Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Baby Boy


__ADS_3

 


Gara-gara kontraksi awal tadi membuat Mami Tiwi dan ibu Kikan khawatir, akhirnya mereka berdua bergegas datang ke rumah Kikan.


 


"Mami... Ibu, Kikan kan sudah bilang Kikan gak pa-pa. Tadi hanya kontraksi awal aja, mungkin kalau normal akan bertambah cepat tapi bisa juga malah bertambah lambat", ucap Kikan menjelaskan.


"Sudahlah Kikan , Mami dan Ibu tidak mau terjadi apa-apa padamu. Lebih baik kita berdua berjaga disini kalau-kalau kamu lahiran jadi tidak panik", jawab Mami Tiwi.


"Iya, Nduk daripada Ibu di rumah juga kepikiran terus, gak tenang. Wes, lebih baik disini saja, aman", jawab Ibu juga. Kikan hanya tersenyum, dia bahagia mendapat kasih sayang yang berlimpah dari dua orang ibu ini.


"Kamu sudah makan, Nduk ?", tanya ibu. Kikan mengangguk.


"Terus barang bawaanmu sudah disiapkan belum ?. Gedong, baju bayi, popok, korset, selendang, jarik, pembalut. Sudah semua kan ?", tanya ibu lagi.


"Sudah semua Bu, sudah Kikan siapkan di tas itu", jawab Kikan sambil menunjuk tas yang tergeletak di ruang tamu. Ya, Kikan sengaja meletakkan di ruang tamu supaya memudahkan membawanya.


"Sekarang Bi Ijah dan Mang Ujang kemana ? kok sepi semua ? kamu sendirian setiap hari kayak gini ?". Kini giliran Mami Tiwi yang mengomel.


"Mereka lagi istirahat, Mi. Biasanya mereka selalu nemani Kikan kok, Mi. Sekarang kan sudah ada Mami dan Ibu, jadi mereka Kikan suruh istirahat", jelas Kikan menenangkan mami Tiwi.


"Oh ya sudah kalau begitu, Mami bisa tenang sekarang". Kikan tersenyum melihat dua ibu yang sedang gelisah itu.


"Kamu kenapa kok senyam senyum, Nduk ?", tanya ibu.


"Gak pa-pa, Bu. Kikan hanya senang aja, Kikan merasa beruntung disaat kondisi seperti ini ada dua orang ibu yang super perhatian ke Kikan. Kikan bener-bener beruntung", ucap Kikan membuat Mami Tiwi dan ibu saling berhadapan dan kemudian memeluk Kikan.


"Kami juga beruntung memiliki kamu, Sayang", ucap mami Tiwi sambil mengecup kening Kikan.

__ADS_1


"Wes, sekarang kamu istirahat saja. Ini saat-saat yang penting, jadi kamu harus bisa mengecharge energi. Kalau bisa dibuat istirahat, istirahat saja. Kalau dibuat makan enak, makan saja. Kamu harus mempunyai banyak tenaga nanti", pinta Ibu.


"Iya Bu, ini Kikan mau istirahat kok. Mami dan Ibu juga istirahat ya". Mami Tiwi dan ibu mengangguk lalu mereka berdua mengantar Kikan ke kamarnya, duduk di samping kanan dan kiri Kikan sampai ia terlelap.


"Makasih ya Mi, mau meluangkan waktunya ?", ucap ibu begitu mereka sudah di luar kamar.


"Bu..., Kikan itu sudah seperti anak saya sendiri. Jadi, tidak usah bilang begitu. Saya senang melakukan ini. Andai saja Ranu masih hidup ....", ucap mami Tiwi lalu terdiam.


"Saya kadang masih merindukannya .... dia anak yang baik dan berbakti pada orang tua. Mengapa umurnya tidak panjang dan harus cepat meninggalkan kami. Saya benar-benar merindukannya. Kadang, saya kagum dengan Kikan yang mampu menjalani ini semua dan tetap tegar. Saya kagum padanya ..... Saya harap Ibu tidak keberatan kalau saya begitu menyayangi Kikan seperti anak sendiri", ucap Mami Tiwi.


"Tentu tidak, Mi. Saya bersyukur Kikan dipertemukan dengan orang yang baik dan menyayangi dia seperti anda. Mami gak usah bersedih lagi tiap mengingat Ranu, sudah ada Kikan dan anaknya yang akan segera lahir sebagai pengganti Ranu. Saya juga tidak melarang kalau Mami ingin merawat anak Kikan nantinya. Tapi tentu saja dengan persetujuan Kikan".


"Iya Bu, Kikan sangat menyayangi anaknya, dia pasti akan melakukan apapun untuk anaknya. Dia gadis yang hebat, beruntung saya mengenalnya". Ibu dan mami saling tersenyum lalu berpelukan menghantarkan beribu kasih sayang.


