
Akhirnya hari yang ditunggu tiba, hari ini hari pernikahan Adrian dengan Tania. Hari sukacita mereka berdua. Mereka pasti akan terlihat tampan dan cantik dengan balutan pakaian pengantin rancanganku. Aku turut mendoakanmu, Adrian. Semoga kau bahagia selalu sedangkan aku, aku akan terus berusaha pergi dari bayangmu. Aku tahu ini masih tetap sulit untukku tapi aku akan mencobanya.
"Non ... maaf, Bibi mau tanya hari ini mau masak apa ?". Suara Bi Ijah membuyarkan lamunan Kikan.
"Eh ... terserah deh, Bi. Saya lagi gak nafsu makan, masak kesukaannya Raka saja ya, ayam goreng ", jawab Kikan.
"Non Kikan sedang sakit ?", tanya Bi Ijah lagi.
"Enggak kok, Bi. Mungkin kecapekan karena beberapa Minggu yang lalu saya lembur terus jadi capeknya numpuk sekarang ", jawab Kikan asal.
"Nanti Bibi buatkan jamu ya, Non biar enakan badannya ". Kikan mengangguk.
Dari dulu Bi Ijah memang selalu perhatian dan baik padanya. Kikan jadi ingat di masa ia hamil Raka dulu. Bi Ijahlah yang selalu membantunya dan menasehatinya untuk tetap semangat dan tidak bersedih lagi karena kepergian Ranu.
"Oh ya, Bi. Raka kemana ya ?", tanya Kikan lagi.
"Tadi ikut Mang Ujang memberi makan sapi di samping, Non ". Kikan hanya mengangguk.
Ia lalu bergegas menyusul Raka ke kandang sapi yang sedikit jauh dari pekarangan rumah. Kikan menatap langit yang tiba-tiba saja sudah menghitam padahal tadi cuaca cerah sekali. Mengapa akhir-akhir ini cuaca sunggguh sulit diprediksi ya.
Kikan terus melangkah semakin jauh meninggalkan rumah kayu untuk menyusul Raka. Ia tak mau Raka kehujanan, ia takut Raka sakit meskipun kadang Raka sering mencuri-curi waktu untuk mandi hujan.
Kikan sedikit berlari saat gerimis mulai turun, ia lupa tadi tidak membawa payung. Ia spontan saja berlari keluar mencari Raka. Kikan sedikit ngos-ngosan saat sampai di kandang sapi. Sudah sepi, tidak ada Raka dan Mang Ujang. Apa mereka sudah kembali ya.
Kikan segera bergegas kembali ke rumah kayu, namun terlambat hujan sudah turun mengguyur lebih dulu sebelum Kikan sempat kembali. Kini Kikan kebingungan antara tetap menerjang hujan atau berteduh di bawah pohon.
Hujan kali ini lebat sekali, petir dan guntur saling menyambar. Kikan jadi ingat kenangan masa kecil saat melihat orang yang tertimpa pohon karena berteduh di bawah pohon. Tiba-tiba seluruh wajah Kikan pucat pasi. Ia kebingungan menoleh kanan kiri mencari bangunan untuk berlindung namun jaraknya sangat jauh. Akhirnya Kikan memutuskan untuk berlari sambil menutup telinganya. Ia takut sekali dan terus berlari tanpa memperhatikan jalannya, sampai akhirnya ia menabrak seseorang.
Kikan mencoba mengangkat kepalanya dan melihat sosok yang ditabraknya. Ini hanya hayalan saja atau memang ia sedang merindukannya sehingga sosok yang dibayangkan selama ini telah hadir di hadapannya dengan senyum manis lesung pipinya dan matanya yang selalu berbinar penuh cinta.
"Adrian .... ", lirih Kikan memanggil sosok yang kini sedang memeluknya. Lalu setelah itu, ia tidak ingat lagi apa yang terjadi.
Kikan mengerjapkan matanya, merasakan pusing yang sangat di kepalanya. Kikan melihat sekelilingnya, ternyata ia sudah di kamarnya. Apa aku tadi bermimpi bertemu Adrian ya ?, pikirnya bingung.
