
Hari ini hari yang sibuk untuk Kikan, ya hari ini Kikan akan mengadakan grand opening butiknya. Berbagai persiapan sudah dilakukan, mulai memesan katering, penyebaran undangan ke beberapa customer, kerabat bahkan rekanan sudah dilakukan semua. Kikan sengaja tidak mengundang tamu terlalu banyak karena dia sadar ruko tidak akan menampung orang terlalu banyak. Untung saja trotoar di depan rukonya sedikit agak lebar, jadi dia bisa meminjam sebagian trotoar untuk meletakkan beberapa kursi untuk tamu. Kikan sudah bersiap di ruko sejak jam 8 pagi tadi, rencananya acara akan dilaksanakan pada pukul 9 pagi. Hari ini dia tampil cukup modis dan cantik seakan mewakilkan keberadaan rukonya di sana.
"Nduk .... sudah siap semua toh ?", tanya ibu yang ikut membantu Kikan mulai pagi tadi.
"Sudah Bu, tinggal tunggu tamu saja ".
"Mbak, dua model kita sudah datang, langsung di make up dan di dress up ya ?", tanya Amel tiba-tiba.
"Iya, Mel. Kamu bisa kan ?", tanya Kikan lagi.
"Siap Mbak !", ucap Amel sambil mengacungkan jempolnya.
"Loh .... nanti ada acara peragaan busana juga toh ?", tanya ibu kaget.
"Iya, Bu. Ada dua teman Kikan yang bersedia menjadi model, nanti Intan juga ikut memeragakan busana tapi baju hamil. Kikan sudah menyiapkannya, mungkin sebentar lagi dia datang". Ibu hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kikan.
"Hai ! aku gak terlambat kan ?", sapa Intan ceria.
"Enggak kok, Ntan. Kamu sudah make up ya ? tinggal dress up aja. Ayo sini, aku bantu !", kata Kikan sambil mengajak Intan ke ruang ganti.
"Emang ada berapa orang yang akan memeragakan busana mu, Kan ?", tanya Intan di sela-sela ganti baju.
"Ada empat, dua temanku sedang di make up dan dress up, kamu dan Rika, asistenku ", jawab Kikan.
"Kamu gak ikutan juga ?", tanya Intan lagi. Kikan terdiam.
"Coba kalau kamu ikutan juga kan tambah asyik tuh. Jadi pembukaannya langsung diawali peragaan busana kita berempat ditutup kamu sebagai owner nya", jelas Intan.
"Hem ... bener juga ide mu, Ntan. Ya, udah kalau gitu habis ini aku bergegas siap-siap saja. Aku juga sudah menyiapkan baju kasual yang modis kok".
"Nah, gitu dong. Kalau gitu, aku tunggu di luar ya?". Kikan mengangguk dan bergegas bersiap-siap.
Tepat pukul 9, para tamu, kerabat sudah berkumpul. Pembukaan butik Kikan pun dimulai. Mula-mula para tamu dan kerabat dipersilakan duduk di kursi yang sudah di tata rapi lalu pintu butik terbuka bersamaan dengan iringan musik dan peragaan busana yang diawali dengan dua teman Kikan, Intan, Rika dan terakhir Kikan. Tepuk tangan para tamu dan kerabat semakin membahana ketika Kikan terakhir keluar.
__ADS_1
Sedikit sambutan diberikan Kikan, lalu secara simbolis, ia menggunting pita yang sudah terpasang di pintu masuk ruko tanda butiknya sudah dibuka. Setelah itu banyak para tamu dan kerabat yang berkerumun menyalami Kikan, namun ada juga sebagian yang menerobos masuk ke ruko untuk melihat-lihat koleksi Kikan lainnya atau sekedar menikmati hidangan yang tersedia.
"Selamat ya, Sayang. Mami bangga banget dengan pencapaian mu ini", ucap Mami Tiwi sambil menyalami dan mengecup pipi Kikan.
"Makasih, Mi sudah mau datang".
"Pasti dong, oh ya ini Mami bawa teman-teman dan saudara siapa tahu mereka minat dengan koleksimu". Kikan tersenyum lalu menyalami satu persatu teman Mami Tiwi dan kemudian mempersilahkan mereka masuk untuk melihat-lihat koleksi Kikan.
"Nduk ... selamat ya, Pakde dan Bude bangga padamu ", ucap Pakde yang ikut datang hari ini.
"Terima kasih, Pakde Bude sudah mau datang", jawab Kikan.
"Bagus-bagus, Nduk baju desain mu. Bude juga mau kalau dibuatkan. Pak ... kita pesan ke Kikan saja sekalian untuk acara tiga bulanan Intan nanti", kata Bude sambil menyalami dan mengecup pipi Kikan.
"Siap Bude, nanti Kikan buatkan", jawab Kikan membuat Pakde dan Bude tersenyum.
"Kak ... bagus banget baju pesta nya yang diperagakan tadi. Kalau pesan seperti model itu bisa kan ?", tanya Galuh kini. Kikan hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Temanku juga ada yang suka baju koleksi Kakak. Apa itu juga bisa langsung dibeli Kak atau cuma pajangan saja ?", tanya Galuh lagi.
