
Kikan masuk kamarnya dengan gontai, ia lelah sekali hari ini. Hari hampir sore namun belum ada kabar dari mas Ranu, pikir Kikan sambil mengecek hpnya. Kamu dimana mas ? pasti sibuk banget ya kok sampe tidak mengangkat teleponku, tidak menjawab pesanku. Mungkin banyak yang disiapkannya untuk mewujudkan cita-cita kami nanti, akh kamu memang benar-benar penuh kejutan pikir Kikan.
Dia ingat betul satu bulan yang lalu Ranu memberinya kejutan sebuah rumah yang akan ditinggalinya nanti setelah menikah. Kikan membayangkan kehidupan nanti setelah menikah.
Krucuk krucuk ...., tiba-tiba perutnya bunyi tanda lapar. Aku lupa kalo belum makan dari tadi siang, pikirnya. Kikan langsung bangkit masuk ke kamar mandi dan bergegas ke ruang makan.
"Ibu masak apa hari ini ?", tanya Kikan begitu melihat ibunya sibuk menyiapkan hidangan di meja makan.
"Ibu masak rawon, kamu suka kan ?".
"Wah, suka banget Bu. Kikan boleh makan duluan Bu, Kikan laper dari tadi siang belum makan ", ucap Kikan kini sambil duduk di meja makan.
"Loh ... memang darimana saja kok sampai lupa makan, pulangmu juga sore banget tadi ".
"Kikan tadi ke perpustakaan trs nyari bahan skripsi Bu ", jawab Kikan sedikit bohong.
"Ya wes kalo gitu, kamu makan duluan aja. Ibu nunggu ayahmu datang saja", ucap ibu sambil berlalu ke dapur.
Kikan senang sekali lalu segera mengambil piring dan nasi lalu mengguyurkan kuah rawon ke nasinya. Hemmm enak banget masakan ibu, aku harus belajar masak ke ibu nih pikirnya.
Selesai makan Kikan kembali ke kamarnya dan kembali menghubungi Ranu, kini nomer hp Ranu tidak dapat dihubungi. Akh, mas Ranu benar-benar reseh deh masak gak hubungi aku sama sekali. Apa aku harus telepon ke mami Tiwi, akh nggak akh, malu nanti dikira aku cewek posesif. Mas Ranu pasti ada alasannya deh. Lebih baik aku istirahat bentar, aku capek seharian tadi pikir Kikan yang kemudian disusul suara dengkur lirihnya. Kikan sudah tertidur kecapekan.
"Kikan ... Kikan", sudah hampir sepuluh menit ibu mengetuk kamar Kikan.
"Anak ini bener-bener udah tidur toh kok gak dibuka-buka pintunya ", gerutu ibu.
__ADS_1
"Kikan .... Kikan ",ketuk ibu lagi. Ceklek ..., akhirnya pintu kamar Kikan terbuka.
"Ada apa toh Bu malem-malem ketuk pintu ", tanya Kikan dengan wajah masih ngantuk.
"Kamu cepetan cuci muka dulu lalu ke depan ditunggu Ayah dan Ibu ya Nduk", pinta ibu.
"Memangnya gak bisa besok pagi ya Bu ?", tanya Kikan lagi.
"Udah cepetan sana cuci muka", ucap ibu sambil mendorong Kikan ke kamar mandi. Begitu Kikan masuk kamar mandi, ibu tampak gelisah berjalan mondar-mandir menunggu Kikan.
"Udah Bu, ada apa sih sebenarnya ?", tanya Kikan lagi kini dengan wajah lebih segar. Ibu hanya diam lalu segera membantu Kikan merapikan rambutnya. Kikan hanya bengong melihat sikap ibunya.
Setelah selesai ibu segera menuntun Kikan ke ruang tamu. Di ruang tamu sudah ada ayah, pakde, bude, Bobby dan Intan. Kok tumben mereka kumpul semua disini, pikir Kikan.
"Sini Nduk, duduk sini dekat Ayah", suruh ayah. Kikan menurut dan segera duduk di samping ayahnya.
"Kok gak ada yang jawab ?", ucap Kikan lagi.
"Gini Nduk, ini tentang Mas Ranu-mu ". Akhirnya ayah mulai bersuara. Kikan antusias mendengarnya karena sejak tadi siang dia sulit menghubungi orang kesayangannya itu.