Kikan segera bangkit, mencoba menghalau sakit kepalanya. Ia membuka jendela, hujan sudah berhenti menyisakan gerimis. Kikan bingung, siapa yang membawanya ke rumah kayu. Apa Mang Ujang yang melakukannya atau tadi benar-benar ada Adrian disini. Akh .... aku pasti bermimpi. Aku terlalu merindukannya sehingga alam bawah sadarku menciptakan sosok Adrian di kehidupan nyata. Mana mungkin dia ada disini, bukankah ini hari pernikahannya dengan Tania, batin Kikan.
Kikan bergegas keluar kamar mencoba mencari Raka. Ia berjalan ke teras depan, tapi Raka tidak ada, Bi Ijah dan Mang Ujangpun tidak tampak batang hidungnya. Kikan mempercepat langkahnya ke belakang biasanya Raka suka memberi makan ikan di danau buatan belakang rumah.
Perlahan Kikan melangkah, lalu langkahnya terhenti saat ia melihat sosok itu lagi. Kikan melihat sosok Adrian sedang asyik berdiri di pinggir danau sambil memberi makan ikan. Apa aku masih tidur ? dan ini terjadi dalam mimpiku ?, gumam Kikan bingung. Kikan melangkah semakin dekat lalu tiba-tiba sosok yang seperti Adrian itu menoleh dan tersenyum padanya. Kikan hanya terdiam di tempatnya.
"Kamu sudah tersadar ?", tanya sosok itu. Kikan hanya diam lalu reflek menampar pipinya. Adrian hanya tersenyum geli melihat kelakuannya.
__ADS_1
"Apa aku bermimpi ya ?", tanya Kikan. Adrian hanya tersenyum lalu berjalan mendekatinya.
"Apa ini sakit ?", kata Adrian sambil mencubit pipi Kikan.
"Awww ... sakit sekali ", ucap Kikan mengadu.
"Berarti kamu tidak sedang bermimpi, Sayang".
"Jadi ... kamu beneran Adrian ?. Kamu tadi yang menolongku di tengah hujan kan ?", tanya Kikan.
"Iya ... aku Adrian, aku yang melakukannya tadi ", jawab Adrian tapi Kikan tampak kaget dan sedikit menjaga jarak darinya.
"Ada apa, Sayang ?", tanya Adrian bingung.
"Kamu ngapain disini ? seharusnya kamu kan me..menikah dengan Tania ", tanya Kikan makin bingung. Adrian hanya tertawa melihat kebingungan Kikan.
"Kok malah tertawa sih !", ucap Kikan kesal. Adrian hanya tersenyum kini dan lalu menarik Kikan ke dalam pelukannya.
"Adrian ... , jangan begini, tolong jelaskan dulu. Aku tak mau disebut pelakor, tolong lepaskan aku", ucap Kikan mencoba berontak. Namun Adrian makin mempererat pelukannya.
"Siapa yang akan menyebutmu pelakor ?".
"Sayang .... aku bahkan belum menikah dengannya jadi tidak akan ada yang menyebutmu pelakor ", ucap Adrian. Kikan hanya terdiam.
"Jadi kamu belum menikah dengannya ya ?. Aku salah hari ya ? Tanggal berapa sih ini ? Mengapa aku jadi pelupa gini ya ?", gumam Kikan pada dirinya sendiri. Adrian hanya tersenyum dan semakin gemas menatap Kikan yang pasrah dalam pelukannya.
"Aku kangen kamu ... ", ucap Adrian kini membuat Kikan berhenti mengoceh dan intens menatapnya.
"Bukankah kita sudah se... hhmmmpp", belum sempat Kikan meneruskan bicaranya Adrian sudah menempelkan bibirnya dan langsung menciumnya. Kikan berusaha keras mendorong Adrian.
