Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Lagi lagi Hendy


__ADS_3

"Pagi Mbak !", sapa Ida begitu Kikan datang ke ruko.Kikan hanya tersenyum kepada karyawan barunya itu dan bergegas naik ke lantai dua.


Hari ini tangannya sibuk membawa berbagai contoh bahan kain yang diminta pelanggannya. Dengan cepat Kikan letakkan beberapa contoh kain itu di mejanya, namun belum sempat Kikan duduk di tempat kerjanya kini matanya tertuju pada rangkaian bunga mawar di pojok ruangannya itu. Kikan mendekat ke arah bunga itu, ia ingat betul tidak menyuruh karyawannya memesan bunga apalagi untuk diletakkan di ruangannya. Kikan memang sangat suka dengan mawar merah tapi kalau sebesar ini rangkaiannya pasti mahal harganya. Kikan melangkah lebih dekat ke rangkaian bunga itu, ada secarik kertas di bunganya.


 


"Selamat pagi, Kikan ... Semoga semangat ya hari ini. Hendy", tulis di kertas itu. Hendy lagi, untuk apa dia mengirimkan bunga sebesar ini ?.


Kikan segera berlari turun ke lantai satu, dia sudah melihat keempat karyawannya sudah berkumpul dan sedang asyik sarapan bubur ayam.


"Mbak Kikan sudah turun ? saya baru saja mau ke atas, mau ngantar sarapan bubur ayam ", seru Rika begitu melihat Kikan. Kikan hanya diam.


"Siapa diantara kalian yang menerima rangkaian bunga mawar yang ada di ruangan saya ?", tanya Kikan lagi membuat keempat karyawannya saling bertatapan.


"Eh ... saya Mbak, tadi saya yang terima ", jawab Ida kemudian.


"Saya bingung Mbak, mau saya tolak, Mas kurirnya maksa jadi terpaksa saya terima dan saya suruh letakkan di ruangan Mbak", jelas Ida lagi.


"Memang kenapa sih Mbak ?", tanya Amel ingin tahu.


"Gak pa-pa, aku hanya gak suka saja kalau harus menerima pemberian dari orang terus menerus", jelas Kikan.


"Hem... Mbak, sebenarnya bubur ayam ini juga dapat kiriman dari Pak Hendy juga", ucap Rika ketakutan. Kikan kembali menarik nafas panjang.


"Denger ya ... mulai sekarang kalau menerima apa saja dari Pak Hendy jangan di terima ! Ingat, jangan diterima !", kata Kikan sedikit marah.


"Terus ... bubur ayam ini gimana Mbak ?", tanya Amel.


"Sudah terlanjur kalian makan ya habiskan. Untuk selanjutnya jangan terima lagi", ucap Kikan sambil berlalu.


Semua keempat karyawannya saling berpandangan, ada sedikit penyesalan di mata mereka. Kikan kembali ke ruangannya dengan kesal. Dia kesal sekali dengan sikap Hendy yang terlalu perhatian. Sejujurnya Kikan juga bingung, ia tidak mau memberi harapan terlalu banyak ke Hendy karena Kikan merasa dirinya belum siap untuk menerima kehadiran seseorang lagi di hatinya, Kikan hanya ingin sendiri itu saja.

__ADS_1


Lamunan Kikan buyar karena bunyi dering ponselnya. Kikan segera meraih ponsel yang ada di tasnya, dari ibu ternyata. Ada apa ibu telepon pagi-pagi begini ?.


"Halo ... ada apa Bu ?", sapa Kikan di telepon.


"Nduk ... kamu sudah di ruko kan ?", tanya ibu kini.


"Iya Bu, Kikan sudah di ruko sejak tadi. Ada apa Ibu telepon Kikan ?".


"Ini loh, Nduk ... Ada kiriman paket untuk Raka. Apa kamu yang sengaja memesan mainan untuk Raka ?", tanya ibu lagi.


"Hah ??... enggak Bu. Kikan gak memesan mainan untuk Raka. Memang mainan apa Bu ?", tanya Kikan penasaran.


"Banyak ,Nduk. Ada mobil remote yang bisa dinaiki terus ada kuda-kudaan, ada boneka pokoknya banyak. Ibu pikir kamu yang pesan jadi langsung Ibu buka tadi ternyata bukan kamu toh. Terus gimana ini Nduk kalau salah alamat, Raka sudah terlanjur senang dan sudah sibuk dengan mainan barunya", tutur ibu lagi. Kikan terdiam, dia yakin kali ini Hendy juga yang mengirimnya.


