Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kekuatan


__ADS_3

"Mel ... bajunya Tania sudah kau siapkan untuk dikirim ?", tanya Kikan pagi ini begitu dia sampai di butik.


"Eh ... sudah saya siapkan, Mbak. Apa akan dikirim hari ini ?", tanya Amel gugup.


"Iya ... , dua minggu lagi pernikahan mereka lebih baik kamu kirim. Saya tidak ingin ada human error yang akhirnya membuat customer kecewa ", ucap Kikan lagi.


"Mbak Kikan yakin ?", tanya Amel kini. Kikan berhenti dari kesibukannya menjawab pesan di ponsel dan kini sedang menatap heran ke Amel.


"Memangnya kenapa, Mel ?", tanya Kikan bingung.


"Eh .. eng .. anu .. gak pa-pa, Mbak. Baiklah, nanti akan segera saya kirim kalau begitu ", ucap Amel akhirnya.


"Ya sudah ... aku ke atas dulu !".


"Tapi, Mbak .... ", belum sempat Kikan melangkah pergi, Amel sudah bertanya lagi dan membuatnya berhenti.


"Ada apa lagi, Mel ?".


"Apa Mbak Kikan baik-baik saja ?. Maksud saya hari ini perasaan Mbak Kikan baik-baik saja kan sedang tidak ada masalah ?", ucap Amel belepotan.


Kikan hanya diam menatap Amel sambil mengangkat satu alisnya. Kenapa dengan Amel ? Apa dia mengetahui sesuatu tentang aku ? tentang hubunganku dengan Adrian ?, batin Kikan.


"Aku baik-baik saja kok, Mel. Sudah, kamu cepat lakukan perintahku tadi saja ", jawab Kikan akhirnya sambil berlalu meninggalkan Amel yang bengong.


Ya ampun ... Mbak, tegar sekali hatimu. Seandainya aku yang mengalaminya pasti tidak akan baik-baik saja seperti sekarang, batin Amel sambil mencoba menyeka airmata yang tanpa disadari sudah tergenang di matanya.


Kikan langsung duduk di kursi kerjanya, mengambil ponselnya dan memilih sebuah nama yang kini semakin jarang menghubunginya.


"Ada apa, Sayang ?", sapa suara di seberang yang tak lain Adrian setelah panggilan Kikan terhubung.


"Kamu tidak sedang sibuk hari ini ?", tanya Kikan.


"Ehm .... sebenarnya ada beberapa janji sih. Memangnya kenapa ?", tanya Adrian.

__ADS_1


"Kamu mau menemaniku makan malam hari ini ?".


Adrian terdiam, tumben Kikan mengundangku makan malam. Apa karena akhir-akhir ini aku jarang memperhatikannya ?. Memang beberapa minggu ini, Mama terus menerus mengajakku bertemu dengan Tania dan keluarganya dan aku sungguh tak bisa menolak hal itu. Ya ... Tuhan, andai saja ada cara untuk menyudahi dilema ini.


"Kamu gak bisa ya ?", tanya Kikan membuyarkan lamunan Adrian.


"Enggak kok ... aku bisa. Janjiku terakhir dengan klien sore ini. Kamu mau ku jemput jam berapa ?".


"Gak usah dijemput, kita langsung bertemu di resto saja ya. Nanti aku kirim alamat restonya ".


"Ehm ... baiklah kalau begitu. Sudah itu saja alasan kamu menelponku ?". Kikan mengangguk.


"I ... iya, maaf mengganggu waktumu ", ucap Kikan.


"Tentu tidak dong, Sayang. Maaf ya, aku akhir-akhir ini sedikit sibuk dan kita jadi jarang bertemu ".


"Gak pa-pa, Adrian. Aku mengerti kok. Sudah ya, aku ada tamu. Nanti aku kirim alamat restonya ", ucap Kikan mengakhiri teleponnya.


Ada apa dengan Kikan ? nada bicaranya terlihat sedikit formal tidak seperti biasanya. Dan undangan makan malam ini tumben dia yang melakukannya biasanya aku yang selalu sibuk mempersiapkan sebuah kejutan untuknya. Ah ... sudahlah, mungkin aku harus memajukan beberapa jadwalku. Aku tidak mau terlambat nanti, pikir Adrian.


**********


Pukul 7 malam, Kikan sudah tiba di sebuah resto yang dia pesan. Ia sengaja memilih resto di pinggir kota dan bertema outdoor. Ia tidak ingin banyak orang yang tahu. Apalagi acara pernikahan Adrian sudah menjadi berita besar di kotanya.


