Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Pernyataan Kikan


__ADS_3

Adrian berjalan sambil terus memeluk pinggang Kikan. Sepertinya ia ingin memperlihatkan ke semua orang kalau Kikan miliknya. Kikan hanya diam menurut meskipun sejujurnya dia risih dengan tingkah Adrian tapi dia malas berdebat dengan Adrian.


"Kikan kamu tunggu di lobby sebentar ya, aku mau ke toilet dulu ", ucap Adrian saat tiba di lobby. Kikan mengangguk dan segera menuju sofa untuk menunggu Adrian.


Baru saja Kikan duduk, tiba-tiba seseorang mendekatinya.


"Aku pikir, aku salah lihat ternyata kamu benar Kikan ya ?", sapa seseorang itu. Kikan menoleh ke arah suara itu.


"Hendy !", pekik Kikan kaget. Hampir empat tahun dia tidak melihat Hendy dan ini pertama kalinya setelah kejadian di ruko mereka bertemu lagi.


"Bagaimana kabarmu ?", tanya Kikan begitu melihat Hendy yang kini jauh lebih berisi badannya dan penampilannya pun beda.


"Ya ... seperti yang kau lihat. Aku sadar, aku terlalu memaksakan perasaanku padamu saat itu. Ternyata kalau dicintai orang itu begitu menyenangkan ya ", kata Hendy sambil tersenyum. Kikan balas tersenyum.


"Kamu sudah menikah ?", tanya Kikan begitu melihat ada cincin melingkar di jari Hendy. Hendy mengangguk sambil tersenyum lagi.


"Maaf, aku tidak mengundangmu. Aku benar-benar ingin move on dari kamu saat itu", kata Hendy.


"Ya ... aku paham kok", ucap Kikan sambil tersenyum lagi.


"Sayang .... kamu kenal Pak Hendy rupanya", tiba-tiba Adrian sudah di belakang Kikan dan kini langsung memeluk pinggangnya. Kikan yang kaget dengan reaksi Adrian sedikit tersipu karenanya.


"Pak Adrian ... ", sapa Hendy ke Adrian sambil tersenyum dan menundukkan kepala.


"Aku berteman dengan Hendy, sudah lama tidak bertemu dan baru kali ini bertemu lagi", jelas Kikan.


"Oh .... ", jawab Adrian datar. Kikan menjadi bingung melihat sikap Adrian, ia kini makin mempererat pelukan di pinggangnya.


"Kamu dan Pak Adrian ....", kata Hendy terputus.


"Dia tunangan saya ", jawab Adrian sebelum Kikan sempat menjawab. Kikan menoleh kaget ke arah Adrian lalu tersenyum lagi. Sandiwara apa lagi yang dimainkan Adrian, pikir Kikan.


"Wah, selamat ya. Selamat Pak Adrian dan Kikan. Jangan lupa undangannya ya. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak !", pamit Hendy kemudian. Adrian hanya tersenyum lalu menatap Kikan.

__ADS_1


"Apa aku harus mengikatmu di pinggangku agar tidak ada orang lain yang mendekatimu ", bisik Adrian.


"Kamu apa-apaan sih, dia hanya teman lagipula dia sudah menikah", jawab Kikan lirih. Adrian hanya diam lalu bergegas menarik tangan Kikan meninggalkan kantornya. Adrian segera menstater motornya, Kikan pun segera naik ke boncengan. Adrian melajukan motornya meninggalkan gedung bertingkat itu dengan kecepatan penuh. Sepertinya dia sedang marah atau juga cemburu. Mereka masih sama-sama diam di perjalanan. Apa dia marah ? cemburu ?, pikir Kikan dalam diam. Lalu tiba-tiba Kikan menyatukan kedua tangannya yang sedang memegang pinggang Adrian. Kikan memeluk pinggang Adrian kini dan kemudian menyandarkan kepalanya di punggung Adrian. Melihat reaksi Kikan, Adrian segera mengurangi kecepatan motornya, kemudian tangannya mengelus tangan Kikan yang memeluk pinggangnya.


"Jangan marah lagi ya ?", ucap Kikan di tengah kebisingan jalan. Adrian hanya mengangguk dan tersenyum sendiri.


Hampir dua jam Adrian dan Kikan melaju di jalanan, mereka sudah berada di luar kota melewati pedesaan dan pegunungan. Udara sejuk kini mulai mereka rasakan. Akhirnya mereka tiba di sebuah camping ground yang sudah tertata rapi. Adrian lalu mengurangi kecepatannya dan berhenti di sebelah camping ground itu.


"Dimana ini ?", tanya Kikan setelah dia turun dari motor. Adrian membuka helmnya dan tersenyum.


"Kamu lupa tempat ini ?", tanya Adrian sambil menarik tangan Kikan mengajak lebih mendekat. Kikan mengangguk.


"Ini tempat pertama kali aku nyatakan cinta padamu, itu di gazebo itu !", kata Adrian sambil menunjuk sebuah gazebo di tengah camping ground tersebut. Kikan terdiam dan mengamati sekitar tempat itu. Adrian masih mengingatnya, aku saja sudah lupa dan tidak ingat tempat ini, pikir Kikan.


"Ayo, kita kesana. Aku selalu kesini bila sedang pulang ke Indonesia. Aku tidak pernah lupa tempat ini. Ini tempat kenangan keduaku bersama kamu setelah sekolah kita", ucap Adrian lagi sambil mengajak Kikan melangkah mendekati gazebo.


