
"Adrian, kamu dimana ?", tanya papa di telepon. Entah ada apa sampai papa menelpon Adrian pagi-pagi.
"Aku masih di apartemen, Pa. Mau siap-siap berangkat kerja. Ada apa, Pa ?", tanya Adrian.
"Kamu bisa mampir ke rumah sakit Citra Medika sebentar ?", kata papa lagi.
"Memang siapa yang sakit, Pa ? Oma ya ?".
"Bukan, Adrian tapi Mamamu. Mamamu kena serangan jantung ".
"Apa ? tapi dua hari yang lalu di pesta ulang tahun, Mama baik-baik saja ", ucap Adrian terkejut.
"Sudah, cepatlah kesini nanti Papa akan ceritakan semuanya ", ucap papa.
"Baik, Pa. Adrian segera kesana ", kata Adrian sebelum menutup teleponnya. Ia lalu mengirim pesan ke Sari sekertarisnya dan bergegas bersiap untuk ke rumah sakit.
Adrian sedikit berlari dari parkiran menuju IGD, papa tadi mengirimkan pesan kalau mama sedang berada di IGD.
"Bagaimana keadaan Mama, Pa ?", tanya Adrian begitu melihat sosok papanya bersama Julian sedang menunggu cemas.
"Entahlah, dokter masih memeriksanya. Kita tunggu saja sebentar lagi ", ucap papa.
"Memangnya Mama kenapa kok sampai terkena serangan jantung ?", tanya Adrian lagi.
"Sebenarnya ini bukan yang pertama, Ian ", ucap Julian.
"Maksud Kakak, Mama sudah kena serangan sebelumnya ?".
"Ya .... setelah malam terakhir kamu ke rumah. Mamamu shock berat, ia menangis sepanjang malam sampai akhirnya terkena serangan jantung. Papa dan kakakmu sengaja tidak mengabarimu. Kami paham situasimu saat itu ", ucap papa.
"Pa .... kok Papa tega tidak memberitahu aku ?", tanya Adrian sedikit kesal.
"Kamu sedang marah saat itu, Papa yakin kamu juga sedang tidak ingin diganggu. Itu alasan kami tidak memberitahumu. Dan sekarang adalah serangan yang kedua. Papa sendiri tidak tahu sebabnya, Papa sedang keluar tadi lalu tiba-tiba mendapat telpon dari Bibi kalau Mamamu terkena serangan jantung". Adrian terdiam mendengar penjelasan papa, ada sedikit penyesalan di hatinya. Mungkin ini semua karena dia, mungkin mama terlalu stress memikirkan dirinya.
"Apakah Bapak keluarga Bu Tika ?", tanya seorang suster dari ruangan IGD.
"Iya, kami, Sus ", jawab papa.
__ADS_1
"Bu Tika kondisinya sudah membaik, akan kami pindahkan ke kamar rawat inap ya, Pak ?", ucap suster itu.
"Ayo Adrian, kita lihat Mamamu !", ucap papa sambil menepuk pundak Adrian. Adrian hanya mengangguk mengikuti papa.
"Ibu masih belum siuman, Pak tapi sudah stabil keadaannya. Akan saya pindahkan ke ruang rawat inap dulu ", ucap seorang suster lagi sambil mulai mendorong ranjang mama. Papa dan Adrian hanya mengangguk lalu mengikuti suster itu mendorong ranjang mama sampai ke kamar yang dituju. Sementara Julian sedang mengurus administrasi untuk rawat inap mama.
"Ibu jangan dibangunkan dulu ya Pak, biarkan istirahat. Kelihatannya Ibu stress berat, nanti ada dokter yang akan menjelaskan lebih lanjut", ucap suster itu setelah meletakkan ranjang mama di kamar yang di tuju.
"Iya, Sus. Terima kasih ya ", ucap Adrian.
"Papa keluar sebentar ya, Adrian. Mau mengambil barang-barang di mobil. Kamu tunggu disini ya ?", ucap papa.
"Iya, Pa ", ucap Adrian.
Kini ia terduduk lesu di samping ranjang mama. Adrian meraih tangan mamanya digenggam lalu diciumnya perlahan.
"Maafkan Adrian, Ma ...", ucapnya lirih. Adrian terdiam memandang wajah mamanya yang tetap terlihat cantik di umur lebih separuh abadnya. Beliau tetap Mama paling cantik di dunia. Beliau juga mama paling penyayang, super perhatian dan kadang super manja. Mama selalu ingin dimanja Adrian, mungkin mengingat hampir sepuluh tahun Adrian berjauhan darinya jadi membuatnya ingin selalu dekat dengannya. Semua begitu indah sampai ide pertunangan itu tercetus di bibir mama dan menjadi malapetaka hubungan Adrian dan mamanya.
"Anda, keluarga Bu Tika ?", seorang pria berjas putih dengan stetoskop dilehernya tiba-tiba menerobos masuk ruangan mama.
