Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Hari Penentuan


__ADS_3

"Assalamualaikum ...", sapa mami Tiwi begitu sampai di rumah Kikan.


"Waalaikumsalam ..., Oalah ada tamu toh. Mari silakan masuk ", jawab ibu Kikan menyilakan masuk. Segera mami Tiwi, papi Farid dan Ranu beranjak masuk ke dalam.


"Ada apa toh Bu, tumben pagi-pagi sudah kesini?", tanya ibu.


"Iya maaf Bu, kami mengganggu masih pagi tapi sudah bertandang kesini".


"Ada tamu siapa Bu ?", sapa suara ayah dari dalam.


"Ini Yah, keluarganya Nak Ranu". Ayah segera bergegas keluar dan menyalami mereka.


"Waduh ... calon besan, pagi-pagi kesini ada perlu apa ya ?", tanya ayah begitu mereka sudah duduk berhadapan.


"Begini Yah, maksud kedatangan kami ini berkaitan dengan pernikahan anak-anak ", ucap papi mengawali.


"Loh bukannya tanggal pernikahannya sudah ditetapkan dan disetujui kalo gak salah kurang satu tahun setengah lagi, ya toh Bu". Ibu hanya mengangguk membenarkan perkataan ayah.


"Iya betul Yah, kalau misalnya dimajukan lebih cepat bisa tidak. Bukan apa-apa sih, ini karena dua bulan lagi Ranu akan dipindah tugaskan ke luar pulau untuk berapa lamanya juga belum tahu. Jadi dia ingin sebelum pindah keluar pulau acara pernikahannya sudah selesai. Biar ada yang menemani begitu Yah ", terang papi lagi.


"Oh ... gitu, hebat juga kamu Ran. Dua bulan lagi, berarti pernikahan mereka juga dimajukan sekitar dua bulan lagi, begitu ya ?", tanya ayah yang dibalas anggukan oleh papi dan mami.


"Tapi kalo dua bulan lagi, Kikan belum wisuda. Kikan masih skripsi sekarang ya Bu ?".


"Iya betul Yah, semester ini dia tinggal skripsi aja. Kalo ikut nak Ranu keluar pulau gimana skripsinya ?".


"Kalo skripsi biasanya yang dibutuhkan waktu bimbingan dengan dosen saja Bu dan itu bisa dilakukan lewat telepon ataupun lewat online jadi gak perlu bolak balik datang ke kampus. Baru saat sidang skripsi aja yang mengharuskan ke kampus", terang Ranu akhirnya.


"Oh gitu ya, Ibu baru tahu. Maklum dulu Ibu gak kuliah sih", ucap ibu yang disambut tawa mereka.


"Sebenarnya kami sekeluarga tidak keberatan sama sekali kalau pernikahan mereka dimajukan karena makin cepat makin baik. Tapi ya gitu, keluarga besar kami ini masih memegang teguh adat istiadat Jawa jadi harus dicocokkan dulu perhitungannya supaya tidak salah, tidak sampai membuat mereka hidup susah nantinya. Gitu loh Pak, Bu. Jadi untuk sementara permintaan ini saya terima dulu untuk saya rembuk lanjut dengan keluarga besar kami. Nanti kalau sudah ada kepastiannya, akan segera kami beritahu. Tapi kalau ternyata tidak bisa dimajukan kami mohon maaf terpaksa kita kembali ke tanggal awal yang sudah ditetapkan", ucap ayah menerangkan. Papi Farid, mami Tiwi dan Ranu hanya manggut-manggut padahal mereka sangat berharap kedua orang tua Kikan langsung menyetujui permintaan mereka ini.


Andai saja mereka tahu alasan terbesar memajukan tanggal pernikahan Kikan dan Ranu tentu mereka langsung setuju. Diam-diam Kikan mendengar pembicaraan mereka dari balik dinding. Dia sebenarnya juga jengkel sikap kedua orang tuanya yang selalu menunggu keputusan keluarga besar. Kenapa mereka tidak bertanya padaku yang menjalaninya ?, pikir Kikan.


"Ayo, silakan diminum dulu ", ucap ibu menyilakan minum untuk mereka bertiga.


"Kalau begitu kami pamit dulu Bu, Yah. Kami harap kami segera mendapat kabar gembira soal tanggal pernikahan mereka", ucap papi selesai meneguk teh yang disuguhkan.


"Ya Bu, kalo misalnya memang dimajukan 2 bulan lagi, tentu banyak hal yang harus dipersiapkan. Jadi kami tunggu kabar secepatnya", ucap mami menambahi.

__ADS_1


"Iya, iya betul nanti kami kabari secepatnya. Kikan anak kami satu-satunya, kami juga gak ingin pernikahannya hanya biasa-biasa saja", kata ibu yang langsung dilirik oleh ayah.


"Ya sudah, kalau begitu kami permisi dulu", pamit papi Farid yang segera bangkit diikuti mami Tiwi dan Ranu.


"Sekarang yang harus kamu lakukan hanya berdoa Ran. Berdoa semoga keluarga besar Kikan setuju memajukan tanggal pernikahan kalian 2 bulan lagi", ucap papi begitu mereka bertiga sudah masuk di dalam mobil. Ranu hanya mengangguk mendengarnya.


