
Malam sudah turun saat mobil Adrian berhenti di depan rumah Kikan. Ia melirik ke bangku samping, tampak Kikan tertidur pulas di sampingnya. Untung saja tadi mereka sempat mampir ke toko untuk membeli baju kalau tidak mungkin bisa saja mereka masuk angin sekarang. Adrian terdiam, dia masih ingin menikmati wajah teduh Kikan lebih lama. Namun tiba-tiba mata Kikan terbuka, dia tersenyum ke arah Adrian yang memperhatikannya dari tadi.
"Kita sudah sampai ?", tanya Kikan. Adrian hanya mengangguk sambil terus menatapnya.
"Kamu kenapa ?", tanya Kikan lagi.
"Aku hanya enggan berpisah denganmu ", ucap Adrian membuat Kikan tersenyum geli.
"Besok kita bisa bertemu lagi kan", ucap Kikan sambil membuka sabuk pengamannya. Adrian hanya mendengus kesal.
"Kenapa ?", tanya Kikan bingung.
"Aku lupa bilang padamu, kalau besok aku harus pergi. Aku harus ke luar negeri selama dua pekan, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan ", ucap Adrian.
"Pergilah, kita masih bisa telponan kan ?", kata Kikan sambil tersenyum. Adrian hanya mengangguk. Kikan segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Adrian bergegas mengejar Kikan lalu menarik tangan Kikan dan memeluknya. Kikan berusaha melepaskan pelukan Adrian namun Adrian mencegahnya.
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja ya ?", bisik Adrian di telinga Kikan. Kikan hanya mengangguk kemudian membalas pelukan Adrian.
Mereka berpelukan cukup lama.
"Adrian .... apa kamu tidak mau melepaskan pelukanmu ?. Aku takut ibu dan ayah berpikiran yang tidak-tidak", ucap Kikan lirih. Adrian tersenyum lalu melepaskan Kikan.
"Aku sudah terbiasa memelukmu, rasanya sangat sulit untuk menghilangkan kebiasaan itu ", ucap Adrian sambil menggaruk kepalanya.
"Kamu ikut masuk ?". Adrian mengangguk. Kikan lalu membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Adrian masuk.
"Wah .... mama dan Om Kelen cudah datang, Nek", pekik Raka menyambut Adrian dan Kikan.
"Halo jagoan ..., belum tidur ya ?", sapa Adrian ke Raka. Raka langsung berlari ke arah Adrian dan duduk di pangkuannya.
"Laka kangen Om, kapan Om bacain celita lagi ?", tanya Raka.
__ADS_1
"Nanti deh, kalau Om ada waktu senggang ya ...", jawab Adrian.
"Kalo cekarang gak bica, Om ?. Atau Om nginep cini aja ", ucap Raka lagi.
"Raka ... Om Adrian capek, lagian besok Om harus kerja. Nanti ya baca ceritanya sama mama ", ucap Kikan.
"Kalo mama yang bacain celita gak ceru, lebih ceru Om Kelen. Baik deh, Laka tunggu kalo Om gak cibuk ", ucap Raka akhirnya.
"Laka tidul dulu ya, Om ", ucap Raka lalu mencium pipi Adrian berpamitan. Adrian kaget mendapat perlakuan istimewa dari Raka tadi, sedang Kikan hanya tersenyum geli melihatnya.
"Kalian baru datang ?", tanya ayah kemudian yang tiba-tiba keluar.
"Iya, maaf Om, kami kemalaman ", ucap Adrian sopan. Ayah hanya mengangguk kemudian menyuruh Kikan masuk ke dalam untuk membuatkan minuman.
"Om masih mengingatmu Adrian, kamu teman SMA Kikan yang pernah Om tampar dulu kan ?", kata ayah lagi. Adrian mengangguk membenarkan.
"Dulu Om menamparmu karena Om tidak ingin Kikan terluka karena ulahmu. Dan sekarang Om mengingatkan lagi, Om tidak segan-segan juga akan melakukan lebih dari tamparan kalau kamu sampai menyakiti Kikan lagi. Tidak peduli jabatanmu seorang CEO, Om akan melakukannya kalau sampai kau membuat Kikan menangis atau terluka. Camkan itu !", ucap ayah sedikit mengancam.
"Syukurlah kalau kamu seperti itu. Kikan pernah bahagia lalu terluka hingga dia tidak mau membuka hatinya pada siapapun. Om senang kalau kamu mampu membuat senyuman di wajahnya hadir lagi. Om berharap senyuman itu akan terus ada tidak hanya sekejap ", tambah ayah.
"Iya Om, saya janji. Saya janji akan membuat Kikan tersenyum terus selamanya ", ucap Adrian lagi. Ayah hanya manggut-manggut saja.
