Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Dinner


__ADS_3

Hari ini Kikan agak larut sampai rumah, namun betapa terkejutnya dia saat sampai di rumah sudah ada mobil Adrian terparkir di sana. Kikan cepat-cepat memarkir mobilnya di garasi dan beranjak turun.


"Bu .... kok ada mobil Adrian di depan ?", tanya Kikan begitu masuk rumah dan bertemu ibu.


"Iya, habis magrib tadi dia sudah kesini ", jawab ibu.


"Terus kemana sekarang, kok sepi ?", tanya Kikan.


"Ada di kamar Raka, tadi selesai makan malam Raka dan Adrian masuk kamar katanya Adrian sudah janji mau membacakan cerita untuk Raka", jelas ibu.


"Tapi ini sudah malam loh, Bu..Apa dia tidak pulang ?", kata Kikan.


"Coba kamu saja yang menegurnya, Ibu tidak enak", ucap ibu lagi.


"Baiklah". Kikan bergegas meletakkan tasnya dan beranjak ke kamar Raka. Kikan membuka perlahan pintu kamar Raka. Hening ....., katanya mau membacakan cerita tapi kok susananya hening begini, pikir Kikan. Kikan berjalan masuk dan melihat sebuah pemandangan yang sangat mengejutkannya. Tampak Adrian tidur bersandar di bantal Raka dengan salah satu tangan membawa buku cerita dan Raka tidur bersandar di lengan Adrian. Mereka tampak sangat tenang dan nyaman.


"Pantas saja mereka tidur kok tidak ada suaranya dari tadi", bisik ibu lirih yang sudah berdiri di belakang Kikan.


"Coba kamu bangunkan Kikan ", bisik ibu lagi terus berlalu meninggalkan Kikan. Kikan mengangguk. Kemudian dia berjalan mendekati ranjang Raka, lalu ketika dekat, Kikan duduk di pinggir ranjangnya. Kikan menyenggol tangan Adrian mencoba membangunkan. Setelah beberapa saat akhirnya Adrian membuka matanya.


"Kamu tidak pulang ?", ucap Kikan begitu Adrian sudah sadar dan membuka matanya. Adrian menggangguk lalu dengan perlahan memindahkan Raka yang bersandar padanya ke bantal di kasurnya.


"Maaf, aku ketiduran ...", ucap Adrian sambil mengucek matanya. Kikan hanya tersenyum menatapnya. Dia tetap tampan meski baru bangun tidur.


"Apa mau kubuatkan kopi agar kamu terjaga ?", kata Kikan begitu mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Gak usah, nanti malah aku gak bisa tidur. Aku tadi ingin menunggumu pulang tapi malah ketiduran, maaf ya ?", kata Adrian sambil tersenyum.


"Aku yang minta maaf lagi-lagi Raka merepotkan mu. Terima kasih ya, mau meluangkan waktumu untuk Raka", ucap Kikan. Adrian hanya tersenyum, lalu merogoh celananya dan mengeluarkan secarik kertas.


"Ini ", ucapnya sambil memberikan secarik kertas itu ke Kikan.


"Apa ini ?", tanya Kikan bingung.


"Itu alamat apartemenku, kamu masih berhutang makan malam kan ?. Besok, aku menunggumu, aku harap kamu tidak terlambat. Aku pamit dulu ya, sudah malam. Pamitkan ke Ibu !" ucap Adrian sambil bangkit dan berlalu pergi. Kikan masih diam berdiri mengantarkan kepergiannya.

__ADS_1


**********


Kikan sengaja pulang cepat hari ini dan kini dia sudah berada di parkiran apartemen Adrian sesuai dengan alamat yang diberikan Adrian. Kikan segera turun dan bergegas menuju meja lobby. Rupanya Adrian sudah menitip pesan sehingga seorang security langsung mengantar Kikan ke tempat Adrian.