"Kasihan Kikan, kalo sampai mereka tidak menyetujuinya", gumam mami Tiwi lirih.


Sementara itu di rumah Kikan, ayah dan ibu sudah bingung menelepon kerabat mereka untuk diajak rundingan tentang memajukan pernikahan Kikan.


"Gimana Mas apa ada tanggal baik untuk pernikahan Kikan dan Ranu dua bulan lagi ?", tanya ibu Kikan ke ayah Bobby yang tak lain kakak kandung dari ibu Kikan. Mereka langsung datang begitu ibu Kikan meneleponnya tadi.


"Sebenarnya aku juga malah mengkhawatirkan Ranu kalau dia ke luar pulau sebelum menikah malah kecantol sama orang sana. Tau sendiri orang luar pulau sana kalau kadung suka sama orang wah bisa-bisa peletnya g bisa lepas."


"Iya toh mas, berarti kita harus memajukan tanggal pernikahan mereka ini".


"Ya, kita lihat dulu saja, ada tanggal baik gak di 2 bulan kedepan itu. Kamu sudah ngabari Pakde Gofar belum ? biasanya beliau lebih paham tentang penanggalan gitu, aku sih masih dibawah nya ",kata pakde Kikan lagi.


"Saya tadi siang sudah telepon Pakde Gofar Mas, katanya nanti malam dikabari. Mungkin sebentar lagi beliau telepon ", sahut ayah menimpali.


"Ini Pakde, Bude unjukannya ",ucap Kikan sambil meletakkan minuman untuk pakde dan budenya.


"Ini toh, calon pengantin yang sudah ngebet ", goda pakde. Kikan hanya tersenyum mendengar godaan pakdenya.


"Iya bude, Kikan kenal. Dia model yang Kikan pakai untuk pagelaran kemarin. Kenapa toh bude ?".


"Intan itu kalem ya, cantik lagi. Bude seneng ama anak itu. Semoga saja Bobby dan Intan langgeng sampai ke pernikahan kayak kamu dan Ranu".


"Iya Bude, semoga saja", jawab Kikan. Namun dalam hati Kikan, mungkin itu sulit terjadi mengingat apa yang diceritakan Intan padanya.


Tiba-tiba keheningan mereka dipecahkan oleh suara telepon masuk dari hp ayah.


"Hallo, assalamualaikum ...", sapa ayah.


"Enggeh Pakde Gofar yek nopo hasile ?" tanya ayah lagi membuat semua orang yang mendengar ikut terdiam.


"Jadinya bisa nggeh, kalo gitu jenengan sms saja tanggalnya dan hal-hal yang harus dilakukan biar kami tidak salah".


"Nggeh, matur nuwun Pakde ", tutup ayah.

__ADS_1


"Gimana Dek, bisa ?", tanya Bude dan Pakde berbarengan.


"Bisa Mas, ini aku di sms Pakde tanggal tepatnya dan apa saja yang harus kita lakukan biar tidak ada kesalahan ", jawab ayah.


"Syukur, Alhamdulillah .... wes lego aku ", ucap ibu.


"Alhamdulillah Nduk ... akhirnya jadi nikahnya. Wes ndanh dikabari kangmas-mu biar gak kuatir", ucap pakde lagi. Kikan langsung mengangguk dan berlari ke kamarnya.


Ayah, ibu, pakde dan bude hanya geleng-geleng melihat tingkah Kikan.


Di kamar, Kikan segera meraih hpnya dan dengan segera memencet nomor kontak Ranu dan menelponnya.


"Hallo ", sapa suara Ranu di seberang.


"Hallo ... mas..", jawab Kikan dengan nafas tersengal.


"Kamu kenapa sayang ? habis lari ya ?", tanya Ranu.


"Iya, ... aku saking senengnya sampai gak sabar ingin nelpon kamu ".


"Emang ada apa ?".


"Mereka, mereka maksudku keluarga besarku menyetujui memajukan tanggal pernikahan kita. Mungkin sekarang ayah sudah mengirim SMS ke Papi tanggal pernikahan kita, dua bulan lagi ".


"Ha.. bener, bener kamu ngomong. Oke, kalo gitu aku tanya Papi ya ".


"Tunggu mas,...".


"Iya sayang, ada apa ?".


"Besok, kita bisa ketemu gak ?".


"Besok ?".


"Iya, aku ingin memeriksakan kandunganku. Kalo kamu gak keberatan untuk mengantarku ".


"Tentu saja Sayang, aku mau. Besok aku akan ijin tidak masuk saja, aku jemput kamu jam 9 ya ?".


"Iya, aku tunggu ya Mas ".

__ADS_1


"Iya, sekarang kamu bisa bobok nyenyak kan, mimpi indah ya. Love u".


"Love u too". Kikan mengakhiri teleponnya dengan tersenyum bahagia. Dia sudah bisa bernafas sedikit lega kini. Semoga malam ini, aku mimpi indah, pikirnya.


__ADS_2