Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Hari yang ditunggu


__ADS_3

Episode berikut mengandung unsur 18+ , harap pembaca bijak menyikapinya


Kikan mematut dirinya di depan cermin dan lama terdiam. Kikan sudah tampil cantik dengan gaun pengantin rancangannya yang telah lama disimpannya. Gaun itu berwarna putih off shoulder dengan lace detail mengelilingi bagian dada hingga ke lengan ditambah ilusion sleves dan bagian bawah rok yang lebih mengembang menambah anggun penampilan Kikan.


Rambut Kikan sudah tertata rapi di model side chignon yang sangat cocok untuk wajahnya dan riasan minimalis yang tetap menonjolkan kecantikannya.


"Mama cantik banget .... ", pekik Raka yang terpukau menatap Kikan. Kikan hanya tersenyum mendengar ucapan Raka.


"Papa pasti cuka .... ", ucap Raka lagi.


"Papa ?", tanya Kikan bingung.


"Iya Ma, Om Kelen kan Papa Laka cekalang ", ucap Raka lagi. Kikan hanya tersenyum, putranya itu memang sangat menggemaskan.


"Kikan .... ", ucap mami Tiwi yang langsung menghambur memeluknya.


"Selamat ya, Sayang. Mami senang sekali, akhirnya kamu menemukan kebahagiaanmu. Mama yakin Ranu juga akan bahagia melihatmu. Kamu cantik sekali, Sayang ".


"Terima kasih, Mi. Terima kasih untuk doanya dan selalu mendukung Kikan ", ucap Kikan sambil tersenyum.


"Kamu sudah siap, Nduk ?", suara ibu mengagetkan mereka berdua.


"Kamu cantik sekali, Nduk .... ", ucap ibu terpukau.


"Adrian sudah datang, ayo kita keluar ", ajak ibu. Kikan dan Mami Tiwi mengangguk. Kemudian dengan diiringi ibu dan Mami Tiwi, Kikan keluar menuju tempat akad nikah.


Pernikahan Kikan dan Adrian kali ini diadakan di rumah kayu atas permintaan Kikan. Ia sangat suka suasana di sini, apalagi rumah kayu ini mempunyai halaman yang sangat luas sehingga cocok dijadikan pesta outdoor sesuai keinginan Kikan. Selain itu Kikan juga ingin Ranu ikut merasakan kebahagiaannya ini meskipun berbeda alam.


Sudah banyak tamu, teman dan kerabat yang datang. Memang sengaja Kikan dan Adrian tidak mengundang terlalu banyak orang. Selain karena terbatasnya waktu, Kikan dan Adrian memang lebih menyukai private party.


Kikan berjalan menuju tempat akad nikah. Taman belakang rumah kayu itu sudah disulap sedemikian indah. Adrian sudah menunggunya dan sekarang sedang tersenyum sambil terus menatap Kikan. Ia tampak sangat tampan dengan jas putihnya.


"Kamu cantik sekali, Sayang ... ", bisik Adrian ketika Kikan sudah duduk di sampingnya. Kikan hanya tersenyum mendengarnya.


"Sudah siap semua, baik mari kita mulai ", ucap pembawa acara. Acara pun dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran lalu memasuki acara inti saat Adrian mengucapkan akad nikah yang terdengar sangat merdu di telinga Kikan. Ada tetes airmata yang tanpa terasa mengalir di sudut mata Kikan. Berjuta kelegaan dan kebahagiaan merasuki sanubari Kikan membuat dia terus terharu.

__ADS_1


Adrian menyematkan cincin di jari Kikan lalu mencium lembut keningnya. Kemudian Kikan menyematkan cincin di tangan Adrian dan mencium punggung tangannya. Mereka tampak bahagia, senyuman terus tergambar di bibirnya begitu juga dengan kedua belah pihak keluarga.


Acara berlangsung sampai malam menjelang. Kikan dan Adrian sengaja tidak melanjutkan pesta pernikahan mereka sampai malam. Karena malam hari itu juga mereka langsung ke Bali untuk berbulan madu. Sebenarnya kalau boleh memilih, Adrian ingin membawa Kikan keluar negeri tapi berhubung semua serba cepat jadi yang dekat dulu saja.


Setelah hampir satu jam lebih perjalanan di pesawat dan satu jam perjalanan di darat, akhirnya mereka sudah sampai di villa yang sudah dipesan.


"Wah ... bagus banget Adrian ", ucap Kikan kegirangan. Ia suka melihat vila yang pemandangannya menghadap langsung ke pantai. Apalagi kamarnya, view-nya langsung ke pantai.


"Kamu suka ?", tanya Adrian sambil tersenyum.


"Iya, suka banget ", ucap Kikan masih kegirangan.


"Terus .... terima kasihnya mana ?". Kikan tersenyum lalu berjalan mendekati Adrian dan merangkul lehernya dengan manja.


"Terima kasih ... Adrian ... Sayang ... ", ucap Kikan sambil mencium pipinya.


"Kok pipi saja sih ? ... ", rengek Adrian. Kikan tersenyum sambil terus memandang Adrian yang menatapnya dengan penuh binar cinta.


"Kok malah senyum-senyum, nantangin aku ya ?", ucap Adrian lagi.


"Nantangin apa ?", tanya Kikan bingung sambil masih mengulum senyuman.


"Tunggu ...hmmppp ... Adrian ... ", ucap Kikan akhirnya bisa lepas dari pagutan bibir Adrian. Kini Adrian sibuk mencium leher jenjang Kikan.


"Adrian ... Sayang .... aku mau mandi dulu. Lepaskan dulu dong ", ucap Kikan mencoba lepas dari pelukan Adrian.


