
Episode ini mengandung unsur 21+, harap pembaca bijak menyikapinya.
"Sayang .... ", ucap Kikan lirih mencoba membangunkan Adrian yang tertidur pulas di sampingnya.
"Sayang ... ", kini Kikan sudah menepuk pipi Adrian.
"Hemmm ", gumam Adrian masih dengan mata terpejam.
"Sayang ... kamu masih ngantuk ya", ucap Kikan lagi.
"Ada apa ... Sayang ?", ucap Adrian masih bergumam tapi matanya sudah terbuka dan sedang menatap Kikan yang masih terjaga di sebelahnya.
"Kamu belum tidur ?", tanya Adrian sambil memeluk Kikan kini.
"Aku gak bisa tidur, si kecil nendang-nendang terus dari tadi ", jawab Kikan. Adrian langsung tersenyum dan segera bangkit dari tidurnya.
"Sayang ..., jangan nakal ya ?. Besok pagi saja mainnya. Sekarang Mama mau bobok tuh ", ucap Adrian sambil berbisik di perut Kikan dan mengelusnya pelan. Kikan tersenyum melihatnya. Mungkin sejak hamil, Adrian makin sayang padanya dan memberi perhatian lebih. Kikan bersyukur mempunyai suami seperti Adrian.
"Kenapa kok senyum-senyum sih ?", tanya Adrian melihat Kikan yang tersenyum menatapnya.
"Aku senang ngelihatnya, makasih ya, Sayang .. ", ucap Kikan kini sambil mencium punggung tangan Adrian. Adrian hanya tersenyum lalu memeluk Kikan dan mencium puncak kepalanya.
"Kamu sengaja bangunin aku karena gak bisa tidur atau karena yang lain ?", tanya Adrian sambil bersandar di tempat tidurnya kini dia sudah benar-benar terjaga.
"Maksudnya apa sih ?", tanya Kikan kebingungan.
"Kita sudah lama kan gak melakukannya, kamu gak pingin ?", ucap Adrian sambil mulai mencium cuping telinga Kikan. Kikan tersenyum kegelian, ia sekarang tahu ke arah mana obrolan Adrian tadi. Ia hanya nurut saja kalau suami nakalnya itu sudah berulah, apa salahnya sih nyenengin suami, pikirnya.
Kandungan Kikan sudah memasuki bulan ke sembilan. Kini ia tinggal menghitung hari saja, ia sudah tidak rewel dan sensi lagi seperti awal-awal hamil. Hanya saja sekarang ia lebih sulit bergerak daripada biasanya. Apalagi Kikan ternyata hamil anak kembar cewek cowok berdasar hasil USG dokter. Sebenarnya sulit dipercaya sih mengingat baik dari keluarga Adrian maupun Kikan tidak ada riwayat punya saudara kembar. Tapi kata dokter, itu semua bisa saja terjadi karena faktor pola makan dan hormonal.
Kini Adrian semakin membatasi pekerjaan Kikan, untung saja sejak kehamilannya ini Kikan sudah mempunyai asisten yang membantu proses desain baju tapi tetap saja semua desain asistennya itu juga atas persetujuannya.
"Kamu gak kerja hari ini ?", tanya Kikan begitu melihat Adrian masih tertidur di balik selimutnya.
Adrian hanya menggeliatkan tubuhnya sambil menatap Kikan yang sibuk mengeringkan rambutnya.
"Ternyata kamu kalau hamil tambah seksi deh, Sayang ", ucap Adrian tiba-tiba. Kikan segera menoleh dan sudah mendapati wajah suaminya yang sudah tersenyum nakal menatapnya.
"Ih .... kamu apaan sih, pagi-pagi sudah ngegombal".
"Kamu gak bangun ? sudah siang ini ", ucap Kikan lagi. Adrian hanya tersenyum lalu menendang selimutnya dan bangkit dari tidurnya berjalan mendekati Kikan yang sibuk bercermin.
Kikan hanya mengulum senyum menatap suaminya yang sudah berdiri di belakangnya bertelanjang dada memperlihatkan perut sixpacknya.
"Kamu mau ngapain ? kan sudah tadi malam ", ucap Kikan saat Adrian mulai memeluknya dari belakang dan menciumnya.
"Memang gak boleh ya nyium istri sendiri ?. Aku tuh gemes ngeliat kamu kayak gini. Bikin kepingin terus saja. Nanti kalau habis lahiran, kamu hamil lagi ya, Sayang ", bisik Adrian di telinga Kikan.
"Ih ... ogah ... aku gak mau gendut terus ".
"Ya ... kok gak mau sih. Tau gak, melihat kamu hamil tuh aku tambah seneng. Kan sudah kubilang kamu kelihatan tambah seksi. Aura kecantikanmu itu bertambah berjuta kali kalau lagi hamil ".
"Berarti kalau gak hamil jelek gitu ?", tandas Kikan.
