
Kikan terjaga saat hidungnya mencium aroma ikan bakar kesukaannya. Dia kaget saat mendapati dirinya sudah berada di sebuah kamar. Kikan mencoba mengingat lagi, bukannya tadi dia tertidur di mobil lalu ini rumah siapa, dimana mas Ranu.
Kikan segera bangkit dan beranjak dari tempat tidur. Dibukanya pintu kamar pelan-pelan, dia melangkah menuju aroma ikan bakar yang menggoda ini.
"Kamu sudah bangun Sayang ?", tanya Ranu begitu melihat Kikan berjalan mengendus-endus. Kikan mengangguk.
"Baunya harum sekali Mas, aku jadi lapar ". Ranu tersenyum lalu menghampiri Kikan.
"Ayo kita tunggu di luar, biar Bibi yang menyiapkan makanannya ", ajak Ranu. Kikan hanya nurut.
Ranu mengajak Kikan ke bagian belakang rumah ini. Di belakang rumah ada geladak dari kayu yang menjorok menuju kolam. Ya, di belakang rumah kayu ini ada kolam ikan yang luasnya hampir seperti danau. Di atas geladak itu sudah tertata kursi dan meja dari kayu yang sengaja dibuat sebagai ruang makan. Udara siang ini yang sejuk, membuat Kikan semakin menikmati suasana.
"Indah sekali pemandangannya Mas, aku suka ", ucap Kikan sambil berulang kali menarik nafas menikmati udara sejuk ini. Ranu hanya tersenyum melihat tingkah Kikan. T
Tak berapa lama tampak bibi datang membawakan beberapa makanan, ada ikan bakar, urap-urap, ayam goreng, sambal dan berbagai buah-buahan.
"Wah, sedap sekali baunya, ayo kita makan Mas", ajak Kikan sudah siap duduk. Ranu tersenyum lalu duduk di depan Kikan kemudian mengambilkan Kikan berbagai lauk pauk dan nasi untuk dimakan.
Kikan makan dengan lahap sampai tak menghiraukan Ranu yang terus menatapnya.
"Mas Ranu gak makan ?", tanya Kikan akhirnya begitu sadar Ranu terus memperhatikannya.
"Iya, aku makan kok. Aku senang melihat kamu bahagia, semoga aku bisa membuatmu bahagia terus ya". Kikan tersenyum dan mengangguk.
"Ngomong-ngomong ini dimana Mas ?", tanya Kikan setelah selesai makan. Ranu tersenyum.
"Kenapa kok senyum ?".
"Habis kamu lucu, harusnya nanyanya dari tadi. Ini udah tidur, udah makan baru tanya ini dimana ?". Kikan hanya nyengir.
"Habis aku laper banget tadi begitu nyium bau ikan bakar tadi jadi lupa yang inget makan aja", jawab Kikan seenaknya.
"Gitu ya kalo jadi Bu hamil bisa lupa segalanya".
"Emang kita dimana sekarang Mas ?".
"Sebelum jawab aku mau ngajak kamu jalan-jalan dulu ya", ucap Ranu sambil menarik tangan Kikan.
__ADS_1
Kikan menurut saja sambil menikmati pemandangan indah ini.
Rumah kayu ini merupakan pusat dari keindahan alam yang menyatu. Di pintu masuk tadi kita disambut beraneka bunga disamping kanan dan kiri lalu dibelakang rumah ada kolam ikan dengan pemandangan seperti danau. Mengelilingi kolam itu ada pohon pinus yang ditanam teratur sampai pintu masuk tadi. Kikan berdecak kagum menikmati keindahan pemandangan ini.
"Sudah capek jalannya ?", tanya Ranu.
"Aku gak bakalan capek kalo ngeliat yang indah-indah gini", seru Kikan sambil tersenyum.
"Emang ini dimana Mas ?" tanya Kikan lagi.
"Ini sebenarnya kado pernikahan yang aku siapkan untukmu. Aku ingin setelah nikah nanti, kita tinggal disini. Kamu mau kan ?", jawab Ranu yang membuat Kikan terbelalak kegirangan.
"Beneran Mas ? kita tinggal disini ?. Wah, aku mau banget ", pekik Kikan hampir melompat kegirangan.
"Kamu suka ?". Kikan mengangguk mantap.
"Aku suka banget, terima kasih ya ..."
"Terima kasih aja ?".
"Eh, sudah berani nyuri kesempatan ya ?", ucap Ranu sambil mengejar Kikan yang mulai berlari menjauh.
Dia lupa kalo sedang mengandung anak Ranu. Tiba-tiba gelegar, suara petir membuat Kikan berhenti berlari. Ranu segera menghampiri dan memeluknya, dia tahu Kikan sangat takut petir.
"Ayo kita masuk, sepertinya akan turun hujan ". Kikan hanya diam dan menurut ajakan Ranu.
"Bi, tolong siapkan air hangat ya ?", pinta Ranu begitu masuk rumah.
"Kamu mandi dulu ya Sayang, setelah hujan reda kita pulang. Aku sudah suruh Bibi siapkan air hangat untuk mandi. Aku ambilkan handuk dulu ya ?". Kikan hanya mengangguk, dia benar-benar gak berdaya kalau sudah mendengar suara petir sahut menyahut.
