
"Pagi, Mbak, bisa dibantu ?", sapa Amel begitu melihat Irene yang celingukan ragu untuk masuk ke butik milik Kikan.
"Oh, iya, maaf apa ini butik milik Kikan ?", tanya Irene sopan.
"Iya, betul, Mbak. Tapi Mbak Kikan belum datang, mungkin sebentar lagi datang", jawab Amel ramah.
"Kalau begitu boleh saya menunggu disini ?", ucap Irene sambil menunjuk ke sofa di pojok ruangan itu.
"Tentu saja boleh. Kalau boleh saya tahu ada keperluan apa ya, Mbak ?", tanya Amel lagi.
"Bulan depan saya akan menikah dan saya kesini mau memesan gaun pengantin", jawab Irene.
"Wah ... kalau begitu, Mbak bisa melihat-lihat beberapa katalog ini. Ini beberapa foto baju hasil rancangan Mbak Kikan siapa tahu bisa menjadi referensi", ucap Amel sambil menyodorkan beberapa album ke Irene. Irene menerimanya dengan tersenyum dan kemudian membuka-buka album itu. Irene sangat takjub melihat foto di album itu. Semua baju di album itu sangat indah dan mempunyai ciri khas tersendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kikan benar-benar profesional, pantas saja butiknya ini berkembang dengan cepat.
"Irene !, tumben kamu pagi-pagi kok sudah kesini ?", pekik Kikan begitu tiba di ruko dan melihat Irene sudah duduk manis di sofa pojok sambil melihat-lihat album foto.
"Iya, kemarin kita belum selesai ngobrol kamu sudah pulang duluan", ucap Irene sambil tersenyum. Kikan hanya tersenyum masam, lalu menarik Irene untuk masuk ke ruangannya. Sejak butik Kikan ramai, ruang kerja Kikan kini di lantai satu sedang lantai dua dioptimalkan untuk ruang produksi dalam hal ini menjahit. Hal ini Kikan lakukan sampai renovasi ruko sebelah yang baru dibelinya selesai. Setelah selesai, mungkin Kikan akan kembali menempati ruangannya yang dulu.
"Kamu kenal Adrian Dinata ?", tanya Irene begitu mereka sudah di ruangan kerja Kikan. Kikan mengangguk sambil menyodorkan teh untuk Irene.
"Kamu kenal baik dengannya ?", tanya Irene lagi. Kikan menarik nafas panjang.
"Kenapa ? kamu punya masalah dengannya ?. Sebenarnya aku sudah kenal lama dengan Adrian tapi tidak begitu dekat. Dia kan kerabat jauh Ranu dari keluarga mami Tiwi. Jadi mami Tiwi saudara sepupu dengan mamanya Adrian. Sedangkan suamiku saudara sepupu Adrian dari keluarga papanya Adrian. Kalau dipikir-pikir pertemanan kita memang hanya itu-itu saja ya, Kikan", jelas Irene. Kikan hanya diam. Padahal aku sudah mengubur lama nama Adrian kenapa sekarang muncul lagi sih, gumam Kikan dalam hati.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih ?", tanya Irene lagi begitu melihat Kikan sangat aneh hari ini.
"Ah, gak pa-pa kok. Adrian itu teman SMA ku, kami hanya teman masa lalu. Kenapa Mas Ranu gak pernah cerita tentang Adrian ya ?", gumam Kikan lagi.
"Untuk apa cerita ?, Adrian itu anak nakal. Dulu waktu SMA kerjaannya hanya tawuran, balapan sudah gitu selalu saja membuat ulah. Sudah berapa kali papanya menebus dia dari penjara karena balapan liar. Mungkin karena capek akhirnya belum lulus SMA Adrian sudah di kirim ke luar negeri. Lucunya lagi, papanya sungguh tega mengirim Adrian ke luar negeri tanpa memberi jatah bulanan padanya, akhirnya Adrian terpaksa sekolah sambil bekerja paruh waktu di sana. Tapi, untunglah karena pelajaran berharga itu dia jadi sesukses sekarang", terang Irene lagi. Kikan terdiam. Pantas saja, saat itu ia pergi menghilang begitu saja, pikir Kikan.
"Eh, tapi kamu gak ada hubungan istimewa kan dengan Adrian?", tanya Irene tiba-tiba.