"Oh yang di dalam dan yang diperagakan tadi bisa langsung di beli kok kalau ukurannya pas. Langsung ke Rika atau Amel saja, Luh nanti biar di bantu mereka", jawab Kikan sambil menunjukkan Amel dan Rika ke Galuh.
Kikan tersenyum bangga karena semua yang hadir antusias dengan hasil karyanya. Banyak koleksi Kikan yang terjual hari itu, padahal sebenarnya Kikan tidak berniat menjual semua koleksinya tapi karena banyak yang antusias dan minat akhirnya terpaksa dijual juga.
"Alhamdulillah Mbak, koleksi kita banyak yang terjual", seru Amel ke Kikan begitu acara sudah selesai.
"Iya, Mel. Berarti kita harus kerja keras lagi nih. Masak baru buka, stok sudah kosong", jawab Kikan.
"Tapi, jangan kuatir. Koleksi saya yang baru di atas ada beberapa yang belum diturunkan jadi bisa kita pajang disini. Oh ya, kalian sudah makan belum ? dari tadi aku lihat kalian sibuk terus melayani customer".
"Iya Mbak, kami belum makan. Habis keasyikan sih", jawab Rika sambil meringis.
"Ya udah, makan dulu sana !", perintah Kikan.
Segera Amel dan Rika beranjak ke dalam untuk makan siang. Kikan hanya tersenyum melihatnya, ia lalu mulai membersihkan beberapa bagian rukonya. Ayah dan ibu sudah pulang duluan karena Raka rewel tadi. Intan juga sudah pulang bareng Pakde dan Bude. Bobby tidak datang hari ini karena ada tugas keluar kota. Tapi Kikan sangat beruntung, mereka semua sudah turut membantu Kikan.
__ADS_1
"Permisi ... apa acara pembukaannya sudah selesai ?", tanya seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruko Kikan. Kikan segera bangkit dan berbalik ke arah datangnya suara.
"Eh ... iya sudah selesai Mas. Ada yang bisa saya bantu ?", tanya Kikan ramah kepada sosok laki-laki yang baru dilihatnya itu.
"Saya Hendy, anda pasti Kikan ya ?", katanya balik nanya. Hendy, seperti pernah dengar namanya. Kenapa dia kenal aku ya ?, pikir Kikan.
"Iya, saya Kikan. Mas Hendy, siapa ya ? kalau boleh tahu", tanya Kikan lagi. Dia hanya tersenyum.
"Saya Hendy, temannya Bobby ...", jawabnya. Pikiran Kikan langsung nyambung ke sosok cowok yang bolak balik akan dikenalkan Bobby padanya. Ini toh, Hendy itu pikir Kikan lagi.
"Oh ... maaf saya lupa. Hari ini sibuk sekali, jadi saya sedikit lupa", jawab Kikan gugup.
"Silakan Mas ... duduk", kata Kikan sambil menarik kursi untuk Hendy dan dirinya.
"Sepertinya tadi ramai banget ya ?. Maaf, saya datang terlambat ", ucapnya kini.
"Enggak pa-pa kok, Mas ".
Lalu mereka asyik mengobrol seputar kegiatan masing-masing. Hendy seorang yang pemalu dari tutur katanya, gerak gerik tubuhnya terlihat kaku dan pemalu. Sebenarnya dia cukup ganteng tapi postur tubuhnya kurang seimbang. Tinggi Hendy mungkin sekitar 175-an tapi tubuhnya kurang berisi, sehingga ia terlihat sangat kurus. Tapi jujur saja Kikan tidak pernah mempermasalahkan fisik dalam berteman asal dia nyambung di ajak bicara Kikan sudah senang.
"Maaf Kikan, sepertinya aku harus balik dulu. Lain kali aku akan kesini lagi. Bolehkan ?", tanya Hendy sambil berpamitan.
"Oh tentu saja boleh, lebih-lebih kalau kesini nya sambil belanja baju ", jawab Kikan sambil tersenyum.
"Ya, pasti itu ", jawab Hendy sambil tersenyum.
"Aku pamit dulu ya !", ucap Hendy sambil berlalu, Kikan hanya tersenyum dan menyilakan Hendy pergi.
"Huff..... ", ucap Kikan sambil menarik nafas panjang setelah Hendy berlalu.
"Siapa mbak ? pacarnya ya ?", goda Amel dan Rika berbarengan sambil keluar dari belakang.
"Huh ... ngawur kalian. Kenapa lama amat makannya, sampai keroncongan aku", gerutu Kikan.
"Loh ... Mbak Kikan juga belum makan ?", tanya Amel.
__ADS_1
"Belumlah, gara-gara tadi ada tamu mau makan gak jadi. Ya ... sudah, sekarang kalian beberes aku mau makan dulu, laper", ucap Kikan sambil berlalu.
"Siap Bos !", jawab Amel dan Rika berbarengan lagi.