilakukannya bersama Ranu kemarin. Suasana poli lebih ramai dari kemarin Kikan segera duduk di salah satu bangku yang kosong. Ibu-ibu di sekitarnya tampak curiga melihatnya tapi Kikan cuek aja.
"Mbaknya periksa kehamilan juga ?", tanya seorang gadis yang sebaya dengannya dengan perut yang sudah terlihat besar. Kikan mengangguk.
"Sudah berapa bulan Mbak ?", tanyanya lagi.
"Baru jalan 3 bulan ", jawab Kikan.
"Suaminya gak ikut ?", tanyanya lagi.
"Eh.. suami saya kerja biasanya saya diantar suami tapi hari ini dia ada meeting yang gak bisa ditinggal", jawab Kikan sedikit kikuk.
"Oh, sama Mbak kalau aku suamiku pelayaran pulangnya 3 bulan sekali malah jarang diantar periksa. Gitu ibu-ibu sini yang gak tau main gosip aja kalo ngeliat ibu hamil yang periksa tanpa diantar suami, dikira hamil duluan lah padahal mereka gak tau kalo suami kita kerja". Kikan hanya tersenyum mendengarnya. Pantas saja tadi ada beberapa ibu-ibu yang memandangnya dengan tatapan curiga.
"Nyonya Putri Sukmawati ...", panggil suster.
"Mbak, saya udah dipanggil saya duluan ya", pamit gadis itu yang ternyata bernama Putri. Kikan mengangguk. Ia tersentak saat hp di sakunya bergetar. Ia melihat pesan masuk dari Ranu.
"Sebentar lagi aku sudah selesai Sayang, satu jam-an aku segera meluncur kesana ya ", tulis Ranu. Kikan tersenyum membacanya.
__ADS_1
"Hati-hati ya Mas ", ketiknya sambil dibubuhi emoticon bahagia. Tidak pakai lama segera terkirim balasan Ranu yang berisi emoticon 😘.
Kikan tersenyum membuat iri ibu-ibu di sebelahnya. Tak berapa lama nama Kikan dipanggil, ia segera masuk ke ruang periksa.
"Sendirian Bu ?", tanya suster.
"Iya Sus, suami saya ada meeting ", jawab Kikan.
"Ada keluhan gak Bu ?", tanya suster lagi. Kikan menggeleng.
"Kalo gitu segera ke ranjang periksa ya, tadi sudah nimbang kan ?". Kikan mengangguk dan segera ke ranjang periksa. Kemudian dokter melakukan hal yang sama seperti satu bulan yang lalu.
"Sudah masuk 12 Minggu ya Bu, denyut jantungnya mulai stabil tapi masih kecil sekali. Dijaga ya makanannya kalo bisa yang seimbang biar si kecil tidak kekurangan asupan gizi ", jelas dokter. Kikan mengangguk mengiyakan.
"Saya kasih vitamin lagi ya Bu, ini untuk satu bulan penuh ya resepnya. Untuk hubungan suami istri bisa dilakukan seperti biasa tapi harus hati-hati ya".
"Iya Dok ", jawab Kikan geli mengingat dia sebentar lagi akan menikah pasti itu hal yang wajib dilakukan olehnya dan mas Ranu.
Setelah selesai Kikan segera bangkit dan beranjak pergi. Ia ingin segera ke apotik untuk menebus obatnya.
Kikan mengambil ponselnya, ia coba menghubungi Ranu tapi tidak diangkat mungkin mas Ranu masih di jalan. Kikan melangkahkan kakinya ke apotik menyerahkan resepnya dan kembali duduk menunggu.
Ia keluarkan hpnya lagi, Ranu terakhir menghubungi nya satu setengah jam lalu, seharusnya dia sudah datang atau mungkin dia masih di perjalanan. Kikan mulai memencet kontak Ranu tapi diurungkan ia takut malah membuat Ranu tidak konsen mengemudi apalagi jam-jam segini macetnya luar biasa.
"Nyonya Kikan Prameswari ", panggil petugas apotik. Kikan berdiri mengambil obatnya memasukkan ke dalam tas dan kembali ke tempat duduknya.
Kikan memutuskan menunggu Ranu di apotik, lagipula tadi dia sudah mengirim pesan ke Ranu kalo menunggu di apotik. Kikan mengeluarkan roti sandwich yang dibelinya di kantin rumah sakit tadi, dia tidak mau kelaparan menunggu Ranu. Dia membuka plastik pembungkusnya kemudian memakannya lahap sambil sesekali mengecek hpnya bila ada panggilan masuk.
Sudah hampir dua jam Kikan menunggu Ranu di apotik namun Ranu tak kunjung datang. Apa mas Ranu belum selesai meeting tapi lupa mengabariku, pikir Kikan. Kikan mencoba menelepon namun tidak terjawab. Kikan juga sudah mencoba kirim pesan namun hanya terkirim tidak terbaca. Akhirnya Kikan memutuskan memesan taxi online lagi, ia tidak ingin membuat ibu khawatir.
__ADS_1
Kikan keluar dari pintu apotik berbarengan dengan sebuah mobil ambulan memasuki halaman rumah sakit itu. Ya, apotik di rumah sakit ini berdekatan dengan UGD di pintu masuk. Segera tampak petugas medis sibuk menyiapkan bantuan untuk pasien di ambulan itu. Kikan melongokkan kepalanya sedikit mengamati. Sepertinya korban kecelakaan, begitu yang didengarnya. Korban itu lalu dibawa masuk dengan cepat oleh para petugas medis. Kikan sempat melihat tangan korban itu yang terjuntai dengan sebuah jam tangan yang berlumuran tangan. Namun Kikan seperti tidak asing melihat jam tangan itu tapi dimana dia lupa. Mungkin karena lapar, daya ingat Kikan jadi lemah pikirnya.