"Memangnya kenapa ?", kata Kikan balik tanya.
"Ya ... walau tampan begitu Adrian belum pernah pacaran loh. Setiap ku goda, dia bilang, dia punya seseorang yang sedang menunggunya di sini, makanya dia kembali ke sini. Sayangnya, dia tidak pernah cerita siapa seseorang itu". Kikan terdiam lagi, ia berpikir keras siapa yang sedang menunggu Adrian disini, tidak mungkin kalau itu dirinya.
"Hei Kikan, kamu kok banyak melamun hari ini ?", ucap Irene mengagetkan Kikan lagi.
"Tapi, aku hari ini berkonsultasi denganmu tidak masalah kan ?", tanya Irene lagi.
"Kalau untuk kamu sih, aku selalu siap kok. Oh ya, kalau boleh tahu pesta pernikahan mu nanti outdoor atau indoor ?", tanya Kikan kini.
"Aku memilih outdoor, aku ingin pesta kebun yang sederhana saja. Aku ingin gaunku ringan, tidak terlalu ribet sehingga aku bisa dengan mudah melangkah kesana kemari. Aku tidak mengundang tamu terlalu banyak karena aku ingin menyapa mereka satu persatu. Tapi tentu saja, aku ingin gaunku tetap elegan dan mewah".
"Kamu sudah menentukan warna gaun yang kamu mau ?", tanya Kikan lagi.
"Iya, aku ingin hijau pucat dan untuk suamiku juga kalau bisa kamu buatkan warna yang senada untuk jasnya", ucap Irene. Kikan hanya mengangguk sambil sibuk menuangkan idenya dan keinginan Irene ke dalam laptopnya. Mereka berdua asyik berdiskusi sampai tidak sadar waktu dua jam telah berlalu.
__ADS_1
"Waduh ... maaf Kikan, aku harus segera pergi. Aku ada janji setengah jam lagi. Feril juga sudah dalam perjalanan menjemputku, mungkin sebentar lagi dia tiba", ucap Irene.
"Feril itu calon suamimu ?", tanya Kikan.
"Iya, aku akan mengenalkannya padamu. Nah, itu dia !". Kikan melihat sosok yang dipanggil Feril itu. Dia laki-laki yang cukup tampan, dengan kulit sawo matangnya yang menonjol menunjukkan ciri khas orang Indonesia. Meski saudara sepupu, Feril beda dengan Adrian yang memiliki kulit cerah dan wajah indo. Wajah Feril sangat Indonesia sekali mungkin ini yang membuat Irene memilihnya.
"Sudah selesai, Sayang ?", sapa Feril begitu bertemu Irene.
"Sudah, sini aku kenalkan dengan Kikan, perancang baju pengantin kita nanti", ucap Irene. Feril segera mengulurkan tangannya dan disambut Kikan dengan tersenyum.
"Mungkin, kamu juga harus diukur untuk membuat bajumu nanti, Sayang. Benarkan Kikan ?", ucap Irene lagi.
"Iya, tapi kalau hari ini kalian tergesa-gesa, besok juga gak pa-pa kok. Kalian bisa langsung datang kesini, meski aku tidak ada, Amel atau Rika yang akan membantu kalian", ucap Kikan.
"Baiklah, kalau sekarang bagaimana biar cepat selesai. Setelah itu, baru kita pergi ke toko bunga dan catering", jawab Feril.
"Begitu ..., baiklah. Kikan, Feril dan aku diukur sekarang saja biar cepat selesai", kata Irene.
"Baiklah, kalau begitu aku panggil Amel dan Rika dulu ya", ucap Kikan bergegas memanggil Amel dan Rika. Amel dan Rika segera datang dan melakukan pengukuran Irene dan Feril. Hanya setengah jam, setelah itu sudah selesai.
"Aku pamit dulu ya, Kikan. Kira-kira kapan aku bisa fitting ?", tanya Irene sambil tersenyum.
"Nanti aku kabari, ukuran bajumu baru saja ku terima, masak sudah minta fitting ".
__ADS_1
"Aku hanya bercanda kok, ayo kita pulang, Sayang", ajak Irene ke Feril. Feril mengangguk lalu tersenyum dan berpamitan ke Kikan. Kikan tersenyum iri melihat pasangan itu berlalu. Andai saja mas Ranu masih ada.