Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Good night call


__ADS_3

Kikan tersenyum sendiri setiap mengingat saat-saat bersama Adrian beberapa waktu lalu. Entah mengapa perasaan Kikan selalu bergetar hebat setiap menyebut nama Adrian. Apa aku mulai menyukai Adrian lagi ? Atau aku memang masih menyimpan semua rasa untuknya ?. Aku tak tahu, aku mungkin menyukainya tapi aku juga takut kecewa. Aku takut hanya luka yang kurasakan kalau membiarkan rasa ini ada. Tapi kata-kata Adrian terakhir bertemu kemarin memang benar. Ia ingin aku membuka hatiku lagi untuknya. Ah, entahlah aku bingung, pikir Kikan dalam hati.


"Nduk ... kamu belum tidur ?", tiba-tiba terdengar suara ibu. Beliau kini sudah masuk ke kamar Kikan.


"Ada apa Bu ?", tanya Kikan.


"Akhir-akhir ini, Ibu lihat kamu sering senyum-senyum sendiri. Ada apa ? apa ini ada hubungannya dengan Om Keren ?", tanya ibu menggoda.


"Ibu ..... apaan sih ?", kata Kikan malu.


"Gak pa-pa, Nduk kalau kamu suka Adrian. Kamu berhak bahagia. Sudah hampir 6 tahun sejak kepergian Ranu. Kini saatnya kamu membuka hatimu, Nduk. Ibu akan senang kalau kamu juga bahagia", ucap ibu lagi.


"Tapi ... Kikan takut Bu. Kikan takut Adrian akan kecewa. Kikan tidak seperti yang dulu, Bu. Kikan takut kalau membiarkan perasaan ini tumbuh akan menyakitkan satu sama lain", kata Kikan.


"Itu hanya ketakutanmu, Nduk, dan semua itu belum tentu terjadi. Ibu lihat Adrian sangat menyukaimu, bukan kamu saja, dia juga sangat sayang pada Raka. Dia anak yang baik dan sopan, Ibu suka padanya". Kikan hanya diam menarik nafas panjang mendengar penjelasan ibu.


"Kamu suka dia juga kan ?", tanya Ibu lagi. Kikan hanya diam.


"Ibu tahu kamu pasti juga suka dia, sikapmu berbeda pada Adrian tidak seperti pada Hendy dulu. Ibu rasa kamu juga tertarik padanya", lanjut ibu.


"Ah ... Ibu kenapa jadi detektif sih sekarang". Ibu tertawa melihat Kikan yang malu-malu.


"Jalani saja sesuai yang kamu rasakan Kikan. Kalau kamu sudah yakin, Ibu akan merestui kalian", ucap ibu sambil membelai rambut Kikan.


"Terima kasih, Bu. Kikan akan berusaha yang terbaik", ucap Kikan lagi.


"Ya, sudah ... kamu lekas tidur jangan melamunkan Adrian saja ", goda ibu lagi yang disambut senyum malu-malu Kikan. Ibu segera berlalu dari kamar Kikan dan membiarkan Kikan beristirahat. Baru saja Kikan akan memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Kikan segera mengambil ponselnya dan melihat nama "Adrian sayang" di ponselnya. Ia selalu tertawa geli setiap membaca kontak Adrian di ponselnya tapi Kikan juga tak berniat untuk menggantinya.


"Halo ....", sapa Kikan di telepon.


"Hai ... kamu belum tidur ?", suara Adrian terdengar lembut di ponsel.


"Belum, ada apa telepon malam-malam ?", tanya Kikan.


"Ini sudah malam ya ?. Padahal aku baru saja sampai rumah".


"Kamu baru pulang ?", tanya Kikan.

__ADS_1


"He eh, aku banyak kerjaan hari ini. Capek banget", jawab Adrian lemas.


"Kalau capek kenapa gak langsung Istirahat saja malah menelponku ".


"Kalau mendengar suaramu, capekku langsung hilang kok ", ucap Adrian. Kikan hanya tertawa mendengarnya.


"Dari dulu kamu memang pintar ngegombal ya ?", ucap Kikan lagi.


"Tapi kamu suka kan ?", kata Adrian sambil tertawa.


"Kok belum tidur ?", tanya Adrian lagi.


"Belum ngantuk".


"Belum ngantuk atau masih ngelamunin aku ?", tanya Adrian membuat Kikan malu. Untung saja dia sedang bicara di telepon kalau tidak pasti Adrian sudah melihat pipinya merona merah karena malu.


