
Minggu pagi ini, Kikan sudah bangun pagi sekali. Sebenarnya hari ini ada undangan dari Hendy untuk datang ke pesta ulang tahun ibunya tapi entah mengapa Kikan malas sekali datang meskipun hanya datang sebagai pembuat baju itu.
Kikan sudah menyuruh Rika untuk mengantar baju pesanan ibu Hendy ke alamat yang dituju. Sebenarnya Hendy menginginkan Kikan yang mengantarnya tapi kemarin Sabtu Kikan sudah ada janji dengan pelanggan yang lain.
"Nduk .... kamu gak jadi datang ke pesta ulang tahun ibunya Hendy ?", tanya ibu. Kikan hanya diam, ia sibuk memainkan kakinya sambil tidur tengkurap.
"Kamu sibuk ya atau kamu ada janji ?", tanya ibu lagi.
"Enggak Bu ....., Kikan malas saja", jawab Kikan datar.
"Kamu bener-bener gak menganggap Hendy temanmu ya ?. Dia kan sudah sangat baik padamu juga pada Raka. Apa salahnya bersikap sopan sedikit membalas kebaikannya dengan hadir di pesta itu. Ayo, Nduk .... kamu harus profesional jangan perasaan yang kau bawa-bawa. Ini kan saatnya kamu menunjukkan hasil karyamu ke khalayak umum. Pasti banyak yang datang di pesta itu dan melihat baju rancangan mu tentu banyak dari para tamu yang menanyakan siapa perancangnya ", tutur ibu. Kikan hanya diam lalu bangkit.
"Mau kemana ?", tanya ibu lagi melihat Kikan yang tiba-tiba bangkit dari tidurnya.
"Katanya tadi di suruh datang kok sekarang tanya mau kemana", jawab Kikan enteng sambil mulai memilih gaun yang akan dipakainya. Ibu tersenyum lega lalu beranjak meninggalkan Kikan berdandan.
Hampir satu jam perjalanan Kikan menuju tempat pesta ulang tahun ibu Hendy. Ia tadi menyempatkan diri mampir untuk membeli hadiah. Tidak pantas rasanya datang ke sebuah pesta tanpa membawa hadiah. Kikan tadi memilih sebuah syal berwarna senada dengan gaun yang dirancangnya sebagai hadiah ulang tahun untuk ibu Hendy.
Kikan segera memasuki sebuah restoran bergaya klasik sesuai dengan undangan yang tertera dari Hendy. Setelah menunjukkan undangannya, Kikan pun segera masuk ke restoran itu. Nampaknya acara baru saja di mulai. Ia melihat Hendy tengah duduk di kursi depan dengan seorang wanita yang memakai baju rancangannya ditemani oleh beberapa kerabat lainnya. Mungkin wanita itu adalah ibu Hendy. Kikan celingukan mencari tempat kosong karena jujur saja banyak orang yang tidak dikenalnya.
"Kikan !", bisik seseorang memanggil namanya. Kikan menoleh cepat, tampak Bobby dan Intan sudah duduk manis. Kikan beranjak mendekat dan segera duduk di samping Intan.
"Kok kamu sudah boleh keluar kan baru melahirkan", bisik Kikan di telinga Intan. Intan hanya tersenyum.
"Aku bosan di rumah terus, lagian ini kan acara di dalam ruangan jadi ibu mengijinkan aku", ucap Intan sambil nyengir.
"Kamu diundang juga ?", bisik Bobby kini. Kikan mengangguk.
__ADS_1
"Aku dengar kamu yang merancang baju yang dipakai ibunya Hendy ya ?", tanya Intan lagi. Kikan mengangguk lagi.
"Tampaknya sebentar lagi akan ada yang sebar undangan pernikahan nih", ledek Bobby. Kikan melotot mendengar ucapan Bobby.
"Kami hanya berteman tidak ada yang istimewa, jangan aneh-aneh kamu, Bob", seru Kikan kesal. Bobby hanya tertawa menyeringai mendengarnya.
"Terima kasih, kamu akhirnya mau datang", seru Hendy yang tiba-tiba menghampiri meja Kikan setelah acara utama selesai. Kikan hanya tersenyum.
"Ayo ... ! aku kenalkan ke Ibuku, dari tadi Beliau menanyakan siapa yang membuat dia tampak cantik dengan baju itu", ucap Hendy lagi sambil menarik tangan Kikan.
