Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Pengakuan yang menyakitkan


__ADS_3

Kikan mengerjap-ngerjapkan matanya, ia merasakan pusing yang sangat dan perih di tangannya. Perlahan ia membuka matanya kebingungan melihat sekitarnya. Mengapa aku di rumah sakit ? mengapa aku tidak mati saja ? aku ingin bertemu mas Ranu, lalu perlahan air mata mengalir di pipinya. Kikan ingin bangkit namun pusing yang sangat menderanya. Aku tidak ingin disini, aku tidak mau sembuh, pekiknya dalam hati sambil berusaha bangkit.


"Kikan ..... kamu sudah bangun nduk "!, pekik ibu gembira begitu melihat Kikan sudah sadar saat masuk kamar tadi. Kikan terdiam dan berhenti berontak.


"Nduk ..kamu kenapa ? apa yang ada di pikiranmu ? kenapa kamu ingin mengakhiri hidupmu ? apa kamu pikir Ibu gak sedih kalau kamu tinggalkan", ucap ibu lirih sambil mengusap kepala Kikan. Kikan hanya diam, pandangan matanya masih kosong dan sayu.


"Kikan ... kalau kamu punya masalah katakan sama Ibu, Ibu yakin kita bisa selesaikan bersama. Jangan ambil keputusan sendiri Nduk, ada Ayah, ada Ibu, ada Mas Bobby dan juga Intan mereka semua sayang kamu. Ibu yakin mereka juga akan membantumu". Kikan terenyuh mendengar ucapan ibu lalu kemudian dia menangis sampai sesenggukan. Ibu mendekat, dipeluknya anak semata wayangnya itu sambil dibelai rambutnya.


"Maafin Kikan Bu .....", akhirnya Kikan berbicara diantara Isak tangisnya.


"Kikan sudah ngecewain Ibu, mencoret nama baik keluarga kita, membuat aib Bu .....", Kikan makin keras menangisnya namun ibu tidak melepaskan pelukannya, beliau semakin membelai Kikan dengan kesabaran.


"Sudah Nduk ... kalau kamu tidak mau cerita sekarang gak pa-pa tapi kamu harus berjanji pada Ibu tidak akan melakukan perbuatan nekat seperti kemarin lagi ya. Ibu tidak mau kehilanganmu Kikan". Kikan mengangguk lalu mengusap bekas airmata dengan punggung tangannya.


"Kamu sudah baikan ?". Kikan mengangguk.


"Syukurlah kalo gitu, kamu lapar bukan ?. Ayo sini Ibu suapi, biar tubuhmu kuat lagi ". Kikan tersenyum lalu mau membuka mulutnya saat ibu menyuapkan sesendok penuh nasi ke mulutnya.


Ia merasa sedikit bahagia melihat ibunya tidak marah. Apa ibu sudah tahu tentang kehamilanku ya ?. Tapi mengapa beliau tidak marah. Akh, aku harus berkata jujur padanya, aku tidak mungkin memendamnya terus menerus karena setiap bulan perutku akan membesar.


"Bu ....", ucap Kikan akhirnya setelah ibunya menyuapkan nasi terakhir ke mulutnya.


"Ada apa Nduk ?".

__ADS_1


"Apa Ibu akan marah kalo aku membuat aib keluarga ?", tanya Kikan lagi.


"Apa maksudmu Nduk ?" kata ibu balik bertanya.


"Kikan sekarang sedang hamil anak mas Ranu Bu". Ibu kaget dan hanya menutup mulutnya dengan tangan. Ternyata benar, penjelasan dokter itu, pikir ibu.


"Maafkan Kikan Bu, hal ini sebenarnya adalah sebuah kecelakaan dan kesalahan yang telah aku dan Mas Ranu perbuat. Kemarin salah satu alasan kami memajukan tanggal pernikahan adalah karena kehamilan Kikan ini Bu. Mas Ranu dan Kikan tidak mau melihat Ibu dan Ayah kecewa oleh sebab itu kami merahasiakannya. Namun sayang, ternyata takdir berkata lain. Mas Ranu mengalami kecelakaan juga gara-gara Kikan. Dia ingin menjemput Kikan sehabis kontrol kehamilan. Oleh sebab itu dia ngebut mengendarai motor sampai tidak memperhatikan sekitar. Kikan melihat tubuh mas Ranu saat dibawa ambulan seusai kecelakaan tapi sayang saat itu Kikan tidak mengenalinya". Ibu semakin kaget mendengar penjelasan Kikan.