"Kikan rasa, Kikan tahu siapa yang mengirim kok Bu. Ibu gak usah khawatir biar Kikan yang urus nanti", jawab Kikan lagi.


"Gitu ya, Nduk. Ya sudah kalau begitu, Ibu jadi tenang sekarang. Ibu tutup dulu ya, Raka gak bisa ditinggal minta main mobil-mobilan di luar".


"Iya Bu, hati-hati Bu!", pesan Kikan sebelum menutup teleponnya. Hendy .... apa sih maksudmu ?, pekik Kikan dalam hati.


"Halo ....", sapa suara di seberang.


"Mas ... kamu ada waktu sekarang ?. Aku mau ngomong penting !", kata Kikan to the point.


"Oh iya, aku kebetulan lagi tugas luar nih. Kita ketemu dimana ? di ruko mu atau di mana ?", tanya Hendy lagi.


"Di cafe dekat rukoku saja ya ?. Setengah jam lagi aku kesana", ucap Kikan.


"Ok, aku gak jauh kok dari tempat itu. Tunggu ya !".


Kikan hanya mengangguk dan bergegas menutup teleponnya. Aku harus menjelaskan sekarang juga ke Hendy, aku tidak mau dia salah paham dan berharap lebih padaku. Kikan kembali memilah bahan kain yang di bawanya tadi lalu tanpa sengaja dia menemukan setumpuk kotak coklat di bawah bahan kain tadi.

__ADS_1


"Ida ... ini coklat punya siapa ?", tanya Kikan ke Ida yang sudah kembali ke atas.


"Eh ... coklat itu tadi datang bersama bunganya Mbak. Saya letakkan di situ", jawab Ida gugup.


"Ya sudah ... kalau gitu ini buat kamu saja, saya gak suka makanan yang manis-manis bikin saya gendut. Nih, ambil !", ucap Kikan sambil memberikan sekotak coklat itu ke Ida. Ida tampak senang menerimanya, apalagi coklat itu terlihat enak.


"Oh ya, saya mau keluar sebentar. Nanti kalau ada Bu Siska datang, suruh tunggu ya !",ucap Kikan lagi sambil berlalu meninggalkan Ida.


"Iya, Mbak", jawab Ida lega.


"Kenapa kamu, Da ?", tanya Yenni setelah Kikan berlalu.


"Lega aku gak dimarahin Mbak Kikan malah dikasih coklat, nih", seru Ida sambil memamerkan coklat pemberian Kikan.


"Huh ... dasar kamu !", seru Yenni.


"Tapi dipikir-pikir Mbak Kikan itu aneh ya, diberi perhatian cowok kok malah marah-marah. Padahal cowoknya ganteng, sopan, baik lagi. Kalau aku sih malah tambah seneng kalau diberi perhatian gitu", kata Ida lagi.


"Memang kamu sudah tahu yang namanya Pak Hendy ?".


"Aku pernah ketemu sekali waktu itu Mbak Kikan keluar jadi Pak Hendy langsung balik gak nunggu. Tapi sepertinya tadi Mbak Kikan janjian mau ketemu ya ?".


"Sepertinya begitu, mungkin Mbak Kikan gak suka Pak Hendy makanya dia menolak semua pemberiannya. Atau mungkin juga Mbak Kikan sudah punya pacar jadi makanya menolak Pak Hendy", tutur Yenni kini.


"Iya, mungkin juga begitu, gak tahu lagi sih kan kita baru di sini jadi belum mengenal betul Mbak Kikan", kata Ida lagi.


"Ayo ... lagi ngerumpi ya. Awas loh aku bilangin ke Mbak Kikan loh ", seru Rika yang tiba-tiba sudah muncul di lantai dua.


"Jangan dong Mbak, kami gak ngerumpi kok cuma ngobrol-ngobrol dikit aja", elak Yenni.


"Itu sama saja ", jawab Rika sambil menyisir kesal.

__ADS_1


"Jangan dibilangin ya Mbak ?. Nih, aku kasih coklat, mau ?", ucap Ida sambil menyodorkan coklat pemberian Kikan tadi.


"Wah ... kalau ada coklatnya boleh juga untuk tutup mulut", ucap Rika sambil langsung mencomot coklat membuat Ida dan Yenni tersenyum geli.


__ADS_2