
Kikan berjalan perlahan meniti tangga di teras depan rumah kayu. Ia ingin menghirup udara pagi ini, bosan rasanya kemarin seharian di dalam kamar untuk menyelesaikan pesanan customernya. Kini perut Kikan semakin besar, udah mulai terasa sering tegang-tegang dan kencang-kencang. Untung saja dokter kandungan itu memberikan kursus senam ibu hamil, jadi Kikan sudah mulai terbiasa mengatasinya.
Kikan melanjutkan jalan paginya menelusuri pepohonan pinus dan taman bunga di sekeliling rumah itu. Ia suka berlama-lama menghirup udara pagi ini, sangat berbeda dengan udara di tempat tinggalnya. Akh, aku beruntung mas Ranu membuatkanku rumah yang sangat istimewa ini. Kadang aku begitu merindukannya, mendambakan, menginginkan kehadirannya tapi semua harus aku ikhlaskan supaya aku bisa jalani hidup ini, pikir Kikan lama terdiam.
"Tante ..... Tante ....". Tiba-tiba lamunan Kikan terganggu oleh panggilan seorang anak kecil. Kikan menghentikan langkahnya dan menoleh ke suara kecil itu.
"Iya ... Dek ", sapa Kikan merasa heran sepagi ini ia bertemu dengan seorang anak di halaman rumahnya lagi.
"Tante yang punya rumah ini ya ?", tanya gadis kecil itu kembali mendekat. Kikan mengangguk.
"Rumah Tante bagus sekali, banyak bunganya lagi. Aku boleh memetik barang beberapa tangkai saja ?", tanya gadis kecil itu lagi.
"Memangnya rumah adik dimana ? sepagi ini kok sudah bermain apa tidak dicari orang tuanya ?". Gadis kecil itu terdiam lama lalu bergerak mundur menjauhi Kikan.
"Tunggu Dek, Tante gak pa-pa kok kalau kamu memetik bunganya tapi apa orang tuamu tahu kamu keluar sepagi ini ?", kata Kikan lagi.
"Kalau Tante tidak mengijinkannya ya sudah, saya pergi dulu", jawab gadis itu sambil berbalik dan mau berlari meninggalkan Kikan. Tapi untung tangan Kikan segera mencegahnya.
"Maaf ya, jangan marah. Tante gak pa-pa kok kalau mau memetik bunga. Sini, Tante petikkan yang mana bunga yang kamu suka ?", ajak Kikan sambil menarik tangan gadis kecil itu ke arah taman bunga miliknya.
Gadis itu kembali ceria lalu bergegas memilih bunga mawar untuk dipetik. Untung saja mang Ujang rajin membersihkan taman sehingga tidak banyak duri yang menempel di setiap tangkainya, mungkin Ranu pernah berpesan kalau bunga mawar itu bunga kesukaan Kikan sehingga ia mudah untuk memetiknya.
"Apakah ini sudah cukup ?", tanya Kikan ke gadis kecil itu.
"Iya Tante, itu sudah banyak sekali. Ibu pasti senang melihatnya", pekik kegirangan gadis itu.
__ADS_1
"Jadi bunga ini untuk ibumu ya ?". Gadis itu kembali tersenyum dan mengangguk.
"Tante belum tahu siapa namamu ?", tanya Kikan kini.
"Iya maaf Tante, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya .....". Belum sempat gadis kecil itu mengucapkan namanya. Tiba-tiba sebuah suara parau dan lantang mendekat seperti memanggil gadis itu.
"Tantri .... Tantri .... dasar anak nakal kerjanya ngilang saja. Pagi-pagi sudah ngerepotin orang lagi ....", seru suara parau itu yang tak lain milik seorang bapak setengah baya yang berpakaian petani. Dengan wajah marah bapak itu datang menghampiri Kikan dan gadis kecil yang bernama Tantri itu.
"Maaf Neng, anak saya sudah merepotkan. Memang anak ini selalu ngilang kalau pagi", ucap Bapak itu.
"Enggak kok Pak, saya tidak merasa repot", jawab Kikan.
"Ayo ... Tantri ! kita pulang", kata bapak itu sambil menarik lengan Tantri dengan kasar. Kikan yang melihatnya merasa kasihan.
"Sabar Pak, Tantri tidak nakal kok. Dia hanya minta beberapa bunga saja untuk ibunya katanya", jawab Kikan menenangkan. Bapak itu berhenti berjalan dan menoleh ke arah Kikan.
"Ibu yang mana Neng ?. Ibunya Tantri sudah meninggal sejak Tantri masih kecil. Dia memang anak aneh, banyak yang bilang dia gila. Sudah Neng, jangan percaya semua omongannya". Bapak itu kembali berlalu dan jalan bergegas sambil menyeret tangan Tantri dengan kasar. Kikan hanya terdiam terpaku melihat kelakuan bapak dan anak itu.
