
Menjelang sore, Adrian kembali ke apartemennya. Setelah mandi dan berganti baju, Adrian kembali mengemudikan mobilnya ke rumah sakit. Seharian tadi ia tidak ke kantor, ia habiskan waktunya di rumah Kikan. Adrian sengaja tidak menceritakan tentang mamanya yang sakit ke Kikan. Ia tidak mau membebani Kikan dengan pikiran aneh-aneh.
Adrian sedikit berlari di koridor rumah sakit, ia membawa beberapa makanan dan buah. Adrian membuka perlahan pintu kamar tempat mamanya di rawat. Tampak papa sedang terlelap di kursi sofa, sedangkan mama sepertinya belum terjaga dari tadi.
"Pa .... ", ucap Adrian sambil menyentuh lengan papanya. Mata lelaki paruh baya itu lalu terbuka.
"Papa pulang saja, biar Adrian yang jaga ",ucap Adrian lagi. Papa hanya tersenyum.
"Papa barusan datang juga kok Adrian tadi setelah kamu pergi Julian yang menggantikan Papa ", jelas papa.
"Mama belum bangun Pa ?", tanya Adrian.
"Belum, tadi kata Julian juga belum. Kamu ingin menjaga Mama malam ini ?", tanya papa lagi.
"Iya, Pa. Papa pulang saja, istirahat di rumah. Nanti kalau ada perkembangan Adrian kabari ". Papa mengangguk.
"Papa sudah makan ?", tanya Adrian.
"Sudah, tadi Papa sudah makan sebelum kesini. Kamu sendiri bagaimana sudah makan ?", tanya papa. Adrian segera mengangguk lagi.
"Adrian, apa gadis pilihanmu yang kau maksud itu adalah gadis yang pernah kau ajak ke kantor beberapa bulan yang lalu ?", tanya papa setelah lama terdiam.
"Papa sudah tahu tentang Kikan ?", kata Adrian balik bertanya.
"Adrian .... walau Papa sudah tidak pernah ke kantor tapi Papa masih punya banyak mata disana ", ucap papa sambil terkekeh. Adrian hanya tersenyum.
"Jadi gadis itu bernama Kikan, siapa dia ? mengapa tidak kau kenalkan waktu ulang tahun Mama kemarin ", kata papa lagi. Adrian terdiam.
__ADS_1
"Iya Pa, namanya Kikan. Dia cinta pertamaku di SMA. Dia gadis yang Adrian tinggalkan tanpa pamit karena permintaan Papa waktu itu ", ucap Adrian akhirnya.
"Jadi karena dia kamu sampai berselisih paham dengan Mamamu ?", ucap papa lagi. Adrian hanya diam lalu menghela nafas panjang.
"Adrian tidak mau membahasnya, Pa ", ucapnya lagi.
"Papa juga tidak ingin membahasnya Adrian. Papa hanya ingin kamu tahu apa yang kau lakukan. Perjuangkan kalau memang itu layak diperjuangkan. Papa tidak ingin kamu menyesal, Papa berharap kamu bahagia saja ", kata papa sambil menepuk bahu Adrian.
"Papa akan pulang, kamu jaga Mama ya !. Jangan lupa kabari Papa kalau ada perkembangan ",kata papa lagi sebelum berlalu. Adrian kembali mengangguk, mengantar papa sampai pintu kamar lalu kembali duduk di samping ranjang mama.
Mama masih tertidur, suster beberapa kali mengecek keadaan Mama dan memberi tahu Adrian setiap perkembangannya.
Adrian baru saja terlelap di kursi samping ranjang mama saat sebuah tangan menyentuh jarinya. Adrian terkejut dan melihat mama sudah membuka mata.
"Ma ...., Mama sudah bangun ?. Sebentar, Adrian panggil suster dulu ", ucap Adrian sambil memencet tombol disamping mama. Tak berapa lama tampak seorang suster tergopoh datang menghampiri dan segera memeriksa mama.
"Ian ....", ucap mama lirih setelah suster itu berlalu.
"Iya Ma ", jawab Adrian terkejut. Adrian langsung meraih tangan mamanya dan duduk di sebelahnya.
"Kamu .... mau mengabulkan permintaan Mama .... sekali ini .... saja ", ucap mama lagi kini dengan sedikit terbata. Adrian terdiam, ia menatap mamanya. Matanya tampak sayu dan berkaca-kaca seperti ada sesuatu yang sedang di pikirkan.