Setelah air hangat siap Kikan segera mandi. Ranu menunggu Kikan mandi sambil berbaring di ranjang bermain hp. Dia membaca pesan dari mami tentang tanggal pernikahannya yang baru, mami juga sudah menyiapkan WO untuk mengurus semua acara pernikahannya nanti. Ranu tersenyum, dia bersyukur mempunyai orang tua yang mau mensupport-nya.
"Kenapa kok senyum-senyum Mas ?", tanya Kikan begitu selesai mandi dan duduk di ranjang samping Ranu.
Ranu yang sedang asyik membaca terkejut melihat Kikan. Ia jarang melihat Kikan selesai mandi apalagi ketika rambutnya masih basah begitu. Dia kelihatan lebih cantik dari biasanya. Ranu terus memandangi Kikan yang lagi asyik mengeringkan rambut dengan handuk di tangannya.
"Mas, kok ngelamun sih ?", seru Kikan membuyarkan lamunannya. Ranu hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Hujan belum reda, Sayang, kita tunggu reda bentar ya. Aku takut kalau hujan, air sungainya sering meluap ke jalan jadi bahaya kan tapi kalo sudah reda sudah aman kok ", terang Ranu. Kikan mengangguk.
"Kamu gak mandi Mas ?", tanya Kikan kini sambil menaikkan kakinya ke atas ranjang dan setengah terbaring di samping Ranu.
Ranu hanya diam saja melihat tingkah Kikan, apa kamu gak tahu kalau semua tingkahmu itu membuat aku bergairah, pikir Ranu. Dia pura-pura sibuk dengan hpnya, menscroll semua pesan dari maminya, dari papi, dari Evan rekan kerjanya.
"Dih ... dicuekin emang enak ", sahut Kikan akhirnya membuat Ranu menoleh.
"Kamu kenapa sih Sayang ?", tanya Ranu.
"Abis Mas Ranu dari tadi ditanya diam aja, malah sibuk main hp. Kesel akunya ", jawab Kikan.
"Sorry, tadi aku lagi jawab pesan dari Mami sama dari Evan teman kantor. Udah gak marah kan ?". Kikan menggelengkan kepalanya.
Rambutnya yang basah dan bibir merahnya membuat dia makin mempesona. Ya Tuhan ... kenapa aku terperangkap di saat seperti ini lagi sih, pikir Ranu.
"Gelegar ...." tiba-tiba suara petir kali ini bunyinya lebih keras dari yang tadi mengagetkan Kikan membuat dia langsung mendekat ke Ranu dan memeluknya.
Ranu terkejut melihat Kikan yang langsung sigap memeluknya. Kini tubuh mereka sudah berdekatan, wajah mereka pun hanya berjarak 1 cm.
Tiba-tiba Kikan mendongak menatap wajah Ranu yang sulit sekali digambarkan. Ranu kemudian mendekat, menempelkan bibirnya di bibir Kikan lalu menciumnya lembut, setelah puas lalu turun ke leher jenjang Kikan. Kikan hanya memejamkan matanya sambil menikmati sentuhan Ranu yang seperti candu baginya.
Ranu memeluk pinggang Kikan dan mendekatkan ke tubuhnya. Lalu perlahan melepas kancing baju Kikan dan menelusup ke dalam meraba bagian sensitifnya. Kikan kembali mendesah lirih menikmati setiap sentuhan Ranu. Ranu semakin menjadi melanjutkan aksinya, dia sudah tidak tahan meredam hasratnya.
Namun tiba-tiba, ponsel Ranu berbunyi tepat di samping Kikan terbaring. Ada panggilan masuk dari mami. Ranu segera tersadar dan segera bangkit, menutupi tubuh Kikan dengan selimut, bergegas memakai celana dan kaos lalu menyambar hpnya kemudian bergegas keluar.
Kikan terdiam dalam kebingungannya. Kemudian dia bangkit merapikan baju dan rambutnya dan beranjak keluar mencari Ranu. Hujan mulai berhenti, tampak Ranu duduk di teras sedang menghisap rokok. Tak biasanya Kikan melihat Ranu merokok apa karena tadi ya, pikirnya.
"Kamu marah Mas sama aku ?", tanya Kikan mendekat. Ranu menoleh dan segera mematikan rokoknya. Ranu menggeleng.
"Tapi kenapa tadi ..." ucap Kikan belum selesai.
"Maafin aku. Aku gak mau melanggar janjiku lagi. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan menyentuhmu lagi sampai kita menikah nanti ", ucap Ranu. Kikan teringat janji itu, janji yang diucapkan Ranu setelah malam itu. Kikan menangis lalu memeluk Ranu.
"Maafin aku ya Mas, mungkin tadi aku sudah memancingmu ". Ranu hanya tersenyum membalas pelukan Kikan sambil mengelus rambutnya.
"Hujan sudah reda, kita pulang yuk mumpung belum malam", ajak Ranu yang diiyakan oleh Kikan. Ia beruntung memiliki Ranu, Kikan semakin menggenggam erat tangan Ranu sambil berjalan menuju mobil mereka setelah sebelumnya berpamitan ke bibi.
__ADS_1