Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Penjelasan


__ADS_3

"Tania ... aku keluar sebentar, ada telepon yang harus kujawab ", ucap Adrian saat melihat Kikan bergegas pergi meninggalkan butiknya.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya ", kata Tania. Adrian hanya mengangguk.


Ia bergegas keluar dan mengejar Kikan yang sudah berjalan duluan. Ia menyesal tak pernah tahu dimana butik Kikan berada. Memang Adrian tak pernah sekalipun datang ke butik Kikan. Mereka selalu bertemu di rumah oleh sebab itu Adrian begitu terkejut saat tahu butik tempat Tania memesan gaun pengantinnya adalah butiknya Kikan.


Adrian masih berjalan sambil setengah berlari, ia sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok Kikan, ia ingin menjelaskan segalanya. Pandangan Adrian terhenti di sosok gadis yang sedang duduk di sebuah bangku taman kota, ia tampak sedang tersedu. Adrian mendekat dan memastikan sosok itu Kikan.


"Sayang ...... ", panggil Adrian saat ia sudah dekat dan berdiri di depan Kikan. Kikan hanya diam dan masih tersedu.


"Sayang .... dengerin aku, aku akan jelaskan semuanya ", ucap Adrian. Kini ia sudah duduk jongkok di depan Kikan. Kikan hanya diam, ia kini mengangkat kepalanya dan menatap Adrian dengan marah. Matanya merah, hidung dan bibirnya juga merah karena tangis.


"Sayang .... ini semua gak seperti yang kamu lihat", ucap Adrian kini dia sudah duduk di samping Kikan.


"Aku ... dan ... Tania ... ", ucap Adrian.


"Kalian akan menikah kan dan selama ini kamu mempermainkan aku. Kamu sengaja membuat aku terbuai kan ?. Kamu sengaja melakukan ini semua ? hiks ... hiks ... hiks .... ", potong Kikan kini sambil menangis lagi. Adrian menggeleng keras.


"Enggak, aku gak pernah mempermainkanmu, aku tulus mencintaimu ".


"Bohong ...., lalu kenapa kamu tiba-tiba datang dengan gadis yang akan kau nikahi ?, kamu jahat .... kamu bener-bener jahat.... Aku salah menilaimu selama ini, aku salah telah mencintaimu dan memberikan hatiku padamu. Kamu jahat .... hiks ... hiks ... hiks .... ", Kikan kembali menangis. Adrian terdiam, ia tak tahu harus memulai darimana untuk memberitahu Kikan tentang semuanya.


"Dengerin aku dulu, sayang .... ", ucap Adrian sambil membelai rambut Kikan.


"Jangan sentuh aku !", ucap Kikan sambil menepis tangan Adrian.


"Jangan pernah sentuh aku lagi, aku benci kamu .... kamu benar-benar jahat ", ucap Kikan lagi sambil bangkit dan berlari meninggalkan Adrian. Adrian hanya terdiam memandang kepergian Kikan. Ya Tuhan, inilah yang aku takutkan akhirnya terjadi juga, gumam Adrian.


Adrian kembali ke butik Kikan dengan lesu. Tania sudah menunggunya dengan senyum yang paling manis.

__ADS_1


"Kamu sudah selesai ?", tanya Adrian.


"Ya, ayo kita pulang ", ajak Tania sambil bergelayut manja lagi di lengan Adrian. Adrian hanya terdiam lalu bergegas meninggalkan butik Kikan. Ia merasa bersalah dengan Kikan. Harusnya setelah bisnis trip tadi dia menemui Kikan dahulu. Tapi, mama dan Tania sudah menjemputnya di bandara sebelum dia bisa melarikan diri. Apa kau masih mempercayaiku Kikan ? kalau semua rasa yang kuberikan untukmu itu tulus bukan rekayasa dan tidak ada maksud sedikitpun mempermainkanmu, berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Adrian.


"Kamu melamun terus kenapa ?", tanya Tania yang sudah duduk manis di samping kemudi Adrian.


"Aku akan mengantarmu pulang ya ? aku capek, ingin istirahat ", ucap Adrian tanpa memperdulikan Tania sedikitpun.


"Baiklah, kalau itu maumu ", ucap Tania lagi.


Adrian segera mempercepat laju mobilnya, ia ingin segera bertemu Kikan dan menjelaskan semuanya.


********


Kikan berlari meninggalkan Adrian, kini ia sudah berada di dalam mobilnya. Untung saja tadi kunci mobilnya masih berada di sakunya. Segera ia nyalakan mobil dan mulai melajukan perlahan tanpa tujuan. Pikirannya kacau, hatinya kecewa, sedih, remuk dan kembali pecah berantakan.


Mobil Kikan kini berhenti di bibir pantai, tempat pertama kali Adrian menciumnya. Kikan kembali menangis, ia tak tahu harus bagaimana menghadapi sakit yang terus menyiksanya ini. Pikirannya buntu, bayangan tadi siang kembali hilir mudik di pikirannya. Kenyataan kalau orang yang selalu dirindukan, dinantikan dan dicintainya ternyata akan menikah dengan orang lain. Dan yang lebih menyedihkan lagi, ia yang harus menyiapkan dan mendesain baju pernikahan mereka.


Kikan terdiam lama di dalam mobilnya menatap pantai sampai malam menjelang. Akhirnya Kikan memutuskan untuk kembali ke butiknya, ada beberapa barangnya yang tertinggal disana.


