Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Senja yang sempurna


__ADS_3

Kikan berjalan dengan nafas memburu mengikuti Adrian yang terus menggandeng tangannya. Langkah Adrian lebih panjang daripada dirinya, apalagi sekarang dia sedang memakai high heels.


"Kita mau kemana sih ? apa masih jauh ?", tanya Kikan.


"Gak kok, sebentar lagi sampai", ucap Adrian. Akhirnya Adrian menghentikan langkahnya dan berjalan mendekat ke seorang pelayan resort. Adrian lalu melepas jas dan dasinya, menggulung lengan kemejanya kemudian memberikan jas serta dasinya ke pelayan tadi. Pelayan tadi lalu memberikan sebuah kunci dan kacamata ke Adrian. Kikan hanya diam, bingung dengan yang dilakukan Adrian.


"Yuk !", ajak Adrian lagi sambil menggandeng tangan Kikan. Akhirnya mereka berhenti di sebuah garasi. Tampak sebuah sepeda motor besar berwarna merah sudah diparkir disana.


"Kamu ingat motor ini ?", tanya Adrian kini.


"Bukannya ini motormu waktu SMA dulu ?", kata Kikan.


"Iya, aku baru selesai memodifikasinya dan akan kucoba hari ini. Ayo, naik !", ucap Adrian sambil mengendarai motornya. Kikan hanya diam.


"Ayo !, jangan takut aku gak bakalan kebut-kebutan kok ", ucap Adrian lagi. Akhirnya Kikan menurut dan segera naik ke motor Adrian. Adrian menstater dan mulai mengemudikan motornya.


"Ah ...", pekik Kikan tersentak. Ia kaget dan hampir jatuh. Adrian lalu menarik tangan Kikan dan meletakkan di pinggangnya. Kikan hanya diam, sebenarnya dia risih tapi daripada dia jatuh, akhirnya dia menurut saja.


Adrian mengendarai motornya meninggalkan resort tempat acara pernikahan Irene. Angin semilir yang menerpa wajah Kikan membuat Kikan tersenyum bahagia. Sudah lama, dia tidak naik motor dan menikmati semilir angin ini. Kikan benar-benar senang, bahkan mengangkat satu tangannya berusaha menangkap angin yang menerpanya. Adrian hanya tersenyum mengamati Kikan dari kaca spion di balik kacamatanya.


"Kamu suka ?", tanya Adrian di sela-sela suara angin.


"Ya ... suka sekali", ucap Kikan setengah berteriak. Kini mereka berjalan menyusuri sekitar pantai. Wangi parfum Adrian begitu menggoda dan menusuk hidung Kikan karena terkena angin. Dia sangat wangi, parfumnya juga masih sama dengan yang dulu. Dulu aku sering tertidur di punggungnya setiap di bonceng. Aku juga sering memeluk erat pinggangnya tapi sekarang ..., pikir Kikan. Adrian mengamati raut muka Kikan dari kaca spion dan dia tersenyum sendiri melihatnya.


"Kita berhenti di sana, Yuk !", ajak Adrian sambil membelokkan motornya di pinggir pantai yang sepi. Dengan perlahan, Adrian mengendarai motor di atas pasir lalu berhenti setelah cukup dekat pantai. Kikan berusaha turun perlahan, sepatu high heels nya segera dilepaskan. Rambutnya pun kini tampak berantakan terkena angin. Adrian hanya tersenyum melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tersenyum ? Aneh ya melihatku dengan rambut acak-acakan begini ?", ucap Kikan kesal.


"Kamu tetap cantik kok, meski acak-acakan begitu", ucap Adrian lalu ikut melepas sepatunya dan menggulung celana kainnya ke atas.


"Yuk !, kita kesana ", ajak Adrian menarik tangan Kikan untuk lebih dekat ke pantai. Kikan menurut dan memberanikan dirinya melangkah lebih dekat ke air. Kikan tersenyum saat kakinya terkena riak ombak. Ia bahagia sekali, baru kali ini ia merasa sangat senang dan bebas. Mereka bercanda, main air sampai hampir basah kuyup terkena air laut.


"Aku tidak membawa baju Adrian, aku gak mau pulang basah kuyup begini", ucap Kikan.


"Hehehe ... tapi kamu tambah cantik kalau basah kuyup gitu ", kata Adrian menggoda.


"Sudah, jangan menggodaku. Ayo kita berjemur di situ supaya lebih kering sedikit bajuku lalu kita pulang", ajak Kikan lalu duduk di hamparan pasir yang sedikit panas. Ia ingin mengeringkan bajunya sedikit. Adrian mengikutinya duduk di sampingnya.


"Ternyata kamu punya sisi kekanakan ya ?", ucap Adrian sambil menatap Kikan yang duduk di sebelahnya.


