Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Di bawah langit berbintang


__ADS_3

Setelah makan, Adrian dan Kikan tidak langsung pulang. Adrian kembali mengemudikan mobilnya menuju sebuah tempat tertinggi di kota ini. Hujan sudah reda, bintang-bintang mulai bermunculan. Adrian menghentikan mobilnya dan kemudian mengajak Kikan keluar.


"Wah ... indah sekali tempat ini !", pekik Kikan kegirangan. Baru kali ini ia berada disini. Ia bisa melihat kerlip lampu kota di bawah sana, ia juga bisa melihat bintang-bintang di langit dari sini.


"Kamu belum pernah kesini ?", tanya Adrian. Kikan menggeleng cepat sambil masih sibuk mengagumi keindahan alam.


"Untung saja hujan sudah reda, jadi kita bisa menikmati keindahan bintang dan kerlip lampu kota di bawah ", ucap Adrian sambil berdiri bersandar di mobil.


"Kamu sering ke sini ?", tanya Kikan kini.


"Aku baru tiga kali ini kesini, aku juga baru-baru saja menemukan tempat ini. Kamu suka ?". Kikan mengangguk cepat. Pemandangan di sini indah sekali tapi karena habis turun hujan, udaranya sedikit dingin, untung saja Kikan tadi memakai cardigan kalau tidak pasti ia kedinginan. Kikan melirik ke Adrian yang bersandar di mobil sambil menatap bintang di langit. Ia hanya memakai polo shirt, apa tidak kedinginan ?, pikir Kikan.


"Kamu tahu nama bintang-bintang itu ?", tanya Adrian. Kikan menggeleng, ia suka melihat bintang tapi tidak begitu hafal dengan nama rasi bintang.


"Namanya bintang di hatiku ", jawab Adrian cuek sambil tertawa lepas menggoda Kikan.


"Ih ... kamu ngaco. Aku pikir kamu beneran tahu ", ucap Kikan sambil memukul dada bidang Adrian.


"Buat apa aku ngapalin nama bintang kalau aku sendiri sudah punya satu bintang yang selalu bersinar terang ".


"Oh ya, bintang apa ?".


"Kamulah bintangku itu .... ", jawab Adrian. Kikan tersenyum mendengar jawaban Adrian.


"Ternyata Pak Adrian Dinata, CEO kita ini pintar ngegombal ya ?", ucap Kikan lagi sambil tersenyum geli. Adrian hanya tersenyum malu-malu, baru kali ini Kikan melihat Adrian tersipu malu.


"Kamu punya banyak rupa ya ? dan aku suka semua rupamu itu ", ucap Kikan lagi. Adrian hanya menunduk sambil tersenyum malu lagi.

__ADS_1


Adrian masih berdiri bersandar di mobil dengan Kikan berada di sampingnya. Kemudian Adrian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kotak kecil warna merah dari beludru. Adrian membuka kotak itu, kemudian menarik tangan Kikan dan menyematkan sesuatu yang berkilau di tangan Kikan. Kikan terkejut melihat tingkah Adrian.


"Apa ini, Adrian ?", tanya Kikan sambil memandang cincin yang sudah melingkar di jari manisnya.


"Itu tanda aku serius denganmu, aku ingin menikah denganmu ", ucapnya lagi sambil memegang tangan Kikan. Kikan terdiam lama, tak tahu harus menangis bahagia atau sedih.


"Kamu maukan menjadi ibu dari anak-anakku ?", tanya Adrian lagi masih memegang tangan Kikan. Kikan diam tidak menjawab, hanya air mata yang mulai menetes di pipinya. Lalu ia merengkuh leher Adrian dan memeluknya. Adrian menarik pinggang ramping Kikan mendekat dan memeluknya.


"Kamu tidak menjawab ?", kata Adrian di tengah isakan Kikan yang mulai reda. Kikan hanya mengangguk lalu mulai mengatur nafasnya.


"Aku takut .... aku takut kalau aku menjawab iya, aku takut akan kehilanganmu. Aku hanya ingin bersama kamu saja. Aku tidak mau kehilangan lagi ", ucap Kikan akhirnya.


"Hei ! aku tidak akan kemana-mana, aku akan selalu bersama kamu. Aku mencintaimu dan terus akan selalu seperti itu. Aku tidak akan menghilang, Kikan. Aku akan menjadi milikmu seutuhnya begitupun sebaliknya. Aku akan secepatnya mengajak kedua orang tuaku untuk melamarmu. Aku janji, aku tidak akan membuatmu menunggu dan kehilangan lagi ", ucap Adrian sambil mengusap airmata yang menetes di pipi Kikan.


