Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Trouble lunch


__ADS_3

"Ian ... kamu itu darimana saja. Mama telpon tidak pernah diangkat ?", seru suara Mama Adrian di telepon sedikit meninggi.


"Aku habis ada bisnis trip Ma, baru saja tiba semalam. Memangnya ada apa, Ma ?", jawab Adrian lesu.


"Pokoknya nanti kamu harus temani Mama lunch. Mama tunggu jam 1 di resto dekat kantormu. Jangan sampai telat !".


"Tapi, aku ada meeting, Ma. Aku gak tahu jam 1 sudah selesai atau belum ".


"Mama gak mau tahu, pokoknya kamu harus datang. Titik ", ucap Mama sambil menutup teleponnya.


Huh, repot kalau berurusan dengan mama selalu harus menuruti keinginannya, gak tahu apa kalau anaknya sibuk, keluh Adrian.


"Sari ... jadwalku habis meeting apa ?", tanya Adrian ke Sari sekertarisnya melalui intercom.


"Maaf, Pak, untuk hari ini hanya meeting saja. Saya tidak tahu kalau Bapak pulang lebih awal jadi belum saya buatkan jadwalnya ", jawab Sari.


"Baiklah, kalau begitu. Apa semua sudah di ruangan meeting?".


"Sudah, Pak ".


"Baik, saya segera kesana". Adrian segera bangkit dan berjalan menuju ruang meeting. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan dan istirahat. Sejujurnya ia masih capek sehabis bisnis trip kemarin.


Meeting selesai tepat pukul 1 siang. Adrian melirik ponsel di sakunya, ada 5 panggilan tak terjawab dari mama. Huh, aku lupa kalau ada janji lunch dengan mama. Adrian segera bangkit, dan berjalan keluar ruangan.


"Sari ... aku minta notulen meeting tadi ya, kirim ke email saja. Aku mau pulang kalau sudah tidak ada jadwal lagi ", kata Adrian ke Sari.


"Baik, Pak ", jawab Sari sopan.


"Ya sudah kalau begitu ". Adrian bergegas berjalan keluar, ponselnya kembali bergetar. Ada nama Mama di layar ponselnya.


"Iya Ma, aku otw kesana. Aku baru selesai meetingnya ", jawab Adrian di telepon. Mama segera menutup ponselnya dan kembali tersenyum.


"Dia sedang menuju ke sini ", kata mama Adrian.


"Aku sudah lama tidak bertemu Adrian. Terakhir bertemu waktu dia SMA masih sangat nakal saat itu ", seru wanita di depan mama Adrian sambil tersenyum.


"Iya, Di . Adrian memang nakal saat SMA dulu tapi sekarang dia sudah jadi orang hebat. Aku yakin kamu pasti akan menyukainya ".


"Aku dari dulu sudah suka Adrian, Tika. Makanya aku menyetujui idemu ini ". Mama Adrian hanya tersenyum.


Tak berapa lama tampak Adrian berjalan mendekat menuju mamanya yang sudah menunggu. Mamanya sengaja memilih resto dekat kantor Adrian supaya dia cepat datang.

__ADS_1


"Siang, Ma. Maaf, mama nunggu lama aku tadi baru selesai meeting ", ucap Adrian sambil mencium pipi mamanya.


"Gak pa-pa, sini duduk sini !", ucap Mama sambil menyuruh Adrian duduk di sampingnya.


"Kamu masih ingat Tante Diana ?, sahabat Mama", kata mama sambil mengenalkan wanita yang sudah duduk di depannya. Adrian tersenyum dan mengangguk sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Tante Diana.


"Kamu sudah berubah ya Adrian. Tante lama gak bertemu kamu. Terakhir bertemu waktu kamu masih SMA, masih nakal-nakalnya " ucap Tante Diana. Adrian hanya tersenyum sambil menunduk.


"Oh ya, mana Tania ?', tanya Mama Adrian ke Tante Diana.


"Mungkin sebentar lagi sampai tadi aku telepon dia sudah perjalanan kemari katanya ". Adrian terdiam, siapa Tania, pikirnya.


"Kamu sudah Mama pesankan soto Betawi kesukaanmu atau mau berubah pesanan ?", tanya mama ke Adrian.


"Gak pa-pa, Ma itu saja ", ucap Adrian kini dia sibuk mengecek ponselnya. Ada beberapa email masuk dan membutuhkan balasan cepat.


"Itu Tania, Tania !, sini Sayang !", panggil Tante Diana pada seorang gadis. Gadis itu bergegas lari menghampiri meja mereka.


"Selamat siang, Tante !", sapa gadis yang bernama Tania itu.


"Ayo, sini duduk !", ajak Tante Diana. Kini Tania sudah duduk tepat di depan Adrian. Adrian yang sedari tadi sibuk membalas email sambil makan soto Betawi nya hanya diam saja.


"Adrian ...., kamu tidak menyapa Tania ?", ucap Mama sambil menyenggol lengan Adrian. Adrian sedikit mendongak, menoleh ke mamanya lalu melihat ke depan bertatapan dengan Tania.


"Hai !", ucap Adrian sambil membalas jabatan tangan Tania lalu kembali meneruskan makan sotonya.