"Terima kasih, Pak !", ucap Kikan begitu sudah sampai di depan pintu apartemen Adrian. Security itu memberi hormat ke Kikan dan bergegas berlalu. Kikan segera menekan bel, tak berapa lama pintu terbuka dan tampak Adrian yang membukanya.


"Hei ! ayo masuklah!", ucap Adrian. Kikan langsung masuk dan terkejut melihat ruangan apartemen Adrian yang tertata rapi.


"Aku baru mulai memasak, tapi sebenarnya aku sengaja menunggumu sih ", ucap Adrian sambil berjalan menuju dapurnya. Ia lalu menyambar celemek, memakainya kemudian memberikan celemek satu lagi ke Kikan dan membantu Kikan memakainya.


"Kamu bisa memasak ?", tanya Kikan keheranan begitu melihat banyak bahan makanan sudah siap diolah tampak tertata di meja.


"Kamu meremehkanku lagi ya ?. Aku hampir sepuluh tahun tinggal sendiri di negeri orang, tentu saja aku harus bisa masak untuk makanku sehari-hari. Kamu suka steakmu matang atau setengah matang ?", tanya Adrian sambil mulai memasak.


"Aku suka yang matang deh, aku harus membantu apa nih ?. Aku tidak pandai di dapur", ucap Kikan begitu melihat Adrian yang tampak lihai menggunakan alat-alat di dapur.


"Kalau memotong sayuran, bisa kan ?", ucap Adrian sambil tersenyum dan masih sibuk mengolah masakannya. Kikan hanya mengangguk dan segera memotong beberapa sayuran yang sudah disiapkan Adrian. Sesekali Kikan mencuri pandang ke Adrian yang serius memasak. Kikan tersenyum kecil melihat penampilan Adrian saat ini. Celana jeans, sweater coklat dan sebuah celemek biru sedang menempel di tubuhnya tapi dia masih tetap saja tampan.


"Kamu senyum saja dari tadi, kenapa ? naksir ya ?", ucap Adrian mengerling nakal ke arah Kikan.


"Paket lengkap, maksudnya ?", tanya Adrian bingung.


"Udah ganteng, keren, CEO muda, bisa masak lagi. Kamu bener-bener paket lengkap ", jawab Kikan lagi sambil tersenyum. Adrian hanya tersenyum mendengarnya.


"Aku baru kali ini kok masak untuk seseorang", ucap Adrian lagi kini masih serius melanjutkan masakannya. Kikan hanya diam mengamati Adrian yang cekatan. Setelah beberapa saat akhirnya masakan Adrian selesai dan kemudian mereka mengatur hasil masakannya di meja makan dekat balkon yang sudah disiapkan Adrian.


"Bagaimana rasanya, kamu suka ?", tanya Adrian begitu mereka mulai makan. Kikan diam lalu mencoba mengunyah makanan yang baru saja masuk ke mulutnya.


"Hemm .... enak banget ", jawab Kikan. Adrian tersenyum lalu mereka sibuk melanjutkan makannya dengan pujian yang terus menerus diberikan Kikan ke Adrian.


"Seharusnya aku yang mentraktirmu, tapi malah sebaliknya", kata Kikan.


"Kalau begitu kamu masih punya hutang mentraktirku makan malam ya ?", jawab Adrian.


Kikan hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu mempunyai view yang bagus ya, bisa memandang bintang-bintang dari balkon sini ", ucap Kikan sambil berjalan menuju balkon dan melihat bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit.


"Kamu suka memandang bintang ya ?", tanya Adrian. Kikan mengangguk dan masih sibuk memandang bintang di langit. Adrian berjalan perlahan mendekatinya, karena sejujurnya Adrian phobia dengan ketinggian tapi karena view yang bagus, Adrian terpaksa memilih apartemen ini.


"Kamu kenapa ?", tanya Kikan melihat Adrian yang bergidik saat melihat ke bawah dari balkon tempat dia berdiri.


