Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kecemburuan Kikan


__ADS_3

"Sudah lama sayang ?", tanya Ranu menghampiri Kikan yang berdiri mematung tak jauh dari tempat Ranu berbincang dengan wanita cantik tadi.


"Udah dua jam aku berdiri disini, mas tampaknya asyik banget ngobrol dengan wanita tadi. Siapa dia dan ada urusan apa dengan mas ?", tanya Kikan. Ranu hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kikan yang terdengar seperti cemburu.


"Kamu cemburu ya sampai gak ngenalin wanita tadi ?", jawab Ranu dengan menggoda.


"Memang kenapa aku harus kenal, atau jangan-jangan mas selingkuh ya dengan dia ?". Ranu terkekeh mendengar perkataan Kikan.


"Kamu ini ya..., ya udah aku ambil motor dulu kita makan di luar saja ya". Kikan hanya diam sementara Ranu segera berlalu mengambil motor yang diparkir tak jauh dari situ kemudian menjalankannya menuju Kikan.


"Ayo naik, kita makan di luar aja". Dengan cemberut, Kikan akhirnya naik ke boncengan Ranu.


Kikan masih marah, dia tidak mau memeluk pinggang Ranu seperti biasanya, dia lagi kesal hari ini. Ranu hanya tersenyum sambil sesekali menarik tangan Kikan agar memeluknya namun segera ditepis Kikan. Dua puluh menit perjalanan dari kantor Ranu membawa mereka ke sebuah resto kecil yang bernuansa Indy. Ranu segera memarkir motornya dan beranjak turun sambil mengajak Kikan segera masuk ke resto.


"Mau makan apa ?", tanya Ranu begitu mereka sudah duduk di kursi yang kosong dekat jendela.


"Terserah", jawab Kikan ketus. Ranu tersenyum melihatnya.


"Gak ada menu terserah di sini, atau mau aku bacain satu persatu ya". Kikan tak bergeming.


"Ada nasi goreng seafood, kwetiau goreng, capjay goreng, bihun goreng yang kuah juga ada. Ada juga spaghetti bolognese, macaroni Mac n chess, meat lover pizza, lasagna, ....". Kikan hampir ngiler mendengar Ranu membacakan semua menu yang ada.


"Kalo minumnya ada es teh, es lemon tea, teh tarik, orange juice, guava juice, es campur, yang anget juga ada nih. Ada ...."


"Cukup, cukup aku bisa pesen sendiri ", ucap Kikan akhirnya.


Kemudian dia menulis beberapa menu pesanannya di secarik kertas yang diberikan mbak pelayan tadi. Setelah menulis, Ranu memanggil mbak pelayan tapi sebelum menyerahkan ke pelayan Ranu sempat membaca pesanan Kikan.

__ADS_1


"Kamu yakin akan memakan semua itu?", tanya Ranu.


"Iya, aku lapar gara-gara marah tadi", jawab Kikan yang disambut tawa Ranu.


"Kamu masih marah ?", tanya Ranu. Kikan diam saja.


"Dia tadi Sarah, temen kuliahku, masak kamu lupa ?", kata Ranu akhirnya menerangkan. Kikan hanya diam.


"Tadi gak sengaja dia melamar kerja di kantorku tapi ternyata kantor kami sedang tidak membutuhkan karyawan baru. Tadi kebetulan aku mau keluar menemui mu terus ketemu dia. Jadi kita bukan ketemu karena sengaja", ucap Ranu. Kikan diam saja.


"Masih marah ?. Udah jangan marah lagi, jelek kalo marah". Kikan hanya diam. Dia sendiri gak tau kenapa tiba-tiba marah gak beralasan seperti ini tadi, bener-bener memalukan.


"Oh ya gimana proposal skripsi nya, disetujui ?", tanya Ranu lagi.


"Semoga saja, tadi sudah ketemu Bu Nungki, beliau antusias dan berjanji mengabariku paling lama 1 Minggu", jawab Kikan akhirnya.


"Syukurlah kalo gitu, jadi skripsimu cepat selesai". Kikan tersenyum.


"Tentu saja boleh, aku bakalan mendukung mu dan mencarikan kampus yang bagus, klo perlu keluar negeri juga gak pa-pa".


"Kok keluar negeri, Mas mau ngusir aku ? supaya bisa mencari yang lain gitu ?". Tiba-tiba Kikan cemburu lagi.


