
Adrian Dinata adalah cinta pertama Kikan yang dikenal di SMA. Waktu itu Kikan baru duduk di bangku SMA, wajahnya yang cantik dan sikap juteknya seakan membius kaum adam untuk berlomba mendekatinya termasuk Adrian Dinata, kakak kelas satu tingkat di atas Kikan. Adrian tidak hanya terkenal tampan dan keren tapi dia juga terkenal nakal dan preman sekolah. Banyak anak yang sudah mengenal Adrian karena kenakalannya dan hampir tidak ada anak yang berani menentang Adrian. Namun itu tidak berlaku pada Kikan, ia sangat anti banget dengan anak nakal dan segala masalahnya. Seperti siang itu, Kikan baru saja keluar dari sekolah dengan membawa alat peraga percobaan kimia yang baru saja dibuat bersama kelompoknya tiba-tiba dari arah berlawanan Adrian datang dengan motor besarnya mengagetkan Kikan dan membuat alat peraga itu jatuh dan pecah berantakan.
"Matamu ditaruh dimana sih, masa jalan gak lihat-lihat ?", ucap Adrian kasar.
"Mataku ya tetap ditempatnya, kamu tuh yang gak punya otak. Sudah tahu ini sekolahan, naik motor main kebut saja", ucap Kikan keras. Adrian terbelalak, baru kali ini ada yang berani membalas ucapannya.
"Hei ! siapa kamu ?. Kamu belum tahu ya ngomong sama siapa ?", ucap Adrian sambil melepas helmnya supaya Kikan bisa mengenalinya.
"Maaf, kamu bukan orang penting yang harus saya ingat jadi bagiku kamu tuh sama saja kayak aku, murid di sekolah ini dan harus mematuhi peraturan disini", ucap Kikan lagi.
"Wah ... brengsek nih anak", sungut Adrian segera turun dari motornya dan menghampiri Kikan. Kikan hanya diam tak berkedip menatap Adrian yang penuh amarah tengah berdiri di hadapannya. Adrian yang awalnya marah segera reda begitu melihat wajah cantik Kikan yang terlihat teduh dan damai, apalagi saat menatap matanya ada sejuta ketenangan yang di rasakan Adrian.
"Mau apa kamu ?", tanya Kikan begitu melihat Adrian hanya diam menatapnya. Adrian hanya diam kemudian berbalik ke motornya, menaikinya dan pergi meninggalkan Kikan. Sejak saat itu, Adrian mulai memperhatikan Kikan dan mencari tahu informasi tentang Kikan. Adrian sering memperhatikan Kikan dari jauh atau sekedar curi pandang saat mereka berpapasan. Hingga akhirnya pada suatu siang.
"Hei ! sini !", ucap Adrian sambil menarik lengan Kikan berusaha membawanya menjauh dari keramaian anak-anak pulang sekolah.
__ADS_1
"Kamu lagi ? mau apa lagi sih ?", ucap Kikan jengkel begitu tahu Adrian yang menarik lengannya.
"Kamu sudah punya pacar belum ?", tanya Adrian langsung. Kikan yang terkejut hanya menggeleng menjawab pertanyaan Adrian.
"Kamu mau gak jadi pacarku ?", tanya Adrian lagi.
"Gak mau, aku gak mau punya pacar berandal kayak kamu", ucap Kikan sambil menepis tangan Adrian dan berlari meninggalkannya. Huh, gagal lagi, pikir Adrian. Adrian tidak tinggal diam, ia terus melakukan berbagai cara untuk meyakinkan Kikan menjadi pacarnya. Mulai dari merubah sikapnya, yang dulunya suka bolos sekarang tidak, sudah mengurangi tawuran, sudah gak mentang-mentang lagi dan bergaya preman di sekolah, semua Adrian lakukan untuk mendapatkan perhatian Kikan. Kikan pun akhirnya luluh dengan semua cara yang dilakukan Adrian itu. Pernyataan cinta Adrian pun sangat unik dan mungkin masih terus diingat Kikan sampai sekarang.
