Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Ulang tahun Raka


__ADS_3

 


Hari ini genap satu tahun umur Raka, Kikan bermaksud mengadakan pesta kecil-kecilan untuk putra kecilnya itu. Sudah dari pagi Kikan sibuk menyiapkan semuanya, mulai dari menghias rumah, menyiapkan makanan dan minuman, menyiapkan bingkisan untuk dibawa pulang. Kali ini Kikan hanya mengundang anak-anak panti dan kerabat dekat saja. Kikan hanya ingin membuat putra kecilnya itu merasakan kebahagiaan berkumpul dengan keluarga dan berbagi kebahagiaan dengan orang lain.


"Kikan ... nanti anak-anak panti di jemput Bobby jam berapa ?", tanya ibu.


"Seharusnya sekarang sudah dijemput Bu. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang. Ayo, Raka kita bersiap di depan yuk !", jawab Kikan.


"Iya, ayo kita tunggu di depan saja", ajak ibu kemudian.


"Assalamualaikum ....", sapa mami Tiwi begitu Kikan keluar.


"Waalaikumsalam ..., Mami... ayo masuk. Papi dan Galuh mana ?", tanya Kikan.


"Galuh datang agak terlambat, kalau Papi, itu sudah ngobrol dengan Ayah ", jawab mami Tiwi.


"Aduh ..... cucu Oma sudah ganteng banget nih ". Kini mami Tiwi mulai menyapa Raka yang langsung senyum-senyum.


"Aduh ... manis banget kalau tersenyum, sini biar Mami gendong, Kikan", ucap mami Tiwi sambil mengambil Raka dari gendongan Kikan.


"Raka sudah bisa jalan ya ?", tanya mami Tiwi begitu melihat Raka yang minta turun saat di gendongannya.


"Iya, Mi . Raka sudah bisa jalan meskipun masih tertatih", jawab Kikan.


"Coba sini, Oma lihat ya...", ucap mami Tiwi sambil menurunkan Raka. Dan benar saja begitu turun Raka mulai berjalan sambil tertatih, oleng kanan oleng kiri membuat yang melihatnya ikut tersenyum.


"Wah ... Raka sudah bisa jalan ya ?", seru papi Farid gembira melihat Raka yang jalan tertatih-tatih. Raka hanya meringis sambil memasukkan kedua tangannya ke mulut lalu berjalan lagi dengan sempoyongan dan akhirnya jatuh terduduk.


"Hahaha .... lucu sekali", seru Kikan tertawa melihat tingkah putranya.


"Kikan ..., itu Bobby sudah datang bersama rombongan anak panti. Ayo, segera kita mulai saja acaranya", ucap ibu mengingatkan.


Kikan langsung menoleh ke luar dan segera menyilakan anak-anak panti itu duduk di tempat yang sudah di siapkan. Sedangkan mami Tiwi bergegas menggendong Raka dan mengajak keluar bertemu dengan teman-teman nya. Acara lalu dimulai dengan pengajian bersama anak panti dipimpin dengan ustadz pengasuh panti tersebut. Kemudian berlanjut ke acara hiburan dan ramah tamah. Semua bersuka cita menikmati hiburan badut yang sudah disiapkan Kikan, lebih-lebih anak panti yang berusia balita. Kikan beruntung bisa memberikan sedikit kebahagian untuk mereka. Raka juga tampak senang dan tertawa bahagia melihat banyak teman yang datang ke pestanya.


"Mbak ..., bingkisan untuk anak pantinya dibagikan sekarang ya ?", tanya Amel. Kikan memang sengaja mengundang keempat karyawannya untuk hadir dipesta ulang tahun putranya ini.


"Iya, minta tolong dibantu ya Mel, sebentar lagi acara selesai kok", sahut Kikan.


"Siap Mbak !", ucap Amel yang langsung bangkit kemudian bersama Rika, Ida dan Yenni membagikan bingkisan untuk anak panti.

__ADS_1


Acara ditutup dengan doa dan ucapan selamat anak panti untuk Raka. Kikan berulang kali mengucapkan terima kasih atas kedatangan anak-anak tersebut. Setelah acara selesai, Bobby bergegas mengantarkan rombongan anak panti tersebut menuju bus kecil yang sudah disewa untuk diantarkan pulang.


"Alhamdulillah acara berjalan lancar", ucap ibu.


"Iya Bu, Alhamdulillah ...", jawab Kikan.


"Kikan ... ,Bude dan Pakde pamit dulu ya soalnya ada undangan manten ini", ucap Bude pamit.


"Aduh Bude ... kok buru-buru", ucap Kikan.


"Iya, Bude ada undangan manten, mau gak datang sungkan. Ya wes, makanya Bude pamit pulang duluan. Nanti biar Intan dan Bobby pulang belakangan", kata Bude lagi.


"Ya sudah, kalau gitu Bude. Terima kasih atas kehadirannya", ucap Kikan sambil mencium tangan Bude dan Pakde.