Perlahan Kikan membuka pintu butiknya, ia memang sengaja melekatkan kunci butik dengan kunci mobil supaya memudahkannya. Lalu Kikan bergegas ke atas ke ruangannya untuk mengambil barang-barangnya. Kikan membereskan beberapa sketsa yang ditunjukkan ke Tania tadi dan ini membuatnya kembali menangis. Ia tak sanggup kalau berlama-lama disini, ia harus pulang, Ibu pasti khawatir. Kikan segera meraih tisu di meja menghapus air matanya lalu berjalan turun ke bawah.


Kikan baru saja menapakkan kakinya di tangga terakhir saat Adrian datang membuka pintu butiknya, sama seperti tadi siang.


"Kamu mau apa ?", tanya Kikan ketus.


"Aku ingin menjelaskan segalanya, tolong .... dengarkanlah dulu ", ucap Adrian.


"Gak ada yang perlu dijelaskan, aku sudah tahu posisiku dimana sekarang ", ucap Kikan masih dengan ketus. Adrian diam lalu berjalan mendekat.

__ADS_1


"Gak akan ada yang menggantikan posisimu di hatiku, kamu masih tetap disana dan selalu disana ", ucap Adrian lagi.


"Stop ! jangan merayuku lagi. Aku sudah gak mau dengar apapun penjelasanmu. Aku mau pulang, sudah malam. Minggir !", ucap Kikan semakin sinis. Namun Adrian tak bergeming malah semakin mendekati Kikan dan menghalangi jalannya.


"Aku bilang, minggir !", kata Kikan lagi sambil mencoba mendorong tubuh Adrian. Adrian tetap diam, ia hanya menatap Kikan yang mulai berkaca-kaca lagi kini. Kikan terus mendorong dan memukul Adrian untuk minggir sampai seluruh tenaganya terkuras tapi Adrian tetap tak bergeming.


"Aku bilang .... minggir ... Adrian ... hiks ... hiks ... hiks ... ", ucap Kikan kini airmata mulai menetes lagi di pipinya. Kikan terus memukul Adrian sampai tangannya lelah dan terkulai. Adrian meraih tangan Kikan lalu mengapitnya dan membuat Kikan berada dalam pelukannya. Kikan terus berontak namun Adrian menahannya hingga akhirnya Kikan hanya diam tak bergerak dalam pelukannya.


"Maafkan aku .... sayang .... ", ucap Adrian akhirnya. Kikan terdiam masih sibuk dengan isakannya.


"Jangan seperti ini ... , dengarkan aku sebentar saja .... ", ucap Adrian lagi.


"Aku tak pernah mempermainkanmu, aku masih dan selalu mencintaimu. Ini semua adalah perjodohan yang direncanakan mamaku. Aku sama sekali tidak mengetahuinya, aku sudah menolaknya berulang kali saat tahu tapi itu semua malah menyebabkan mamaku sakit dan hampir kehilangan nyawa. Aku bingung ...., sayang ... Aku tak sanggup harus memilih diantara dua orang yang kusayang. Tolong ... mengertilah ... aku janji akan mencari jalan keluar yang terbaik untuk kita. Tapi ... tolong ... bersabarlah sebentar, beri aku waktu ", jelas Adrian. Kikan hanya terdiam mencoba mengatur nafasnya yang habis karena terlalu lama menangis.


"Aku benar-benar merindukanmu ... aku sudah kemana-mana mencarimu seharian ini. Tolong ... jangan pergi dan menghindar dariku lagi ", ucap Adrian kini sambil menempelkan keningnya di kening Kikan. Kikan terdiam, ia hanya menatap mata Adrian yang masih sama penuh dengan binar cinta seperti yang dulu.


"Tapi .... kamu akan menikah sebentar lagi kan ?", sebuah pertanyaan keluar dari bibir Kikan.


"Ya ... aku tahu ... aku akan mencari cara untuk membatalkannya. Aku tidak pernah mencintai Tania, aku hanya mencintaimu dan ingin menghabiskan sisa waktuku bersama kamu. Tolong .... bersabarlah ", ucap Adrian kini semakin mempererat pelukannya. Kikan hanya mengangguk sambil bersandar di dada bidang Adrian.


Entah perasaan apa yang kini dirasakan Kikan semuanya bercampur menjadi satu. Antara sedih, bingung, kecewa dan mungkin sedikit bahagia gara-gara ucapan Adrian tadi. Tapi sampai kapan ia akan menunggu.


Tes, tes, beberapa bulir air mata mengalir lagi di pipi Kikan. Adrian merasa ada yang membasahi dadanya. Ia menatap Kikan, wajahnya tampak sayu, seharian ini mungkin hari yang berat baginya.


"Jangan menangis lagi ... Sayang ", ucap Adrian sambil mengusap airmata yang terus mengalir membasahi pipi mulus Kikan.


"Apa aku akan kehilanganmu lagi ?", tanya Kikan sambil menatap Adrian yang terus mengusap airmatanya. Adrian terdiam, dirangkumnya wajah Kikan.


"Akan kupastikan tidak, aku masih milikmu seutuhnya dan tetap seperti itu ", tegas Adrian kini sambil mencium bibir Kikan lembut. Ia sudah menangis seharian dan masih terus menangis saat Adrian mencium lembut bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2