"Bagaimana keadaan Mama saya, Dok ?", tanya Adrian.
"Ibu Tika mengidap jantung koroner. Jantung koroner terjadi bukan hanya pola makan yang salah namun stress adalah salah satu pemicu terbesarnya juga. Sepertinya Bu Tika sedang mengalami stress berat dan ini merupakan serangan yang kedua. Saya harap tidak akan ada lagi serangan yang ketiga apalagi jarak serangan yang pertama dengan kedua berdekatan hanya selisih empat bulan. Mungkin keluarga bisa membantu mengontrol tingkat stress Bu Tika sehingga menghindari serangan yang ketiga. Karena akan berakibat fatal nantinya ", jelas dokter itu. Adrian hanya mengangguk mendengarnya.
"Baiklah ... kalau begitu, mungkin sebaiknya biarkan Ibu beristirahat dulu jangan diganggu sampai Beliau bangun. Ada beberapa obat yang sudah saya resepkan, nanti ada suster yang akan membantu untuk meminum obatnya ", ucap dokter tersebut sebelum berlalu.
"Baik, terima kasih, Dok !", ucap Adrian begitu dokter itu berlalu.
Kini Adrian sendiri lagi, dia kembali memandangi mamanya. Ada berjuta kerinduan di matanya yang ingin ditumpahkan. Namun Mama masih saja memejamkan mata.
"Kamu tidak ke kantor ?", tanya papa sambil menepuk punggung Adrian.
"Aku sudah mengirim pesan ke sekertarisku, Pa", ucap Adrian.
"Tadi ada dokter yang kesini, memberitahu kalau Mama terkena jantung koroner dan pemicunya adalah stress berat. Dokter minta pihak keluarga untuk mengontrol tingkat stress Mama agar tidak terjadi serangan ketiga karena fatal akibatnya kalau sampai terjadi, Pa ", ucap Adrian menerangkan.
"Iya ... Adrian, Papa sudah tahu. Mamamu terlalu stress akhir-akhir ini ", jawab papa.
__ADS_1
"Apa karena Adrian ya, Pa ?". Papa hanya tersenyum.
"Papa tidak perlu menjawabnya, kamu sudah tahu sendiri ", ucap papa. Adrian hanya terdiam.
"Lalu aku harus bagaimana, Pa ?", tanya Adrian kini.
"Kamu sudah dewasa, kamu pasti tahu yang terbaik untukmu ". Adrian terdiam, lalu dia bangkit.
"Adrian pamit dulu ya Pa, nanti sore aku kesini lagi", ucap Adrian. Papa mengangguk.
Adrian mengemudikan mobilnya menuju rumah Kikan. Ia ingin bertemu Kikan hari ini, pikirannya kacau dan tidak bisa konsentrasi bila harus langsung ke kantor.
Suasana rumah Kikan sedikit sepi, mobil Kikan masih di garasi, sepertinya dia belum berangkat ke butik. Adrian memencet bel rumah Kikan lalu tak berapa lama pintu terbuka dan Kikan sendiri yang membukakan pintu.
"Kamu gak ke kantor kok belum bersiap-siap ?", tanya Kikan begitu melihat Adrian yang masih mengenakan baju santai.
"Aku libur hari ini ", ucapnya mengundang tawa Kikan.
"Kenapa tertawa ? aku bosnya aku bebas libur kapan saja ", ucap Adrian lagi.
"Iya, iya aku paham kok. Sudah sarapan ? kebetulan aku mau sarapan. Ayo !", ajak Kikan sambil menarik tangan Adrian. Adrian hanya menurut dan lalu duduk di meja makan.
"Ayah, ibu dan Raka kemana ?", tanya Adrian melihat suasana sepi di meja makan.
"Kamu lupa, kemarin aku sudah bilang kan. Mereka sedang berkunjung ke rumah Bobby, di luar kota. Oh ya, kamu tidak bisa makan nasi di pagi hari ya ?. Aku buatkan roti dan jus saja ya ?". Adrian mengangguk. Ia terdiam mengamati Kikan yang sedang menyiapkan sarapannya. Kikan mengolesi roti dengan selai coklat kesukaan Adrian lalu memotong beberapa apel. Kemudian membuat jus jeruk untuknya.
"Terima kasih ya ?", ucap Adrian setelah semua tertata di meja. Adrian memakan sarapannya dengan lahap sambil terus menatap Kikan intens.
"Kamu gak ke butik ?", tanya Adrian setelah selesai makan.
"Ehm... sebenarnya sih iya, tapi gak pa-pa agak siang aku kesana ", jawab Kikan.
"Boleh aku minta waktumu seharian hari ini ?". Kikan tersenyum mendengar ucapan Adrian.
"Sejak kapan kamu minta ijin untuk menculikku ?". Kini Adrian yang tertawa.
"Aku hanya ingin bersama kamu hari ini ", kata Adrian sambil menggenggam tangan Kikan. Kikan lalu mengangguk tanda setuju.
__ADS_1