Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kedatangan Papa


__ADS_3

Sudah hampir tiga bulan sejak terakhir Adrian ke rumah dan mengadakan perjanjian tertulis dengan mama dan papanya. Sejak saat itu Adrian tidak pernah sekalipun bertandang ke rumahnya bahkan menelpon mamanya pun tidak pernah dia lakukan. Rasa kecewa yang masih membekas membuat Adrian tidak mau bertemu mamanya lagi. Kalau dipikir-pikir sebenarnya ia tidak ingin melakukan hal ini tapi mamanya tega sudah menjebaknya dulu dan ia sangat kecewa.


"Pak ..... , jadwal terakhir Bapak dengan Pak Danu di cafe jam 5 sore ", ucap Sari mengingatkannya dari intercom.


Adrian tersentak dari lamunan tentang mamanya.


"Iya, Sari, saya akan siap-siap. Berkasnya sudah kamu siapkan bukan ?", tanya Adrian.


"Sudah, Pak !".


"Baiklah kalau begitu ".


Adrian melirik arloji di tangannya hari ini tanggal 18 Oktober, besok tanggal 19 Oktober, besok hari ulang tahun mama. Biasanya aku, papa dan Kak Julian selalu menyiapkan surprise buat mama tapi kali ini .... aku malas sekali untuk menyiapkan segalanya, pikir Adrian. Aku hanya ingin terus menjauh dan menjaga jarak dengan mama. Aku takut mama akan menyusun rencana licik lagi. Padahal jujur saja aku bener-bener kangen mama, aku ingin selalu berbakti padanya, menjadi anak kebanggaannya tapi entahlah sejak kejadian ulang tahun Om Kevin aku menjadi marah dan kecewa dengan mama dan lebih memilih untuk menjauhinya, pikir Adrian lagi.


Adrian tersentak saat sebuah ketukan pelan di pintunya. Lalu pintu terbuka dan tampak lelaki separuh baya yang masih terlihat gagah dan berwibawa di usianya.


"Kamu punya waktu untuk papa ?", tanya pria separuh baya itu yang tak lain adalah papa Adrian.


Adrian bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan papanya.


"Tentu Pa, selalu ada waktu untuk Papa ", ucap Adrian lagi.


Papa segera duduk di sofa, menyandarkan punggungnya di sofa sambil tersenyum memandang Adrian. Adrian segera duduk di samping papanya.


"Apa kamu besok sibuk ?", tanya papa lagi. Adrian diam, ia tahu kemana arah pembicaraan papa.


"Papa dan kakakmu Julian mengadakan pesta kecil-kecilan untuk Mamamu. Besok ulang tahun Mamamu, apa kamu masih ingat ?". Adrian tetap diam.


"Papa menjamin 100 persen tidak ada tipu muslihat apapun di pesta ulang tahun Mamamu besok. Kalau kamu berminat datang bersama gadis pilihanmu, itu juga lebih baik. Biar Mamamu juga tahu siapa pilihanmu itu ", ucap papa lagi. Adrian hanya terdiam saja.

__ADS_1


"Kamu masih marah dengan kami, Adrian ?". Adrian tidak menjawab.


"Papa mungkin akan bersikap seperti kamu melihat kelakuan Mamamu tapi Papa juga berharap kamu tahu kalau kasih sayang orang tua akan selalu ada. Begitu juga Mamamu, beliau sangat merindukanmu apalagi sejak kamu selalu absen di acara rutin keluarga kita. Papa harap kamu mau merubah pikiranmu ", ucap papa.


"Apa Mama juga mau merubah keputusannya, Pa ? Apa Mama mau membatalkan pertunangan ini ?", tanya Adrian setelah lama terdiam.


"Jujur saja Pa, Adrian sudah menyusun rencana untuk masa depan. Adrian sudah menentukan siapa calon pendampingku, aku sudah memintanya untuk menikah denganku. Lalu tiba-tiba, karena obsesi Mama semuanya buyar. Apalagi kata-kata Mama yang tidak akan merestui pernikahan kami nantinya. Terus Adrian harus bagaimana, Pa ?. Adrian bisa saja kawin lari tapi gadis pilihanku itu tidak mau, dia menginginkan restu dari kedua pihak. Harusnya Mama tahu dan sadar kalau pilihanku itu lebih baik tidak terus memaksakan kehendaknya begini ", ucap Adrian lagi.