Sore ini, langit sangat tidak bersahabat petir sudah menyambar dari tadi lalu disusul suara hujan. Belum lagi suara angin yang bersiul kencang sekali. Bi Ijah dan mang Ujang sudah berulangkali mengecek keadaan rumah, takut bila ada yang bocor atau ada bagian atap yang tertiup angin


Mami Tiwi dan ibu sedang duduk bersantai di ruang tengah. Sedangkan Kikan, ia berulang kali berjalan mondar-mandir menahan sakit sambil mengatur nafasnya dan terus menghitung jarak kontraksinya.


 


"Semoga saja, hujan segera reda, Mi", jawab ibu. Mereka saling mengangguk mengiyakan.


Tiba-tiba, Kikan berhenti berjalan, dia merasakan sesuatu yang sangat sakit di perutnya dan bersamaan mengalir darah menetes di kakinya.


"Kikan .... kamu mungkin sudah pembukaan, Nduk", seru ibu kaget begitu melihat kaki Kikan. Kikan kembali diam lalu mengatur nafasnya lagi.


"Ayo... Kita harus segera ke klinik. Mang, cepat siapkan mobil", pekik Mami memanggil mang Ujang.


"Kikan masih kuat kok, Bu", ucap Kikan menguatkan sambil terus mengatur nafas.

__ADS_1


"Iya... tapi kita harus segera ke klinik, Nduk. Ibu takut kamu melahirkan disini", ucap ibu. Kikan hanya mengangguk.


Lalu mereka bertiga bergegas menuju mobil yang sudah disiapkan mang Ujang. Kikan segera masuk ke kursi belakang ditemani ibu sedangkan mami menyetir di depan ditemani Bi Ijah, mang Ujang disuruh menjaga rumah.


"Bismillah .... semoga jalan di depan tidak tergenang air sungai", ucap Mami Tiwi sebelum menyalakan mobil.


Dengan perlahan Mami Tiwi mengemudikan mobilnya menuju klinik menerobos hujan, petir dan angin yang terus bertiup kencang. Jarak rumah ke klinik tidak begitu jauh, namun karena cuaca yang tidak bersahabat mengharuskan mereka berjalan perlahan. Berulang kali mobil hampir terseret arus sungai yang mulai menggenangi jalan, namun untung mami Tiwi lihai mengemudikannya.


Akhirnya setelah hampir tiga puluh menit, mereka tiba di klinik. Kikan segera dipapah di kursi roda, dia sudah tidak kuat lagi berjalan, darah sudah membasahi dasternya. Mungkin sudah banyak pembukaan yang dia lewati tadi. Mami dan ibu hanya berharap Kikan dapat melewati semuanya dengan lancar. Kikan bergegas dibawah masuk ke ruang bersalin sudah ada dokter dan suster yang menunggunya.


Ibu dan Mami Tiwi hanya boleh menunggu di luar, mereka berdua saling berpegangan tangan sambil mulut mereka berdua komat Kamit membaca doa. Bi Ijah hanya terdiam sambil menundukkan kepala ikut berdoa semoga Kikan dapat melalui dengan selamat.


Setelah menunggu hampir dua jam-an, akhirnya terdengar sebuah suara tangis bayi. Mami Tiwi, ibu dan Bi Ijah saling tersenyum. Lalu kemudian tak lama disusul suara kaki keluar dari ruangan itu.


"Sudah lahir Bu, cucunya laki-laki dan sehat", ucap suster yang memberitahukan berita bahagia.


"Bagaimana keadaan ibunya, Sus ?", tanya ibu.


"Ibunya juga sehat, semua sehat tapi sekarang masih diobservasi. Tunggu satu jam lagi ya Bu?". Mami, ibu dan Bi Ijah mengangguk berbarengan. Mereka bertiga tersenyum bahagia, sepertinya satu kekhawatiran berkurang sudah.


"Mi ..., gimana Kikan ?", tanya papi Farid yang tiba-tiba datang bersama Galuh dan ayah.


"Alhamdulillah, sudah lahir Pi. Bayi laki-laki, tapi mereka masih diobservasi kita disuruh tunggu satu jam lagi", jawab mami.


"Alhamdulillah .....", suara syukur keluar dari mulut mereka bertiga.


"Kalian kok bisa bareng kesininya ?", tanya mami lagi.


"Tadi Papi barusan datang dari luar kota dikabari Galuh lalu langsung ke rumah kayu disana ketemu ayah Kikan ya sudah langsung bareng kesini".

__ADS_1


"Iya...., tadi Ibu berangkat tergesa-gesa tidak mau menunggu Ayah. Padahal Ayah sudah perjalanan pulang. Tapi, sudahlah yang penting Kikan dan bayinya sehat. Ayah senang sekali ", ucap ayah. disambut tawa mereka berlima.


__ADS_2