"Tania ini anak Tante Diana yang paling kecil, dia juga sedang mulai merintis solo karir. Wajahnya sering terpampang di layar kaca sebagai artis pendatang baru. Tapi walaupun pendatang baru, aktingnya sangat bagus dan mumpuni ", ucap mama menerangkan. Adrian hanya manggut-manggut sambil masih sibuk menatap layar di ponselnya.


"Aku dengar kamu seorang CEO ya ?", tanya Tania ke Adrian kini. Adrian hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah suara itu.


"Pasti kamu sangat sibuk ya ?", tanya Tania lagi.


"Iya ", jawab Adrian, kini ia menyudahi makannya. Tania hanya tersenyum sambil menatap Adrian. Tidak rugi aku membatalkan semua janjiku untuk datang kemari, pikir Tania.


"Ma .... Adrian harus balik kantor. Ada banyak pekerjaan yang menunggu ", ucap Adrian bohong. Ia malas kalau harus meladeni pertanyaan membosankan ini.


"Kamu kan bisa menyuruh sekertarismu menghandle sebentar. Mama ingin ngomong banyak sama kamu, apalagi Tania baru saja datang. Dia sengaja membatalkan semua janjinya untuk datang kesini loh, Ian ", ucap mama lagi.


"Maaf, Ma. Aku gak bisa, lain kali saja ya, Ma. Tante, Tania, maaf saya harus permisi balik ke kantor ", pamit Adrian sopan.


"Iya, gak pa-pa Adrian. Tante paham kok .. ", ucap Tante Diana sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lain kali kita ketemu lagi ya ", kata Tania menimpali sambil mengedipkan sebelah matanya ke Adrian. Adrian hanya diam tidak menanggapi. Setelah pamit ke mamanya, Adrian segera berlalu.


Adrian berjalan tergesa ke mobilnya, begitu sampai di mobil ia mengambil ponselnya. Menekan sebuah nama dan langsung terhubung.


"Halo .... Sayang, kamu dimana ?", sapa Adrian begitu terdengar suara di seberang.


"Aku lagi makan siang sama Amel dan Rika di mall sekalian berbelanja beberapa barang, ada apa ?", kata Kikan.


"Kalau gitu, tunggu aku di sana ya ! Aku susul sekarang juga ", ucap Adrian.


"Kamu tidak kerja ?".


"Aku sudah selesai meeting, sekarang lagi santai. Sekertarisku lupa mengatur jadwalku hari ini, dia pikir aku belum datang dari bisnis trip. Jadi selesai meeting, jadwalku free. Aku kesana ya ?", kata Adrian lagi.


"Oke, aku tunggu di cafe dekat Timezone ya ? Aku lagi makan disini soalnya ".


"Oke, aku otw ini ", ucap Adrian sambil menutup teleponnya dan kemudian mengemudikan mobilnya menuju mall.


"Mbak Kikan, ada janji ya ?", tanya Amel.


"Iya, kalian gak pa-pa kan pulang duluan. Kalian bawa mobilku saja, kamu bisa kan Rik ?", tanya Kikan kini ke Rika.


"Iya Mbak, bisa kok. Apa Mbak Kikan perlu kami temani dulu sampai teman Mbak Kikan datang ?".


"Ehm... gak usah, aku bisa sendiri kok. Kalian balik saja, aku takut Yeni tidak bisa menghandle kalau ada customer", ucap Kikan.


"Baiklah kalau begitu, kami pulang duluan ya, Mbak ", pamit Amel dan Rika berbarengan. Kikan mengangguk.


"Tunggu, Rik ! mending kita jangan pulang dulu deh ", kata Amel begitu mereka sudah berjalan agak jauh dari Kikan.


"Ada apa memangnya ?", tanya Rika bingung.


"Aku penasaran siapa sih teman Mbak Kikan. Jangan-jangan dia pacarnya Mbak Kikan ", kata Amel lagi. Tiba-tiba Rika tergelak.


"Kok kamu jadi kepo gini sih, biasanya yang tukang kepo kan aku kok jadi kamu sekarang ".


"Sudah, diamlah ... aku hanya penasaran saja pada cowok yang sanggup membuat Mbak Kikan tersenyum lagi dan tidak jutek ". Rika tersenyum lalu menuruti Amel untuk sembunyi di antara beberapa barang dagangan di mall tersebut.


Mereka mengamati Kikan sedang merapikan rambutnya sambil memegang ponsel. Lalu tidak berapa lama datang seorang pria berpenampilan rapi dengan tinggi proposional sudah duduk menyapa Kikan. Mereka asyik bicara sambil tertawa, sesekali pria itu mengelus tangan Kikan. Kalau dilihat dari samping, pria itu terlihat tampan, kulitnya cerah, rambutnya juga klimis tersisir rapi ke belakang. Kemeja putih yang lengannya digulung dan celana kain warna coklat tanah menambah keren penampilannya.


"Siapa ya dia ? rasanya aku pernah melihatnya tapi dimana, lupa ", ucap Rika. Amel masih celingukan.

__ADS_1


"Huh ..., sayang sekali kita hanya melihat dari samping. Seharusnya tadi kita di posisi sana ", gerutu Amel sambil menyesali karena tidak bisa melihat sosok Adrian dengan jelas.


"Sudah ..., ayo kita pulang aku takut Mbak Kikan akan melihat kita ", ucap Rika sambil menyeret Amel menjauh dari Kikan dan Adrian.


__ADS_2