Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Telepon


__ADS_3

Hari ini Kikan lelah sekali, banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya. Mulai dari pindahan, menyelesaikan pesanan pelanggan. Ingin sekali break sebentar tapi break juga mau ngapain, pikir Kikan. Kikan baru saja mencoba memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Adrian sayang", baca Kikan sambil tersenyum geli begitu tahu Adrian yang meneleponnya. Untuk apa malam-malam begini dia telepon.


"Halo ", sapa Kikan di telepon.


"Syukurlah kamu jawab, aku pikir kamu sudah tidur", sapa Adrian di seberang.


"Aku memang mau tidur, gara-gara teleponmu aku jadi terbangun", jawab Kikan ketus.


"Syukur deh kalau begitu".


"Kok gitu, harusnya kamu minta maaf kan".


"Aku bersyukur kamu gak jadi tidur. Coba bayangkan kalau kamu tidur sebelum mendengar suaraku pasti kamu bakalan mimpi buruk tapi kalau setelah mendengar suaraku, aku jamin kamu bakalan mimpi indah deh".


"Kata siapa, selama ini aku baik-baik saja kok".


"Itu kan karena belum bertemu aku", jawabnya pede. Kikan tersenyum geli mendengarnya.


"Kamu pernah gak membayangkan saat seperti ini akan terjadi ?", ucapnya tiba-tiba dengan nada serius.


"Saat apa maksudmu ?", tanya Kikan bingung.


"Ya ... saat ini. Saat kamu mau tidur ada yang nelpon dan mengucapkan selamat tidur. Kamu pernah bayangkan gak ?".


"Gak, aku gak pernah punya bayangan kayak gitu".


"Ah ..., kamu payah deh. Eh ya, Raka mana ?".


"Sudah tidur, jam segini nanyain Raka".


"Berarti nanyain mamanya Raka saja ah .... Mamanya Raka belum tidur nih atau gak bisa tidur karena mikirin Om keren ?", ucap Adrian dengan nada lucu. Kikan tertawa mendengarnya.


"Sejak kapan kamu jadi ngelawak gini sih ?", ucap Kikan sambil tertawa.


"Kamu suka ? kalau kamu suka, aku terus jadi ngelawak saja ya ?".


"Jangan ... kamu gak pantes. Kamu cukup jadi Adrian saja", ucap Kikan cepat. Lalu Adrian dan Kikan sama-sama terdiam.


"Kamu gak ingin kembali kayak dulu lagi, Kikan ?", tanya Adrian setelah lama terdiam.


"Maksudmu apa ?", tanya Kikan.


"Kamu gak ingin naik motor lagi bersamaku, melakukan hal yang sama seperti dulu lagi bersama aku ?".


"Aku bukan ABG lagi, lagian aku sudah punya Raka. Gak pantes", ucap Kikan.

__ADS_1


"Tapi kamu masih sama seperti yang dulu kok. Kamu masih Kikan Prameswari kan ?, bagiku kamu masih sama, Kikan. Kenapa kita tidak mencobanya lagi ?".


"Enggak, Adrian. Aku sudah berubah. Sudahlah, aku mengantuk, aku mau tidur. Kalau kamu menagih yang tadi siang. Kamu tentukan saja hari dan tempatnya, aku pasti datang", ucap Kikan.


"Baiklah kalau begitu nanti aku SMS hari dan tempatnya. Selamat tidur ya, mimpi indah", ucap Adrian mengakhiri teleponnya. Kikan segera meletakkan ponselnya di meja sebelah. Sesungguhnya Kikan telah lama menunggu kedatangan Adrian kembali jauh sebelum dia mengenal Ranu. Adrian adalah cinta pertamanya yang berkesan dan tidak pernah dapat dengan mudah ia lupakan. Namun karena kepergiannya yang tanpa kabar berita membuat Kikan mengira kalau Adrian tidak ingin mengenalnya lagi. Apalagi melihat Kikan yang sekarang, apa Adrian masih mau menjalin sebuah hubungan lagi dengannya. Kikan tidak mau berharap lebih, ia tidak mau jatuh dan terlalu sakit bila berharap hal yang tidak mungkin.


*******


Pagi ini, Kikan bangun pagi sekali ada banyak hal yang harus ia selesaikan.


"Raka Sayang, hari ini Mama antar ya ?. Mama sekalian mau mampir ke toko aksesoris dekat sekolah Raka", ucap Kikan.


"Oke Ma, Laka akan ciap-ciap", jawab Raka.


"Mama tunggu di meja makan ya ?. Hari ini Raka mau sarapan apa ?"


"Loti bakal keju, Ma".


"Baik, Mama siapkan dulu ya. Raka lekas ganti baju ya ?". Raka mengangguk dan bergegas ke kamarnya untuk berganti pakaian. Raka memang sudah diajarkan Kikan kemandirian sejak kecil jadi dia sudah terbiasa menyiapkan seragamnya sendiri.


