
Kikan bergegas berjalan menyeruak kerumunan orang. Ia ingin segera bertemu keluarganya yang sudah menantinya di depan.
"Selamat ya Kak !", seru Galuh begitu melihat Kikan sudah menghampiri mereka.
"Terima kasih ya Luh. Kamu kapan nih wisudanya ?", kata Kikan balik nanya.
"Insya Allah tahun depan Kak, doain saja", jawab Galuh tersenyum.
"Selamat ya Nduk", ucap ibu sambil mengecup pipi Kikan.
"Terima kasih Bu".
"Selamat ya Sayang". Kini giliran mami Tiwi , semua bergiliran mengucapkan selamat ke Kikan dan Kikan menerima nya dengan senang hati.
"Raka mana Bu ?", tanya Kikan begitu melihat mereka berlima tidak ada yang menggendong Raka, putra kecilnya.
"Ini Raka, disini Ma", seru Bobby sambil menggendong Raka berjalan mendekat ke arah Kikan.
"Bobby .... Intan...., aku senang kalian datang", pekik Kikan kegirangan.
"Selamat ya, Kikan !", ucap Intan sambil mencium pipi Kikan.
"Terima kasih ya, maaf aku tidak bisa hadir di acara pernikahan kalian ", kata Kikan.
"Gak pa-pa kok, Kikan. Itu juga dadakan kan tapi untunglah semua belum terlambat saat itu ", jawab Intan.
"Aku ikut senang mendengarnya. Aku lihat kamu kok gendut sekarang, Ntan, atau lagi hamil ya ?", tanya Kikan. Intan langsung mengangguk.
"Wah ... kamu hebat juga ya Bob, langsung tokcer", gurau Kikan.
"Siapa dulu dong, Bobby .....", seru Bobby sambil tersenyum jenaka. Raka hanya bengong kebingungan melihat tampak Bobby membuat mereka semuanya tertawa.
"Ayo ... kita foto-foto dulu ", seru ayah mengingatkan.
"Oke, biar Bobby yang ambil fotonya, Paklik", jawab Bobby. Merekapun lalu bersiap dan bergantian mengambil momen indah itu.
__ADS_1
"Habis ini, mampir ke rumah dulu ya Mi ", pinta Kikan ke mami Tiwi.
"Waduh ... Kikan maafkan Mami, sepertinya Mami tidak bisa. Mami dan Papi harus ke luar kota sehabis ini, ada panggilan kerjaan seperti biasanya", jawab mami Tiwi.
"Oh, begitu ... baiklah kalau begitu Mi. Hati-hati di jalan ya Mi !. Galuh, kamu juga tidak mampir ?".
"Maaf Kak, aku sudah ada janji dengan teman ", jawab Galuh lagi.
"Wah, sepertinya Galuh sudah punya pacar ya ?", goda Kikan.
"Bukan Kak, ini soal skripsi kok. Bukan pacar", jawab Galuh sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya !", pesan Kikan.
"Kikan ... sayang, tadi Mami dengar kamu mau menyewa ruko untuk butik mu ya ?. Kabarin ya, kalau kamu sudah pembukaan, Mami juga mau ikut bantu promosikan ke teman-teman Mami", kata Mami lagi.
"Oh iya, Mi nanti pasti Kikan kabari ".
"Ya sudah kalau begitu kami pamit dulu ya ", sahut papi Farid. Mereka bertiga lalu sibuk berpamitan ke ayah, ibu, Bobby, Intan, Kikan dan juga si kecil Raka.
"Ayo kita pulang, Nduk. Bob, kamu ikut ke rumah kan ?", tanya ibu.
"Ya wes kalau gitu, Ibu dan Ayah duluan ya ?", kata ibu akhirnya. Kikan hanya mengangguk dan kemudian mengikuti Bobby dan Intan menuju mobilnya.
"Kamu sibuk apa sekarang, Ntan ?", tanya Kikan begitu mereka sudah di dalam mobil.
"Aku jadi penggangguran, Kan. Sejak nikah sama Bobby kerjaku cuma makan, tidur saja", jawab Intan spontan yang disambut tawa Kikan.
"Habisnya, dia mau balik di dunia modelling lagi. Pikirku nanti saja kalau sudah memberi cucu buat Bapak dan Ibu. Jadi terpaksa ku larang Intan kerja", jelas Bobby. Kikan hanya tersenyum mendengarnya.
