Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Obrolan Ayah


__ADS_3

Hari ini Kikan pulang lebih awal dari biasanya, ia ingin menghilangkan kesedihannya dengan mulai merubah kebiasaan. Ia jadi khawatir ayah dan ibu mengetahui sikapnya yang berbeda. Rika dan Amel menyadari perubahan sikapnya tentunya ayah dan ibu pasti juga akan mengetahuinya, pikirnya.


Kikan memarkir mobilnya di garasi dan bergegas masuk ke rumah.


"Tumben kamu sudah pulang, Nduk ?", sapa ibu begitu Kikan masuk rumah.


"Iya Bu, sudah tidak ada yang dikerjakan lagi ", jawab Kikan.


"Ayo kita makan malam bersama Kikan ", ucap ayah yang sudah duduk di meja makan.


"Iya, Yah tapi Kikan mandi dulu ", ucap Kikan yang diiyakan oleh anggukan ayah.


"Bagaimana butikmu ? masih ramai ?", tanya ayah setelah Kikan ikut bergabung makan malam bersama.


"Alhamdulillah ... Yah, masih banyak orderan yang masuk ", jawab Kikan.


"Syukurlah kalau akhirnya bisnis yang kau rintis sukses ", ucap Ayah.


"Raka kok gak dimakan sayurnya ?", tegur ibu ketika melihat Raka menyisihkan beberapa sayur di piringnya.


"Gak enak, Nek, pahit .... ", jawab Raka sambil menatap takut ke arah Kikan.


"Katanya mau jadi super Hero kenapa sayurannya gak dimakan. Mana mungkin bisa kuat kalau gak makan sayur ", ucap Kikan sambil tersenyum ke Raka.


"Memang supel helo cuka makan cayur, Ma ?", tanya Raka.


"Iya dong, memang awalnya sih terasa pahit tapi lama kelamaan enak kok. Raka coba ya. Sini, Mama suapin !", ucap Kikan sambil menyendok sayuran yang disisihkan Raka kemudian memasukkan ke mulut Raka.


"Dikunyah ya ! lama-lama ada rasa manisnya kok ", ucap Kikan menyuruh Raka yang mulai mengunyah makanannya pelan-pelan.

__ADS_1


"Iya Ma, lama-lama ada lasa manisnya ", ucap Raka kegirangan. Kikan hanya tersenyum melihatnya.


"Ma .... habis makan, bacain Laka buku celita ya ?. Yang balu beli kemalin ", pinta Raka.


"Iya, pokoknya makannya harus habis termasuk sayurnya juga ". Raka mengangguk mengiyakan. Ayah dan ibu hanya tersenyum melihat tingkah ibu dan anak itu.


Akhirnya sesudah makan malam, Kikan ke kamar Raka untuk membacakan buku cerita yang baru dibelinya kemarin.


"Ma ... kalo baca kayak Om Kelen dong !", pinta Raka sebelum Kikan memulai membaca.


"Memang bagaimana kalau Om Adrian baca cerita ?", tanya Kikan bingung.


"Om Kelen celalu beda-beda sualanya, micalnya suala kancil dan buaya pasti beda jadi kayak benelan gitu ", terang Raka. Kikan mengangguk.


"Oke, akan Mama coba deh ", ucap Kikan sambil mulai membuka lembar halaman pertama buku cerita Raka.


Akhirnya malam itu dihabiskan Kikan dengan membacakan buku cerita Raka. Meskipun masih sering diprotes Raka karena cara membaca Kikan yang datar tidak seperti Adrian, Kikan tetap senang. Karena dia sedikit melupakan tentang Adrian hari ini. Kikan membacakan Raka dua buku cerita hingga akhirnya Raka terlelap.


Kikan berdiri perlahan kemudian keluar dari kamar Raka. Sudah jam sepuluh malam, ayah dan ibu pasti sudah tidur. Kikan belum mengantuk dan dia tidak ingin di kamar. Kikan berjalan ke taman belakang lalu duduk di tepi kolam. Kakinya ia biarkan masuk di kolam dan menjadi mainan ikan-ikan kecil di dalamnya.


Kikan menarik nafas menikmati udara malam yang terasa sejuk. Ia menatap bintang di langit yang terlihat terang dan berkilau lalu tersenyum sendiri.


"Kamu belum tidur, Kikan ?", tanya ayah yang sudah duduk di kursi. Kikan menoleh melihat ayah membawa kopi dan sedang duduk di belakangnya.


