
Kikan berjalan bergegas sambil membawa setumpuk barang bawaannya. Lalu langkahnya terhenti di sebuah ruko berwarna putih tulang, dengan cekatan Kikan meraih kunci yang ada di dalam tasnya lalu membuka pintu ruko itu dengan segera. Bau cat langsung menyergap hidungnya. Ya, Kikan baru saja menyuruh orang untuk mengecat ulang ruko yang dia sewa ini. Kikan segera meletakkan setumpuk barang bawaannya tadi di sebuah meja. Dia lalu mulai sibuk menata rukonya itu.
"Maaf mbak ... saya terlambat, tadi ban motor saya bocor", seru seorang gadis sambil nafas tersengal. Kikan menoleh dan tersenyum pada gadis kecil itu.
"Iya, gak pa-pa, Mel. Aku juga baru datang kok. Ayo, buruan bantuin aku beberes", jawab Kikan kepada gadis yang dipanggil Amel tadi.
Ya, Hari ini Kikan mulai menempati rukonya. Ia berencana lusa akan mengadakan grand opening. Ia sudah tidak sabar menanti saat-saat itu, ia bersemangat sekali setiap memikirkan grand opening butiknya. Amel adalah salah satu gadis yang akan membantu Kikan di butiknya. Gadis yang lain adalah Rika, ia belum datang karena Kikan menyuruhnya mengambil beberapa manekin yang telah Kikan pesan di sebuah toko langganan.
"Mbak ... ini di taruh disini bagus gak ?", tanya Amel meminta persetujuan Kikan.
Kikan berjalan mendekat ke arah Amel, berpikir sebentar lalu mengangguk tanda setuju. Amel sudah terbiasa bekerja dengan Kikan, dia sudah tahu betul mana yang cocok dan bagus menurut Kikan. Mereka kemudian sibuk menata semuanya. Mulai dari pajangan manekin, deretan baju sebagai contoh hasil rancangan Kikan. Mereka juga menyiapkan ruang ganti dan sofa untuk menunggu. Kikan tidak meletakkan terlalu banyak barang di lantai satu, dia ingin customer nyaman saat masuk ke outletnya.
Di lantai dua, ada meja kerja Kikan dan beberapa baju hasil rancangan Kikan. Kikan tidak pernah menyetok banyak baju, ia menjahit baju berdasarkan pesanan saja. Sehingga baju Kikan kebanyakan hanya satu model, satu baju. Itulah mengapa banyak customer yang menyukainya, karena baju rancangan Kikan terkesan limited edition.
"Mel ... bantuin aku dong", tiba-tiba Rika datang sambil membawa dua manekin. Amel segera berdiri dan membantu Rika yang kesulitan membawa manekin itu.
"Sudah kamu ambil semua Rik ?", tanya Kikan.
"Sudah, mbak. Ada empat ya Mbak ?", kata Rika lagi.
__ADS_1
"Iya, betul. Ya sudah kalau gitu, jadi kita bisa cepat selesai mengaturnya kalau semua sudah datang". Rika dan Amel mengangguk lalu dengan cekatan segera menata manekin yang baru datang itu.
Mereka bekerja dengan cepat dan rapi sehingga saat menjelang makan siang pekerjaan mereka hampir selesai.
"Assalamualaikum, gimana kabarnya disini ", sapa
ibu yang tiba-tiba datang bersama Raka dan ayah.
"Ibu ... kok tumben kesini?", pekik Kikan kaget.
"Iya, Ibu kebetulan lagi masak banyak jadi keingetan kalian. Ini Ibu bawa makan siang, ayo istirahat makan siang dulu", ucap ibu sambil meletakkan beberapa bawaannya.
"Sudah rapi semua gini Kan ?", ucap ayah kini sambil menggendong Raka.
"Amel, Rika ayo kita makan siang dulu ", ajak Kikan lagi.
"Iya Mbak ", sahut mereka berbarengan. Setelah cuci tangan Rika dan Amel bergegas mengikuti ibu yang sudah sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka.
Mereka makan siang dengan lahap, kali ini ibu membawa menu lalapan, ayam goreng, tempe goreng, ikan goreng, sambal dan sayur asam. Makan siang itu sangat nikmat, mereka makan dengan lahapnya.
