Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Janji Adrian


__ADS_3

Kikan sedang sibuk menggambar sketsa di bukunya, akhir-akhir ini ia sedang menemukan banyak ide sehingga tidak sabar rasanya untuk menuangkan ide yang bermunculan itu ke sebuah buku. Lagian beberapa bulan terakhir ini makin banyak pelanggan yang datang bukan hanya dari orang biasa bahkan para pejabat dan artis ibukota juga sudah sering memintanya untuk merancang baju. Mungkin hasil karya Kikan sudah dikenal oleh orang-orang dari mulut ke mulut. Memang strategi marketing yang paling baik adalah dari kepuasan pelanggan yang akhirnya merekomendasikan ke temannya dan seterusnya.


Kikan baru saja menyelesaikan satu sketsanya, ia sudah membalik ke lembar berikutnya. Baru saja ia memulai menggoreskan pensilnya di kertas. Sebuah nada panggil dari benda pipih di sampingnya berbunyi. Kikan meraih ponselnya dan tersenyum saat membaca nama si penelpon.


"Halo .... ", sapa Kikan lembut.


"Kamu belum tidur ?", sapa suara di seberang yang tak lain Adrian.


"Belum, aku sedang menunggu telponmu ", ucap Kikan sambil tertawa. Tapi, jujur saja ia sangat merindukan Andrian. Sudah hampir lima hari dia tidak bertemu setelah terakhir Adrian bermain di rumahnya seharian.


"Kamu bisa gombal juga ternyata ", kekeh Adrian di seberang.


"Kan kamu yang ngajarin. Ada apa kamu telpon malam-malam ?", tanya Kikan kini.


Adrian terdiam lama terdengar helaan nafasnya.


"Ada apa ?", tanya Kikan lagi.


"Gak pa-pa, cuma kangen saja, kangen sama kamu ", jawab Adrian membuat Kikan tersenyum.


"Besok kamu ada waktu ?", tanya Adrian lagi. Kikan segera mengangguk, dia lupa kalau Adrian tidak dapat melihat anggukannya.


"Atau sedang sibuk ?", tanya Adrian lagi.


"Eng ... enggak kok. Aku bisa, ada apa ?", tanya Kikan.


"Aku besok ada bisnis trip lagi, kamu mau kan mengantarku ke bandara. Sebenarnya aku bisa minta tolong supir kantor untuk mengantarku. Tapi aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dulu. Kamu maukan ?", kata Adrian. Kikan terdiam, ah memang dia super sibuk, aku harus rela berbagi waktu dengan pekerjaannya, pikir Kikan.


"Kok diem aja ? kamu tidur ya ?", ucap Adrian.


"Tidak, maaf. Aku bisa kok, besok aku jemput ke apartemen jam berapa ?", ucap Kikan akhirnya.


"Ke apartemenku jam 7 pagi bisa, flight ku agak siang jam 2an. Gak keberatan kan ?".


"Iya, gak pa-pa besok aku ke apartemenmu jam 7 ya ?".


"Makasih ya, Oh ya, gimana kabar Raka ?. Aku kangen banget dengannya, lama gak main kesana".

__ADS_1


"Raka baik kok, dia sering menanyakanmu tapi sudah kubilang kamu sedang sibuk. Kamu berapa lama bisnis tripnya ?".


"Mungkin sekitar dua pekan tapi kalau bisa ya aku percepat. Kenapa ? kamu sudah merindukanku ya ?", tanya Adrian sambil tertawa.


"Dih ... GR amat kamu, aku kan cuma tanya aja ". Adrian makin tertawa keras mendengar jawaban Kikan, untung saja dia berbicara di telepon kalau tidak pasti sudah merona merah pipinya.


"Aku tidur dulu ya, aku capek banget hari ini. Jangan lupa besok ya ", ucap Adrian.


"Iya, istirahatlah ", jawab Kikan.


"Give me kiss dong !", ucap Adrian lagi. Kikan tersenyum mendengarnya, ia selalu begitu merengek minta dicium seperti anak kecil, gumam Kikan dalam hati.


"Cup, met bobok ya, mimpi indah ", ucap Kikan sambil tersenyum.


"Makasih Sayang, love u ", ucap Adrian sebelum menutup teleponnya. Kikan tersenyum dan segera meletakkan ponselnya kembali. Kikan menguap beberapa kali sepertinya kantuk sudah menjemputnya. Kikan segera bangkit dan langsung ambruk di kasur empuknya. Ia ingin mimpi indah malam ini.


*****


Pukul 7 tepat, Kikan sudah sampai di apartemen Adrian. Setelah memarkir mobilnya, Kikan bergegas berjalan masuk ke apartemen. Satpam di lobby sudah mengenal Kikan dan mempersilakan Kikan masuk lalu mengantarnya sampai ke lift.


"Ayo masuk, kok malah bengong ", ucap Adrian membuyarkan lamunan Kikan. Kikan masuk dengan kikuk. Ia masih terpana dengan Adrian yang terlihat lebih keren apalagi dengan rambut basahnya.


"Aku ganti baju dulu ya, aku barusan selesai mandi. Kamu kenapa sih kok bengong saja dari tadi. Kamu tergoda ya melihat aku ?", ucap Adrian sambil mengerling nakal.


