Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Ibu yang ingin tahu


__ADS_3

"Nduk .... gimana acara grand opening kemarin setelah ibu pulang ?", tanya ibu tiba\-tiba.


 


Kikan hanya diam sambil terus melanjutkan sarapannya.


"Katanya .... ada yang datang ya ?", ucap ibu lagi membuat Kikan curiga. Darimana ibu tahu ?, pikirnya.


"Memang siapa yang datang Bu ?", kata Kikan balik nanya.


"Ya ... mungkin saja ada temanmu, atau kenalan barumu gitu ?".


"Maksud Ibu, Hendy kan ?", tandas Kikan akhirnya.


"Iya, Nduk. Dia beneran datang ? gimana tampangnya ? ganteng gak ?", kata ibu lagi. Kikan hanya diam dan tetap acuh meneruskan sarapannya.


"Kamu itu ... ditanyain kok diem aja, bikin Ibu penasaran saja", gerutu ibu akhirnya. Kikan menahan tawanya melihat ibu yang menggerutu seperti anak kecil.


"Darimana Ibu tahu kalau Hendy datang ke ruko ?", tanya Kikan kini.


"Ya ... dari siapa lagi kalau bukan dari Bobby. Bobby bilang, Hendy sudah datang ke ruko menemui mu saat grand opening kemarin".


"Huh .... dasar Bobby, gak berubah banget tuh anak. Dasar ember ....!", umpat Kikan.


"Sudah, jangan marahin Bobby. Dia kan cuman ingin membantumu saja". Kikan terdiam lagi.


"Kamu suka Nduk dengan Hendy ?", tanya ibu lagi. Kikan segera menoleh cepat ke arah ibu.


"Kalau gak suka juga gak pa-pa, kalian kan bisa berteman dulu", ralat ibu lagi.


"Kikan sudah pernah bilang Bu. Kikan gak mau menikah dulu, Kikan ingin menikmati semua ini dulu. Kikan gak mau cepat-cepat punya pendamping lagi Bu", jelas Kikan. Kini ganti ibu yang diam.


"Lagian kita baru ngobrol tiga puluh menitan masak sudah suka", gerutu Kikan. Kini ibu tersenyum.


"Nduk ... Ibu gak maksa kamu cepat nikah kok. Ibu cuman ingin kamu bisa membuka hatimu lagi, ya mula-mula dengan berteman siapa tahu lama kelamaan kalian akan cocok. Ibu juga tahu kamu bukan tipe yang gampang jatuh cinta. Apa kamu lupa bagaimana dulu Ranu mendapatkan mu ?. Kayaknya dia lama banget berteman dengan kamu baru kalian jadian. Ibu hanya ingin kamu bertambah temannya, tidak hanya di lingkup mu saja, ya ?", jelas ibu kini. Kikan hanya mengangguk tanda setuju.


"Oh ya, Raka dimana Bu ? sejak tadi pagi Kikan kok gak kelihatan ?", tanya Kikan.

__ADS_1


"Loh .... kamu ini ngelindur ya ?. Tadi malam Mami Tiwi kan sudah bilang mau ngajak Raka nginap di rumahnya hari ini. Makanya tadi pagi sudah dijemput Mami Tiwi. Kamu lupa ? kan kamu sudah ngijinin ". Kikan hanya tersenyum nyengir.


"Iya ... lupa Bu. Banyak yang harus dikerjakan sih".


"Waduh .... kamu itu sudah ibu-ibu kok masih kayak anak kecil aja tingkahnya ", seru ibu sambil berjalan ke dapur meninggalkan Kikan meneruskan sarapannya.


Kikan kini sibuk menghabiskan sarapannya. Ia berulang kali mengecek ponselnya, menjawab beberapa customer yang mulai mengajukan pesanan. Lalu tiba-tiba sebuah pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal masuk.


"Halo ! Selamat pagi Kikan, sudah sarapan belum ?. Awali hari dengan sarapan ya biar optimal kerjanya", tulis pesan itu. Kikan hanya mengangkat kedua alisnya sambil membaca pesan yang terkesan kaku tersebut.


Nomornya siapa ya ini ?, customer baru ? tapi kok pesannya gitu ?. Mana ada customerku yang mengingatkan buat sarapan ? paling-paling juga mereka tanya tentang baju pesanannya. Ah, cuekin saja paling juga orang iseng, pikir Kikan.


