Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kebingungan ibu


__ADS_3

Pagi ini Kikan sudah bangun, dia sudah bersiap mengemas pakaiannya, mandi dan merapikan kamar Ranu tempat ia beristirahat semalam.


"Tok tok tok ", bunyi ketukan di pintu membuat Kikan terhenti aktivitasnya.


"Kamu sudah siap Sayang ?", tanya Mami Tiwi begitu Kikan membuka pintu kamar. Kikan mengangguk.


"Baik, kalau gitu sini Mami bantu bawakan tasmu", ucap mami lagi sambil segera meraih tas Kikan.


"Sudah siap Kikan ?", tanya papi Farid yang sudah menunggu di bawah.


"Iya Pi ", jawab Kikan sambil tersenyum.


"Kalo gitu ayo kita berangkat Pi !. Mungkin Kikan ingin menikmati udara pagi disana". Papi mengangguk dan segera bergegas bangkit.


"Hati-hati ya Kak !", ucap Galuh sambil memeluk Kikan sebelum ia beranjak pergi. Kikan membalas pelukan Galuh dan tersenyum.


"Sudah ... nanti kan kamu bisa main ke sana Luh", ucap mami sambil menyuruh Galuh melepaskan pelukannya.


"Ikh ... Mami ganggu aja deh", gerutu Galuh. Kikan tersenyum lalu mengacak poni Galuh. Ia sudah menganggap Galuh seperti adik sendiri. Kikan lalu bergegas berjalan mengikuti mami dan papi ke mobil.


"Kikan ... nanti kamu akan ditemani Bi Ijah dan Mang Ujang ya ?. Mereka orang kepercayaan Ranu yang ditugaskan untuk menjaga dan merawat rumah itu. Mungkin kamu sudah pernah bertemu mereka ya ?", ucap mami Tiwi begitu mereka sudah di dalam mobil. Kikan hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan mami Tiwi.


"Maafkan Mami mungkin selama 2 minggu ini tidak bisa sering menjengukmu disana. Mami dan Papi ada perjalanan bisnis ke luar kota. Nanti kalo urusan kami sudah selesai, Mami segera kesana ya", terang mami lagi.


"Iya Mi, Kikan paham kok. Mami dan Papi tidak usah mengkhawatirkan Kikan. Kikan bisa menjaga diri kok", ucap Kikan menenangkan sambil tersenyum.

__ADS_1


Hampir satu jam setengah perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah kayu, rumah yang dimaksud Kikan. Suasana saat itu masih temaram, matahari belum bersinar dengan sempurna. Kikan turun dari mobil, ia menghirup udara pagi yang terasa segar hingga memenuhi paru-parunya. Mami bergegas turun dan memanggil Bi Ijah dan Mang Ujang untuk membantu membawa bawaan Kikan. Kikan berjalan perlahan menikmati suasana yang temaram dengan udara sejuk pegunungan.


"Kikan ... ayo sini masuk !", ajak mami Tiwi memanggil Kikan. Kikan menurut dan bergegas masuk.


"Bi Ijah dan Mang Ujang sudah kenal Kikan kan ?", tanya mami begitu Kikan masuk. Mang Ujang dan Bi Ijah mengangguk berbarengan.


"Sudah Bu, Mas Ranu sudah pernah cerita dan membawanya kesini waktu itu", ucap Bu Ijah.


"Ya sudah kalau begitu.... Kikan akan tinggal disini seterusnya. Saya harap Bibi dan Mang mau menjaganya ya ?".


"Iya Bu, itu sudah tugas kami. Mas Ranu sudah pernah cerita kok", jawab Mang Ujang.


"Syukur deh, kalau kalian mengerti. Sekarang tolong letakkan barang-barang Kikan di kamar ya ?". Mereka berdua mengangguk dan bergegas mengangkat barang-barang Kikan untuk diletakkan di kamarnya.


"Kikan kamu mau sarapan apa ? biar disiapkan sama Bi Ijah ", tanya mami Tiwi kemudian.


"Baiklah, Mami suruh siapkan yang ada saja ya ?", ucap mami lalu bergegas ke dapur mencari Bi Ijah.


Sedang Kikan meneruskan jalan-jalannya menelusuri rumah ini. Dulu Ranu hanya mengajaknya jalan-jalan ke luar rumah ini tapi dia belum melihat seisi rumah.