"Papa paham maksudmu Adrian, Papa juga sudah berusaha membujuk Mamamu untuk membatalkan pertunangan itu. Tapi, kau tahu sendiri bagaimana sifat mamamu. Papa hanya ingin salah satu diantara kalian menurunkan egonya dan mengalah ".


"Kalau Papa berharap Adrian yang mengalah, aku tidak mau", ucap Adrian membuat papa terdiam.


"Baiklah, kalau begitu Papa pamit dulu. Papa lihat kamu juga masih ada janji dengan klien ", ucap papa sambil segera bangkit. Adrian mengantar papa sampai ke pintu ruangannya.


"Papa harap kamu mau mempertimbangkan ucapan Papa tadi dan kalau bisa luangkan waktumu besok. Datanglah ke pesta Mama", ucap papa lagi sebelum berlalu. Adrian hanya terdiam memandang punggung papa sampai menghilang.


Pertemuan Adrian dengan Pak Danu kali ini terbilang singkat. Ini karena pertemuan Adrian dan Pak Danu yang ketiga. Mereka sudah membahas semua urusan kerjasama di dua pertemuan sebelumnya jadi di pertemuan ketiga ini tinggal kesepakatan akhir saja.


"Iya, Pak ", ucap Adrian sambil tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi pulang dahulu. Hari ini istri saya ulang tahun, jadi saya tidak boleh pulang terlambat ", kata Pak Danu lagi.


"Baik, silakan Pak. Saya juga akan segera pulang juga", ucap Adrian ramah. Pak Danu tersenyum, menjabat tangan Adrian dan bergegas pergi meninggalkan cafe.


Sementara Adrian sibuk membereskan berkas dan segera memasukkannya ke dalam tas. Namun pandangannya teralihkan saat melihat seorang anak kecil yang sangat dia kenal sedang berlarian di depan cafe. Adrian bergegas keluar dan mengejar anak kecil itu.


"Raka !", panggil Adrian ke anak kecil itu yang ternyata Raka.


"Eh ... ada Om Kelen ", pekik Raka kegirangan.

__ADS_1


"Kamu kesini bersama siapa ?", tanya Adrian.


"Cama Mama ...., tuh ", tunjuk Raka ke toko sebelah sebuah toko pernak pernik. Adrian mendekat lalu menggandeng tangan Raka untuk ikut masuk ke toko pernak pernik itu.


Di dalam toko, Adrian melihat Kikan sedang sibuk memilih beberapa pernak pernik untuk payet baju desainnya. Adrian mendekati Kikan tanpa disadarinya.


"Rupanya kamu terlalu asyik disini ", ucap Adrian mengagetkan Kikan.


"Adrian ? kok kamu ada disini ?", tanya Kikan.


"Aku barusan bertemu dengan klien di cafe sebelah. Lalu aku bertemu Raka yang bermain di jalan ", ucap Adrian.


"Raka ? bener kata Om Adrian ?", ucap Kikan kini beralih ke Raka.


"Mama kan sudah bilang, kalau disuruh nunggu di dalam saja ".


"Laka bocen, Ma ....", jawab Raka.


"Raka, Raka gak boleh gitu. Kalau ada orang jahat gimana ?. Kan Mama sudah bilang suruh nunggu dan kenapa gak pamit Mama tadi waktu keluar ", ucap Kikan sambil jongkok mengikuti Raka.


"Iya, Laka nakal tadi Ma. Maafin .. Laka ya Ma", ucap Raka akhirnya membuat Kikan dan Adrian tersenyum.


"Iya, lain kali gak boleh diulang ya, untung ada Om Adrian tadi ", ucap Kikan lagi. Raka hanya mengangguk.


"Kamu sudah selesai ?", tanya Adrian.


"Iya, aku akan membayarnya di kasir sebentar ", ucap Kikan.


Setelah Kikan membayar di kasir segera ia menghampiri Adrian dan Raka yang sudah menunggu.

__ADS_1


"Aku antar pulang ya ? mobilmu masih di bengkel kan ?", tanya Adrian lagi. Kikan mengangguk. Adrian segera menggandeng Raka dan tangan satunya memeluk pinggang Kikan. Mereka bertiga berjalan sambil tersenyum bahagia seperti sebuah keluarga.


Tanpa sepengetahuan Adrian, ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak keluar dari cafe tadi. Sepasang mata itu milik seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menatap penuh iri. Siapa gadis itu ? apa dia pilihan Adrian ? Lalu siapa anak kecil itu ? anak dari gadis itu atau hanya keponakannya ?, pikir wanita itu yang tak lain adalah mama Adrian.


__ADS_2