Setelah mereka makan, Amel dan Rika kembali sibuk berbenah kembali di lantai satu sedang Kikan, ibu, ayah dan Raka sibuk berbenah juga di lantai dua. Mengatur di lantai dua tidak serumit di lantai satu, karena di lantai dua hanya ada meja kerja Kikan, ranjang kecil untuk beristirahat dan rel tempat pajangan baju rancangan Kikan juga sebuah manekin. Kikan sedang sibuk meletakkan Raka di ranjang kecil itu rupanya putra kecilnya itu langsung tertidur begitu di gendongannya. Kikan tersenyum melihat ekspresi lucu Raka saat tidur.
__ADS_1
"Dia tambah lucu loh, Nduk. Tingkahnya juga tambah banyak sepertinya sebentar lagi mau bisa jalan dia", tutur ibu pelan. Kikan hanya tersenyum. Gak terasa sebentar lagi satu tahun usia mu, nak pikir Kikan.
"Nduk ... kemarin malam Bobby ke rumah saat kamu sedang keluar. Dia cerita kalau ada temannya yang sedang mencari calon istri. Bobby juga bilang sudah memperlihatkan fotomu ke temannya itu dan sepertinya teman Bobby tertarik padamu. Apa kamu gak mau untuk berkenalan dengannya, Nduk ?", ucap ibu. Kikan hanya diam, dia sudah menyangka kedatangan ibu pasti ada maksudnya karena selama ini bila di rumah Kikan selalu menghindar dengan alasan bermain dengan Raka.
"Siapa kemarin namanya, Yah ?", tanya ibu ke ayah kini.
"Hendy kalau tidak salah", jawab ayah menimpali. Kikan kembali diam sambil pura-pura menyibukkan diri.
"Kamu benar-benar gak mau kenalan dengannya, Nduk. Ya ... siapa tahu kamu bisa berteman atau juga syukur-syukur bisa berjodoh dengannya. Tapi, itu semua terserah kamu juga, Ibu gak memaksa".
Kikan diam lalu menghela nafas panjang.
"Kikan belum kepikiran untuk mencari jodoh Bu. Kikan hanya ingin menikmati semua ini dulu. Kikan gak mau memasukkan seseorang pun ke dalam kehidupan Kikan yang sudah nyaman ini", jawab Kikan akhirnya.
"Tapi sampai kapan, Nduk ?. Ibu tahu kamu masih belum bisa melupakan Ranu. Tapi kamu tidak bisa terus menerus menutup hatimu. Ranu sudah tiada, Nduk. Dia gak mungkin kembali. Raka juga butuh figur seorang ayah, suatu saat nanti dia pasti akan membutuhkannya. Ayahmu juga tidak akan selalu ada, Nduk. Suatu saat Ayah dan Ibu akan menua dan tiada. Kalau kamu sendirian terus, siapa yang akan menjagamu ?. Ayah dan Ibu tidak akan tenang meninggalkanmu sendiri ".
"Ibu, jangan ngomong gitu dong. Ayah dan Ibu akan sehat dan panjang umur. Kikan juga suatu saat akan mempunyai pendamping tapi bukan sekarang. Kikan belum siap Bu ".
"Nduk, apa salahnya sih cuman bertemu, kenalan dan berteman. Kalau kamu cocok silakan melangkah ke tahap selanjutnya. Ibu hanya minta kamu bertemu dan kenalan saja kok, Nduk".
"Ayolah, Kikan turuti saja Ibu mu itu. Tidak ada salahnya kok hanya berkenalan. Nanti, Ayah akan menemani kalau kamu keberatan". Kini ayah ikut-ikutan berkomentar. Kikan hanya diam, ia jadi serba salah kalau sudah dipaksa kedua orang tuanya kini. Kikan hanya diam saja.
__ADS_1
"Baiklah Bu, Kikan akan coba bertemu dengan Hendy itu. Tapi Ayah dan Ibu jangan memaksa Kikan untuk ke tahap yang serius ya?", ucap Kikan akhirnya. Ibu mendadak langsung sumringah.
"Bener ya, Nduk. Kalau gitu besok waktu grand opening, Ibu akan undang Hendy melalui Bobby". Kikan hanya mengangguk tanda setuju. Apa salahnya sih menyenangkan hati orang tua sekali-kali, pikirnya.