
Kikan melamun duduk sendiri, tiba-tiba dari depan muncul Ranu dengan pakaian jas pengantin seperti yang dirancangnya.
"Mas ... kok udah rapi, udah pakai baju pengantin lagi, kan pernikahan kita bulan depan ?", tanya Kikan begitu Ranu mendekat. Ranu kemudian tersenyum.
"Gak pa-pa Sayang ...., aku ingin memakai daja memastikan apakah aku cocok memakai ini ", jawab Ranu. Kikan tersenyum kagum memandang Ranu.
"Kamu tambah ganteng Mas, kayaknya aku tambah cinta nih ". Ranu terkekeh mendengarnya.
Lalu Ranu duduk mendekat Kikan, ditatapnya wajah Kikan lama lalu tangan Ranu mengelus rambut Kikan, menyentuh pipinya.
"Kenapa sih Mas ?", tanya Kikan jengah. Ranu hanya tersenyum saja.
"Jangan pernah bersedih ya !", ucap Ranu akhirnya.
"Mana mungkin aku bersedih, kan bentar lagi kita menikah kita akan selalu bersama ya kan Mas ?".
Ranu terasa berat mengiyakan ucapan Kikan.
"Kamu kenapa sih Mas kok tiba-tiba aneh gini ?". Ranu hanya kembali tersenyum saja lalu tiba-tiba bangkit dan berjalan meninggalkan Kikan.
"Mas ... Mas Ranu ... tunggu aku Mas ... ", pekik Kikan mengejar Ranu yang semakin jauh menghilang.
"Mas Ranu .... Mas Ranu ...", Kikan terisak dalam tidurnya.
Lalu dia tersadar, membuka matanya. Mimpi , itu hanya mimpi. Mengapa aku bermimpi aneh sekali ?. Semoga tidak berarti buruk mimpi itu. Kikan segera bangkit, dilihatnya jam di dinding menunjukkan pukul 5 pagi. Segera ia bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Banyak yang harus dilakukan hari ini.
Kikan merapikan rambut panjangnya sambil sibuk bercermin di depan kaca. Hari ini, dia akan kontrol kehamilannya. Dia senang sekali setiap memikirkan benih kecil di rahimnya yang makin hari semakin dia sayangi.
"Akh, Sayang ... bulan depan kita sudah bisa bersama-sama Papa terus ya setiap hari ", ucap Kikan lirih sambil mengelus perutnya.
Dia lalu menggambil ponsel dan menelepon Ranu.
__ADS_1
Tut Tut Tut Tut ... bunyi ponsel sibuk, mungkin mas Ranu dalam panggilan lain. Aku coba telepon nanti saja lagi. Namun belum sempat Kikan meletakkan teleponnya, ponselnya sudah berbunyi lagi. Kikan tersenyum saat tahu mas Ranu yang menelepon.
"Hallo Sayang ....", sapa Ranu yang kali ini menggunakan video call. Kikan tersenyum.
"Tumben Mas kok pake VC ?", tanya Kikan. Ranu tersenyum sambil sibuk merapikan kemejanya.
"Aku kangen .... pengen liat wajahmu ", jawab Ranu sambil mengerling nakal.
"Idih ... Mas genit deh". Ranu hanya tersenyum.
"Gimana kabarnya si kecil ? gak rewel kan ?". Kikan tersenyum dan menggeleng menjawab pertanyaan Ranu.
"Mas jadi kan nganter aku ?".
"Nah itu Sayang .... Mas minta maaf ya. Mas gak bisa nganter pagi ini. Mas ada presentasi dengan klien. Sebenarnya nanti siang ternyata dimajukan pagi ini. Tadi pak Yanto barusan menelepon memberi kabar. Kamu gak pa-pa kan berangkat sendiri ?. Nanti pulangnya, insya Allah Mas bisa jemput kok", kata Ranu dengan kecewa.
"Oh gitu, ya udah gak pa-pa Mas. Aku pesan taxi online aja. Nanti pulangnya aku telepon ya, kalo kamu belum selesai gak pa-pa aku bisa pulang sendiri kok ".
"Gak pa-pa Mas, aku kan sudah bilang aku senang naik motor bisa meluk kamu ". Ranu tersenyum mendengarnya. Mereka saling bertatapan di vc itu.
"Aku gak sabar ngeliat kamu terus tiap hari ", ucap Ranu lagi. Kikan hanya tersenyum mendengarnya.
