Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kehidupan Baru Kikan


__ADS_3

 Kikan terdiam mematung menatap bayangan dirinya di depan cermin yang sedang memakai baju toga. Ya .... akhirnya dia wisuda hari ini, setelah menyelesaikan skripsinya. Kikan tersenyum menatap bayangan dirinya. Inilah pencapaian yang dicari nya selama ini, meskipun ada sedikit rasa sedih di dalam hatinya.


Seharusnya Ranu ada di sampingnya saat ini sama seperti yang Kikan lakukan dulu di wisuda Ranu. Namun, itu tidak mungkin Ranu telah meninggalkan dirinya dan Kikan telah mengikhlaskan semuanya. Kini yang ada mendampingi wisudanya adalah Raka, putra kecilnya buah cinta titipan dari Ranu.


 


"Kamu sudah siap, Nduk ?", tanya ibu. Sudah sebulan Kikan pindah ke rumah ibunya meninggalkan rumah kayu yang penuh kenangan.


"Sudah, Bu. Raka dimana Bu ?", tanya Kikan kini.


"Raka sudah siap dari tadi, sekarang sudah menunggumu di luar bersama ayah", jawab ibu. Kikan tersenyum lalu beranjak berlalu ke depan.


"Ayo Bu, kita berangkat sekarang", ucap Kikan lagi. Ibu hanya mengangguk dan mengikuti Kikan di belakang.


"Nah, itu Mama datang Raka. Mama cantik sekali ya ", sahut ayah begitu melihat Kikan dan ibu berjalan keluar.


"Wah ... jagoan Mama, sudah siap dari tadi ya ?", sapa Kikan ke Raka yang hanya disambut tawa kecil Raka.


"Ayo ... kita berangkat. Tadi Mami Tiwi telepon katanya mereka akan menunggu di sana jadi tidak perlu ditunggu", kata ayah lagi.


"Baiklah kalau gitu, kita berangkat sekarang Yah", sahut Kikan sambil mengambil Raka dari gendongan ayah dan bergegas masuk ke mobil.


"Sini ... biar Ibu yang gendong Raka, Nduk !".


"Gak usah Bu, biar Kikan saja. Nanti kan Raka akan digendong Ibu terus selama Kikan prosesi wisuda".


"Ya wes kalau gitu". Kikan tersenyum lalu mulai menciumi Raka dengan lembut.

__ADS_1


"Katanya Bobby dan Intan juga akan datang ke wisudamu. Mereka ingin merasakan kebahagiaan mu juga, gitu kata Bobby di telepon tadi". Kikan hanya tersenyum.


"Ibu senang, Nduk. Akhirnya kuliahmu kelar juga dan senangnya lagi setelah wisuda kamu tidak perlu sibuk mencari pekerjaan karena usaha butik mu kelihatan nya sudah berkembang pesat sekali".


"Iya Bu, itu semua berkat doa Ayah dan Ibu juga".


"Kamu jadi menyewa ruko di dekat alun-alun itu ?", tanya ayah kini.


"Sepertinya iya, Yah. Kikan juga butuh tempat untuk memajang hasil karya Kikan. Selain itu, ruko di dekat alun-alun itu letaknya sangat strategis. Kikan yakin akan banyak customer lagi bila jadi menyewa tempat disana", jelas Kikan.


"Tapi, harga sewanya mahal loh Nduk. Apa budget mu mencukupi ?", tanya ibu kini.


"Kikan sudah mempersiapkan untuk itu kok Bu. Ibu gak usah khawatir", kata Kikan sambil mengelus lengan ibu.


"Ibu dan ayah hanya bisa mendoakan supaya kamu sukses terus dan bahagia terus, Nduk". Kikan tersenyum lalu mencium pipi ibunya.


"Oh, Raka kenapa melihat nenek terus ?. Pengen di peluk juga ? Sini, sini ganti nenek yang gendong ya ?", ucap ibu sambil mengambil Raka dari gendongan Kikan. Ayah hanya tersenyum menatap kedua orang yang dicintainya itu berpelukan.


Tak berapa lama, mobil Kikan sudah berhenti di aula pertemuan, tempat wisuda Kikan berlangsung. Kikan segera turun dari mobil diikuti Ibu, sedangkan ayah segera memarkirkan mobil.


"Kikan !", seru mami Tiwi yang berdiri tak jauh dari tempat Kikan.