"Astaga Nduk .... kenapa kamu tidak bicara ke ibu ?".


"Kikan takut .... karena waktu itu Kikan usai kontrol kehamilan. Oleh sebab itu Bu, Kikan menyesal sekali, Kikan merasa tidak berarti di dunia ini. Kikan ingin menyusul mas Ranu saja rasanya".


"Jangan Nduk... jangan lakukan itu. Jodohmu sudah selesai sampai disini dengan Ranu. Kamu harus menjalani kehidupanmu lagi. Jangan banyak menyesal, bersedih kamu sudah cukup bersedihnya ". Tiba-tiba Kikan langsung tertawa kecil. Ibu yang heran mencoba bertanya lewat sorot matanya.


"Kalo begitu lakukanlah, jangan bersedih lagi. Ibu sudah kangen melihat senyuman di wajahmu Nduk".


"Lalu bagaimana dengan janin di perut Kikan Bu ? semakin bulan akan semakin membesar. Apa Ibu tidak malu mempunyai anak gadis yang hamil tanpa menikah ? apa kata tetangga Bu ?".


"Ayah dan Ibu akan memikirkan soal itu nanti. Sekarang Ibu minta kamu berjanji tidak akan melakukan hal nekat lagi ya Nduk. Janji ya ", ucap ibu sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


"Iya Bu, Kikan janji", ucap Kikan sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari ibunya. Lalu mereka saling berpelukan dan tersenyum.


"Kikan .... kamu gak pa-pa Nak", seru mami Tiwi tiba-tiba berhambur masuk ke kamar Kikan.

__ADS_1


"Mami Tiwi tau darimana Kikan disini ?", tanya Kikan yang kaget dengan kedatangannya.


"Bobby menelepon Mami, dia menceritakan segalanya", jelas mami Tiwi.


"Dasar Bobby, ember kok anak itu", gerutu ibu disambut tawa Kikan dan mami Tiwi.


"Bu, saya minta maaf atas nama Ranu karena telah membuat Kikan hamil", ucap mami Tiwi kemudian.


"Jadi Bu Tiwi tahu kalau Kikan hamil ?". Mami Tiwi mengangguk. Jadi hanya ayah dan ibu yang tidak tahu rahasia besarmu nduk, pikir ibu.


"Sudahlah Bu, tidak usah dibahas lagi. Yang penting sekarang Kikan sudah menerimanya dengan ikhlas semuanya".


"Saya juga menawarkan diri kalo misalnya ibu merasa kesulitan atau terbebani harus merawat Kikan di lingkungan keluarga besar ibu, saya sanggup merawat dan menjaganya sampai dia melahirkan juga gak pa-pa".


"Iya, nanti akan saya bicarakan dengan Ayah Kikan dulu Bu. Kami akan mencari solusi terbaik untuk Kikan".


"Bu ...., jangan salah paham ya. Tapi setelah saya kehilangan Ranu, saya merasa satu-satunya kenang-kenangan dari Ranu adalah janin di perut Kikan, anak Ranu. Saya sangat berharap saya diberi kesempatan juga untuk merawatnya nanti".


"Tentu Bu, bagaimana pun juga itu cucu kita berdua, kita akan merawatnya bersama tapi untuk sementara ini biarkan saya dan keluarga besar saya yang menentukan hal yang terbaik untuk Kikan dulu".


"Iya Bu, saya paham kok. Saya kesini hanya ingin menjenguk Kikan tidak ada maksud untuk turut campur terlalu dalam ke urusan keluarga ibu."


"Terima kasih ya Bu, untuk pengertiannya". Mami Tiwi tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


Padahal tadi rencana mami Tiwi akan membawa kabur Kikan kalo sampai keluarganya menolak Kikan dan menganggap Kikan aib keluarga, mencoret nama baik keluarga karena hamil di luar nikah tapi setelah mendengar penjelasan ibu Kikan mami Tiwi urungkan niatnya dan bersabar menunggu. Kalo memang dibutuhkan ia akan segera menolong Kikan untuk kabur dari keluarganya. Akh, kadang jadi geli sendiri mendengarnya seperti misi agen rahasia saja untung saja tadi papi tidak jadi ikut, pikir mami Tiwi sambil menahan geli di perutnya.


__ADS_2