Setelah memarkir mobil, Kikan bergegas turun. Ia sengaja tampil lebih cantik malam ini dengan dress selutut warna hitam dan potongan v-neck di lehernya. Kikan berjalan masuk sambil menenteng tas kecilnya. Ia tidak menyadari bila Adrian sudah tiba dari tadi dan sedang mengamati Kikan dari dalam mobil dengan tersenyum manis. Adrian segera keluar dari mobilnya kemudian sedikit berlari menyusul Kikan.


"Kamu cantik sekali, Sayang !", ucap Adrian yang sudah berjalan di sebelah Kikan.


Kikan terkejut, menoleh dan menghentikan langkahnya. Adrian yang melihat Kikan berhenti segera mendekat, memeluk pinggang Kikan dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Kikan. Kikan sedikit kaget dan berusaha menepis Adrian yang ingin mendaratkan ciumannya lagi.


"Adrian ... kita masih di jalan. Berhentilah menciumku ", ucap Kikan kesal yang melihat Adrian mulai mengecup bahunya setelah ditepis Kikan tadi.


"Maaf .... , Sayang. Habis kamu cantik banget malam ini ", jawab Adrian sambil tersenyum. Kikan hanya diam, kemudian menarik tangan Adrian dari pinggangnya dan mengajaknya bergegas masuk ke resto.

__ADS_1


"Wah ... keren banget disini. Aku belum pernah kesini tapi cukup keren tempatnya ", ucap Adrian begitu mereka sudah duduk di tempatnya. Kikan memilih duduk di sofa bundar yang terbuat dari kayu bekas dan diberi bantalan yang super empuk untuk diduduki.


"Kamu mau makan apa ?", tanya Kikan sambil membuka buku menu yang disodorkan pelayan.


"Sama kayak kamu saja ", ucap Adrian sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kikan. Kikan akhirnya memesan menu yang sama untuk Adrian.


"Kamu ada acara apa kok tumben ngajak makan aku ?", tanya Adrian kini sambil memainkan jemari Kikan seperti biasanya.


"Aku kan masih punya hutang makan malam denganmu dan mungkin ini saatnya aku bayar itu", jawab Kikan.


"Oh .... yang saat itu ya ". Adrian kembali tersenyum kini sambil mengecup jemari Kikan satu persatu.


Kikan geli melihatnya tapi itulah Adrian. Dia selalu bertingkah aneh dan kekanakan setiap bersamanya. Dan Kikan menyukainya tapi ... sepertinya ini adalah saat yang terakhir baginya untuk mendapat perlakuan konyol Adrian. Kikan mencoba menghela nafas menghalau rasa sesak yang selalu muncul saat memikirkan Adrian.


"Kenapa ?", tanya Adrian yang kini terdiam menatap Kikan.


"Gak pa-pa kok ", jawab Kikan. Kini Adrian mengangkat kepalanya dari bahu Kikan dan kemudian menarik Kikan dalam pelukannya.


"Aku sudah lama tidak memelukmu ", ucap Adrian di telinga Kikan. Kikan hanya terdiam, menutup matanya mencoba menahan air yang siap keluar dari sana.


Andai ... andai saja Tuhan dapat mengabulkan permintaanku. Aku ingin waktu berhenti di malam ini disaat aku berada dalam pelukanmu, Adrian. Cukup berhenti di saat ini saja, batin Kikan.


Tiba-tiba tanpa Kikan sadari airmata sudah meluncur mengalir melalui pipi lembutnya. Adrian menyadari itu tapi dia hanya diam dan semakin mempererat pelukannya. Maafkan aku, Kikan aku terus menerus membuat kamu meneteskan air mata, batin Adrian.


Adrian mencium rambut Kikan dan semakin mempererat pelukannya. Kikan tetap terdiam dan airmatanya terus mengalir tambah deras.


"Maaf ... Adrian, aku ke toilet sebentar !", ucap Kikan sambil mencoba melepaskan pelukan Adrian. Adrian hanya mengangguk dan membiarkan Kikan berlalu dari hadapannya.


Kikan langsung masuk ke toilet dan meneruskan tangisnya. Ia tak sanggup harus memutuskan Adrian kali ini. Tapi ia juga tidak mau terus menerus menunggu dan digantung tanpa kejelasan.


Aku sudah berjanji pada ayah, aku juga tidak ingin Adrian menjadi anak durhaka lebih-lebih kepada ibunya sendiri. Aku punya Raka, aku pasti juga tidak ingin bila Raka durhaka padaku nantinya. Ini saatnya, ini saat aku harus melepaskan dan mengikhlaskan segalanya. Kikan menarik nafas panjang setelah lama berpikir. Ia hapus airmatanya dan merapikan riasannya kemudian bergegas keluar toilet.


"Aku harus kuat !", ucapnya penuh semangat sebelum keluar dari toilet.

__ADS_1


__ADS_2