
Seminggu berlalu sejak foto prewedding itu, kini Kikan kembali sibuk mempersiapkan baju pengantin pesanan Tania. Ia tahu Adrian telah memilihnya dan masih berjuang untuk mempertahankan cinta mereka. Tapi Kikan juga sadar dia tak akan bisa memenangkan persaingan ini sedangkan waktu terus berjalan semakin cepat. Sampai kapan aku sanggup bertahan dan menunggu sebuah kepastian yang semakin jauh kurengkuh, gumamnya.
"Mbak .... ada Mbak Tania datang !", seru Amel membuyarkan lamunannya.
"Tania ? aku tidak ada janji dengannya hari ini ", gumam Kikan.
"Saya sudah menyuruhnya menunggu di ruangan Mbak Kikan ", tambah Amel lagi. Kikan hanya menghela nafas. Memang dia sedang berada di ruko sebelah tepatnya di ruang workshop. Ia sedang memantau pembuatan baju pesanan Tania beserta beberapa baju yang lain.
"Baiklah .... , aku segera kesana ", ucap Kikan akhirnya.
Kikan berjalan perlahan meninggalkan ruangan workshop dan segera bergegas ke ruangannya.
Tampak Tania sedang duduk manis di sofa kecil di ruangannya. Ia tampak manis dan sedang sibuk memainkan ponselnya. Harusnya Adrian bersyukur bila mau menerima Tania menjadi istrinya, mereka berdua sangat serasi, batin Kikan.
"Maaf ... kamu menunggu lama ya ?", ucap Kikan begitu sudah masuk ke ruangannya. Tania menoleh dan tersenyum manis ke arah Kikan.
"Gak kok Mbak, aku baru datang ", jawabnya.
"Ada perlu apa ya kemari ? Apa ada yang bisa saya bantu lagi ?", tanya Kikan. Tania hanya tersenyum.
"Sebenarnya saya hanya mampir, Mbak. Saya ingin memastikan baju pesanan saya selesai tepat waktu. Saya juga ingin melakukan fitting sebelum hari H nanti. Kapan saya kira-kira bisa fitting Mbak ?", ucap Tania.
"Bajunya sudah 90%, kalau kamu mau fitting bisa saya agendakan Minggu depan atau mau sekarang ?. Kami tinggal memasang beberapa ornamen yang kamu pesan saja kok, Tania ".
__ADS_1
"Oh ... begitu, baiklah saya memilih fitting sekarang saja, Mbak. Daripada Minggu depan, saya takut tidak bisa ".
"Ok, kalau begitu, mari kita ke bawah. Saya akan siapkan bajunya dulu ", ucap Kikan sambil mengajak Tania turun ke lantai 1. Tania menurut dan mengikuti Kikan.
"Mbak ... apa baju calon suamiku juga sudah jadi ?. Karena barusan aku menelpon memintanya datang kesini untuk fitting", ucap Tania begitu sampai di lantai 1. Kikan terkejut mendengar ucapan Tania. Mengapa mereka harus datang bersama lagi dan membuat aku tersakiti lagi.
"Mbak ... sudah jadi kan ?", tanya Tania kini mendekati Kikan. Kikan mengangguk cepat.
"Iya ... sudah jadi, sebentar saya ambil dulu. Mel, tolong antar Mbak Tania ke ruang fitting baju ya ?", ucap Kikan.
"Iya Mbak, mari Mbak Tania kemari ". Amel sudah mengantar Tania ke ruang fitting baju sedangkan Kikan bergegas ke ruang workshop dan mengambil baju pesanan Tania. Ia mulai sibuk lagi mengatur emosi dan denyut jantung yang mulai berdetak lebih cepat dari biasanya.
Kikan mengambil baju pesanan Tania cukup lama kemudian kembali lagi. Dan .... kini ia sudah berdiri terpaku terkejut menatap Adrian yang sudah datang ke butiknya. Adrian sudah duduk manis sambil sibuk memainkan ponsel sepertinya ia sedang sibuk menjawab email. Hampir saja Kikan berlari dan ingin berhambur menyapanya tapi ia sadar dimana posisinya sekarang. Kikan mendekat Adrian yang masih sibuk sendiri, tidak tampak Amel dan Tania mungkin mereka sedang di ruang fitting.
"Kamu barusan datang ?", tanya Kikan begitu sudah dekat. Adrian mendongak kaget menatap Kikan lalu mengangguk.