"Kamu berangkat pagi, Nduk ?", sapa Ibu begitu Kikan ke dapur menyiapkan sarapan Raka.


"Iya Bu, banyak yang harus dikerjakan hari ini", ucap Kikan sambil sibuk membuat roti bakar keju pesanan Raka.


"Adrian kok gak kesini lagi, Nduk ?", tanya ibu.


"Iya, tapi Ibu benar-benar berharap kamu segera mempunyai pendamping, Nduk".


"Raka sudah besar, dia sering cerita kalau dia juga ingin punya Papa seperti teman-teman nya. Ibu kasihan kalau dia sudah ngomong seperti itu, Nduk. Tolong, bukalah hatimu, Kikan. Bukan demi kamu tapi demi Raka. Dia benar-benar merindukan sosok Papa", lanjut ibu. Kikan hanya menarik nafas, ia tidak tahu harus menjawab apa kalau ibunya sudah ngomong seperti itu.


"Ma, Laka cudah ciap, mana lotinya ?", seru Raka mengagetkan Kikan.


"Iya, ini , Sayang", ucap Kikan sambil membawakan roti bakar keju pesanan Raka. Raka langsung memakannya dengan lahap, Kikan hanya tersenyum melihat Raka.


"Kalau sudah selesai sarapan, kita berangkat ya ?", ucap Kikan sambil meminum jus jeruknya. Raka mengangguk cepat.


"Bu, nanti Ibu bisa kan jemput Raka pulang sekolah ?. Kikan nanti siang ada janji jadi tidak bisa jemput".


"Iya, Ibu nganggur kok seharian ini. Nanti Raka dijemput Nenek ya ?". Raka mengangguk lagi sambil meneruskan sarapannya.


Setelah beberapa saat, akhirnya sarapan Raka selesai.


"Ayo Ma, Laka cudah celecai", ucap Raka.


"Oke, ayo kita berangkat. Pamit ke kakek dan nenek ya ?". Raka mengangguk kemudian pamit ke ayah dan ibu Kikan lalu bergegas lari menyusul Kikan.


Tut ... Tut ... Tut ...

__ADS_1


Baru saja Kikan melajukan mobilnya keluar rumah, ponselnya sudah berbunyi. Kikan langsung menekan loud speaker ponselnya.


"Halo ", sapa Kikan di telepon.


"Hari Minggu, jam 10 pagi, di Plaza M", jawab suara yang tak asing lagi, suara Adrian.


"Apa itu ?", tanya Kikan bingung.


"Tempat kita bertemu besok", jawab Adrian.


"Wah ... Om Kelen, Laka juga ikut dong", seru suara Raka tiba-tiba begitu tahu Adrian yang menelepon.


"Kamu bersama Raka sekarang ?", tanya Adrian lagi.


"Iya, aku sedang perjalanan mengantarnya ke sekolah".


"Boleh aku bicara dengannya ?". Kikan langsung memberikan ponselnya ke Raka yang sedang duduk anteng di sebelahnya.


"Halo ... Om", sapa Raka.


"Halo ... jagoan, mau berangkat sekolah nih ?".


"Iya Om, Laka mau cekolah".


"Sekolah yang pinter ya ?".


"Iya, Om. Tapi Om, Laka juga ikut dong Om kalo pelgi. Laka kan juga pengin pelgi sama Om dan Mama. Kan jadi kelihatan kayak pelgi sama Mama Papa kayak celita teman-teman", ucap Raka polos yang membuat Kikan kaget.


"Jadi ceritanya Raka kepingin punya Papa nih ?", tanya Adrian menebak.


"Iya Om, temen Laka celing celita tentang Papanya. Laka kan juga pengen. Om, mau gak jadi papanya Laka ?", ucap Raka kini membuat Kikan semakin kaget dan segera menatap Raka.


"Mau banget tapi Mamanya Raka mau juga gak ?", tanya Adrian lagi.


"Raka kamu ngomong apa sih ? Gak sopan itu", ucap Kikan marah.


"Om, udah dulu ya. Mama malah, pokoknya besok Laka ikut", ucap Raka sambil menyerahkan ponsel ke Kikan.


"Halo, Adrian. Sudah dulu ya, aku mau sampai ini", ucap Kikan.


"Iya ..., sampai ketemu hari Minggu ya ?", ucap Adrian sambil menahan tawanya.


"Iya". Kikan segera menutup ponselnya.


"Raka, Mama gak suka Raka ngomong kayak gitu lagi. Itu gak sopan, Nak. Jangan diulangi ya ?", ucap Kikan.


"Iya Ma, maafin Laka ya, Ma".

__ADS_1


"Ya sudah", ucap Kikan sambil menarik nafas panjang. Apa Raka benar-benar merindukan sosok Papa ya, sampai dia ngomong seperti itu ke Adrian. Huh, Raka-Raka, pikir Kikan.


__ADS_2