"Kamu kenapa makin romantis gini sih padahal dulu kamu tidak pernah ingat hal detil apapun ", kata Kikan sambil mengikuti Adrian.


"Duduk sini yuk !", ajak Adrian sambil duduk di gazebo itu. Kikan menurut dan ikut duduk, kemudian ia mengedarkan pandangannya. Semua tampak berbeda dan mungkin lebih bagus daripada saat dia SMA dulu, mungkin sekarang lebih diperbaiki oleh pengelola. Untung saja sekarang bukan masa liburan jadi Kikan bisa leluasa menikmati keindahan alam di sini.


"Suka ?", tanya Adrian yang melihat ekspresi Kikan penuh kesenangan. Kikan mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, aku suka sekali. Terima kasih ya !".


"Terima kasih aja ?", kata Adrian balik tanya dengan senyum menggoda. Kikan bingung dan melihat ke arah Adrian.


"Kamu kenapa sih, dari tadi kok aneh gini ?", ucap Kikan lagi.


"Aku kan kemarin sudah bilang kalau aku kangen kamu. Aku ingin seharian ini menghabiskan waktu denganmu. Jadi aku ingin, seharian ini aku jadi satu-satunya orang yang kamu perhatikan. Cuma aku saja gak boleh ada yang lain", ucap Adrian.


"Idih ... kamu egois banget deh ".


"Biarin .... , pokoknya hari ini kamu punyaku ", ucap Adrian sambil langsung memeluk Kikan. Kikan segera melepas pelukan Adrian, ia malu dengan tingkah Adrian yang kekanakan. Adrian tampak cemberut setelah Kikan melepas pelukannya. Tiba-tiba tiada angin tiada hujan, terdengar suara petir menggelegar. Kikan kaget sekali, wajahnya langsung pucat. Adrian melihat ketakutan Kikan.

__ADS_1


"Kamu masih takut dengan hujan dan petir ?", tanya Adrian lembut. Kikan mengangguk.


"Sini ....!", ucap Adrian sambil membuka tangannya siap untuk memeluk. Kikan segera mendekat ke Adrian dan berada dalam pelukannya. Benar saja tak lama setelah itu turun hujan deras diiringi petir dan guntur bersahutan. Kikan semakin ketakutan, mungkin kalau di dalam ruangan ketakutannya sedikit berkurang tapi ini di alam terbuka. Kikan takut sekali, ia trauma karena saat masih kecil ia pernah melihat pohon yang tersambar petir dan menimpa orang yang berteduh di bawahnya. Sejak saat itu Kikan takut bila hujan diiringi petir dan guntur.


Tiba-tiba Adrian berdiri dan melepas jaket dan sepatunya.


"Kamu mau kemana ?", tanya Kikan bingung.


"Aku mau menghilangkan ketakutanmu. Ayo lepas jaket dan sepatumu !", pinta Adrian.


"Aku gak mau, bagaimana kalau petirnya menyambarku ?".


"Tidak akan, dia akan menyambar tempat yang lebih tinggi dulu. Disini banyak pohon pasti pohon dulu yang terkena sambaran petir ".


"Kalau pohonnya menimpaku bagaimana ?"


"Aku akan menolongmu, lagipula ini sudah hampir tidak ada petir lagi. Ayolah !", ucap Adrian lagi sambil menatap Kikan penuh harap.


"Baiklah ", akhirnya Kikan melepas jaket dan sepatunya lalu berjalan menghampiri Adrian yang sudah berdiri di tengah hujan. Adrian segera meraih tangan Kikan yang berjalan perlahan mendekatinya.


"Lihat ! rasakan air hujan ini, indah bukan ?", ucap Adrian. Kikan mencoba membuka tangannya dan merasakan air hujan yang jatuh membasahinya.


"Coba kau pejamkan mata dan dengarkan suara hujan !", perintah Adrian lagi. Kikan lalu mencobanya. Ia mulai memejamkan mata sambil kedua tangannya meregang kesamping merasakan setiap tetes air yang jatuh kebumi, seperti musik alam, indah sekali. Kikan tersenyum menikmati air hujan yang membasahi wajah dan tubuhnya. Adrian hanya tersenyum mengamati Kikan. Aku senang kalau kau bahagia, Kikan, gumam Adrian dalam hati.


"Kamu sudah tidak takut hujan kan ? kamu menyukai hujan kan sekarang ?", tanya Adrian yang dibalas anggukan Kikan. Kikan membuka matanya tepat di saat Adrian sudah memeluknya.


"Sama seperti hujan, kamu juga sekarang mau membuka hatimu untukku kan ? kamu mau menjadi pendamping ku kan ?", tanya Adrian kini sambil merengkuh wajah Kikan dengan kedua tangannya. Kikan tersenyum lalu mengangguk.


"Aku mencintaimu, Adrian ", ucap Kikan lagi. Adrian terbelalak mendengar ucapan Kikan.


"Apa ? aku tidak dengar ", ucap Adrian di tengah hujan. Kikan tersenyum.


"Aku .... mencintaimu ... Adrian ...", teriak Kikan di tengah hujan. Adrian tersenyum lalu merengkuh wajah Kikan dan mencium lembut bibirnya di tengah hujan sambil saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2