"Ih ... apaan sih kamu. Sana cepetan ganti baju, udah melorot tuh handuknya ", ucap Kikan sambil tersenyum. Adrian hanya tertawa mendengarnya.


"Iya ...., aku ganti dulu ya ". Adrian segera masuk ke kamarnya lalu berganti pakaian. Sedang Kikan sibuk bermain dengan ponselnya menunggu Adrian di sofa.


"Kamu sudah sarapan ?", tanya Adrian selang beberapa lama. Kini ia sudah memakai kaos hitam dan celana jeans ditambah jaket kulit kesukaannya.


"Eng ... belum, aku tidak ingin terlambat tadi ", jawab Kikan sambil mengekor Adrian yang sudah berjalan ke dapur.


"Aku buatin sarapan ya ? tapi cuma roti gak pa-pa kan ?", tanya Adrian sambil mulai sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Kikan tersenyum geli melihatnya, harusnya kan aku yang membuatkannya sarapan ini kebalikannya, pikir Kikan.


"Sudah selesai, cepat kan ?. Yuk bantuin bawa ya, kita makan di sofa depan aja ", ucap Adrian setelah beberapa lama berkutat di dapur.


Dua potong roti bakar, omelet, sosis, potongan buah serta segelas susu jadi menu sarapan mereka pagi ini. Mereka makan dengan lahap dan tanpa banyak bicara.

__ADS_1


"Kamu sibuk banget ya, akhir-akhir ini ?", tanya Kikan sambil meletakkan gelas susu yang habis diminumnya. Adrian hanya diam tak menjawab tapi malah tertawa melihat Kikan.


"Apaan sih gak dijawab kok malah ketawa ?", protes Kikan sambil mengerucutkan mulutnya.


"Duh ... ngambek ya, habisnya kamu lucu sih. Tuh, mulutnya belepotan semua ", ucap Adrian sambil mengusap sudut bibir Kikan dengan tangannya. Kikan terlihat malu dan segera mengambil tisu untuk melap mulutnya. Sedang Adrian hanya tersenyum sambil terus memandang Kikan.


"Masih ada yang berlepotan ?", tanya Kikan ketika melihat Adrian terus memandangnya. Adrian lalu menggeleng dan tersenyum.


"Sini piringnya, aku bawa ke dapur !", ucap Adrian sambil bangkit. Kikan menyerahkan piringnya dan melihat Adrian yang berjalan menuju ke dapur. Ada apa dengan Adrian ? seperti ada yang sedang dipikirkan ?, gumam Kikan dalam diam.


"Flight mu jam 2 mengapa menyuruhku jam 7 kesini ?", tanya Kikan setelah Adrian duduk kembali di sampingnya.


"Sebenarnya aku malah ingin memintamu menginap disini tadi malam tapi kuurungkan ", jawab Adrian sambil mengerling nakal.


"Ih ... kamu mesti begitu ", ucap Kikan sambil mencubit Adrian. Adrian hanya terkekeh mencoba menghindari cubitan Kikan. Kikan kesal, Adrian terus menghindar malah dirinya kini yang terkungkung dalam pelukan Adrian.


"Aku minta kamu janji padaku .... ", ucap Adrian saat kedua matanya sudah saling beradu dengan mata Kikan.


"Janji apa ?", tanya Kikan bingung.


"Berjanjilah jangan pernah pergi dariku apapun yang terjadi dan apapun yang kau dengar tentang aku. Berjanjilah untuk selalu di sampingku, di sisiku, di hatiku selamanya. Kamu maukan ?", ucap Adrian lagi. Kikan lalu mengangguk, mengiyakan meski sejujurnya ia sudah sering berjanji tentang hal itu pada Adrian.


"Apa kamu tidak akan kembali lagi ?", tanya Kikan membuat Adrian terkejut dan mempererat pelukannya.


"Kok, kamu ngomong gitu ?. Kamu ingin aku pergi ?". Kikan menggeleng.


"Tidak, tapi sikapmu aneh. Aku takut kamu akan pergi meninggalkan aku lagi ", ucap Kikan akhirnya. Adrian terdiam, lalu dikecupnya kening Kikan.


"Aku gak akan pergi lagi, aku juga tidak akan meninggalkan kamu lagi. Aku akan selalu ada bersamamu, aku janji ", ucap Adrian. Kikan hanya terdiam menatap tajam mata Adrian mencoba mencari kesungguhannya.


"Aku sayang kamu, Kikan ... tolong jangan meragukan aku ya ", ucap Adrian sambil mencium pipi Kikan lembut. Lalu beralih ke bibir mungilnya, Kikan membalasnya, ia memang sudah lama merindukan Adrian dan sentuhan lembutnya. Adrian melakukannya dengan perlahan dan intens, seakan ia tidak ingin kehilangan momen ini.


Perlahan sentuhannya semakin memanas dan sedikit menuntut.


"Jangan .... jangan sekarang ", ucap Kikan saat Adrian sudah berada di atas tubuh Kikan. Adrian segera menyudahi aksinya dan segera bangkit duduk kembali seperti semula.


"Aku ke toilet dulu ", ucap Kikan sambil bangkit dan bergegas berlalu. Mungkin ia ingin merapikan dirinya, aku hampir berbuat dosa ya, Tuhan, pikir Adrian dalam hati sambil menangkup wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2