Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Gunung es mulai mencair


__ADS_3

Sabtu ini terpaksa Kikan tidak ngantor, dia sedang sibuk mengurus mobilnya yang mogok dua hari yang lalu. Untung saja saat itu ada Hendy, kalau gak dia mungkin akan kebingungan.


"Baik Pak, terima kasih sudah mengantar mobil saya", ucap Kikan mengakhiri telepon dengan pihak bengkel.


"Sudah beres, Nduk ?", tanya ibu


"Sudah Bu, pembayaran servicenya juga sudah Kikan transfer kok tadi", kata Kikan.


"Untung kemarin ada Hendy jadi kamu gak bingung ya?",ucap ibu lagi.


"Nduk ... sekali-kali kamu bersikap yang manis dikit dong ke Hendy, jangan jutek terus. Ibu lihat dia orang yang sabar loh, santun lagi. Dia juga baik padamu. Anggap saja dia temanmu atau saudaramu kalau kamu gak mau menjadikan dia pendamping hidupmu. Ibu kasihan setiap kali dia kesini kamu selalu gak mau keluar. Masak ibu kamu suruh bohong terus, Nduk. Hendy juga sudah akrab dengan Raka loh. Raka suka main sama dia", kata ibu. Kikan hanya diam.


"Gak tahu, Bu ...", ucap Kikan akhirnya.


"Loh ... kok gak tahu ?", kata ibu bingung.


"Kikan juga bingung kok, Kikan takut kalau Kikan jadi suka dia tapi dia malah nyakitin Kikan. Makanya Kikan jaga jarak Bu", kata Kikan.


"Kok gitu sih, Nduk. Kamu jangan takut duluan, ayo coba buka hatimu. Sudah berapa lama Hendy kenal kamu hampir satu tahun loh dan sikapmu selalu jutek padanya, kasihan dia. Kalo kamu gak suka setidaknya bersikap manis lah sedikit".


"Iya ... iya Bu, Kikan agak merubah sikap nanti", ucap Kikan.


"Raka kemana Bu ?", tanya Kikan.


"Sepertinya lagi main di taman samping tadi sama Bi Inah ", jawab ibu. Kikan segera bangkit dan berjalan menuju tempat Raka.


"Wah ... anak Mama sudah pintar jalan ya. Ayo .. main bola sama Mama", seru Kikan begitu melihat Raka bermain bola bersama Bi Inah. Raka tampak berlari-lari menyambut mamanya. Lalu memberikan bola kesukaannya ke Kikan.


"Kita main sepak bola ya ?", ucap Kikan sambil meletakkan bola di kaki Kikan lalu menendang nya pelan ke arah Raka. Raka mencoba menendang bola dari Kikan dan begitu seterusnya.


"Hahaha ... lucu sekali, ayo coba lagi, sayang !", seru Kikan sambil tertawa disambut tawa kecil Raka.

__ADS_1


"Om boleh ikut gabung gak ?", seru suara seseorang yang sangat di kenal Kikan sudah berdiri di belakangnya. Kikan menoleh, Hendy.


"Sejak kapan berdiri di situ ?", tanya Kikan.


"Barusan kok, tadi Ibu yang membukakan pintu, Beliau bilang kamu di taman samping", terang Hendy. Kikan hanya diam dan terus sibuk bermain dengan Raka. Tiba-tiba Raka mengambil bolanya dan kemudian menyerahkan ke Hendy.


"Wah ... Raka juga mau main sama Om, ya ?", ucap Hendy sambil menerima bola dari Raka. Kemudian mereka bertiga asyik bermain bola, Kikan sejenak menghentikan sikap juteknya ke Hendy saat mereka bermain bersama, dia hanya sibuk tertawa melihat tingkah lucu Raka.


Bola kini sudah di kaki Raka dan siap akan ditendang. Kikan dan Hendy bersiap menerima bola dari Raka. Saking bersemangatnya, mereka sampai berbenturan kepala berebut menangkap bola Raka.


"Aduh ...", ucap Kikan sambil memegang dahinya yang tak sengaja berbenturan dengan Hendy.


"Maaf ..., kamu gak pa-pa ?", tanya Hendy segera menghentikan permainan. Raka hanya bengong melihat Kikan mengadu kesakitan.


"Gak pa-pa kok", ucap Kikan.


