Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Kedatangan Irene


__ADS_3

Sudah tiga tahun lebih sejak Hendy datang dengan basah kuyup ke ruko Kikan. Itu terakhir kali Kikan bertemu Hendy dan Kikan menerima keputusannya. Kikan yakin seiring dengan waktu, hati Hendy yang terluka karenanya pasti akan sembuh. Bobby juga sudah tidak menanyakan tentang Hendy ke Kikan dan sebaliknya. Mungkin ia kini sadar untuk tidak mencampuri urusan orang lain lebih dalam.


Kikan kembali menikmati hari-harinya, menyibukkan diri dengan menerima semua orderan dari pelanggannya. Ia kini telah membeli ruko yang dulu disewanya, ia juga berencana untuk membeli ruko di sebelah butiknya untuk memperluas butik. Seiring bertambahnya waktu semakin banyak baju ready stock yang diinginkan pelanggan. Selain itu Kikan juga menambah jumlah penjahitnya untuk mempercepat proses produksi. Ia sudah mendesain ruko yang akan dibelinya nanti sebagai rumah produksi.


"Kikan .....! hari ini kamu yang mengantar Raka ke sekolah kan ?. Ibu hari ini tidak bisa, Bude mu sedang tidak enak badan dan tadi telepon minta dimasakkan sup ayam. Jadi Ibu habis ini harus ke sana", kata ibu di sela-sela sarapan.


"Iya, Bu. Nanti Raka, Kikan yang antar dan jemput kok", jawab Kikan. Raka sekarang sudah 4 tahun lebih, dia sudah masuk playgroup. Setiap hari biasanya ibu yang mengantar Raka kemudian pulangnya Kikan yang jemput atau sebaliknya. Tapi sejak Bobby dan Intan pindah kota karena pekerjaan Bobby, Bude sering sakit-sakitan jadi ibu terpaksa membantu merawat Bude seperti pagi ini.


"Ya, sudah kalau begitu. Nanti Ibu berangkat diantar Ayahmu saja jadi kamu tidak terlambat mengantar Raka sekolah", ucap ibu lagi.


"Iya Bu. Habis sarapan kita berangkat kok. Iya kan Sayang ?", ucap Kikan sambil mengelus rambut Raka. Raka hanya mengangguk.


"Kamu sudah siap ?", tanya Kikan setelah beberapa saat.


"Cudah Ma, Laka cudah ciap kok", jawab Raka dengan suara cedalnya. Kikan tersenyum mendengarnya.


"Kalau begitu, ayo ! Kita berangkat. Pamit ke nenek dulu ya ?", ucap Kikan lagi. Raka mengangguk lalu bergegas ke ayah dan ibu Kikan.


"Nek, Kek, Laka belangkat cekolah dulu ya ", pamit Raka.


"Iya ... hati-hati ya, Sayang", ucap ayah dan ibu berbarengan. Raka tersenyum dan bergegas lari menyusul Kikan yang sudah duluan.


"Ayo, masuk ", ucap Kikan sambil membukakan pintu untuk Raka, memasangkan sabuk pengaman dan menutup pintu mobil. Kikan kemudian masuk dan mulai mengemudikan mobilnya perlahan.


"Ma ... , memangnya papa Laka kemana cih ?", tanya Raka tiba-tiba ketika di tengah perjalanan. Kikan terkejut mendengar pertanyaan Raka dan menutupinya dengan tersenyum.


"Kan Mama sudah pernah cerita ,Sayang, kalau papanya Raka sudah meninggal karena kecelakaan", jawab Kikan lagi.

__ADS_1


"Kalau meninggal itu tidak bica hidup lagi ya Ma ?", tanya Raka lagi.


"Ya, gak bisa, Sayang. Memangnya kenapa ?".


"Laka kangen Papa, Ma. Laka pengen punya Papa seperti teman-teman. Teman-teman celing cerita tentang papanya, dibelikan mainan, dibelikan permen, diajak jalan-jalan. Laka pingin ceperti mereka, Ma", tutur Raka.


"Loh ... selama ini kan sudah dibelikan Mama mainan, permen juga diajak jalan-jalan kadang juga sama Nenek, Kakek, Oma, Opa. Raka lupa ya ?", tanya Kikan lagi.


