Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Janji


__ADS_3

Pagi ini cerah sekali, hujan semalam membuat mentari bersinar terang memberikan kehangatan di penjuru bumi. Adrian mengerjapkan matanya saat sinar mentari menerobos masuk melalui celah-celah kayu di rumah ini. Adrian sedikit terkejut melihat Kikan yang tertidur pulas di dadanya. Oh iya, semalam kan aku yang memintanya, pikir Adrian sambil tersenyum. Ia menatap Kikan yang masih tertidur pulas. Wajahnya begitu menenangkan dan teduh setiap kupandang semakin bertambah rasa cintaku padanya, gumam Adrian dalam hati. Adrian tersenyum sendiri, melihat wajah Kikan yang tertidur pulas. Baru kali ini aku mengamatinya begitu dekat, pikirnya lagi. Tiba-tiba bola mata Kikan bergerak-gerak. Adrian lalu pura-pura memejamkan matanya. Kikan terbangun, ia segera sadar kalau sedang tidur di dada bidang Adrian. Ia segera bangkit duduk dan merapikan rambutnya, Adrian yang pura-pura tidur hanya meliriknya sambil tersenyum. Saat Kikan akan bangkit, Adrian segera menyambar tangan Kikan. Kikan terkejut, menoleh ke Adrian dan kembali duduk.


"Kamu sudah bangun ", ucap Kikan kaget.


"Aku sudah bangun dari tadi dan sibuk mengamati kamu yang tertidur pulas dan meninggalkan noda di sweaterku ", ucap Adrian. Kikan segera tersentak dan dengan malu mengusap muka dan sekitar mulutnya. Apa aku ngiler ya waktu tidur ?, pikir Kikan. Adrian hanya tersenyum melihat ekspresi Kikan, ia sungguh menikmati setiap saat menggoda Kikan.


"Apa aku membuat kotor sweatermu ?. Maaf, aku tidur terlalu pulas semalam ", ucap Kikan masih dengan rasa malu dan terus mengusap wajahnya. Adrian hanya mengangguk saja. Lalu ia menarik kakinya dan duduk seperti biasa di samping Kikan.


"Sini ..., aku bersihkan ", ucap Adrian mendekat ke Kikan sambil mengambil tisu di meja. Kikan terdiam, ia merasa sangat malu. Wajah Adrian sudah sangat dekat, Kikan hanya menunduk menutupi rasa malunya. Tiba-tiba Adrian mengecup bibirnya lembut. Kikan terbelalak kaget dan segera mendorong tubuh Adrian.


"Adrian ... aku belum mandi, baru bangun tidur ", ucap Kikan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Memangnya kenapa ? aku gak boleh menciummu ?. Itu ciuman bangun tidur buat kamu", ucap Adrian sambil mengerling nakal.


"Ah ... kamu. Aku malu ....", ucap Kikan sambil berlari ke kamarnya. Adrian hanya tertawa melihat tingkah Kikan.


Kikan dan Adrian sudah mandi dan bersiap, mereka sekarang sedang sarapan pagi. Tadi Adrian menelpon resto camping ground dan memesan menu sarapan. Adrian memilih roti, buah dan jus, dia tidak terbiasa makan berat di pagi hari. Sedang Kikan memilih memesan nasi goreng dan teh hangat untuk sarapannya. Adrian sedang asyik memeriksa email-nya, memang hari ini sebenarnya dia masih cuti tapi karena posisinya sebagai CEO, dia harus terus memantau keadaan kantor meski sedang cuti.


"Habis ini kita kemana ?", tanya Kikan. Adrian hanya diam, dia masih sibuk membalas email. Kikan cemberut melihat Adrian mengacuhkannya. Huh, gini mau nikah ? masih pacaran saja dia sudah mengacuhkanku, pikir Kikan. Adrian melirik Kikan sekilas yang cemberut lalu tersenyum.


"Kamu sudah selesai sarapannya ?", tanya Adrian, kini ganti Kikan yang diam mengacuhkannya. Adrian tersenyum melihat tingkah Kikan.


"Kamu marah ya ?", tanya Adrian lagi. Kikan menoleh cepat.

__ADS_1


"Siapa yang marah ? aku sadar kok kamu orang penting jadi sibuk banget ", ucap Kikan. Adrian kembali tersenyum.


"Aku baru tahu sikap kamu sesungguhnya. Ternyata kamu posesif ya ?", kata Adrian lagi. Kikan segera terbelalak kaget.


"Kenapa kaget ? bener kan ucapanku ?",kata Adrian lagi.


"Kamu ..... ", ucap Kikan kesal tak tahu harus berkata apa. Kikan lalu bangkit menuju kamarnya dan mengemasi bajunya yang basah kemarin. Ia ingin cepat pulang, ia menyesal telah mengutarakan perasaannya ke Adrian kemarin kalau sekarang Adrian mengatakan dirinya posesif. Kemarin siapa yang posesif kalau bukan dia, kenapa malah menuduhku yang posesif ?, pikir Kikan kesal.


"Kamu mau kemana ?", tanya Adrian tiba-tiba sudah berdiri di pintu kamar Kikan.


"Pulang ", jawab Kikan ketus. Adrian mendekat lalu meraih tangan Kikan.