"Sini, aku lihat !", ucap Hendy sambil memegang dahi Kikan. Kikan hanya diam, untuk pertama kali dia berdiri begitu dekat dengan seorang cowok. Hendy melihat dahi Kikan yang memar sedikit lalu mengelusnya.


"Gak pa-pa kok, maaf ya ?", ucap Hendy sambil menatap Kikan yang mulai merona merah menahan malu. Kikan hanya diam dan menunduk.


Kikan bergegas ke kamarnya lalu menutup pintunya cepat. Ia menatap keningnya di cermin, ada memar sedikit. Kikan segera mengoles minyak ke keningnya. Lukanya tidak besar namun mengapa hatiku gak karuan begini ? apa aku mulai suka Hendy ?. Gak, gak, itu gak boleh terjadi dan aku gak mau, gumam Kikan.


"Hah .... ". Kikan menarik nafas panjang lalu melepaskannya. Dia bergegas keluar kamar, dia gak mau Hendy berprasangka aneh-aneh padanya.


"Raka mana, Bu ?", tanya Kikan begitu keluar kamar.


"Lagi minum susu sama Bi Ina, sepertinya dia kecapekan. Hendy nunggu kamu di depan tuh ", ucap ibu. Kikan hanya mengangguk dan melangkah ke ruang tamu dengan malas.


"Iya, iya Bu, Hendy pasti datang kok. Ibu tunggu ya". Hendy sedang menerima telepon saat Kikan keluar. Kikan segera duduk di kursi sebelah meja.


"Sudah selesai teleponnya ?", tanya Kikan.

__ADS_1


"Sudah kok. Dari ibuku yang telepon", jawab Hendy.


"Kikan ... aku boleh minta tolong sesuatu padamu ?", tanya Hendy kini.


"Minta tolong apa ?".


"Ibuku minggu depan ulang tahun, aku ingin kamu membuatkannya baju. Untuk desain sepenuhnya aku serahkan padamu. Nanti berikan saja nota yang harus aku bayar. Aku ingin ulang tahunnya istimewa kali ini ".


"Kapan ulang tahunnya ?".


"Minggu depan, kalau bisa Sabtu bajunya sudah selesai. Jadi Beliau bisa memakainya di hari Minggu, hari ulang tahunnya. Kamu bisa kan membantu ku ?", tanya Hendy lagi. Kikan segera mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu mempunyai ukuran baju ibumu atau mungkin contoh baju ibumu supaya aku bisa menyesuaikan ukurannya".


"Iya, aku punya. Aku membawanya sekarang, ini!", ucap Hendy sambil menyerahkan tas tenteng yang dibawanya. Kikan menerima lalu membukanya.


"Ibumu cukup tinggi ya untuk seorang wanita ?", gumam Kikan. Hendy hanya tersenyum.


"Apa dia punya warna favorit ?", tanya Kikan. Hendy sedikit berpikir.


"Aku pikir Ibuku suka warna hijau, karena bajunya hampir semua dan kebanyakan berwarna hijau. Apa sudah terpikir beberapa ide ?". Kikan mengangguk.


"Kalau boleh tahu lagi, kali ini merayakan ulang tahun yang ke berapa ?".


"Besok Minggu ulang tahun yang ke 60". Kikan mengangguk lagi.


"Kikan ... apa kamu juga mau datang bila aku mengundangmu ?", tanya Hendy lagi. Kikan diam.


"Aku tidak akan mengenalkan mu sebagai pasanganku, tapi aku akan mengenalkan mu sebagai pembuat baju itu. Kamu mau kan ?", ucap Hendy lagi. Kikan hanya diam.


"Please .... ", bujuk Hendy.

__ADS_1


"Aku gak janji, kalau di hari itu aku tidak ada acara, mungkin aku akan datang ke pestamu. Tapi, kalau aku ada acara, maaf .... aku tidak bisa janji untuk hadir", jawab Kikan akhirnya.


"Baiklah, kalau begitu. Aku harap kamu segera memberiku kabar sebelum hari H. Aku juga berharap sangat kamu memberi keajaiban di ulang tahun Ibu, ... maksudku baju Ibu", terang Hendy. Sebenarnya Hendy berharap perasaan Kikan padanya lebih terbuka. Tapi, ia bersyukur hari ini, ia mampu membuat pipi Kikan merona karena malu. Mungkin lama kelamaan perasaannya padaku akan berubah dan sedikit akan terbuka hatinya semoga saja, pikir Hendy.


__ADS_2