Baru saja Kikan meletakkan ponselnya di meja, kini ponselnya berdering kali ini panggilan telepon dari nomer tak di kenal itu. Dengan curiga, akhirnya Kikan terima juga telepon itu.


"Halo ...... ", sapa Kikan di telepon.


"Halo Kikan ?, sudah sarapan belum ?", tanya suara di seberang sok akrab.


"Sudah..., ini siapa ya ?", tanya Kikan bingung.


"Aku Hendy, masak sudah lupa ?. Ternyata pertemuan kemarin hanya berkesan di aku saja ya ..", jawabnya kini membuat Kikan bingung harus ngomong apa.


"Oh iya maaf ... kemarin aku lupa. Aku dapat nomormu dari Bobby".


"Oh ... begitu".


"Untuk seterusnya boleh kan aku menelepon mu di nomor ini ?". Kikan hanya mengangguk.


"Gak boleh ya ?", tanyanya lagi.


"Eh... boleh kok", jawab Kikan setelah sadar dia sedang menelepon saat ini.


"Kamu belum berangkat ?".


"Iya... habis ini. Habis sarapan, aku berangkat. Kalau kamu ?".


"Aku kebetulan sudah di kantor, ada meeting pagi ini. Besok siang, kamu mau makan siang bersamaku ?", tanya Hendy lagi. Busyet, cepet banget Hendy ini, baru kenal sudah ngajak makan pikir Kikan.

__ADS_1


"Lihat besok ya .... aku belum tahu jadwalku besok. Aku takut ada janji dengan klien. Besok aku kabari ya ", jawab Kikan.


"Oke deh kalau gitu. Aku tutup dulu ya teleponnya. Kamu hati-hati di jalan ya ?", ucap Hendy mengakhiri telepon.


"Iya", ucap Kikan kemudian menutup teleponnya. Huff ... mengapa ada orang se-kaku itu ya ?, pikir Kikan.


"Siapa yang telepon, Nduk ? Hendy ya ?", tanya ibu dengan senyum curiganya. Tidak diberitahu pun ibu pasti sudah tahu, pikir Kikan.


"Iya, Bu. Hendy yang nelpon", jawab Kikan acuh.


"Dia bilang apa saja ?".


"Dia bilang kalau dapat nomorku dari Bobby dan dia minta ijin kalau mau nelpon aku di nomor ini lagi".


"Loh ... memang kalian gak bertukar nomor telepon kemarin ?".


"Enggak Bu, lupa".


"Oalah ... masak hal sekecil itu bisa lupa. Terus dia bilang apa lagi ?", tanya ibu kian curiga. Kikan hanya diam dan terus menatap ibunya penuh pandangan kesal.


"Kenapa toh, Nduk ?. Apa salahnya Ibu ingin tahu sedikit tentang Hendy ", elak ibu. Kikan diam lagi dan mengalihkan pandangannya ke ponselnya.


"Dia ngajak Kikan makan siang besok", jawab Kikan acuh.


"Terus kamu mau kan Nduk ?. Sudah diterima saja, waktumu besok dikosongin saja".


"Enggak Bu, Kikan bilang lihat besok. Besok Kikan kabari", jawab Kikan ketus.


"Loh ... kok gitu sih Nduk. Nanti Hendy kecewa gimana ?".


Kikan diam saja tak menanggapi ucapan ibu. Kikan capek harus memberi pengertian terus ke ibu kalau dia sebenarnya malas berhubungan dengan cowok dulu. Dia masih ingin sendiri tapi percuma rasanya ngomong sama ibu. Daripada menyakiti hati ibunya lebih baik Kikan diam.


"Kikan berangkat dulu ya Bu. Amel dan Rika sudah pada datang lagian banyak kerjaan hari ini. Dah Ibu !", pamit Kikan sambil bergegas berlalu meninggalkan ibunya.


"Loh ... Hendy-nya bagaimana ? kamu belum bilang apa-apa sama Ibu", ucap ibu sendiri.


"Dasar anak ini selalu menghindar setiap ditanya tentang cowok, padahal itu demi kebaikan nya juga. Sampai kapan mau hidup sendiri terus, wong ya sudah punya anak juga. Apa gak kasihan sama anaknya ", gerutu ibu sendiri. Wes, mending sekarang telepon Bobby saja biar tahu jelasnya, pikir ibu. Ibu segera mengambil ponselnya menekan nomor Bobby dan begitu ada nada sambung.

__ADS_1


"Bobby ... ini Bulik. Bulik mau tanya soal Hendy .....".


__ADS_2