"Tapi ... tapi...", elak Kikan.
"Sudah, kesana dulu saja, Kikan !", ucap Bobby menimpali. Lagi-lagi Kikan melotot ke arah Bobby membuat Hendy tertawa geli melihatnya.
"Baiklah, ayo !", ucap Kikan sambil bangkit dari duduknya. Hendy tersenyum lalu membiarkan Kikan berjalan lebih dulu.
"Bu ...., ini Kikan yang merancang baju Ibu", ucap Hendy yang sudah berdiri di samping Kikan. Wanita setengah baya itu menoleh dan segera tersenyum ke Kikan.
"Selamat ulang tahun, Bu !", ucap Kikan begitu melihat ibu Hendy tersenyum padanya.
"Terima kasih, Kikan. Karena kamu Ibu jadi tampak cantik hari ini, bajunya benar-benar bagus. Ibu suka sekali", ucap ibu Hendy ramah. Kikan tersenyum mendengarnya, ia lega bila pelanggannya puas dengan hasil rancangannya.
"Ibu dengar kamu sedang dekat dengan Hendy ya ?", tanya Ibu Hendy lagi.
"Kami hanya teman, Bu", jawab Kikan sopan.
"Tapi Ibu suka kalau kalian lebih dari teman. Ibu bisa setiap hari memakai baju yang bagus-bagus, hehehe ....", canda ibu Hendy membuat Kikan canggung.
__ADS_1
"Kamu memang cantik ya, persis seperti yang Hendy bilang. Memang anak Ibu satu ini selalu pintar kok kalau milih pasangan", ucap ibunya lagi membuat Kikan semakin canggung.
"Sudah Bu, jangan diteruskan Kikan jadi bingung jawabnya. Kami hanya berteman", ucap Hendy menyelamatkan Kikan. Ibu Hendy hanya tersenyum melihat anaknya gelagapan.
"Hendy ... ini siapa ? pacarmu ya ?", tiba-tiba datang beberapa kerabat Hendy yang berkerumun ke arah Kikan.
"Maaf, bukan ...", jawab Kikan kebingungan.
"Aduh ... cantik banget, pinter merancang baju lagi. Pinter juga kamu pilih pasangan, Hen", seru yang lain menimpali.
"Kapan-kapan boleh ya, saya minta dibuatin baju ?", seru seorang lagi. Kikan hanya mengangguk. Ia bingung harus bersikap bagaimana menghadapi kerabat Hendy yang terus menyebutnya sebagai pacar Hendy.
"Ayo ... kita makan dulu !", ajak Hendy tiba-tiba menarik tangan Kikan keluar dari kerumunan kerabatnya yang sibuk bertanya-tanya.
"Maafkan kerabat ku ya, mereka tidak tahu tentang hubungan kita ", ucap Hendy setelah mereka menjauh. Kikan hanya mengangguk.
"Kamu baik-baik saja kan ?", tanya Hendy lagi. Kikan mengangguk lagi, ia sedikit shock saat di tengah kerumunan tadi untung saja Hendy segera menariknya.
"Memang kamu bilang apa ke kerabat mu hingga mereka bertanya seperti tadi ?", ucap Kikan akhirnya.
"Aku gak bilang apa-apa ke mereka. Aku cuman cerita ke Ibu kalau sedang dekat dengan seorang gadis dan gadis itu kamu. Hanya itu saja. Kalau Ibu cerita ke kerabat yang lain, aku tidak tahu. Apa kamu marah ?", tanya Hendy.
"Aku cuma menganggap mu teman, aku tidak ingin kamu kecewa dan terlalu berharap. Aku datang kesini hari ini juga sebagai teman. Maaf kalau membuatmu kecewa", ucap Kikan.
"Aku tahu batasan ku, tapi aku senang kamu datang hari ini meskipun itu hanya sebagai teman. Setidaknya kamu sudah membuat ibuku tersenyum. Sudahlah jangan di bahas lagi. Kamu lapar kan ?", ucap Hendy. Kikan mengangguk.
"Kamu tunggu disini ya, biar aku ambilkan makan. Biar aku layani kamu kali ini sebagai tanda terima kasihku padamu karena telah membuat Ibuku tersenyum", ucap Hendy lagi. Lalu ia berlalu meninggalkan Kikan sebelum Kikan mengiyakan permintaannya.
__ADS_1