"Setiap orang pasti punya dong. Tapi, sebenarnya aku sudah lama tidak ke pantai sejak ....", kata Kikan lalu terdiam.


"Mengingatkanmu tentang Ranu ?", tanya Adrian lagi. Kikan mengangguk.


"Teruskan saja, aku tidak akan cemburu kok. Setiap orang punya masa lalu, kamu tidak perlu menutupinya ", ucap Adrian acuh sambil memandang ombak di laut yang makin besar. Kikan hanya diam, di tatapnya Adrian yang duduk di sebelahnya. Rambut yang klimis tertata rapi kin sudah berantakan, juga sedikit basah bercampur air dan pasir. Dia seperti Adrian yang kukenal terlihat imut dengan gaya rambut belah tengahnya, pikir Kikan sambil tersenyum geli.


"Kamu kenapa tersenyum?", tanya Adrian sambil menatap Kikan.


"Kamu kalau kayak gini persis kayak anak SMA bukan seperti seorang CEO ", jawab Kikan sambil tertawa. Adrian ikut tertawa sambil mengacak rambutnya.


"Aku memang awet imut ya ?", ucap Adrian lagi. Kikan makin kencang tertawanya.

__ADS_1


"Kamu kok malah tertawa sih, gak percaya kalau aku awet imutnya ?", kata Adrian lagi sambil menggelitik Kikan. Kikan semakin tertawa terbahak-bahak.


"Sudah .... Adrian, berhenti bercandanya. Bajuku tambah kotor semua ini ", kata Kikan sambil mengibaskan pasir yang menempel di bajunya.


"Habis kamu yang mulai duluan sih ", kata Adrian.


"Sudah sore, ayo kita pulang !", ajak Kikan.


"Tunggu sebentar, aku ingin menikmati sunset disini bersama kamu ", jawab Adrian.


"Tapi, tadi kamu bilang kita hanya sebentar. Kasihan Raka, pasti menungguku ", ucap Kikan lagi.


"Aku yakin Raka pasti gak khawatir kalau kamu perginya sama aku. Kita tunggu sunset ya, habis itu kita pulang, aku antar kamu nanti", ucap Adrian lagi. Kikan hanya diam, susah kalau harus berdebat dengannya. Adrian kini sudah duduk manis terdiam menikmati pemandangan sore yang temaram mengantar mentari yang pulang ke peraduannya. Kikan ikut diam, menikmati sore yang sejuk ini dengan angin laut yang terus menerus menerpa wajahnya.


"Kamu tahu ...., dulu waktu di Australia aku sering menikmati sunset sendirian. Aku berharap suatu saat ada seseorang di sampingku yang ikut menemani menikmati indahnya sunset. Dan sekarang harapan ku itu terwujud", ucap Adrian kini sambil memandang Kikan.


"Aku tahu kamu akan terus menolak ku tapi aku tidak akan berhenti mencintaimu. Aku ingin kamu terus ada disini Kikan, di sisiku selamanya", sambung Adrian lagi.


"Kamu selalu memaksakan kehendak mu, kamu tidak pernah mau mendengar dari sisiku. Kamu dan aku itu beda. Dulu kita memang sama dan pernah bersama tapi sekarang... Kamu bagai bintang di langit Adrian, aku tidak mau terlalu mengharapkanmu. Aku sudah sadar dengan posisiku dan aku tidak mau meminta lebih", kata Kikan.


"Bagaimana kalau bintang di langit itu jatuh menghampirimu, apa kamu tetap akan menolaknya ?", tanya Adrian lagi. Kikan hanya diam menatap Adrian yang kini juga menatapnya.


"Aku mencintaimu ..., aku tidak peduli dengan masa lalu mu. Aku hanya ingin kamu jadi milikku seutuhnya, Kikan". Kikan kembali terdiam, di tatapnya Adrian yang berkata penuh ketulusan.


"Entahlah ...., aku tidak tahu harus bagaimana, Adrian", jawab Kikan lagi. Adrian kembali diam lalu merengkuh pinggang Kikan untuk lebih mendekat ke arahnya. Kikan terkejut melihat sikap Adrian.

__ADS_1


"Aku mencintaimu .....dan akan memilikimu, selamanya ", ucap Adrian lagi sambil menatap mata Kikan lekat-lekat. Kemudian Adrian semakin mendekatkan kepalanya hingga bibirnya menyentuh bibir Kikan. Adrian mencium bibir Kikan dengan lembut. Kikan hanya memejamkan matanya menikmati sentuhan yang sudah lama tidak dia rasakan dan sebuah getaran-getaran aneh yang kembali datang menjalari tubuhnya. Apa aku kembali merasakan cinta itu lagi ?, pikir Kikan.


Senja itu begitu indah, ditambah dua insan yang kembali menjalin asmara.


__ADS_2