Saat itu sedang ada acara pemantapan kepemimpinan siswa. Acara yang digelar di luar sekolah dan di alam bebas menjadi kacau saat turun hujan lebat yang bersahutan dengan petir dan guntur. Kikan yang sedang mengikuti acara itu begitu ketakutan, dari kecil Kikan sangat takut dengan hujan apalagi bila ada suara petir dan guntur. Saat semua peserta sudah mengungsi ke rumah peristirahatan, Kikan masih diam di dalam tenda. Ia menggigil kedinginan, kakinya terasa lemas, ia sudah tidak kuasa untuk berdiri apalagi untuk berjalan. Lalu tiba-tiba muncul Adrian masuk ke tenda Kikan dan menggendongnya keluar dari tenda dan membawanya ke tempat yang lebih aman.
"Jangan tinggalkan aku, Adrian. Aku takut suara petir dan guntur", ucap Kikan ketakutan. Adrian hanya tersenyum dan makin mempererat pelukannya. Adrian lalu menyanyikan lagu yang membuat Kikan tenang dan lupa akan rasa takutnya.
"Terima kasih, Adrian", ucap Kikan lebih tenang saat hujan sudah reda. Adrian hanya tersenyum.
"Apa kamu ingin mendengarkan nyanyian ku setiap hujan datang ?", tanya Adrian tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa maksudmu ?".
"Aku ingin selalu menjagamu, melindungimu dan mencintaimu. Apakah kamu mau menjadi pacarku ?", tanya Adrian lagi. Kikan hanya diam dan menunduk menutupi wajahnya yang mulai bersemu merah.
"Jawablah, aku bukan pembaca pikiran", ucap Adrian lagi.
"Ya ... aku mau", jawab Kikan membuat Adrian tersenyum kegirangan.
Sejak saat itu, Kikan resmi jadian dengan Adrian. Sejak saat itu juga Kikan jadi suka naik motor karena Adrian selalu mengajaknya kemana saja dengan motornya. Cinta pertama yang bersemi diantara mereka terasa begitu indah, sehingga membuat mereka melupakan semuanya. Adrian sering membonceng Kikan di motornya dengan kencang dan meliuk-liuk melintas jalanan kota. Tidak jarang pula, Adrian mengajak Kikan ikut menonton balapan motor yang sering diikutinya. Adrian memang seorang joki balapan motor, kepiawaiannya mengendarai motor membuat dia selalu menjuarai lomba. Bukan hanya lomba legal bahkan lomba ilegal sering Adrian ikuti. Mungkin karena kepiawaiannya Adrian sering lupa diri dan mengendarai motor semaunya seperti balapan saja meskipun di jalan raya.
"Plak !", bunyi tamparan ayah Kikan di pipi Adrian.
Ya, hari itu ayah melihat Adrian membonceng Kikan di jalan raya dengan kencang dan meliuk-liuk seperti balapan. Ayah marah melihat anak semata wayangnya berada dalam bahaya. Saat itu, ayah dan ibu tidak tahu kalau Kikan dan Adrian sedang berpacaran. Kikan tidak pernah menceritakannya sampai sekarang.
Sejak saat itu juga, ayah melarang Adrian bertemu Kikan apalagi bermain dengannya. Kikan sedih karena sejak dengan Adrian hari-harinya begitu indah. Sejak saat itu, Adrian mulai menjauh dari Kikan. Adrian sering tidak masuk sekolah hingga akhirnya Adrian benar-benar menghilang dan tidak pernah muncul lagi di hadapan Kikan sampai hari ini. Di cafe Mall tempat pertama kali Kikan bertemu Adrian lagi setelah bertahun-tahun. Entah, apa yang harus dirasakan Kikan antara senang, sedih, bahagia, marah semua bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Apakah nama Adrian masih ada di hatiku atau sudah terkubur jauh terpendam bersama kenangan cinta pertamaku yang kandas ? atau nama itu akan muncul lagi menorehkan cerita indah seperti dulu lagi ?. Apa aku masih mencintainya atau aku masih membencinya ?. Dia masih sama, tetap seperti yang dulu. Tubuh gagahnya, rahang kokohnya, lesung pipinya yang berbeda hanya rambut belah tengah yang sekarang klimis rapi tertata. Ah, Adrian ...., pikir Kikan.