"Mami juga barusan datang, sekarang Papi juga sedang parkir mobil. Halo Raka ...", sapa mami Tiwi yang segera teralihkan begitu melihat Raka. Raka tampak kegirangan melihat Omanya segera menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.


"Waduh ... sudah kangen sama Oma ya ? sini Oma gendong", ucap mami Tiwi yang langsung mengendong Raka. Ibu dan Kikan tertawa melihat tingkah Raka.


"Kikan lebih baik kamu bersiap di barisan wisudawan, biasanya mereka kan masuk lebih dulu. Nanti saja kita foto-fotonya", seru mami Tiwi mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, kalau begitu Kikan tinggal dulu ya, Mi, Bu". Ibu dan mami hanya mengangguk menjawab Kikan.


Tak berapa lama tampak Galuh, Papi Farid dan Ayah datang menemui mereka.


"Loh ... kak Kikan mana Mi ?", tanya Galuh.


"Kikan harus baris duluan dengan para wisudawan. Kamu sih ke toilet aja, lama banget", ucap mami Tiwi.


"Habis antri Mi", jawab Galuh.


"Kalau gitu, ayo kita segera masuk saja !", ajak papi Farid dan disetujui oleh semuanya.


Segera ayah, ibu, mami Tiwi, papi Farid dan Galuh memasuki aula tempat wisuda Kikan. Mereka menunjukkan undangan dan segera duduk di bangku yang telah disediakan. Mami Tiwi kembali teringat dua tahun yang lalu, saat dia menghadiri wisuda Ranu di tempat yang sama juga. Setetes air mata mengalir membasahi pipi mami Tiwi.


"Mami kenapa ?", tanya papi Farid.


"Mami ingat Ranu, Pi. Di sini juga kan Ranu wisuda, dia begitu bahagia saat itu. Waktu itu, ada Kikan juga hadir disini. Ini seperti flashback bagi Mami", ucap Mami sambil menyeka air matanya.


"Sudah, Mi. Jangan diingat lagi, ikhlaskan Ranu", kata papi sambil mengelus punggung mami.


"Iya, Mi. Sekarang kan sudah ada aku, Raka penggantinya Papa Ranu ", seru Galuh yang kini sedang memangku Raka. Mami, papi, ayah dan ibu lalu tersenyum mendengar ocehan Galuh.


Beberapa saat kemudian, suasana terlihat tenang. Acara wisuda segera dimulai, sama seperti wisuda Ranu sebelumnya. Barisan wisudawan dan wisudawati sudah masuk dan duduk menempati bangku sesuai nomer registrasi mereka. Kemudian disusul barisan Dekan dan Rektor yang memasuki ruangan. Setelah mereka menempati tempat duduk, lagu hymne universitas mulai dikumandangkan oleh group paduan suara. Setelah itu sambutan-sambutan di sampaikan dan terakhir prosesi wisuda pun dimulai.


Saat nama Kikan disebut, dia segera maju ke depan menerima ijazah secara simbolis, bersalaman dengan rektor. Ayah, ibu, mami, papi dan Galuh tampak senang dan bangga luar biasa. Mereka bersyukur Kikan sudah bisa move on dan melanjutkan hidupnya lagi meskipun dua tahun ini, dia mengalami banyak masalah. Mereka berlima tidak akan pernah berhenti mendukung Kikan untuk meneruskan kehidupannya, menemukan kebahagiaannya dan bahkan menemukan pengganti Ranu suatu saat nanti.


Mereka hanya ingin Kikan selalu bahagia, selalu tersenyum dan tidak mengenal kata sedih atau airmata yang menetes di pipinya nanti. Tepuk tangan sorak sorak ramai bergemuruh setelah acara wisuda itu selesai. Banyak wisudawan dan wisudawati yang terlihat berhambur saling berfoto ria membagi kenangan indah mereka bersama teman-temannya. Namun, tidak dengan Kikan. Ia segera menghindar menjauh saat beberapa teman ingin mengajaknya berfoto. Bukan Kikan sombong tapi memang banyak diantara mereka yang tidak Kikan kenal karena kebanyakan mereka adalah adik kelas Kikan. Kikan hanya tersenyum melambaikan tangan dan bergegas menuju keluarga nya yang sudah menanti di luar.

__ADS_1


__ADS_2