"Memangnya Mama mau kemana kok ngomongnya gitu sih ", kata Adrian mencairkan suasana.
"Mama .... takut .... Mama ... takut ... waktu Mama tidak lama lagi ", ucap mama. Setitik air berlinang mengalir dari mata mama yang sayu. Adrian hanya diam, ia kecup tangan mamanya berulang kali.
"Mama akan baik-baik saja kok, Mama akan sehat dan panjang umur. Adrian yakin, besok Mama sudah boleh pulang ", ucap Adrian. Mama hanya menggeleng sambil terus meneteskan air mata. Adrian begitu sedih melihat mamanya yang seperti ini. Baru kali ini mamanya berada di titik terendah dan sedih seperti ini. Pasti ada banyak beban yang harus ditanggung mama tapi sayangnya mama tidak mau menceritakannya.
__ADS_1
"Mama ingin Adrian melakukan apa ?", akhirnya Adrian berkata. Mama terdiam, tangisnya sedikit reda namun air matanya terus mengalir.
"Adrian janji ..... akan mengabulkan permintaan Mama asalkan Mama mau berjuang untuk sembuh ya. Jangan seperti ini !", ucap Adrian.
Mama lama terdiam mengatur nafasnya yang tersengal karena tangisannya tadi.
"Menikahlah dengan .... Tania, itu permintaan Mama ", ucap mama akhirnya. Adrian terdiam mencerna kata-kata Mama yang bagaikan pisau yang menusuk-nusuk.
"Kamu maukan ....... mengabulkan permintaan Mama ?", tanya mama lagi. Adrian masih terdiam, ia menatap mata mama yang sayu dan masih penuh bening-bening air di sudutnya. Beliau tampak begitu rapuh dan lesu seperti orang yang tidak punya harapan saja.
"Ian .... ", ucap mama mencoba menyentuh wajah Adrian. Adrian tersentak keluar dari lamunannya.
"Iya Ma ...., Adrian ... akan ... menikah ... dengan .... Tania ", ucap Adrian terasa berat. Sebuah senyuman tampak di wajah pucat mama dan bening-bening di sudut mata itu mulai meluncur deras lagi.
"Terima kasih, Sayang ", ucap mama mencoba memeluk Adrian. Adrian mendekatkan dirinya dan memeluk mama. Tanpa disadari mama, Adrian juga menangis di pelukan mama.
Julian yang dari tadi melihat dan mendengar pembicaraan Adrian dan mama hanya terdiam. Dia baru saja akan membuka kamar mama saat mama mengajukan permintaan ke Adrian tadi. Julian diam di tempatnya, lalu memutuskan masuk setelah mereka sudah melepaskan pelukannya.
"Mama sudah bangun ?", sapa Julian begitu masuk. Mama tersenyum mendengarnya.
"Ian .... aku bawakan makanan untukmu. Istirahatlah pasti kamu capek menjaga Mama semalaman ", ucap Julian kini ke Adrian. Adrian hanya mengangguk dan tampak lesu. Ada kesedihan yang mendalam di matanya. Julian yakin, pasti ini hal yang tersulit bagi adiknya untuk memilih dua orang yang sangat disayangi.
"Kak ....aku keluar sebentar ", ucap Adrian beranjak bangkit dari duduknya. Julian mengangguk dan membiarkan Adrian berlalu. Sedang mama hanya menatap Adrian dengan senyuman.
Adrian berjalan gontai keluar dari kamar dimana mama dirawat. Pikirannya kacau balau, berbagai pertanyaan muncul satu persatu di benaknya. Hingga akhirnya langkahnya terhenti di sebuah taman rumah sakit. Adrian terduduk lemas di atas hamparan rumput. Kakinya sudah tak kuasa menopang tubuhnya. Adrian duduk berjongkok lalu ia letakkan kepalanya diatas tangan yang sudah bertumpu di lututnya. Tanpa disadari, Adrian menangis. Ada banyak kesedihan dan himpitan yang sudah ditahannya sedari tadi.
"Maafkan aku Kikan .... ", bisiknya lirih di sela Isak tangisnya. Hari itu masih pagi, mentari saja belum menampakkan diri namun mendung sudah bergelayut di pagi ini. Sama seperti suasana hati Adrian saat ini.
__ADS_1