Kikan masih tertegun dan hanya terdiam mendengar pertanyaan mang Ujang.
"Oh .... Non baru tahu ya, si Kasim dan anaknya. Kasihan mereka .... Tantri sudah ditinggal mati sama ibunya sejak kecil. Tantri tidak gila, cuma dia memang merindukan sosok ibu saja. Kasim yang tidak bisa menerima kematian istrinya, makanya kadang dia teramat benci dengan Tantri dan memperlakukan Tantri seperti tadi. Makanya Non, kita harus selalu ikhlas menerima cobaan apapun dari Tuhan. Karena semua cobaan dari Tuhan pasti adalah ujian untuk kita naik ke derajat yang lebih tinggi. Sabar ya Non ...", terang mang Ujang panjang lebar membuat Kikan trenyuh.
"Tadi Bi Ijah sudah sibuk menyiapkan sarapan buat Non. Mungkin Non, ingin cepat kembali, sudah ditunggu Bi Ijah tadi".
"Iya Mang, saya juga sudah merasa lapar. Terima kasih ya Mang, nasehatnya", ucap Kikan sambil bergegas berlalu meninggalkan Mang Ujang.
Kikan kembali berjalan meniti tangga di teras depan, belum genap dia melangkahkan kakinya tiba-tiba perutnya terasa sakit sekali.
"Bi .....", pekik Kikan sebelum sempat terjatuh.
__ADS_1
"Non Kikan ..... ", seru Bi Ijah menghampiri Kikan yang sudah tidak kuat berdiri.
"Mang .... Mang ... bantu Non Kikan.... Mang...", teriak Bi Ijah. Mang Ujang dengan tergopoh-gopoh datang menghampiri Kikan dan Bi Ijah.
"Kenapa Bi ?", tanya mang Ujang ke BI Ijah.
"Gak tau Mang, kayaknya Non Kikan mau melahirkan ini".
"Bi ... perutku sakit sekali", ucap Kikan sambil memegang perutnya.
"Sabar ya Non. Mang, ayo bawa Non Kikan ke dalam", perintah Bi Ijah. Mang Ujang segera membopong Kikan dibantu Bi Ijah lalu membaringkan di sofa depan.
"Bi, cepat telepon Nyonya besar dan Bu dokter supaya kirim ambulan ke sini", perintah Mang Ujang.
Bi Ijah bergegas bangkit dan segera menelepon mami Tiwi dan dokter langganan Kikan. Kikan hanya diam sambil terus merintih menahan nyeri di perutnya. Ia mulai mengingat Ranu kembali, aku benar-benar menginginkan kehadiranmu, mas. Apa aku sanggup melewati ini semua ?. Apa aku sanggup melahirkan anak kita dengan selamat ?.
"Istighfar Non, tarik nafas terus hembuskan", sayup terdengar suara Bi Ijah di telinga Kikan.
"Non Kikan ikut senam hamil kan ?. Ini saatnya Non, dipraktekkan jangan menyerah, dilawan rasa sakitnya sambil terus tarik nafas dan istighfar Non", ucap Bi Ijah lagi mengingatkan.
Kikan tersenyum, ia juga ingat nasehat Mang Ujang tadi pagi. Dia harus ikhlas merelakan Ranu tanpa harus mengharapkan kehadirannya lagi. Dia harus semangat menjalani hidup barunya. Dia juga ingin bahagia lagi, dia ingin membahagiakan orang tuanya, membahagiakan anaknya yang akan lahir ini. Aku harus kuat, aku tidak boleh menyerah, aku pasti bisa melalui semua ini. Kikan tersenyum lalu mulai mengatur nafasnya mengingat kembali pelajaran senam hamilnya dan rasa sakit itu sedikit-sedikit mulai hilang.
"Non, sudah enakan ?", tanya Bi Ijah begitu melihat ekspresi Kikan yang berubah.
"Iya Bi, ini mungkin kontraksi awal. Aku akan mulai berhitung. Nanti kalau sudah dekat, aku akan segera ke klinik ", jelas Kikan.
"Syukurlah Non, tapi tadi saya sudah telepon Nyonya besar dan Bu dokter ".
"Gak pa-pa Bi, nanti biar saya telepon supaya tidak khawatir", ucap Kikan menenangkan.
__ADS_1
"Saya mau makan Bi, saya ingin menyiapkan energi kalau harus melahirkan hari ini". Bi Ijah tersenyum mendengar ucapan Kikan dan segera bergegas menyiapkan sarapan Kikan.