
Adrian hanya duduk terdiam di atas mobilnya. Ia masih sibuk menatap gemerlap lampu kota yang bersinar benderang di bawah sana. Kikan sudah lama pergi meninggalkannya di tempat ini, tempat penuh kenangan mereka berdua.
Adrian menghela nafasnya berat, tampak beberapa tetes air sedikit tergenang di sudut matanya. Ini benar-benar sulit untuknya kehilangan orang yang sangat disayangi untuk kedua kali. Mungkin memang ini sudah karmaku untuk selalu kehilangan orang yang kusayang. Aku cinta kamu ... Kikan, aku sayang kamu ..... Apa aku sanggup melalui hari-hari ku tanpamu ?. Aku sudah tersiksa melalui sebelumnya dan sekarang harus aku lalui saat-saat itu lagi. Adrian kembali menghela nafasnya. Kini air di sudut matanya mulai jatuh mengalir perlahan.
Adrian meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang sudah bertumpu di atas kedua lutut yang ditekuk. Ia sudah tidak mampu lagi menahan kesedihannya. Akhirnya malam itu dibawah langit yang bertaburan penuh bintang Adrian menangis.
**********
Tania tersenyum gembira karena dua minggu lagi ia akan menikah dan resmi menjadi istri seorang Adrian Dinata. Akh, cowok tampan yang sombong itu akhirnya akan menjadi milikku seutuhnya. Adrian memang sangat tampan dan begitu mempesona, aku sangat berterima kasih pada mama yang sudah menjodohkan aku dengan dirinya. Akh ... betapa beruntungnya diriku. Apalagi posisi Adrian seorang CEO perusahaan ternama. Hal ini pasti akan membuat aku hidup sejahtera selamanya. Tania terus tersenyum kegirangan.
"Sepertinya aku harus mempersiapkan diriku untuk malam pertama dengan Adrian ", gumam Tania lagi sambil bangkit menatap cermin.
"Hemmm ... sepertinya aku sedikit gemuk ya, tapi kok di perut aja. Jadi buncit deh perutku. Mungkin besok, waktu malam pertama aku harus memakai lingerie hitam supaya perutku tidak terlalu terekspos. Aku akan membuat Adrian mendesah keenakan besok. Aku yakin dia pasti akan menyukainya, aku sudah sering melakukannya. Hehehe ", senyum Tania lagi.
Tapi ... tunggu dulu, mengapa sampai tanggal ini aku belum datang bulan ya ?. Aku tidak mau nanti saat malam pertama dengan Adrian aku datang bulan. Sepertinya aku harus ke dokter langgananku.
Tania segera mengambil ponselnya, menscroll mencari nama Dokter Arumi, dokter pribadi langganannya.
"Malam Dok, maaf mengganggu !", sapa Tania begitu telepon sudah tersambung.
"Iya Tania, ada apa ?", tanya Dokter Arumi dari seberang.
"Apa besok Dokter ada waktu ?. aku mau kontrol periksa kesehatan aja. Dua Minggu lagi kan aku mau nikah, bisa gak Dok ?", tanya Tania.
"Tentu bisa, besok jam 10 pagi ya !. Aku kosong jam tersebut ", jawab Dokter Arumi.
"Ok, aku akan langsung kesana Dok, Terima kasih ya !", ucap Tania sambil mengakhiri teleponnya.
*******
__ADS_1
Pagi ini tepat jam 10 pagi, Tania berjanji bertemu dengan Dokter Arumi, dokter pribadi langganannya.
"Ternyata kamu sudah mau nikah saja ya, Tania ?. Gak nyangka kamu sudah dewasa ", ucap Dokter Arumi sambil tersenyum begitu bertemu Tania pagi ini.
"Iya, Dok. Sebenarnya ini Mama yang menjodohkan tapi karena calon suami yang dijodohkan itu saya suka dan cocok akhirnya saya terima saja meskipun awalnya saya tolak ", cerita Tania.
"Siapa calon suamimu ? dan mengapa saya tidak diberi undangan juga ?". Tania tersenyum lagi.
"Maaf ..., Dok. Ini sekalian saya bawain undangan untuk Dokter. Namanya Adrian Dinata, dia cukup terkenal di kota ini. Dia CEO perusahaan ternama di kota ini. Dokter pasti tahu ", terang Tania.
"Oh ... tentu saya tahu dia walaupun tidak seberapa akrab dengannya. Suami saya sering beberapa kali kerjasama dengannya. Bilang saja dapat salam dari Pak Wisnu Wardhana, beliau pasti kenal ", ucap dokter Arumi.
"Oh .. tentu nanti akan saya sampaikan ".
"Baiklah ... kita mulai pemeriksaan hari ini ya. Ayo, silakan berbaring dulu ", perintah dokter Arumi menyilakan Tania.
Tania menurut dan segera berbaring di tempat pemeriksaan. Dokter Arumi segera memulai memeriksa. Memeriksa denyut jantungnya, matanya, mulutnya.