"Jangan marah dong, aku senang kok kalau kamu posesif terhadapku. Itu berarti kamu sangat mencintaiku dan takut kehilangan aku. Jangan marah lagi ya, mendapatkan hatimu itu susah jadi jangan siksa aku terus. Lagian cutiku tinggal satu hari ini saja, aku ingin melewatkan hari-hari bahagia bersama kamu ", ucap Adrian. Kikan hanya menunduk dan terdiam.


Namun, penolakan Kikan tidak dihiraukan Adrian. Ia langsung menarik Kikan ke pelukannya, merengkuh wajah Kikan dan menghujaninya dengan ciuman hingga Kikan sulit bernafas. Kikan mendorong tubuh Adrian dan mencoba mengatur nafasnya. Adrian terkekeh melihat Kikan.


"Kamu harus terbiasa mengatur nafas saat berciuman denganku", ucap Adrian sambil masih terkekeh. Sedangkan Kikan hanya menatap Adrian kesal.


"Ayo, kita berangkat !", ajak Adrian lagi begitu melihat Kikan masih berdiri terdiam.


"Kok kita naik mobil, motormu kemana ?", tanya Kikan begitu tahu kini mereka ganti mengendarai mobil.


"Tadi, karyawanku aku suruh mengambil motorku dan mengantarkan mobil ini. Aku takut kita kehujanan lagi kalau naik motor. Aku gak mau kamu sakit gara-gara aku. Bisa-bisa nanti Raka marah ke aku ", jelas Adrian. Kikan hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Lagipula kalau naik mobil, kita bisa ciuman tanpa ada yang melihat ", ucap Adrian sambil mengerling nakal lagi. Kikan hanya mendelik mendengar ucapan Adrian. Dasar Adrian, pikir Kikan.


Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan, kali ini Adrian mengajaknya ke sebuah privat beach. Adrian tahu kalau Kikan lebih suka pantai daripada pegunungan. Adrian sengaja menyewa sebuah privat beach untuk mereka berdua. Setelah memarkir mobil, Adrian dan Kikan berjalan menuju pantai. Di sepanjang jalan yang menurun itu sudah ditaburi bunga mawar merah kesukaan Kikan. Bunga mawar itu berhenti di sebuah kursi dan meja yang sudah diatur sebegitu indah. Beberapa makanan dan minuman juga tertata rapi di atas meja. Tidak ketinggalan kursi malas dan payung khas pantai juga sudah tertata rapi di sana. Kikan senang sekali, ia segera berlari menuju air laut dan membasahi kakinya. Adrian hanya tersenyum melihatnya. Beberapa kali Adrian mengambil foto Kikan saat berlarian dan bermain air di pantai. Ia seperti anak kecil yang menemukan mainan kesukaannya.


"Adrian ... kamu tidak kesini ?", teriak Kikan begitu melihat Adrian hanya duduk-duduk saja di kursi malas sambil mengamati Kikan dari jauh. Adrian hanya menggeleng sambil sibuk membalas email. Sejujurnya ia juga kesal, harus tetap bekerja di saat cuti tapi bagaimana lagi. Adrian melirik Kikan sekilas, ia masih sibuk bermain air. Tiba-tiba gelombang besar datang dan menerpa Kikan yang sedang bermain air di pinggir. Adrian tersentak kaget saat tidak menemukan Kikan setelah gelombang itu surut. Adrian segera meletakkan ponselnya dan berlari menyusul Kikan.


"Kikan ..... Kikan ....., kamu dimana ?", teriak Adrian. Dia semakin panik saat Kikan tidak menyahut panggilannya.


"Kikan ... Kikan ... ", panggil Adrian lagi, kini baju dan celana Adrian ikut basah karena harus terkena air laut. Adrian kian panik, dimana Kikan ? apa dia tergulung ombak ke laut ? aku juga tidak tahu dia bisa berenang atau tidak ?, pikir Adrian kalut.


Tiba-tiba, Adrian dikagetkan oleh sebuah tangan yang memeluk pinggangnya. Adrian menoleh cepat, tampak Kikan sedang tersenyum dengan baju, celana dan rambut basah kuyup. Adrian segera memeluk Kikan erat.


"Kamu darimana ?", tanya Adrian dengan rasa panik.


"Aku tadi keasyikan bermain dan sedikit berenang. Kamu mencariku ?", ucap Kikan bingung. Adrian hanya diam lalu kembali memeluk Kikan dan kemudian mengajaknya menepi. Adrian segera memberi Kikan handuk supaya tidak kedinginan tapi Kikan menolak. Ia lebih memilih duduk di kursi malas dan berjemur di sana.


"Maafkan aku, tadi aku sibuk membalas email dan tidak memperhatikanmu ", ucap Adrian kini serba salah. Kikan hanya tersenyum melihat tingkah Adrian, ia sedang sibuk mengeringkan rambutnya. Adrian lalu duduk di sebelah Kikan dan meraih tangan Kikan.


"Sudahlah ... Adrian, aku gak pa-pa kok ", ucap Kikan menenangkan.


"Tolong .... jangan lakukan itu lagi. Jangan menghilang lagi dariku. Aku seperti orang gila tadi mencarimu", ucap Adrian. Kikan hanya mengangguk.


"Janji, jangan pernah menghilang lagi dariku", ucap Adrian sambil mengacungkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Aku janji !", ucap Kikan sambil menautkan jari kelingkingnya di jari Adrian. Kemudian Adrian menarik Kikan dalam pelukannya seakan takut kehilangan Kikan.


__ADS_2