Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Pinangan Ranu


__ADS_3

"Mas yakin akan bicara dengan ayah soal mau melamar aku ?", tanya Kikan begitu mobil mereka sudah berhenti di depan rumah Kikan.


"Iya, memang nunggu apa lagi ?. Aku sekarang sudah kerja. Aku gak mau lama-lama menunda. Aku gak mau kamu nanti diambil orang". Kikan terkekeh mendengar alasan Ranu.


"Emang siapa yang mau ngambil aku ?".


"Ya, banyaklah kamu sekarang kan tambah cantik tambah dewasa, apalagi pagelaranmu tadi sukses. Aku gak mau nunggu lama-lama".


"Oke deh, terserah Mas Ranu saja deh". Kikan segera bergegas membuka pintu mobil beranjak turun.


"Tunggu dulu ", ucap Ranu tiba-tiba. Kikan menoleh.


"Apalagi mas ?".


"Beri aku kekuatan dulu, kadang walau sudah pacaran lama aku masih sedikit keder menghadapi Ayahmu".


"Mas Ranu apaan sih ?".


"Sini, sun sini aja ", pinta Ranu sambil menunjuk pipinya. Kikan hanya tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Ranu sedangkan Ranu tersenyum kegirangan.


"Nah, sekarang aku sudah punya keberanian".


Kikan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ranu. Begitu sampai di dalam Rumah, Kikan segera menyilakan Ranu duduk dan masuk ke dalam memanggil ayah dan ibunya.


"Bu, Mas Ranu ingin bicara sama ayah, katanya penting."


"Emang bicara apa ?, ini sudah malam mbok besok pagi aja", kata ibu.


"Tolonglah Bu, ini bener-bener penting", pinta Kikan.

__ADS_1


"Ada apa Kikan ?", tiba-tiba ayah muncul dari balik pintu.


"Itu Yah, Mas Ranu ingin bicara sama Ayah, penting katanya".


"Harus malam ini memangnya ?", tanya ayah. Kikan mengangguk.


"Ya wes, suruh tunggu". Kikan mengangguk dan bergegas keluar.


"Sebentar Mas, Ayah habis ini keluar", kata Kikan begitu sudah di ruang tamu. Ranu hanya mengangguk.


"Kata Kikan nak Ranu mau ngomong penting sama Ayah, mau ngomong apa ya ?". Tiba-tiba ayah keluar dan langsung duduk di samping Ranu dan Kikan.


"Iya, Ibu bilang besok pagi aja Kikannya gak mau ada masalah opo toh ?". Ibu ikutan keluar sambil membawakan minuman untuk Ranu dan ayah.


"Iya, maaf Ibu dan Ayah kalau mengganggu istirahatnya. Soalnya Ranu akhir-akhir ini sibuk, jarang kemari jadi pas kemari Ranu ingin ngobrol sama Ayah dan Ibu".


"Emang sibuk opo toh Nak Ranu kan sudah gak kuliah lagi, masih sibuk ternyata", cerocos ibu.


"Oh, Iyo toh cepet sekali. Alhamdulillah kalo gitu, selamat ya Nak". Ranu hanya tersenyum dan mengangguk.


"Memang kerja dimana ? bagian apa ? trs gajinya piye ? banyak toh ?", tanya ibu membabi buta. Ayah langsung melirik ibu.


"Maaf, maaf Nak Ranu, Ibu kesenangan jadi lupa kalo Nak Ranu mau ngomong penting sama Ayah".


"Iya, kamu mau ngomong apa tadi ?", tanya ayah.


Ranu diam, lalu menghela nafas dalam-dalam.


"Saya ingin lebih serius dengan Kikan, yah. Saya bermaksud melamar Kikan menjadi istri saya".

__ADS_1


Ayah manggut-manggut mendengar ucapan Ranu.


"Kamu sudah yakin ?. Kikan itu anak manja, gak bisa masak, gak bisa mengurus rumah. Dia juga belum lulus kuliah, jadi belum punya apapun untuk dibanggakan. Apa kamu sudah yakin menjadikan Kikan istrimu ?. Ingat menikah cuman sekali, Kikan juga anak Ayah dan Ibu satu-satunya, Ayah tidak ingin dia kecewa atau bahkan sakit hati. Apa kamu yakin bisa menjaganya ?. Apa keluargamu mau menerima dan memperlakukan Kikan dengan baik ?. Ayah tidak mau bila suatu saat kalian berdua menyesal".


"Insya Allah saya bisa menjaganya Yah, keluarga saya juga sudah mengenal Kikan dengan baik saya rasa tidak ada masalah. Saya sudah menerima semua kekurangan dan kelebihan Kikan. Saya mencintai Kikan apa adanya Yah". Ayah manggut-manggut saja lalu diam.


"Yah, kok diam aja sih ? gimana diterima gak ?", tanya Kikan memecahkan keheningan.


"Kamu sendiri gimana Kikan ? sudah yakin dengan Ranu ? Ayah gak ingin kamu menyesal Nduk", ujar ayah akhirnya.


"Gak Yah, Kikan sudah yakin. Insya Allah Mas Ranu calon suami Kikan yang terbaik", jawab Kikan. Ayah dan ibu tersenyum mendengar ucapan Kikan.


"Ya wes, Ayah terima pinanganmu Ranu. Tapi Ayah ingin yang formal kamu harus mengajak keluarga mu untuk melamar Kikan. Lalu nanti kita bisa menentukan tanggal pernikahan kalian".


"Iya, Yah segera saya mengajak Mami dan Papi ke rumah".


"Yah sudah kalo gitu, ini sudah malam kalian pasti capek semua. Nak Ranu, Ayah gak ngusir tapi ini sudah malam." Ranu mengangguk.


"Iya, Saya sekalian pamit, Ayah Ibu.... " Ranu bangkit diikuti Kikan.


"Kikan antar sampai depan ya Yah ?". Ayah mengangguk lagi.


"Aku pulang ya .... ", pamit Ranu begitu di depan mobil.


"Hati-hati Mas ", ucap Kikan sambil masih memegang tangan Ranu.


"Mimpiin aku ya ". Kikan tersenyum mendengar ucapan Ranu. Kemudian Ranu memeluk Kikan erat.


"Aku beruntung memilikimu", ucap Ranu sambil menatap wajah Kikan. Wajah mereka saling mendekat dan kembali bibir mereka saling bertemu, menaut satu sama lain hingga seperkian menit.

__ADS_1


"Sudah malem mas .... ", ucap Kikan mencoba melepaskan pelukan Ranu. Ranu tersenyum dan juga melepaskan pelukannya.


"Ya, rasanya kalau sama kamu aku jadi lupa waktu. Aku pulang ya, besok aku kabari kapan keluargaku ke rumah mu", ucap Ranu sambil masuk ke mobil dan mulai menjalankannya. Kikan hanya mengangguk dan melambaikan tangannya. Ia tersenyum bahagia dan masuk ke dalam rumah dengan riang begitu mobil Ranu mulai berlalu.


__ADS_2