"Sudah, Ayah... Adrian sudah capek, besok dia harus keluar negeri untuk bisnis trip. Sudah ya, pembicaraannya ", kata Kikan tiba-tiba keluar sambil membawakan minum untuk Adrian dan ayah.
"Ayah hanya ingin memastikan kamu bahagia bersamanya. Tapi melihat dari raut wajah kalian sepertinya pertanyaan Ayah sudah terjawab", ucap Ayah yang membuat Kikan dan Adrian tersenyum bersamaan.
"Ya sudah kalau begitu, Ayah ingin beristirahat. Adrian kalau bisa jangan pulang terlalu malam ", ucap ayah lagi yang diiyakan oleh anggukan Adrian.
"Kamu ingin langsung pulang ?", tanya Kikan kini setelah ayah masuk ke dalam.
"Sebentar lagi, aku ingin memandang wajahmu lama. Habis ini selama 2 pekan aku tidak akan melihatmu. Sini, duduklah di sampingku ", ucap Adrian sambil menggeser duduknya. Kikan diam tapi segera berpindah duduk di samping Adrian.
__ADS_1
"Aku janji selepas bisnis trip, aku akan segera meminangmu. Aku tidak mau berjauhan terus denganmu ", ucap Adrian.
"Apa secepat itu ? kamu tidak ingin membicarakan dengan orang tuamu dulu ?".
"Untuk apa ditunda lagi, aku tidak mau tidur sendirian terus. Aku ingin memelukmu terus ", ucap Adrian.
"Kalau tentang orang tua ku, aku yakin mereka memberikan kebebasan untukku memilih jadi semua terserah aku. Kamu jangan kuatir ya !", ucap Adrian kini sambil menyentuh pipi mulus Kikan. Kikan hanya diam.
"Kamu kok diam saja ? kamu meragukan aku ya ?", tanya Adrian sambil mengangkat dagu Kikan. Kikan menggeleng cepat.
"Aku tidak meragukanmu, kadang semua yang indah-indah kita rencanakan tidak sesuai dengan kenyataan. Aku tidak ingin melambung dulu kalau akhirnya terjatuh. Aku hanya berharap dan berdoa semoga semua yang kau ucapkan padaku menjadi kenyataan ", ucap Kikan.
"Kamu belajar dari pengalaman ya ?". Kikan mengangguk.
"Aku pernah sangat mencintai seseorang dan merencanakan yang indah namun Tuhan berkehendak lain. Dan sekarang, aku tidak ingin berharap lebih. Aku sudah cukup senang selalu berada disamping mu saja. Kalau Tuhan menyatukan kita dalam sebuah ikatan, aku semakin bersyukur. Aku telah memilihmu, membuka hatiku untukmu dan mencintaimu. Aku berharap kamu tidak akan menyakitiku, Adrian ", ucap Kikan kini. Adrian hanya diam menatap mata teduh Kikan yang selalu memberikan ketenangan untuknya.
"Aku mencintaimu dulu, sekarang dan selamanya. Aku janji tidak akan menyakitimu ", ucap Adrian sambil menggenggam tangan Kikan dan mengecupnya.
"Apa ayahmu sudah tidur ?", bisik Adrian di telinga Kikan.
"Memangnya kenapa ?", tanya Kikan bingung.
"Aku takut saat kita berciuman, Beliau keluar. Aku jadi tidak enak hati nantinya ", kata Adrian lagi disambut tawa Kikan.
"Aku mencintaimu, Adrian Dinata ", ucap Kikan sambil menarik dagu Adrian ke arahnya dan mencium lembut bibir Adrian. Adrian terbelalak kaget melihat sikap agresif Kikan. Dia lalu memeluk pinggang Kikan mendekatkan ke arahnya dan menjatuhi Kikan dengan ciuman bertubi-tubi di bibirnya.
Hingga beberapa menit bibir mereka saling bertautan. Lalu keduanya berhenti dengan nafas tersengal saling memburu.
"Aku harus segera pulang ", ucap Adrian sambil tersenyum.
"Aku takut tidak bisa mengontrol diriku bila bersamamu terus malam ini ", ucapnya lagi sambil mengerling nakal seperti biasanya. Kikan hanya menunduk malu. Dia merasa malu karena ia yang memulai mencium Adrian tadi. Adrian segera bangkit diantar Kikan ke depan pintu.
__ADS_1
"Mimpiin aku ya ! Besok aku akan menelponmu ", pamit Adrian. Kikan hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan Adrian. Kikan berdiri di depan pintu hingga mobil Adrian menghilang di telan malam. Kikan segera menutup pintu dan menguncinya. Ada senyum bahagia yang susah untuk dilukiskan terpampang jelas di wajahnya.