"Pakde, pulang dulu ya Nduk", ucap pakde sambil menepuk punggung Kikan. Kikan hanya mengangguk dan tersenyum lalu berjalan keluar mengantar kepulangan pakde dan bude.


Belum sampe, pakde dan bude masuk ke mobil, tiba-tiba Kikan melihat sosok Hendy dari kejauhan setengah berlari ke arahnya.


"Hendy .... kamu datang juga toh", pekik Bude terkejut.


"Iya, Bu. Tapi saya terlambat, tadi mampir ke rumah Tante saya. Ternyata Tante saya tetangga Kikan", jelas Hendy.


"Anu ... Bu ...". Hendy bingung mau menjawab apa dan mencoba melirik Kikan yang berdiri agak jauh darinya.


"Sudah Bu, nanti saja dilanjut. Kita sudah terlambat ini", kata pakde akhirnya menyelamatkan Hendy. Hendy hanya tersenyum mengangguk.


"Oh ... ya wes kalau gitu. Ibu duluan, Hen", seru Bude lagi sambil berlalu.


Kikan hanya tersenyum melihat tingkah kikuk Hendy di hadapan pakde dan budenya.


"Kamu kenapa tertawa ?", tanya Hendy begitu mendekat ke Kikan.


"Gak pa-pa lucu saja melihat kamu tadi", jawab Kikan datar dan segera berbalik mengajak Hendy masuk.


"Mana yang ulang tahun ? aku mau ngasih dia kado nih !", tanya Hendy begitu sudah di dalam rumah sambil mengeluarkan bingkisan yang sudah disimpan di tas tenteng nya tadi.


"Sebentar, aku panggil ya !". Kikan bangkit dan beranjak ke dalam mencari Raka. Bersamaan dengan mami Tiwi yang masuk dari taman samping menuju ruang tamu.


"Kikan ...", seru mami Tiwi celingukan memanggil Kikan sambil menggendong Raka yang tertidur.

__ADS_1


"Eh .. Kikan barusan masuk, Bu", jawab Hendy sopan.


"Oh .. ada tamu. Teman Kikan ya ?", tanya mami Tiwi.


"Iya. Wah, Raka tidur ternyata, padahal saya mau ngasih dia kado", ucap Hendy lagi.


"Iya, sepertinya dia kecapekan tadi senang sekali dia", kata mami Tiwi.


"Loh ... Mami sudah disini, Kikan cariin", seru Kikan yang tiba-tiba muncul dari dalam.


"Raka sudah tidur. Maaf, Mas, Raka sudah tidur. Aku simpan saja ya kadonya", ujar Kikan lagi. Hendy hanya mengangguk dan menyerahkan kado untuk Raka ke Kikan.


"Sini, Mi, biar Raka Kikan tidurkan", kata Kikan lagi.


"Gak pa-pa, biar Mami saja", jawab Mami sambil membawa Raka masuk ke dalam.


"Sebentar, aku bantu Mami dulu ya !", pamit Kikan ke Hendy. Hendy mengangguk lagi.


"Sini Mi, langsung di kamarnya saja tadi sudah Kikan rapikan kok", seru Kikan bergegas mengejar Mami Tiwi yang menggendong Raka.


Kikan membuka pintu kamar Raka, lalu mereka berdua masuk. Mami meletakkan Raka perlahan di ranjangnya sedangkan Kikan segera menyalakan AC supaya Raka tidurnya nyenyak.


"Dia kenalan mu , ya ?", tanya mami Tiwi setelah meletakkan Raka di ranjang. Kikan menoleh cepat dan segera duduk di samping mami.


"Dia hanya teman, Mi", jawab Kikan.


"Dia terlihat tertarik padamu", ucap mami lagi. Kikan hanya diam. Kemudian mami meraih tangan Kikan.


"Mami senang, kamu sudah bisa move on. Mami berharap kamu bisa menemukan kebahagiaan di luar sana. Kamu masih muda, cantik, berbakat banyak yang akan tertarik padamu dan kamu berhak untuk mendapat kebahagiaan. Mami akan selalu mendukungmu", ucap mami Tiwi sambil mengelus kedua tangan Kikan.


"Kikan hanya ingin berteman dulu, Mi. Kikan belum mau melangkah lebih, Kikan takut".


"Apa yang kamu takutkan ? kamu pantas kok dicintai. Buka hatimu Kikan !, itu yang seharusnya kamu lakukan ".


"Kikan takut ..., dia akan menolak keadaan Kikan".


"Tentang statusmu ? single parent tanpa status pernikahan ?. Dengar Mami, bukalah hatimu. Kalau memang dia mencintai mu, dia pasti menerima mu apa adanya, tanpa syarat. Sekarang, keluarlah jangan takut melangkah, jangan buat dia menunggu lagi. Mami akan mendukungmu, sayang", ucap mami lagi sambil mengecup kening Kikan. Kikan hanya mengangguk dan beranjak berdiri meninggalkan mami. Mungkin Hendy sudah menunggunya lama di luar.


 

__ADS_1


__ADS_2