"Bukan seperti itu tapi kalau melihat kamu hamil dengan perut segede itu, aku makin suka .. ".
"Ih ... kamu aneh deh, yang ada sih kalau hamil itu tambah jelek karena tambah gendut. Aku saja gak pede tiap ngaca ngelihat perut segede gini ". Adrian hanya meringis mendengar ucapan Kikan dan kini ia sudah sibuk mengelus perut Kikan sambil menciumnya berulang kali.
__ADS_1
"Dek ... kamu keluarnya jangan pas Papa kerja ya ? pas Papa sudah di rumah saja biar Mama gak kesakitan sendiri ", gumam Adrian sambil masih mengelus perut Kikan. Kikan hanya tersenyum melihat tingkah Adrian. Suaminya satu ini memang orang paling aneh kok. Tingkahnya itupun kadang bikin Kikan gak habis pikir.
"Sudah ... cepetan mandi, kamu sudah telat loh, Sayang ", ucap Kikan sambil membelai rambut Adrian yang masih sibuk mengelus dan mencium perut Kikan. Adrian lagi-lagi meringis dan segera bangkit bergegas ke kamar mandi.
Kikan segera menyiapkan baju untuk Adrian, sejak menikah Adrian selalu meminta Kikan yang menyiapkan bajunya padahal dulu ia biasa melakukannya sendiri.
Baru saja Kikan meletakkan baju Adrian di atas ranjang, tiba-tiba perutnya terasa sakit seperti kontraksi dan keluar darah menetes di kakinya. Sepertinya ia mau melahirkan.
"Sayang .... kamu sudah selesai mandinya ?", pekik Kikan sedikit keras sambil duduk dan berusaha mengatur nafasnya.
"Ada apa, Sayang ?", tanya Adrian yang sudah tergopoh keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
"Kamu kenapa ?", tanya Adrian bingung melihat Kikan yang seperti kesakitan.
"Sepertinya aku mau melahirkan ", jawab Kikan. Adrian terkejut dan segera berpakaian.
"Tunggu sebentar ya ..., kamu masih kuat jalan ?". Kikan mengangguk. Lalu Adrian segera memapah Kikan perlahan keluar kamar.
"Bik Etik ..., minta tolong Pak Banu suruh nyiapin mobil, sepertinya istri saya mau melahirkan ", seru Adrian ke Bik Etik yang sedang menyiangi sayuran.
"Iya ... iya ... Pak ", jawab Bik Etik sambil bergegas keluar dan tak lama kembali masuk.
"Sudah Pak, Pak Banu sudah siap ", ucap Bi Etik lagi. Adrian hanya mengangguk lalu kembali memapah Kikan ke dalam mobil.
"Ayo Pak, cepetan !", pinta Adrian ke Pak Banu yang sudah siap di depan kemudi. Mobil segera melaju bergegas ke rumah sakit tempat Kikan kontrol biasanya.
"Kamu masih kuat kan, Sayang ?", tanya Adrian sambil mengecup tangan Kikan. Kikan hanya mengangguk sambil sibuk mengatur nafasnya. Darah sudah terus menetes melewati kakinya, sepertinya sudah banyak pembukaan yang terjadi.
Hampir tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Kikan segera dibawa masuk ke ruang bersalin. Adrian meminta ijin menemani istrinya selama proses persalinan itu.
"Selamat Adrian, kamu sudah menjadi ayah sekarang ", ucap mama Adrian. Keluarga Kikan dan Adrian segera menyusul ke rumah sakit begitu mendengar kabar Kikan melahirkan dari Bik Etik tadi.
"Terima kasih, Ma ", ucap Adrian sambil tersenyum ada tangis kegembiraan di matanya.
"Bagaimana keadaan Kikan dan bayinya ?", tanya ibu.
"Alhamdulillah, mereka sehat Bu. Sekarang sedang diobservasi Dokter, mungkin sebentar lagi kita bisa menemuinya ", jawab Adrian. Ibu tampak tersenyum bahagia. Raka yang tadi sudah berangkat sekolah saat Kikan dibawa ke rumah sakit sekarang sudah pulang dan ikut ke rumah sakit juga.
"Sini ... Sayang ", ucap Adrian memanggil Raka. Raka mendekat dan segera memeluk Adrian.
"Papa sudah tepati janji kan, Raka sekarang sudah punya adik cewek dan cowok. Sayangi dan jaga adiknya ya ". Raka mengangguk.
"Iya Pa, terima kasih ya ", ucap Raka sambil mencium pipi Adrian. Adrian tersenyum dan membalas mencium pipi gembul Raka dan memeluknya.
"Keluarga Ibu Kikan ?", tanya suster memecahkan keheningan.
"Iya, Sus ", jawab Adrian sambil berjalan mendekat.
"Ibu Kikan dan bayinya akan saya pindah ke ruangan dan sudah boleh dijenguk, Pak", jawab suster itu.