"Eh ... gak pa-pa, lebih baik kita kembali duduk di dalam yuk !", ajak Adrian tapi Kikan menolak. Kini Kikan mencoba akan duduk diatas balkon, Adrian kembali bergidik.


"Kikan ... apa yang kamu lakukan ?, nanti kamu jatuh", ucap Adrian panik. Kikan tertawa geli.


"Kamu phobia ketinggian ya ?", tanya Kikan. Adrian akhirnya mengangguk. Kikan makin tertawa lalu bergaya duduk tanpa pegangan, sesungguhnya balkon apartemen Adrian cukup aman setelah balkon itu bawahnya masih ada bangunan untuk tempat berpijak tapi karena Adrian phobia, dia terus tegang melihat tingkah Kikan.


"Tolong, Kikan turunlah !", ucap Adrian ketakutan. Kikan kembali tertawa geli. Akhirnya Kikan melompat turun dan langsung ditangkap Adrian.


"Kamu benar-benar membuat aku spot jantung", ucap Adrian. Kini Kikan sudah berada di pelukannya dan sedang tertawa geli.


"Sebagai hukuman membuat aku spot jantung, aku tidak akan melepaskanmu ", ucap Adrian sambil menyandarkan Kikan ke balkon dan mengurung dengan kedua tangannya.


"Kamu sebegitu ketakutannya", kata Kikan sambil tertawa melihat tingkah Adrian.


"Kamu tahu ...., aku gak mau kehilangan kamu lagi", jawab Adrian serius. Kikan hanya diam saat Adrian mulai serius menatap dirinya.


"Aku mencintaimu dan aku tidak mau kehilangan kamu", ucap Adrian, kini wajahnya semakin dekat dengan wajah Kikan. Kikan hanya diam dan mencoba menundukkan wajahnya, ia tidak sanggup menatap wajah Adrian yang penuh binar cinta.


"Aku ingin menjalin hubungan lebih serius denganmu, aku ingin ... menikah denganmu", ucap Adrian lagi. Kini Kikan terkejut dengan ucapan Adrian.


"Adrian ... kamu jangan bercanda", ucap Kikan sambil mencoba melepaskan kurungan Adrian.


"Kamu pikir aku bercanda ? aku serius dan aku gak pernah seserius seperti sekarang. Aku sudah capek, aku tidak mau kehilangan lagi orang yang kusayang dan kucinta. Aku ingin menikah denganmu", ucap Adrian lagi sambil menatap Kikan lekat. Jantung Kikan seakan bergemuruh berdetak kencang, ia takut Adrian akan mendengar suaranya.


"Aku hanya ingin bersama kamu terus seperti saat ini ", ucap Adrian. Kikan hanya diam lalu mulai membalikkan badannya saat Adrian lengah. Namun Adrian malah memeluknya dari belakang.


"Tolong ...., jangan alihkan aku lagi ", bisik Adrian di telinga Kikan, kemudian Adrian mulai mencium leher jenjang Kikan. Kikan langsung berbalik dan membuat Adrian berhenti.


"Adrian .... tolong beri aku kesempatan, beri aku waktu. Aku tidak mau kamu menyesal nantinya", kata Kikan.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyesal telah mengenal dan mencintaimu. Kini giliranmu yang mau membuka hatimu lebih dalam, biarkan aku masuk dan singgah selamanya di sana. Aku janji, aku tidak akan menyakitimu, selalu melindungi dan nencintaimu selamanya ", ucap Adrian lagi. Mereka saling bertatapan lama, merasakan perasaan yang indah dan sulit dibayangkan. Adrian lalu tiba-tiba mendekat dan mencium bibir Kikan lembut, berulang-ulang, Kikan hanya diam sambil memejamkan mata menikmati getaran yang mulai mengalir merasuki urat nadinya. Ia merasakan kehangatan cinta Adrian seperti dulu lagi.


__ADS_2