
"Aku sudah berangkat. Hari ini jadwalku cukup padat. Nanti kalau sempat aku telpon ya ?. Miss u".
Kikan tersenyum membaca pesan yang baru di terimanya dari Adrian.
"Hati - hati ya ! Miss u too ", balas Kikan sambil menambahkan emoticon dua gambar hati berwarna merah.
"Kamu ke ruko, Nduk hari ini ?", tanya ibu membuyarkan lamunan Kikan.
"Iya, Bu. Biar Raka, Kikan yang antar, tadi Kikan sudah memintanya untuk bersiap", ucap Kikan lagi. Ibu hanya mengangguk.
"Kamu terlihat ceria hari ini, Nduk. Ada yang mau kamu ceritakan ke ibu ?". Kikan hanya menjawabnya dengan tersenyum.
"Kalian kemana saja kemarin ?", tanya ibu lagi sambil mengolesi roti dengan mentega.
"Kami ke gunung lalu ke pantai. Ibu tenang saja, Adrian laki-laki yang sopan. Dia selalu menjagaku kok ", jawab Kikan seakan tahu ke arah mana ibunya berbicara.
"Ma, aku cudah ciap ", ucap Raka mengagetkan.
"Baiklah, kita langsung berangkat ya ?. sudah sarapan kan ?", ucap Kikan ke Raka.
"Cudah Ma".
"Ya sudah, pamit ke nenek dulu ya ?", ucap Kikan. Raka segera meraih tangan ibu dan menciumnya. Kemudian menggandeng tangan Kikan keluar rumah.
"Om Kelen gak kecini lagi, Ma ?", tanya Raka begitu di dalam mobil.
"Om Adrian lagi kerja, Sayang. Mungkin dua pekan ini dia tidak akan kesini ", jawab Kikan sambil mulai menyalakan mobilnya.
"Mama belantem ya ?", tanya Raka lagi.
"Enggak, Sayang. Om Adrian ada bisnis trip keluar negeri selama dua pekan jadi dia tidak bisa kesini".
"Oh ...., kalo bica jangan belantem ya Ma. Laka cudah cuka cama Om Kelen, Laka pingin Om Kelen jadi papa Laka benelan", ucap Raka lagi. Kikan hanya tersenyum mendengarnya. Entah apa yang dilakukan Adrian hingga membuat Raka benar-benar menyayanginya.
__ADS_1
Setelah tiga puluh menit, akhirnya Kikan sampai di sekolah Raka.
"Mama gak ucah antel, Laka bica tulun cendiri", sahut Raka.
"Oke, Mama tunggu sampai Raka masuk ya ?". Raka mengangguk lalu turun dari mobil dan berjalan masuk ke sekolahnya. Kikan mengikutinya turun dan menunggu sampai Raka masuk.
"Mamanya Raka ya ?", sapa Bu guru Raka yang dari tadi mengamati Kikan.
"Iya, Bu ", jawab Kikan ramah.
"Papanya Raka kok tidak pernah antar jemput lagi ?", tanya Bu guru itu. Papa Raka ? mungkin yang dimaksud Adrian, pikir Kikan.
"Iya Bu, papanya sedang sibuk ", jawab Kikan bohong.
"Saya suka melihat anda, Ma. Cocok sekali dengan suaminya. Cantik dan ganteng, saya doakan awet terus rumah tangganya. Raka juga sering cerita kalau papanya suka membacakan dia buku cerita ".
"Aamiin, terima kasih Bu atas doa dan perhatiannya. Maafkan Raka kalau selama ini di kelas selalu nakal ", ucap Kikan.
"Tidak, Ma. Raka anak yang pintar kok, mungkin karena di rumah mendapat kasih sayang dari mama dan papanya cukup. Jadi dia menjadi anak yang pintar dan tidak nakal kok".
"Iya, silahkan Mama. Titip salam untuk papanya Raka juga". Kikan hanya mengangguk dan tersenyum lalu bergegas masuk mobil dan melajukan mobilnya menuju ruko.
Pesona apa lagi yang ditebarkan Adrian hingga guru Raka juga ikut-ikutan suka padanya. Tapi kalau dipikir-pikir, Adrian memang sudah mempunyai kharisma sendiri yang membuat siapa saja terpesona padanya, pikir Kikan. Jangan-jangan di luar sana juga banyak gadis yang terpesona padanya dan Adrian memanfaatkan pesonanya itu. Ah, tidak-tidak, Adrian bukan tipe yang seperti itu. Meskipun kadang sikapnya sering membuat aku salah tingkah. Aduh ... mengapa aku jadi cemburu dan posesif gini. Adrian pasti tergelak puas kalau sampai tahu aku seperti ini, pikir Kikan lagi.