"Huh ... ngapain juga ngelamunin kamu ?", kata Kikan bohong.


"Ya ... siapa tahu kamu lagi kangen sama aku. Soalnya aku lagi kangen nih. Bisa ke sini sekarang gak ?".


"Hei .. kamu jangan bercanda dong, Adrian ".


"Kamu apaan sih kok ngomongnya ngawur gitu ?".


"Siapa yang ngawur, aku ngomong bener kok. Aku kangen kamu banget, andai kalau kita sudah serumah dalam artian kita sudah menikah pasti aku bakalan meluk kamu nih. Terus kapan nih kita nikahnya ?", kata Adrian santai.


"Hahaha ... udah jangan bercanda dong", ucap Kikan.


"Aku gak bercanda, Sayang .... aku serius kok. Aku pingin nikah sama kamu, tinggal nunggu kamu maunya kapan", ucap Adrian lagi. Kikan terdiam lama, ia sibuk mengatur hatinya yang naik turun mendengar ucapan Adrian.


"Kamu kok bisa sih, ngomong hal seperti itu dengan santai", ucap Kikan akhirnya.


"Terus harus gimana ngomongnya ?".


"Eh ... aku gak tahu ". Kini giliran Adrian yang terdiam.


"Kamu sudah tidur ya ? kok diem ?", tanya Kikan kini.

__ADS_1


"Gak, aku sedang membayangkan kamu ada disini. Memelukmu lalu menciummu. Aku kangen kamu ....". Kikan diam, mengapa semua perkataan Adrian selalu membuat hatinya bergetar hebat tidak karuan.


"Kamu besok sibuk gak ?", tanya Adrian lagi.


"Besok, aku gak ada janji sih. Pesanan pelanggan juga sudah kudesain semua tinggal eksekusinya dari anak-anak saja. Ada apa memangnya ?", jawab Kikan.


"Besok pagi aku jemput ya !. Aku pingin ketemu kamu ".


"Oke, kamu ke rumah jam berapa ?. Aku takut belum bangun kalau terlalu pagi. Hehehe ", jawab Kikan sambil tertawa.


"Mungkin sekitar jam 9 aku jemput. Kamu siap-siap ya, kalau bisa jangan pakai dress".


"Memang mau kemana ?", tanya Kikan ingin tahu.


"Besok, kamu pasti tahu. Dandan yang cantik ya ?. Tapi kamu selalu cantik kok. Sekarang tidurlah, istirahat buat hari esok ".


"Memang kamu ngasih kejutan apa besok, kok ngomongnya gitu sih ".


"Aku gak ngasih kejutan kok. Aku cuma kangen kamu dan aku ingin ketemu kamu besok. Kalau bisa menghabiskan seharian bersama kamu besok. Kamu maukan ?", tanya Adrian dengan lembut. Kikan terdiam lama, mengapa dia selalu membuatku berdebar begini, pikirnya.


"Kamu gak sedang merayuku kan ?", tanya Kikan mencoba menutupi perasaannya.


"Apa aku terdengar seperti merayumu ?".


"Terserah kamu deh, aku hanya ngomong sesuai yang aku rasakan saja kok", ucap Adrian lagi.


"Maaf, tapi kata-kata mu tadi memang terdengar seperti rayuan ", kata Kikan. Adrian terdengar tertawa keras.


"Sudahlah, aku ngantuk, mau tidur. Beri aku ciuman selamat tidur dong", pinta Adrian lagi. Kikan langsung terbelalak kaget.


"Kamu apa-apaan sih, Adrian ?".


"Kalau kamu gak mau ya sudah. Tapi besok pagi saat kita bertemu kamu harus menggantinya 100 kali lipat ya ?".


"Ih ... gak mau ah. Kamu jangan aneh-aneh deh mintanya ".


"Kalau gitu, beri aku ciuman selamat tidur dong. Aku bakalan gak bisa tidur nih kalau gak diberi ciuman selamat tidur. Terus kalau gak bisa tidur, aku bakalan capek dan kalau capek bakalan gak bisa konsen kerja terus ....."

__ADS_1


"Cup, selamat tidur", akhirnya Kikan mengalah. Adrian tertawa, terdengar senang.


"Nah, gitu dong. Besok aku minta yang aslinya ya. Selamat tidur, mimpiin aku ya", pamit Adrian. Kikan hanya tersenyum dan segera memejamkan matanya berharap Adrian datang di mimpinya. Ia ingin mimpi indah malam ini.


__ADS_2