"Memang biasanya tanggal berapa ?", tanya dokter Arumi kini mulai meletakkan stetoskopnya di perut Tania.
"Harusnya tanggal 3 Dok, tapi kadang juga gak teratur sih. Dokter kan tahu sendiri siklus hormonku gak teratur sejak dulu ".
"Aku coba USG ya ?", ucap dokter Arumi. Tania mengangguk.
"Sus ...., tolong siapkan Mbak Tania untuk USG !", ucap dokter Arumi meminta bantuan susternya.
"Baik, Dok !", ucap suster. Kemudian dengan sigap, suster tersebut menyiapkan alat USG dan mengoleskan sebuah gel di perut Tania.
"Sudah siap, Dok !", ucap suster lagi. Dokter Arumi kembali masuk menghampiri Tania. Memang dokter Arumi dulunya adalah dokter umum dan langganan Tania. Kemudian dokter Arumi sekolah lagi untuk mengambil spesialis kandungan, makanya di tempat prakteknya ia juga menyediakan alat USG.
__ADS_1
Dokter Arumi mulai menggerakkan alat USG di perut Tania. Namun, tiba-tiba dokter Arumi menghentikan gerakannya.
"Kenapa Dok ? ada masalah dengan saya ?", tanya Tania bingung melihat ekspresi dokter Arumi.
"Maaf ... Tania, aku bingung mau bilang apa tapi di perutmu ini khususnya di rahimmu ada ....", ucap dokter Arumi terpotong.
"Ada apa, Dok ?", tanya Tania bingung.
Dokter Arumi diam saja dan kembali menggerakkan alat USG nya di perut Tania.
"Dok ...., ada apa ?", tanya Tania ingin tahu.
Dokter Arumi menarik nafasnya panjang.
"Di perutmu tepatnya di rahimmu ada ... ada .. janinnya. Itulah mengapa kamu tidak datang bulan, Tania ", jelas dokter Arumi akhirnya. Tania terkejut dan menatap dokter Arumi tak percaya.
"Apa benar yang Dokter katakan ?", tanya Tania lagi.
"Tentu Tania, aku akan menggeser layar monitornya supaya kamu bisa melihatnya sendiri", ucap dokter Arumi sambil menggeser layar monitor supaya Tania bisa melihatnya. Tania sangat terkejut saat dokter Arumi memperlihatkan monitor itu. Di monitor itu tampak sebuah bulatan kecil seperti kacang yang sibuk bergerak.
"Melihat dari ukuran sepertinya janin itu sudah berumur 12 mingguan. Apa kamu tidak merasakan tanda-tanda apapun Tania ?", tanya dokter Arumi. Tania hanya terdiam, ia mulai mengingat-ingat apa saja yang terjadi sebelum ini.
"Aku tidak akan berkomentar banyak Tania, aku harap calon suamimu juga harus tahu kalau kalian akan mempunyai seorang anak. Lain kali kalau kontrol kesini, ajaklah serta Adrian ya ?. Suster, tolong dibantu Mbak Tania ", ucap dokter sambil berlalu kembali ke kursinya. Tania terus diam meskipun suster sudah selesai membersihkan dan menyuruhnya bangkit.
"Aku kasih vitamin dan obat penguat ya ? Kamu tidak ada keluhan pusing atau mual kan ?. Oh ya, tadi hasil USG-nya juga aku sertakan ya ?", ucap dokter Arumi sambil menuliskan resep dan menyodorkan foto USG ke Tania.
Tania terus terdiam hingga dia keluar dari ruangan dokter dan kini masih termenung di mobilnya. Ini benar-benar di luar dugaannya, ia didiagnosis hamil tepat 2 Minggu sebelum hari pernikahannya. Dan parahnya lagi, anak yang dikandung Tania bukanlah anaknya dengan Adrian. Boro-boro Adrian mau melakukannya sebelum menikah, memeluk ataupun menciumnya saat prewedding kemarin saja dia tidak mau.
Tania masih terdiam, ia mencoba mengingat kejadian tiga bulan sebelumnya. Kemudian ingatannya mulai terang. Ya ... mungkin saat itu. Sekitar empat bulan yang lalu, Tania memang sempat ke pub dan sedang mabuk berat. Untung saja saat itu ada Kemal, produser sebuah rumah produksi yang menaunginya. Memang ia dekat dengan Kemal sejak awal karirnya. Sebenarnya ia tertarik dengan Kemal. Mereka sudah sering jalan bersama dan bahkan Tania melakukan hubungan suami istri pertama kali dengannya. Tapi selama ini, ia melakukannya dengan menggunakan pengaman. Mungkin di malam itu Tania sangat mabuk dan Kemal melakukannya tanpa pengaman.
__ADS_1
"Akh .... tidak .. ini tidak boleh terjadi. Adrian tidak boleh tahu tentang ini ", gumam Tania.
Tania bergegas menyalakan mobilnya dan segera meninggalkan pelataran parkir tempat dokter Arumi praktek.