"Kenapa dengan Mas Ranu Yah ?". Ayah duduk mendekat Kikan dan merangkulnya.
"Kamu jangan kaget ya Nduk ?. Mas Ranu-mu kecelakaan tadi siang ..." Belum selesai ayah berbicara Kikan sudah memotongnya.
"Terus sekarang gimana keadaannya Yah ? gak pa-pa kan ? Apa kita di sini untuk membicarakan pernikahan Kikan yang akan mundur lagi ?. Kikan gak keberatan kok kalau untuk kesehatan Mas Ranu ", ucap Kikan membuat ibu menangis.
__ADS_1
"Ibu kenapa menangis ?", tanya Kikan heran namun ibu kian kencang menangisnya.
"Mas Ranu-mu kecelakaan tadi siang, dia mengalami pendarahan di otak dan dia ... dia meninggal Kikan", ucap ayah akhirnya sambil merangkul Kikan makin erat.
"Apa ? Mas Ranu meninggal ? gak, gak, gak mungkin. Ayah pasti salah, Ayah pasti mendengar berita salah. Mas Ranu gak meninggal, dia sudah janji tidak akan meninggalkan aku. Dia sudah janji bersama aku terus. Tadi pagi dia juga sudah tak sabar menunggu hari pernikahan kita. Dia gak mungkin meninggal ", ucap Kikan histeris mencoba melepaskan rangkulan ayahnya. Ayah dan ibu hanya menangis tak kuasa harus bicara apa.
"Kikan, yang dikatakan Ayahmu benar. Ranu meninggal karena kecelakaan tadi siang. Dia mengalami pendarahan di otaknya. Aku tadi dari rumahnya Kikan ", ucap Bobby kini. Kikan langsung bangun.
"Kalian semua bohong .... kalian tidak ingin melihat aku bahagia ya ?. Kalian tidak ingin melihat pernikahanku ya ? kalian jahat ....". Kikan semakin histeris dia memukul semua orang yang mencoba mendekatinya. Lalu saat Kikan mulai tenang Intan mendekatinya.
"Kikan .... kami semua tidak jahat, kami sayang kamu, kami selalu ingin kamu bahagia. Tapi ini berita sesungguhnya, Ranu mengalami kecelakaan di jalan Sudirman dengan sebuah truk yang menerobos lampu merah. Dia mengalami pendarahan hebat di otaknya, dia sempat di bawa ke rumah sakit terdekat daerah situ tapi dia tidak tertolong. Tadi aku dan Bobby baru saja dari rumah duka ", terang Intan.
"Tadi katamu kecelakaan di jalan Sudirman ?", tanya Kikan kini. Intan mengangguk.
Jalan Sudirman, bukankah rumah sakit tempat Kikan memeriksakan kandungannya di dekat jalan Sudirman. Dan tadi intan bilang, Ranu sempat dibawa ke rumah sakit terdekat tapi tidak tertolong karena pendarahan hebat di otak. Ingatan Kikan kembali ke siang tadi di rumah sakit saat sebuah ambulan menerobos masuk dan membawa korban kecelakaan. Kikan ingat betul, ia melihat tangan yang terjulur berlumuran darah dan ... dan ... jam tangan yang juga berlumuran darah. Kikan seperti sering melihat jam tangan itu karena ... karena ... itu jam tangan yang diberikan Kikan di hari wisuda Ranu. Dan ternyata korban yang dibawa ambulan di rumah sakit tadi adalah mas Ranu.
"Tidak ......", ucap Kikan sambil menangis setelah mencoba mengingat-ingat kembali kejadian tadi siang.
Ternyata .... ternyata dia mas Ranu, ucap Kikan dalam hati sambil menyesali kebodohannya mengingat jam tangan pemberiannya.
"Sabar ya Nduk ....", belai ibu dan bude mendekati Kikan yang kini terduduk lemas dan menangis.
Aku melihatnya tapi aku tidak mengenalinya .... maafkan aku mas Ranu, pikir Kikan sambil terus menangis.
"Sabar ya Nduk .... ini cobaan buatmu, sabar ya ", ucap pakde, bude, ayah ,ibu bergantian mencoba menenangkannya.
__ADS_1
Jika mas Ranu meninggal, bagaimana nasibnya ? bagaimana nasib bayi yang dalam kandungannya ?. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Kikan, dia merasa letih teramat sangat lalu tiba-tiba pandangannya mulai buram dan kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.