"Baik, terima kasih, Sus ", jawab Adrian sambil tersenyum.
Beberapa saat setelah Kikan sudah dipindahkan semua anggota keluarga langsung menyerbu ingin melihat si kecil kembar.
"Wah lucu banget, dia mirip Adrian hidungnya ", ucap mama sambil menggendong bayinya.
"Iya, kalau yang cowok ini kok lebih mirip Kikan ya ?", seru ibu sambil menggendong bayi yang satunya. Kikan dan Adrian hanya tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Kamu sudah memberinya nama ?", tanya papa ke Adrian. Adrian diam dan menoleh ke Kikan. Mereka memang belum menyiapkan nama sama sekali.
"Sebenarnya sudah ada di pikiran, Pa cuma masih bingung juga sih ", jawab Adrian akhirnya.
"Siapa namanya ?", tanya ayah kini. Adrian terdiam menatap Kikan yang mengangguk ke arahnya.
"Namanya Raina dan Raihan ", jawab Adrian.
"Bagus namanya ", sahut mama dan ibu berbarengan sambil sibuk menimang cucunya. Sedang Raka terus sibuk mencium gemas kedua adiknya.
"Terima kasih ..., Sayang ", ucap Adrian sambil mencium kening Kikan.
Dua tahun setelah itu
"Ada apa ... Sayang kok tiba-tiba kamu ke kantor sih ?", tanya Adrian siang itu begitu melihat Kikan sudah duduk manis di sofa ruang kerjanya di kantor.
"Memang gak boleh ya aku kesini ?", jawab Kikan sambil berjalan mendekat ke Adrian yang sudah duduk di meja kerjanya.
"Gak tumben saja, apa si kembar sakit ? atau Raka sakit ?", tanya Adrian kini. Kikan hanya menggeleng dan kemudian duduk di pangkuan Adrian. Adrian yang kaget melihat tingkah Kikan hanya tersenyum dan segera mengambil remote untuk mengunci pintu ruangannya. Ia tidak mau ada karyawannya tahu tentang kehidupan pribadinya apalagi saat bersama istrinya.
"Ada apa sih ?", tanya Adrian kini sambil menatap istrinya yang manyun. Kikan hanya menghela nafas lalu menatap Adrian yang sudah sedari tadi menatapnya.
"Kamu lagi pingin ya dan gak sabar nunggu aku pulang terus kesini, gitu ?".
"Ih ... kamu kok mikirnya gitu sih. Aku pengen sama kamu saja kok. Habis kalau di rumah kamu sudah sibuk dengan si kembar dan Raka, aku cuman jadi penonton ", cicit Kikan. Adrian tersenyum mendengarnya.
"Cemburu sama anak, dosa loh ", kata Adrian sambil mencium pipi Kikan.
"Siapa juga yang cemburu sih ", jawab Kikan sambil merangkul leher Adrian.
"Terus kenapa dong ?".
"Aku kesini mau ngasih tau kamu ini ", ucap Kikan sambil menyodorkan testpack dengan dua garis biru. Adrian segera merebut testpack dari tangan Kikan.
"Kamu hamil lagi ?", tanya Adrian yang disambut anggukan Kikan. Adrian langsung tersenyum dan segera mencium lembut bibir Kikan.
"Kok malah seneng sih, kamu gak marah ? si kembar kan masih kecil ", ucap Kikan lagi.
"Ngapain marah, aku kan sudah bilang seneng kalau lihat kamu hamil. Kalau bisa hamil terus juga gak pa-pa kok ".
"Ih ... ngaco kalau itu mah ", ucap Kikan sambil bangkit dari pangkuan Adrian.
"Kamu mau kemana ?".
"Pulang, aku kesini tadi cuman pengen ngasih tahu itu aja kok ".
"Ya sudah kalau gitu aku ikut pulang ".
"Loh .. kok ikut pulang, kamu sudah selesai meetingnya ?".
"Dilanjut besok gak pa-pa, gara-gara kamu juniorku sudah bereaksi tadi. Daripada aku gak konsen mending ikut pulang kamu deh ", sahut Adrian sambil membereskan kerjaannya dan memasukkan laptopnya ke dalam tas. Berpamitan ke Sari sekertarisnya lalu menyusul Kikan ikut pulang.
Kikan tersenyum, memang suaminya satu ini benar-benar gila kok. Tapi dia selalu menomorsatukan keluarga diatas segalanya dan Kikan suka itu.
Sembilan bulan setelah itu, Kikan dan Adrian dianugerahi seorang bayi perempuan yang cantik. Kikan dan Adrian hidup bahagia dengan keempat buah hatinya. Meskipun sebenarnya Adrian masih ingin menambah momongan tapi Kikan sudah tidak mau. Dia sudah capek harus hamil terus tapi gak tahu lagi kalau nantinya Adrian yang memaksa.
*******************T A M A T*****************
__ADS_1