"Ya udah.... aku berangkat dulu ya Sayang. Doain aku sukses nanti presentasinya ", lanjutnya.
"Iya Mas .... Hati-hati ya, jangan ngebut", pesan Kikan.
"Siap Bos!", ucap Ranu sambil mengangkat tangannya ke pelipis matanya tanda hormat.
Kikan tersenyum lalu menyudahi VC dengan Ranu.
Aku senang banget melihat keceriaan mas Ranu hari ini, mungkin kekhawatiranku akan mimpi tadi malam tak beralasan ya, pikirnya.
__ADS_1
Kikan segera mengambil tasnya memasukkan buku periksa kehamilannya dan beberapa lembar skripsinya yang sudah disetujui Bu Nungki. Ia senang sekali, akhir-akhir ini semua yang dia rencanakan berjalan dengan lancar semoga semua berjalan lancar sampai pernikahanku kelak.
"Nduk .... hari ini kamu mau kemana ?", tanya ibu begitu Kikan keluar kamar.
"Kikan mau ke kampus bentar Bu, mau ngumpulin bahan skripsi ini ", jawab Kikan tanpa memberitahu tujuannya setelah dari kampus harus ke rumah sakit.
"Cepat pulang ya kalo udah selesai. Satu bulan lagi kamu kan mau menikah, kalo jaman ibu dulu Ibu sudah dipingit loh Nduk. Biar gak sawanen gitu mantennya". Kikan hanya tersenyum mendengarnya.
"Eh, dibilangin kok malah ketawa. Beneran ini, katanya hawa calon pengantin itu beda sama orang lain pada umumnya. Banyak yang tertarik, termasuk barang-barang halus gitu", cerita ibu lagi. Kikan hanya tersenyum geli mendengar ibunya yang masih percaya hal-hal seperti itu.
"Kamu kok senyam senyum aja Nduk, gak percaya ya ?. Kita itu orang Jawa hal-hal seperti ini harus diperhatikan loh Nduk".
"Iya Bu, Kikan paham kok", jawab Kikan akhirnya sambil menyendok nasi dan ayam goreng yang sudah dihidangkan ibunya di meja. Ia lapar sekali pagi ini.
"Loh ...loh Nduk, kamu gak puasa toh ?. Calon manten itu harus puasa Nduk, selain biar manglingin saat jadi manten nanti, juga sebagai upaya tirakat supaya acara pernikahanmu besok berjalan lancar tanpa ada gangguan." Kikan bengong mendengarnya dan mengurungkan memasukkan sesuap nasi dan ayam goreng ke mulutnya.
"Tapi, gak pa-pa wes, mulai besok saja puasanya, kamu udah terlanjur sarapan gitu", ujar ibu akhirnya membuat Kikan lega.
Kikan sarapan dengan lahap ditemani ibu di sampingnya yang asyik bertutur tentang hal apa saja yang harus dilakukan calon pengantin. Ibu juga menerangkan rangkaian acara yang akan dilalui Kikan mulai acara lamaran, widodaren, siraman, pengajian, bubak sampai akad nikah dan resepsi semua diterangkan ibu dengan detail yang dijawab Kikan dengan anggukan kepalanya saja.
Kikan tidak berani menolak semua rencana ibunya, Kikan takut itu akan membuat ibu kecewa. Kikan yakin sekali kalau ibu selalu ingin membuatnya bahagia, makanya semua dipersiapkan begitu istimewa oleh ibu. Rasanya Kikan beruntung banget mempunyai ibu yang super perhatian ini. Kikan berharap apa yang dia lakukan tidak pernah mengecewakan ibunya. Meskipun Kikan tahu, kehamilannya ini pasti membuat ibunya kecewa tapi semua akan terbayar dengan pernikahannya ini. Akh, rasanya Kikan gak sabar menanti pernikahannya.
"Bu, Kikan berangkat dulu ya", ucap Kikan segera bangkit.
"Kamu diantar Nak Ranu ?", tanya ibu.
"Enggak Bu, Mas Ranu ada meeting pagi. Kikan naik ojek online".
"Ya wes kalau gitu, hindari dulu ketemu Ranu kalo gak penting banget. Ora ilok, kata orang Jawa kalo sepasang manten bolak balik ketemu sebelum hari H", pesan ibu lagi.
"Iya Bu, Kikan akan ingat itu. Kikan berangkat ya ", jawab Kikan lalu mencium tangan ibunya dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Hati-hati Nduk ", pesan ibu terdengar khawatir. Kadang firasat ibu memang lebih tajam.