Ya, dia dan Bobby sama-sama anak tunggal, oleh sebab itu keluarga mereka berharap sekali lekas mendapat cucu. Dan Bobby beruntung kali ini, bisa memberikan anak mantu dan juga cucu untuk kedua orang tuanya tidak seperti aku yang hanya memberi cucu tanpa anak mantu, pikir Kikan.
"Ngapain ngelamun lu !", tegur Bobby mengagetkan Kikan.
"Aku dengar usahamu tambah sukses ya ?", tanya Intan kini.
"Ya, aku bersyukur Ntan. Semua ilmu ku akhirnya bisa aku terapkan tidak percuma aku kuliah", jawab Kikan.
__ADS_1
"Wah ... kamu nyindir aku ya ?", tanya Intan sambil tersenyum.
"Masak sih ? kamu merasa tersindir ? Maaf deh, habis cuman dengan cara ini aku bisa menghilangkan kesedihan ku", kata Kikan kini sambil terdiam dan memainkan jari tangan Raka yang sudah tertidur pulas di pangkuan Kikan.
"Kamu gak ingin mencari pasangan lagi, Kan ?", tanya Bobby. Kikan hanya diam.
"Atau mau aku cariin nih, mumpung banyak teman kerjaku yang jomblo ". Kikan tertawa mendengarnya.
"Aku takut mereka yang gak mau sama aku nantinya. Aku single parent tanpa status pernikahan. Bisa dibilang, aku gadis tapi sudah punya anak. Aku janda tapi belum menikah. Apa mau mereka sama aku ?", tanya Kikan kini.
"Kamu kan masih muda, cantik, berbakat punya usaha sendiri lagi. Daya tarik mu masih sempurna kok. Tenang saja pasti masih banyak cowok yang terpikat padamu. Ya gak, Ntan ?", kata Bobby lagi yang disambut anggukan Intan.
"Iya Kikan, kamu masih muda, cantik dan berbakat jangan pernah minder dengan semua itu. Aku yakin kalau kamu mau membuka hatimu pasti banyak cowok yang mau jadi pendamping mu", kata Intan kini. Kikan hanya terdiam dan menghembuskan nafas keras-keras.
"Entahlah, aku masih belum kepikiran ke arah sana. Aku hanya ingin menikmati yang ada dulu saja. Aku tidak mau mengharap lebih, aku takut gagal dan tersakiti lagi".
"Kalau misalnya aku kenalkan kamu dengan salah satu temanku, mau kan ?", kata Bobby lagi.
"Dia masih jomblo, salah satu rekan kerjaku di kantor. Aku amati selama ini dia orang yang baik kok, sopan, rajin dan dia juga sedang cari yang serius untuk diajak berumah tangga. Aku yakin kamu pasti juga akan tertarik padanya".
"Siapa Mas ?", tanya Intan.
"Itu sih Hendy, kamu tahu kan ? yang pernah datang ke rumah malam-malam ngantar berkas".
"Oh .... iya, iya aku ingat. Iya, betul Kan. Hendy keliatan sopan dan baik. Dia juga lumayan ganteng kok. Coba kita kenalkan dulu saja, terserah Kikan kalau mau berlanjut atau tidak ", kata Intan.
"Iya, betul juga, kamu mau Kan ?", tanya Bobby kini. Kikan hanya terdiam, Bobby melirik Kikan dari kaca spion. Kikan tampak tertidur pulas bersandar di bangku mobil.
"Oh ... anak ini , diajak ngomong dari tadi ternyata tidur", gerutu Bobby. Intan segera menoleh ke belakang dan tersenyum ketika mendapati Kikan tengah pulas tertidur.
"Mungkin dia kecapekan Mas", kata Intan.
"Iya, lebih baik nanti aku bicara sama Bulik saja. Siapa tahu Bulik mau membujuk Kikan", ucap Bobby.
"Jangan memaksa gitu dong. Semua kan terserah Kikan, jangan terlalu ikut campur urusannya. Apa kamu gak kapok dengan kejadian Kikan minggat dulu ?", seru Intan mengingatkan.
"Iya, aku ingat. Aku hanya akan bicara dengan Bulik, nanti terserah mereka mau menerimanya atau tidak".
__ADS_1
"Nah, gitu dong", kata Intan sambil mengacungkan jempolnya.
Di kursi belakang sebenarnya Kikan tidak tidur, ia hanya pura-pura tidur. Ia mendengar semua pembicaraan Bobby dan Intan, namun Kikan tidak mau menanggapinya. Kikan merasa belum siap untuk membuka hatinya kembali. Ia belum siap menerima orang lain sebagai pengganti Ranu. Nama Ranu masih terus ada di hatinya.