"Belum mengantuk, Yah ", jawab Kikan. Ia masih asyik memainkan kakinya di kolam membentuk gelombang air.


"Ayah beberapa hari ini keluar kota dan baru ke kantor tadi pagi. Ternyata banyak yang terjadi selama Ayah tinggal pergi ", ucap ayah lagi. Kikan hanya diam sibuk sendiri dengan ikan di kolam yang mulai menyesapi jari-jari kakinya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Adrian ?", tanya ayah tiba-tiba. Kikan terdiam, ia berhenti memainkan kakinya.

__ADS_1


"Baik ", jawab Kikan akhirnya tanpa menoleh sedikitpun ke ayah.


"Kalau baik, mengapa Ayah mendapatkan ini ", ucap ayah kini sambil menyodorkan sebuah undangan warna emas dengan nama Adrian Dinata menikah dengan Tania Larasati tertulis warna merah menyala.


Mereka telah menyebarkan undangannya, esok pasti Kikan juga akan mendapatkannya. Memang nama Adrian sangat terkenal di kalangan pengusaha termasuk ayahnya, pantas saja ayah juga mendapatkan undangan itu.


Kikan lama terdiam membaca undangan itu, hatinya disayat-sayat dan kembali terasa sakit yang amat sangat.


"Kamu mau menjelaskan ke Ayah, ada apa sebenarnya ?". Kikan terdiam lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis.


Ayah tertegun melihat anak gadisnya yang terdiam dan menangis. Ayah beranjak mendekati Kikan kemudian memeluknya.


"Ada apa Kikan ? ceritakan kepada Ayah !", ucap ayah lagi sambil membuka tangan Kikan yang menutupi wajahnya.


Kikan membuka tangannya, mencoba mengusap airmatanya dan masih sibuk mengatur nafasnya.


"Adrian dijodohkan ... Ayah. Dia sudah mencoba menolaknya tetapi malah ibunya jatuh sakit dan hampir kehilangan nyawa. Dia juga sama bingungnya dengan Kikan. Dia berjanji akan menyelesaikan ini semua dan meminta Kikan untuk menunggunya. Kikan percaya padanya, Yah. Kikan percaya tapi ..... hiks ... hiks ... hiks". Kikan kembali menangis. Ayah hanya diam dan merengkuh Kikan ke dalam pelukannya.


"Sampai kapan kamu akan bertahan Kikan ?. Kamu tidak dapat memisahkan ikatan darah yang lebih kental dari air. Adrian masih milik ibunya dan dia lebih berhak mengabdi kepada ibunya daripada dirimu. Ayah rasa pilihan Adrian sudah benar, kamu yang seharusnya mengikhlaskannya, Nak. Dia bukan untukmu lagi ", ucap ayah. Kikan hanya terdiam mencoba mencerna kata-kata ayah.


"Adrian memang anak baik, Ayah percaya dia lebih mencintaimu. Tapi sampai kapan kamu menunggu ?. Pernikahan mereka dilaksanakan dua Minggu lagi dan Adrian belum memberimu kepastian. Mungkin ini saatnya kamu yang memutuskannya. Temui Adrian, bicarakan baik-baik. Memang ini sulit bagi kalian tapi Ayah rasa ini yang terbaik, Kikan. Mungkin dia bukan jodohmu dan kalaupun kalian masih berjodoh pasti suatu saat akan dipertemukan kembali dengan cara yang tidak kalian duga. Beranikan hatimu untuk melepaskannya. Ayah yakin kamu bisa ".


Kikan hanya terdiam mendengar ucapan ayah. Airmatanya sudah kering menguap bersama ingatan indah tentang Adrian. Ayah benar, mungkin aku harus bicara dengannya dan mencoba untuk melepaskannya kembali.


"Kamu masih ingin disini, Kikan ?. Ini sudah malam, istirahatlah. Jangan siksa dirimu terus, masih banyak yang bisa kau kerjakan esok ", ucap ayah sambil bangkit akan masuk ke dalam.


"Iya Yah ... Kikan akan masuk. Kikan sudah mengantuk ", jawab Kikan sambil bangkit dari duduknya.


"Kamu tetap putri kesayangan Ayah dan Ayah selalu berdoa semoga kebahagiaan segera menghampirimu ", ucap Ayah lagi sambil merangkul Kikan dan mengecup puncak kepalanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Yah selalu menyemangati Kikan ", balas Kikan sambil merangkul ayahnya erat.


__ADS_2