"Gak Ma, Laka gak lupa kok, Laka cuma pingin sama Papa", jawab Raka lagi yang sempat membuat Kikan sedih. Dia sudah besar, dia pasti akan merindukan sosok seorang papa, pikir Kikan.


"Ya ... sudah, sekarang Raka sekolah dulu ya, nanti sepulang sekolah Mama ajak ke Timezone ya ?. Raka sudah lama kan tidak main di Timezone ?", bujuk Kikan akhirnya.


"Wah .... iya Ma, Laka sudah lama gak ke Timcon. Nanti Mama jangan telat jemputnya ya ?", ucap Raka lagi. Kikan mengangguk lalu bergegas turun membukakan pintu untuk Raka, mereka sudah sampai di sekolah Raka.


"Mama antalnya campai cini caja, Laka cudah becar, bica jalan cendiri", ucap Raka ketika Kikan akan mengantarnya sampai kelas.


Tut ....Tut ....Tut ...., baru beberapa meter Kikan melaju tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dari nomer tak dikenal. Siapa ?, mungkin pelanggan baru, pikir Kikan.


"Halo ", sapa Kikan setelah menghidupkan loud speaker ponselnya.


"Halo, Kikan. Ini aku, Irene. Masih ingat kan ?", sapa suara di seberang. Irene ?, gadis yang pernah mengerjainya di hari wisuda Ranu. Ya, Irene sahabat Ranu.


"Irene ?, Irene sahabat mas Ranu kah ?", tanya Kikan tak percaya.


"Iya, memang ada berapa Irene yang kamu kenal ?", ucap suara di seberang dengan penuh gelak tawa.


"Irene ... ya Tuhan, Irene .... kamu kemana saja ?", tanya Kikan lagi.

__ADS_1


"Aku di Austria dan baru datang kemarin. Maafkan aku, aku tidak bisa hadir waktu Ranu meninggal", ucapnya lagi.


"Tidak apa-apa, Irene itu semua di luar dugaan. Oh ya, bagaimana kabarmu ?".


"Aku baik, bulan depan aku menikah".


"Oh ya, benarkah ?. Wah, selamat ya ?".


"Iya, terima kasih Kikan. Makanya aku menghubungi mu. Aku ingin meminta tolong kamu untuk merancang gaun pengantin ku. Apakah kamu bisa ?", terang Irene.


"Wah .... dengan senang hati Irene", jawab Kikan.


"Kapan kita bisa bertemu ?. Apa hari ini kamu ada waktu ?", tanya Irene lagi.


"Pagi ini, aku sudah ada janji. Bagaimana kalau selepas makan siang ?. Kita bertemu di cafe Mall saja ya ?. Kebetulan nanti siang aku janji akan mengajak Raka ke Timezone, jadi sekalian. Bagaimana, apa kamu bisa ?".


"Tentu, waktuku banyak kok. Oh ya, Raka itu anakmu ?. Aku sudah bertemu Mami Tiwi dan Beliau sudah menceritakan segalanya. Aku kagum padamu, Kikan. Kamu sudah melewati segala hal".


"Terima kasih, Irene. Nanti, kalau bertemu aku akan cerita lebih banyak lagi".


"Baiklah, kalau begitu. Aku tunggu nanti ya".


"Oke, Irene", ucap Kikan mengakhiri telepon.


Sedikit senyum manis mengembang di bibir Kikan. Ia senang, teman dari masa lalunya datang dan sekarang sedang membutuhkan bantuannya.


Kikan jadi ingat tingkah Irene waktu ngeprank dia dulu. Ia begitu shock dan sampai pingsan hanya gara-gara Irene. Ia juga ingat tingkah Irene yang juga mencoba ngeprank para tamu. Kikan jadi penasaran lelaki seperti apa yang bersedia menjadi suaminya. Apa dia juga sama seperti Irene ? sama-sama konyol atau juga malah lebih parah ?. Berbagai pikiran berseliweran di otak Kikan, tapi entah mengapa tiba-tiba Kikan sangat gembira menerima kabar kedatangan Irene. Apa karena Irene merupakan bagian dari masa lalu Kikan ? Apa karena Irene mengingatkannya pada Ranu ?. Apa karena Ranu tidak pernah hilang dari hatinya ?. Ah, aku benar-benar merindukanmu, Mas, pikir Kikan.

__ADS_1


__ADS_2