"Pagi Mel !", sapa Kikan begitu tiba di ruko.
"Wah ..., mbak Kikan ceria sekali habis liburan. Liburan sama siapa Mbak ? sama pacar ya ?", kata Amel menggoda. Kikan hanya tersenyum.
"Kamu ingin tahu saja, Ah .... ", jawab Kikan sambil bergegas ke ruangannya. Amel hanya manyun mendengar jawaban Kikan padahal dia berharap Kikan membocorkan sedikit saja siapa sebenarnya cowok yang membuatnya kembali tersenyum lagi itu.
"Pagi ! Kikan ada ?", suara Irene mengagetkan Amel.
"Eh, ada Mbak, sudah di ruangannya di lantai 2", jawab Amel.
__ADS_1
"Ya sudah, aku langsung kesana saja ya !", ucap Irene yang langsung ngeloyor tanpa menunggu jawaban dari Amel.
"Kikan !", seru Irene begitu masuk ke ruangan Kikan.
"Irene ! apa kabar pengantin baru ?", tanya Kikan sambil tersenyum.
"Kabarku baik, aku rasa kamu juga punya kabar yang lebih baik ya ?", ucap Irene. Kikan bingung.
"Maksudmu apa nih ?", tanya Kikan.
"Ada apa antara kamu dan Adrian ? aku yakin kalian punya sesuatu yang dirahasiakan. Aku melihatnya di awal kita bertemu di cafe Mall dan di pesta pernikahan ku. Ayo, kamu harus menceritakan semua padaku ", pinta Irene. Kikan hanya tertawa melihat ekspresi Irene yang ingin tahu.
"Kamu penasaran juga ternyata".
"Iyalah, ayolah Kikan ceritakanlah ". Kikan hanya tersenyum lalu duduk di sofa sebelahan Irene.
"Sebenarnya aku sudah kenal lama dengan Adrian sejak SMA. Dia kakak kelasku satu tingkat, aku sudah tahu tentang kenakalannya, tukang tawuran, preman sekolah, joki balapan. Siapa sih yang gak kenal dia. Dan dia juga adalah cinta pertamaku ...."
"Ah ..... ". Irene memekik kaget sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Tapi dia tiba-tiba menghilang disaat aku sedang sayang-sayangnya. Dia pergi begitu saja dari kehidupanku tanpa pamit dan pesan. Itulah mengapa aku membencinya apalagi saat pertama kali aku bertemu di cafe Mall. Mengapa dia seenaknya tiba-tiba muncul di hadapanku tanpa bersalah. Tapi akhirnya aku tahu alasan dia menghilang dariku dan kini dia kembali untuk menebus semua kesalahannya padaku".
"Ah ... so sweet banget. Berarti kalau misal Adrian tidak menghilang pasti kamu masih bersamanya dan tidak bertemu Ranu ya ?".
"Entahlah Irene, kadang takdir berkata lain tidak sesuai dengan harapan kita. Mungkin hanya jodoh saja yang bisa mempertemukan dua orang yang sudah terpisah ".
"Iya, kamu betul. Terus bagaimana hubunganmu dengan Adrian sekarang ? kalian balikan lagi kan ?". Kikan tidak menjawab hanya senyuman yang menjadi jawabannya.
"Akhirnya aku melihat lagi senyuman itu. Aku harap kamu selalu bahagia Kikan. Aku yakin Adrian tipe yang setia, buktinya dia mau menunggumu hampir sepuluh tahun. Kamu tahu sebenarnya waktu wisuda Ranu, Adrian datang tapi mungkin kamu tidak mengenalinya".
"Ya ... aku tahu Irene. Adrian sudah cerita, aku merasa bersalah tiap mengingat itu. Tapi, sudahlah yang pasti sekarang waktunya aku dan Adrian memulai lembar baru lagi". Irene mengangguk.
"Lalu kemana Adrian sekarang ?".
__ADS_1
"Dia ada bisnis trip ke luar negeri selama dua pekan ".
"Wah .... kamu pasti merindukannya. Sejujurnya Adrian orang yang menyenangkan hanya kenakalannya waktu remaja saja yang membuat semua orang kesal padanya. Aku ikut senang kalau kau bahagia, Kikan ", ucap Irene sambil merangkul Kikan. Kikan tersenyum, karena Irenelah yang membuat dia bisa bertemu dengan Adrian lagi.