Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Keheningan Ranu dan Kikan


__ADS_3

Kikan mengerjapkan matanya saat sinar mentari perlahan menerobos tendanya. Kikan mencoba menggerakkan tubuhnya namun yang dirasakan sakit yang luar biasa terutama di bagian bawah tubuhnya. Kikan kembali mengingat-ingat kejadian tadi malam. Akh..., ingin rasanya Kikan teriak. Kikan benci mas Ranu, dia jahat, mas Ranu jahat banget, aku benci dia maki Kikan dalam hati.


Kikan kembali mencoba bangkit, lalu dia melihat sebercak darah di alas tidurnya. Akh ... Ingin rasanya Kikan menangis, padahal mas Ranu sudah berjanji padaku akan menjagaku, akan menjaga ini semua hingga pernikahan kita nanti. Aku benci, aku benci mas Ranu.


Kikan lalu bangkit melawan rasa perih yang amat sangat lalu menggulung alas tidurnya, dia tidak ingin ada yang melihatnya. Kemudian mengambil baju dan peralatan mandinya dan bergegas ke toilet.


"Sudah bangun kamu, aku kira masih tidur tadi", sapa Intan begitu Kikan keluar tenda. Kikan hanya diam dan bergegas ke toilet.


"Kikan kenapa Ci ?", tanya Intan ke Suci.


"Mungkin dia marah, semalam kan kamu tinggal sendirian di tenda", jawab Suci.


"Akh, masak sih coba nanti aku tanyakan", ucap Intan sambil berlalu.


Kikan segera bergegas masuk kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Isak tangis terdengar lirih dari mulutnya saat ia mendapati sekujur tubuhnya banyak tanda merah karena ulah Ranu tadi malam. Aku benci mas Ranu, hanya itu yang terngiang di otaknya.


Kikan terus mengguyur tubuhnya dari rambut sampai kaki dengan air dingin, dia merasa dirinya tidak suci lagi. Kikan menyesali kebodohannya yang tidak mencegah tindakan Ranu tadi malam. Kikan terus menangis, menyesali kebodohannya.


"Kamu kenapa Kan ? kok diem aja ?", tanya Intan saat Kikan selesai mandi dan sedang berdandan di tenda. Kikan hanya diam.


"Kamu marah ya sama aku ?". Kikan segera menoleh.


"Enggak, aku gak marah kok sama kamu", jawab Kikan.

__ADS_1


"Tapi kenapa hari ini kamu beda, kamu diam saja dan banyak melamun tadi padahal kemarin-kemarin kamu ceria banget. Kamu antusias menikmati alam. Kamu ada masalah ?".


"Enggak, Ntan aku gak ada masalah. Cuman aku memang takut hujan apalagi petir makanya aku gak bisa tidur semalam. Kepalaku agak pusing kalau kurang tidur", bohong Kikan.


"Oh gitu, aku ada obatnya kalau kamu pusing tapi kamu sarapan dulu baru minum obat". Kikan mengangguk kemudian menerima obat dari Intan.


"Yuk, kita sarapan hari ini kita dimasakin adik-adik Pramuka loh, katanya sih sebagai tanda terima kasih mereka karena bantuan kita tadi malam." Kikan tersenyum lalu bergegas mengikuti Intan.


Ternyata semua sudah berkumpul menunggu mereka, tampak adik-adik Pramuka sibuk menyiapkan nasi goreng beserta telur ceplok untuk kami berdelapan. Bobby, Iwan, Sonny dan Ranu duduk saling berhadapan dengan para cewek.


Begitu Intan akan duduk di hadapan Bobby, Kikan langsung mendahuluinya membuat Intan duduk berhadapan langsung dengan Ranu. Bobby dan Intan bingung melihat sikap Kikan, mungkin mereka sedang bertengkar pikir mereka. Namun Ranu sudah paham, ini semua karena kejadian tadi malam.


"Habis ini kita bersiap-siap balik ya, biar gak kesiangan", ucap Bobby sesudah sarapan.


Segera mereka berdelapan mengemas barang mereka dan memasukkan barang-barang ke mobil.


"Maaf Kan, gak bisa gak cukup. Ini sih Ratih dan Suci juga bareng", tolak Bobby.


"Aku bisa kok duduk di belakang".


"Terus barang-barangnya taruh mana ?", tunjuk Bobby sambil membuka Avanza-nya yang sudah penuh dengan barang-barang mereka berempat di bangku belakang.


"Emang kamu marahan ya sama Ranu kok gak mau bareng dia ?", selidik Bobby.

__ADS_1


"Enggak, aku lagi males aja", jawab Kikan sekenanya.


"Udah gede, udah mo nikah kok masih ngambek-ngambekan sih. Awas loh, aku aduin ke Bulik ya "!, ancam Bobby.


"Eh ... jangan dong, iya iya aku bareng Ranu". Akhirnya Kikan nurut dan berjalan ke mobil Ranu.


"Ayo ... kita pulang, aku duluan ya ...!", ucap Bobby sambil masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan mobilnya disusul mobil Iwan meninggalkan Ranu dan Kikan.


Kikan berjalan gontai ke arah mobil Ranu kemudian meletakkan ranselnya di bagasi. Setelah itu Kikan masuk dan duduk di kursi belakang tidak seperti biasanya di samping kursi sopir.


Ranu hanya diam melihat tingkah Kikan. Kemudian masuk ke mobil dan mulai menjalankan mobilnya. Mereka saling diam-diaman dalam keheningan. Saling memendam emosi yang siap meluap-luap. Kikan tidak tahan menahan emosinya.


"Mas Ranu jahat ....", ucap Kikan membuat Ranu menghentikan mobilnya dan mulai menepi.


"Mas Ranu jahat, kenapa tega melakukan hal itu ke aku ?. Padahal Mas janji, Mas janji akan menjagaku ....", pekik Kikan lagi kini sambil bercucuran air mata. Ranu yang dari tadi diam segera membuka pintu mobil dan pindah duduk di samping Kikan.


"Maafin aku Sayang .... kamu memang pantas memaki aku tapi aku lebih tersiksa karena aku melanggar janjiku sendiri" , ucap Ranu sambil menggenggam tangan Kikan.


"Aku benar-benar khilaf semalam, aku tak bisa menahan hasrat ku sendiri. Aku benar-benar bodoh, aku menyesal Kikan. Aku gak tahu lagi harus bagaimana".


Kikan ikut menangis melihat Ranu sosok yang selama ini dikaguminya terlihat rapuh. Mungkin ini bukan salah mas Ranu seratus persen, aku juga ada andil mengapa tidak berusaha mencegahnya, aku menikmati semua sentuhannya tadi malam namun aku malah menyalahkannya, pikir Kikan.


"Maafin aku ya Sayang, aku janji aku tak akan pernah menyentuhmu lagi hingga kita menikah nanti". Kikan hanya mengangguk lalu memeluk Ranu, Ranu membalas pelukan Kikan sangat erat seakan-akan ingin menebus semua kesalahannya tadi malam.

__ADS_1


"Sekarang kita pulang ya, janji kita lupakan peristiwa tadi malam karena itu kesalahan terbesar dalam hidupku", ucap Ranu lagi yang disambut anggukan Kikan.


"Ayo... pindah ke depan aku gak mau jadi sopirmu", goda Ranu. Kikan kembali tersenyum dan bergegas pindah ke kursi depan samping Ranu.


__ADS_2