"Ya ampun Sayang... , bukan gitu maksudku. Kalo kamu mau nerusin S2 aku gak bakalan melarang itu aja. Kalo kamu pengen sekolah di luar negeri aku juga gak melarang asal aku ikut juga. Kamu kenapa sih hari ini kok sensi banget, lagi dapet ya ?". Kikan hanya diam. Ia juga bingung, ada apa dengan diriku hari ini ya, pikirnya.


"Eh, pesanannya sudah datang. Kita makan dulu yuk !", ajak Ranu begitu melihat pelayan menghampiri dan membawakan pesanan mereka. Kikan langsung tersenyum dan menyantap hidangannya dengan lahap.


"Kamu laper banget ya ? Gak biasanya makan sebanyak ini', ucap Ranu melihat Kikan yang lahap memakan nasi goreng seafoodnya dan setelah itu makan pizza pesanannya.

__ADS_1


"Gak tau Mas, akhir-akhir ini nafsu makanku meningkat banget, mungkin stress ngerjain skripsi ya jadi pengen makan aja ".


"Bisa jadi, tapi jangan complain aja kalo tiba-tiba gendut ya ". Kikan langsung melotot mendengar ucapan Ranu.


Ranu hanya tertawa melihatnya. Apapun keadaanmu, aku tetap suka kok sayang pikirnya dalam hati.


"Mas, sebelum pulang kita mampir ke minimarket bentar ya ", ucap Kikan begitu mereka selesai makan dan beranjak pergi.


"Oke, emang mau beli apa ?", tanya Ranu sambil menyalakan motornya.


"Aku pengen beli ice cream ".


"Ice cream ? kamu beneran masih mau makan ice cream ?". Kikan mengangguk.


Ranu merasa heran saja selama ini Kikan selalu anti dengan makanan yang manis-manis, katanya bikin gendut tapi sekarang, akh sudahlah.


Akhirnya mereka mampir sebentar di sebuah minimarket sebelum pulang ke rumah. Kikan membeli beberapa ice cream dan langsung memakannya sambil duduk di boncengan Ranu. Ranu yang merasa aneh dengan tingkah Kikan hanya diam saja.


"Aku langsung balik kantor ya gak mampir dulu", ucap Ranu begitu sampai di rumah Kikan.


"Iya Mas, hati-hati ya !". Ranu mengangguk dan segera menjalankan motornya meninggalkan Kikan.


Kikan segera masuk memakan habis ice creamnya dan menyimpan sisanya di lemari es.


Akh, capek banget hari ini, pikirnya begitu masuk kamar sambil merebahkan tubuhnya di kasur. Aku kenapa ya hari ini ? kenapa sensi banget, kasihan tadi mas Ranu aku cemburuin tanpa sebab. Padahal aku yakin mas Ranu gak mungkin selingkuh. Huh, aku harus minta maaf padanya.


Tiba-tiba perut Kikan berbunyi, astaga kenapa perutku lapar lagi padahal belum 1 jam aku makan banyak. Bahaya kalo aku biarin bisa-bisa tubuhku jadi kayak gentong berjalan terus kalau mas Ranu gak suka aku lagi karena gendut gimana. Aduh Kikan ada apa dengan dirimu. Apa mungkin aku mau dapet ya jadi nafsu makanku kayak gini. Tapi, ngomong-ngomong harusnya kan .....

__ADS_1


Kikan segera bangkit dari tempat tidur dan langsung mengambil tanggalan duduk di meja belajarnya. Bulan kemarin aku datang bulan tanggal 3, tapi sekarang sudah tanggal 17 dan aku belum dapet. Jangan-jangan......, enggak-enggak Kikan menggelengkan kepalanya cepat-cepat. Bulan kemarin seminggu setelah datang bulan kan kita liburan di gunung dan lalu mas Ranu .... Akh, enggak-enggak Kikan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ia kembali terngiang-ngiang kata-kata Winda tentang tanda-tanda orang hamil. Nafsu makannya memang meningkat, dia juga jadi sensi tapi aku tidak pusing dan mual, pasti salah, nggak mungkin lagian Mas Ranu hanya melakukannya sekali masak langsung hamil, nggak, nggak kembali Kikan menggelengkan kepalanya. Tapi, mengapa sampai sekarang aku belum datang bulan. Dengan bergetar Kikan mengambil hpnya kemudian memilih aplikasi belanja online, dia menscroll ke atas dan bawah sampai akhirnya menemukan apa yang dicari. Ya ... apa salahnya aku test supaya bisa memastikan semuanya, pikir Kikan setelah akhirnya memasukkan testpack ke dalam troli belanja dan menekan oke.


__ADS_2