"Gak mau, salah sendiri siapa yang memulai ", ucap Adrian semakin menenggelamkan kepalanya di leher Kikan. Kikan hanya tersenyum sambil menahan geli karena ulah Adrian yang sudah meninggalkan beberapa kissmark di lehernya.


"Krucuk .... ", tiba-tiba perut Adrian berbunyi. Kikan tertawa mendengarnya.


"Kamu lapar ya ?", tanya Kikan setelah akhirnya Adrian menghentikan aksinya. Adrian hanya mengangguk.


"Kita makan dulu yuk, kita pesan online saja ya. Aku capek kalau harus keluar lagi ", ucap Adrian. Kikan hanya mengangguk. Adrian akhirnya meraih ponselnya dan segera mulai memesan makanan.


Tak berapa lama, pesanan mereka sudah datang. Kikan dan Adrian segera memakannya.

__ADS_1


"Makan yang kenyang ya, Sayang. Habis ini kita perang soalnya ", ucap Adrian sambil mengerling nakal seperti biasanya. Kikan hanya tersenyum malu mendengar ucapannya.


Kikan masih berdiri mematung menatap dirinya yang sudah selesai mandi. Ia memutuskan untuk mandi setelah makan tadi, badannya terasa lengket setelah beraktivitas seharian tadi. Ia menatap kembali tubuhnya di cermin dan merasa sedikit malu, ini yang pertama baginya. Memang ia pernah melakukannya dengan Ranu tapi disaat dan tempat yang salah. Dan Kikan tahu itu sebuah kesalahannya di waktu muda. Kikan takut, Adrian akan kecewa nantinya.


"Sayang ... kamu belum selesai mandinya ?", ketuk Adrian dari luar. Kikan segera tersadar.


"Sudah kok, Sayang ... sebentar lagi aku keluar ", ucap Kikan lagi. Kikan menghela nafas panjang, ia sudah tak peduli lagi dengan kerisauannya. Kikan yakin Adrian akan menerima apa adanya. Perlahan Kikan keluar dari kamar mandi, tampak Adrian yang sudah tersenyum manis duduk menunggu di ranjang.


"Kesinilah .... !", ajak Adrian sambil menepuk ranjang yang didudukinya. Kikan melangkah perlahan ke arahnya. Ia masih mengenakan jubah mandinya meskipun sebenarnya Kikan sudah mengenakan lingerie tapi ia malu memperlihatkan ke Adrian.


"Kamu belum berpakaian ?", tanya Adrian saat Kikan sudah duduk di sampingnya.


"Sudah ", jawab Kikan malu.


"Kenapa tidak melepas jubah mandinya ?". Kikan terdiam lalu ragu-ragu dia melepas jubah mandinya. Kini yang terlihat, Kikan dalam balutan lingerie warna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Adrian tersenyum sambil terus menatapnya.


Adrian mendekat mencoba memulai mencium bibir Kikan namun belum sampai Adrian menempelkan bibirnya, Kikan sudah menahannya terlebih dulu.


"Kenapa ?", tanya Adrian bingung.


"Aku takut kamu kecewa ", ucap Kikan ragu. Adrian tersenyum mendengar ucapan Kikan.


"Apa aku terlihat kecewa hari ini ?", kata Adrian. Kikan menggeleng cepat.


"Lalu mengapa kau bertanya seperti itu ?". Kikan menunduk, bingung mau menjawab apa.


"Aku takut ... aku takut aku tidak seperti yang kau harapkan ", ucap Kikan ragu.


"Dengar ya Sayang .... aku bukan cowok yang naif tapi aku sudah menerima masa lalumu, jadi jalani saja. Toh, kamu tidak bisa merubah masa lalumu kan lagipula dengan masa lalu yang telah kau lewati kamu jadi sekuat ini. Aku mencintaimu Kikan ... aku mencintaimu apa adanya bagaimanapun keadaanmu. Jadi berhentilah mencemaskan masa lalu mu ", ucap Adrian sambil memeluk Kikan. Kikan hanya terdiam dan sedikit terharu mendengar kata-kata Adrian.


"Sekarang, apa aku boleh memulainya ?. Juniorku sudah bereaksi sejak melihatmu melepas jubah mandi mu tadi ", bisik Adrian. Kikan hanya tersenyum dan mengangguk malu-malu.


Adrian tersenyum menatap Kikan lalu mulai mencium bibirnya, memagutnya lama. Kemudian Adrian mulai menelusuri leher jenjang Kikan dengan bibirnya sambil tangannya sibuk menyelusup ke lingerie Kikan mencoba mencari daerah sensitif Kikan. Kikan hanya menggeliat kegelian merasakan setiap sentuhan Adrian.


Adrian makin bersemangat menelusuri setiap inci tubuh Kikan sambil terus memujinya. Ia tidak ingin melewatkan satu inci pun tampak memberikan kissmark. Ia benar-benar menyalurkan semua hasratnya yang sudah lama tersimpan.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Sayang .... ", bisik Adrian di telinga Kikan sambil terus menciumnya. Kikan hanya tersenyum dan semakin mempererat pelukannya.


Akhirnya malam itu mereka melakukan hubungan suami istri untuk pertama kali. Meskipun pada awalnya Adrian pikir tidak akan kesulitan karena Kikan sudah pernah punya anak tapi nyatanya ia salah. Ia masih kesulitan melakukannya dan Kikan juga kesakitan. Entahlah, kadang semua yang ditakutkan dan menjadi kecemasan berubah menjadi kebahagiaan tidak sesuai dengan hayalan kita. Ada berjuta keindahan dan ketentraman di hati mereka masing-masing. Seakan penantian mereka setelah sekian lama sudah terbayar.


__ADS_2