"Kamu .. me ...hmmmppp", kembali Adrian menautkan bibirnya ke bibir Kikan. Kikan kembali mendorong Adrian supaya berhenti menciumnya.
"Adrian ... ak ... hmmmpppppp ". Untuk ketiga kali Adrian memotong pembicaraan Kikan dengan pautan di bibirnya. Mereka berciuman cukup lama seakan banyak kerinduan yang terpendam.
"Cukup ... Adrian ", ucap Kikan sambil sibuk mengatur nafasnya. Adrian hanya tersenyum puas menatap wajah Kikan yang merah padam sambil mulai melonggarkan pelukannya.
"Apa yang membuatmu kemari ?", tanya Kikan kini sambil duduk di bangku di tepi danau.
"Untuk menjemputmu, pastinya ", jawab Adrian yang membuat Kikan bingung.
"Bukannya hari ini kamu menikah dengan Tania ?".
__ADS_1
"Kamu masih terus bertanya tentang hal itu saja dari tadi".
"Terus aku harus bertanya apa ?. Aku takut kehadiranmu disini menjadi fitnah buat kita berdua".
"Kan tadi aku sudah bilang, aku belum menikah jadi aku bebas dong ".
"Jadi diundur pernikahanmu ?".
"Kok diundur sih. Dengar ya, aku tidak menikah dengan siapapun kecuali dengan kamu ".
"Maksudmu ?", tanya Kikan masih bingung. Adrian terus tersenyum geli melihat ekspresi lucu Kikan.
"Tania membatalkan pernikahannya denganku dan memutuskan menikah dengan kekasihnya, Kemal yang juga ayah dari anak yang dikandungnya sekarang ", jelas Adrian. Kikan hanya terdiam mendengarnya. Ada sedikit bahagia di hatinya.
Lalu tiba-tiba Adrian berdiri mendekati kemudian berlutut dihadapannya.
"Kikan Prameswari ..., maukah kau menikah denganku ?", ucapnya sambil menyodorkan cincin yang pernah dikembalikan dulu. Kikan terdiam menatap Adrian penuh haru.
"Cepatlah jawab, Sayang ... aku pegal nih ", cetus Adrian yang disambut anggukkan Kikan.
"Aku mau ..., Adrian Sayang .... ", ucap Kikan sambil berdiri dan menerima cincin dari Adrian.
"Sepertinya cincin ini hanya muat di jarimu, beruntung aku segera kembali ke restoran itu untuk mengambilnya ", ucap Adrian sambil menyematkan cincin di jari Kikan lalu mengecup kening Kikan.
"Aku sayang kamu ..., jangan berpisah lagi ya !", ucap Adrian sambil memeluk Kikan dan kembali mencium bibir Kikan lagi.
"Holee ... Mama dan Om Kelen udah baikan ", suara Raka membuat Adrian menyudahi ciumannya.
Tidak hanya Raka, ayah, ibu, Irene, Feril, Julian, Tanti, mama papa Adrian, mami Tiwi, papi Farid dan Galuh semua sudah berkumpul.
"Kalian sudah disini semua ?", tanya Kikan keheranan yang disambut tawa semuanya.
"Ini kejutan untukmu, Nduk ", ucap ibu. Kikan hanya tersenyum.
"Sayang ... ini Mama dan Papaku ", ucap Adrian sambil memperkenalkan Kikan ke orang tuanya. Kikan tersenyum kemudian menjabat tangan kedua orang tua Adrian.
"Maafin Tante ... ya, Kikan. Tante tidak tahu kalau Adrian sudah memilihmu tapi malah menjodohkan dengan orang lain ", ucap mama Adrian.
"Gak pa-pa, Tante. Yang lalu biarlah berlalu ", ucap Kikan sambil tersenyum lembut.
"Jadi kapan kita nikahnya, Sayang ?", celetuk Adrian tiba-tiba. Kikan hanya tertunduk malu mendengarnya. Adrian selalu sama dimana saja dia selalu bersikap konyol. Tapi yang pasti hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidup Kikan. Terima kasih Adrian ....
__ADS_1