Kikan melihat seluruh ruangan yang tertata rapi. Mulai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan hingga teras belakang yang menghadap kolam diatur rapi penataannya. Ranu memang arsitek yang hebat, dia bisa mendesain rumah sedemikian indah. Akh, bangganya aku padamu mas, pikir Kikan dalam hati.


Sementara itu di rumah Kikan, ibu sudah bangun dari subuh tadi. Ia sibuk menyiapkan sarapan nasi rawon untuk Kikan. Ibu ingin mencoba bicara lagi dengan Kikan. Beliau tidak tahu apa yang harus dilakukan, hasil rapat keluarga tadi malam sungguh membuat ibu kebingungan.


"Kikan sudah bangun Bu ?", tanya ayah tiba-tiba sudah disamping ibu.

__ADS_1


"Gak tahu Yah, aku belum mengeceknya. Habis ini aku mau lihat Yah ". Ayah mengangguk lalu menyeruput kopi yang sudah disiapkan ibu.


"Yah ... apa kita jadi memberitahukan Kikan soal hasil rapat keluarga semalam ?". Ayah terdiam.


"Aku gak tega Bu memberitahunya, tapi kalau tidak diberitahu cepat atau lambat dia akan tahu juga. Sebenarnya aku menyesal Bu, harus memberitahu masalah ini ke keluarga besar. Tapi gimana lagi mereka sudah terlanjur tahu", ucap ayah bingung.


"Entahlah Yah, aku juga tambah bingung kok kalau berurusan dengan keluarga besar. Tapi sudahlah .... aku tidak mau membahasnya dulu. Aku bangunkan Kikan dulu, tadi malam dia tidur mulai sore jadi tidak sempat makan malam".


"Ya sudah ... cepat bangunkan Kikan", suruh Ayah.


Ibu bergegas berjalan ke kamar Kikan setelah mengetuk beberapa kali tidak ada jawaban, ibu membuka kamar Kikan yang tidak terkunci. Ibu melihat onggokan guling yang ditutup selimut di atas ranjang. Ibu segera membukanya tapi tidak ada Kikan. Ibu segera mengecek ke kamar mandi siapa tahu Kikan sedang mandi namun kamar mandi juga kosong. Dimana Kikan ?, pikir ibu. Ibu melihat lemari pakaian dan peralatan make up Kikan yang hampir kosong. Kikan pergi, Kikan pergi ...


"Ayah .... Kikan .... Kikan gak ada di kamarnya ", ucap ibu panik menemui ayah.


"Maksud Ibu ... Kikan pergi ?. ", tanya ayah bergegas ke kamar Kikan. Ayah kemudian memeriksa kamar mandi dan lemari pakaian Kikan.


"Kikan ...minggat Yah ....", ucap ibu kini sambil terduduk lemas dan menangis tersedu.


"Mungkin dia mendengar percakapan kita tadi malam jadi dia memutuskan untuk pergi. Aku benar-benar menjadi orang tua yang tak berguna Yah", tangis ibu makin menjadi.


"Sabar Bu .... bukankah tadi malam kamu mengeceknya lagipula semalam ada Bobby di belakang seharusnya dia tahu kalau Kikan pergi", ucap ayah. Tapi ibu hanya menggelengkan kepalanya sambil terus menangis.


"Kasihan Kikan Yah, ini semua salah kita seharusnya kita tidak membiarkan keluarga besar kita mengurusi masalah ini. Kasihan Kikan ... dimana dia sekarang ?", ucap ibu masih dengan isak tangisnya.


"Sabar Bu.... Ayah akan coba telepon Kikan ", ucap ayah sambil mulai menelepon Kikan namun percuma hp Kikan tidak aktif.

__ADS_1


"Ayah akan coba telepon teman-temannya, Ibu sabar ya !", ucap ayah menenangkan.


Ibu hanya terdiam. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu, ia telah membuat anak semata wayangnya sengsara dan menderita. Ibu hanya bisa menangis sambil membayangkan hal-hal yang tidak diinginkan menimpa Kikan. Lalu tiba-tiba ibu teringat akan mami Tiwi, ibu Ranu. Ya .... mungkin mami Tiwi tahu keberadaan Kikan. Ibu segera mengambil hpnya mencari kontak mami Tiwi dan meneleponnya. Namun, sama seperti hp Kikan hp mami Tiwi juga tidak dapat dihubungi. Ya Tuhan apa yang harus kulakukan sekarang, pikir ibu sambil terus menangis.


__ADS_2