"Tidak apa-apa, jangan ada kata maaf lagi yang kau ucapkan. Tolong .... ", ucap Kikan. Adrian hanya terdiam sambil terus menatap tajam. Sungguh ia ingin merengkuh wanita yang ada di hadapannya ini ke dalam pelukannya. Ia tak tega ada butiran kaca yang akan jatuh tampak di kedua matanya.
"Ayo kita mulai, katanya kalian mau fitting baju ", ucap Kikan sambil berjalan mendahului. Adrian hanya diam dan masih terduduk di kursinya.
"Mel, ini baju untuk Tania. Tolong ... kamu bantu ya ?", ucap Kikan sambil menyodorkan baju untuk Tania. Kemudian Kikan meletakkan baju untuk Adrian di ruang fitting sebelahnya lagi.
"Bajumu sudah siap, kamu tidak ingin mencobanya ?", ucap Kikan mendekati Adrian. Adrian segera bangkit dan berjalan ke arah ruangan fitting. Sampai di depan ruang fitting, Adrian segera menarik Kikan untuk ikut masuk dan menutup pintunya. Kikan terkejut apalagi Adrian langsung memeluknya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan Adrian ?", ucap Kikan lirih, ia takut ada yang melihat dan mendengar mereka.
"Aku kangen kamu .... kita sudah lama gak bertemu kan ?", ucap Adrian sambil mengecup pipi Kikan.
"Tapi ... kalau ada yang melihat bagaimana ? aku takut Amel atau Rika tahu ", ucap Kikan kini sambil berbisik.
"Aku tak peduli dengan mereka semua. Kalau kamu gak ingin kita ketahuan, diamlah dan balas ciumanku ... hhmmpp ", ucap Adrian sambil mulai mencium bibir Kikan. Kikan akhirnya menyerah dan mulai membalas ciuman Adrian. Ia memang selalu merindukan Adrian dan sentuhannya. Kikan sungguh takut dan tak rela bila harus melepaskan Adrian. Tapi ...., di satu sisi ia merasa harus melepaskan Adrian dan berhenti berharap memilikinya.
Mereka berciuman lama seakan tak ingin melepaskan satu sama lain. Setelah beberapa saat akhirnya mereka berhenti dan kini sibuk mengatur nafas mereka yang tersengal. Adrian menempelkan keningnya di kening Kikan sambil terus menatap Kikan.
"Aku mencintaimu Kikan ... ", bisik Adrian. Kikan hanya tersenyum.
"Apa kamu tidak akan mencoba bajunya ?. Aku takut Tania menunggumu di luar ", ucap Kikan lirih.
"Ya ... aku akan mencobanya ", ucap Adrian kini mulai melepaskan pelukannya.
"Aku tunggu di luar ya ?", ucap Kikan. Adrian mengangguk. Perlahan Kikan membuka pintu ruang fitting, ia berharap tidak ada yang melihat aksi Adrian tadi.
Kikan menarik nafas lega saat tahu Tania dan Amel masih di dalam ruang fitting saat ia keluar.
"Bagaimana Mel, apa Mbak Tania sudah selesai ?", tanya Kikan begitu melihat Amel keluar dari ruang fitting.
"Sudah, Mbak. Sebentar lagi Mbak Tania keluar ", ucap Amel sambil berlalu.
__ADS_1
Kikan hanya mengangguk lalu ia berjalan mendekati kamar fitting. Kamar fitting Tania sudah kosong dan terbuka sedangkan kamar fitting tempat Adrian berganti pakaian tadi tampak sedikit terbuka. Kikan berjalan mendekat, siapa tahu mereka butuh bantuannya. Tapi, pemandangan yang dilihat Kikan saat ini adalah salah satu hal yang tak pernah ingin dilihatnya. Ia melihat Tania memeluk Adrian dan mereka berdua sedang berciuman disana. Kikan segera berpaling dan bergegas kembali ke tempatnya.
Apa yang terjadi sesungguhnya ? apa ini yang kulihat nyata ?. Padahal tadi barusan saja kami berciuman begitu panas dan sekarang Adrian sedang berciuman lagi dengan Tania. Apa yang yang harus kupercaya mataku atau ucapanmu Adrian ?, batin Kikan sambil berusaha menahan airmata yang siap meluncur jatuh dari matanya.