"Sudah, hapuslah air matamu, aku hanya ingin melihat senyuman mu saja ". Kikan kembali mengatur nafasnya, menghapus air matanya kemudian tersenyum.


"Ada satu lagi yang aku rindukan ", ucap Adrian lagi, kini keningnya sudah menempel di kening Kikan.


Kikan menatap mata Adrian yang berbinar penuh cinta, ia juga makin mempererat pelukan di pinggang Kikan. Kikan tahu apa yang dimaksud Adrian, ia kembali merangkul leher Adrian dan lebih mendekat ke Adrian. Lalu perlahan Adrian mencium bibir lembut Kikan. Adrian melakukannya dengan perlahan dan intens. Ia tidak ingin cepat-cepat menyudahinya, ada banyak kerinduan yang di simpan selama tidak bertemu Kikan dan ingin dia tuntaskan malam ini.


Setelah puas bermain dengan bibir Kikan, kini Adrian mulai turun mengecup leher jenjang Kikan dan meninggalkan beberapa kissmark di sana. Adrian belum puas dan ingin meminta lebih tapi Kikan sudah mendorong Adrian untuk berhenti. Adrian mengangkat kepalanya menatap mata Kikan yang teduh lalu merengkuh kepala Kikan untuk diletakkan di dadanya.


"Maafkan aku, aku terlalu merindukanmu ... ", ucap Adrian sambil mengecup rambut Kikan. Kikan hanya terdiam di dada bidangnya, mendengar denyut jantung Adrian yang tadi berpacu cepat kini kembali stabil. Kikan memeluk pinggang Adrian yang mulai dingin karena angin malam. Untuk beberapa saat mereka hanya saling diam dan memandang bintang di langit yang semakin gelap.


"Kamu ingin pulang ?", tanya Adrian akhirnya. Kikan mengangguk dan melepaskan pelukannya. Kemudian mereka sudah berada di dalam mobil untuk kembali pulang.


"Apa aku perlu mengantarmu ke apartemen ?", tanya Kikan.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa memesan taxi dari rumahmu. Ini sudah malam lagipula aku tidak bisa menjamin kamu pulang dalam keadaan utuh kalau harus mengantarku ke apartemen ", ucap Adrian menggoda lagi.


"Kamu bisa-bisanya sih bercanda ", ucap Kikan sambil mencubit perut Adrian.


"Awww ... sakit sekali cubitanmu ", teriak Adrian membuat Kikan tertawa geli.


"Kamu besok kerja ?", tanya Kikan.


"Iya, banyak pr hasil bisnis trip kemarin yang harus kubahas ". Kikan hanya diam mendengar jawaban Adrian. Dia pasti akan sibuk lagi, pikir Kikan.


"Kenapa ? kok diem lagi ?". Kikan hanya tersenyum.


"Gak pa-pa kok ", jawab Kikan bohong.


"Kamu takut kujadikan nomer dua ya ?". Kikan menoleh cepat.


"Nomer dua gimana ?", tanya Kikan.


"Nomer dua setelah pekerjaanku ....., tenang saja, Sayang, kamu itu selalu nomer satu. Aku akan selalu mengusahakan mengatur waktuku hanya sekedar untuk bertemu kamu. Kamu jangan kuatir ya ", ucap Adrian sambil mengelus rambut Kikan.


"Aku paham kok, bos !", jawab Kikan sambil mengerling. Adrian tersenyum melihatnya.


"Aku pesankan taxi online ya ?", ucap Kikan begitu mereka sudah sampai rumah Kikan. Adrian mengangguk lalu bersandar di kursi kemudi.


"Aku tidak mampir ke dalam gak pa-pa kan ? Aku mengantuk sekali ", ucap Adrian sambil menguap matanya sudah tampak sayu.


"Iya gak pa-pa, nanti aku pamitkan ke ayah dan ibu", ucap Kikan. Tak lama setelah itu taxi online pesanan Adrian datang.

__ADS_1


"Aku pulang dulu ya, besok aku telpon ", ucap Adrian sambil masuk ke dalam taxi online. Kikan mengangguk dan bergegas masuk saat taxi online yang mengantar Adrian sudah menjauh.


__ADS_2