Sebuah Kisah Tentang Kikan

Sebuah Kisah Tentang Kikan
Pelanggan yang aneh


__ADS_3

"Mel, hari ini saya mau ngantar baju pesanan Bu Fira terus sekalian mau belanja bahan. Tolong kamu handle yang di ruko ya ?", ucap Kikan hari ini.


"Iya Mbak, apa nanti ada customer yang mau ke sini, Mbak ?", tanya Amel.


"Gak ada kok, baju pesanan mereka on proses semua jadi gak ada yang bakalan ke sini kecuali kalau ada pelanggan baru lagi. Tapi kamu bisa kan ?".


"Iya, Mbak. Mbak Kikan santai saja, saya sudah paham kok", ucap Amel sambil mengacungkan jempolnya.


"Ya sudah, aku berangkat dulu ya !", pamit Kikan sambil berlalu meninggalkan ruko.


"Iya, hati-hati, Mbak!", seru Amel.


"Mbak Kikan sudah berangkat, Mel ?", tanya Rika yang baru keluar dari toilet.


"Iya ..., eh kamu sudah selesai nyetock kainnya ?".


"Sudah kok, aku mau ngelanjutin masang payet nih bantuin Ida biar cepet selesai", jawab Rika sambil mulai menyiapkan akan menjahit.


"Eh, Pak Hendy kok sekarang gak pernah kirim makanan lagi ya ? Padahal dengan begitu aku bisa ngirit uang makan siang ku", ucap Rika.


"Huh ..., ngawur kamu ".


"Hehehe ...., tapi kadang heran juga sama Mbak Kikan kenapa kok betah jomblo ya ?. Padahal dia cantik, pinter, udah punya usaha sendiri lagi ya walaupun udah punya anak satu tapi Mbak Kikan masih muda kok bahkan kelihatan lebih muda dari kita-kita, ya gak ?", ucap Rika lagi.


"Gak tahu, Rik. Aku gak mau ngurusin orang. Mungkin Mbak Kikan lebih nyaman jadi jomblo daripada punya pacar tambah ribet jadinya".


"Huh ... kalau aku sih pingin banget punya pacar. Apalagi kayak Pak Hendy, udah ganteng, baik, tajir lagi, ya meskipun tubuhnya kurang proporsional tapi itu bisa diatur sih ".


"Huh ... itu sih mau mu, Rik. Pak Hendy-nya yang gak mau sama kamu ".

__ADS_1


"Andai saja Pak Hendy tahu, kalau sebenarnya aku juga ...."


"Sebenarnya apa ? jangan aneh-aneh Lo. Tuh si Toni mau kamu taruh mana ?"


"Ah ... dia masih pedekate, sudah gitu gak jelas lagi. Masak tarik ulur terus, sebenarnya serius gak sih. Sampai kesel aku ", ucap Rika sambil cemberut. Sedang Amel hanya tersenyum melihat tingkah Rika. Pembicaraan mereka segera terhenti saat seorang ibu setengah tua dengan wajah angkuh masuk ke ruko tersebut.


"Selamat siang, Bu, bisa kami bantu ?", sapa Amel ramah. Wanita setengah tua itu hanya diam sambil sibuk mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan ruko. Wanita itu sekali-kali melihat-lihat baju yang ada di etalase ruko dan yang di pajang.


"Ini baju ready stock kami, Bu. Kebanyakan baju kami hanya satu pcs, satu model. Kebetulan yang ready stock ini dibuat berdasarkan pesanan dan masih ada sisanya. Mungkin Ibu ada yang minat ?", ucap Amel lagi sambil mengikuti langkah kaki wanita setengah tua itu. Namun wanita itu hanya diam sambil menyunggingkan senyum yang cukup angkuh.


"Apa tidak ada model yang lain ?", tanya wanita itu akhirnya.


"Ibu ingin mengenakan pakaian untuk acara apa ?", tanya Amel sopan.


"Saya biasanya belanja baju untuk acara arisan. Tapi, acara arisan saya bukan arisan biasa. Arisan saya selalu didatangi ibu-ibu pejabat dan bahkan artis terkenal jadi rasanya baju yang saya kenakan harus istimewa tidak biasa-biasa saja seperti baju-baju yang ada di sini", ucapnya sombong.


"Maaf Bu, tapi baju yang ada disini limited edition semua kok. Kalau Ibu tidak berkenan dengan yang ready stock, Ibu bisa memesan model lain. Insya Allah kami bisa memenuhi sesuai pesanan", terang Amel.


"Maaf, Bu, kalau untuk waktu yang secepat itu Butik kami belum bisa. Minimal order H-7, baru kami bisa itupun desainnya tidak terlalu detil dan tidak ada permak lagi jadi langsung pakai", terang Amel lagi.


"Mungkin Ibu sudah membawa desain sendiri, kami bisa bantu tapi ya itu tadi minimal order H-7 ", ucap Rika membantu Amel.


"Huh ... berarti butik kalian masih kelas anak-anak, gitu saja promosinya besar-besaran. Rugi saya sudah datang ke sini. Saya pikir akan sehebat iklannya. Mana pemilik butiknya ?", tanya wanita itu lagi.


"Kebetulan Mbak Kikan sedang keluar, Bu", jawab Amel.


"Jadi Kikan, nama pemilik butik ini. Benar-benar gak profesional, masak menyerahkan begitu saja ke pegawainya. Apa dia yang merancang semua desain baju ini ?. Saya ragu, ini semua hasil rancangan nya, jangan-jangan dia menjiplak desain orang lain ya"


"Maaf Bu, ini benar rancangan Mbak Kikan semua. Mbak Kikan juga lulusan sarjana desain Universitas ternama di kota ini kok, Bu, jadi gak diragukan lagi keahliannya dalam mendesain baju", jawab Amel berusaha sabar.

__ADS_1


"Huh ... aku pikir lulusan dari luar negeri, ternyata dari kota ini saja. Payah itu sih ...., pantes saja desainnya terkesan norak. Maaf, aku gak berminat belanja di toko ini, kurang mewah dan kurang mahal harga bajunya. Tolong katakan ke majikan mu, si Kikan itu bilang kalau mau bikin baju yang bagus dikit jangan norak gitu, kampungan banget. Ih ....", ucap wanita itu sambil berlalu keluar dari ruko. Amel dan Rika saling berpandangan menatap kesal ke arah wanita tadi.


"Huh .... reseh banget tuh orang, kurang kerjaan kali. Sudah masuk ke toko orang, pilih-pilih baju, gak jadi beli akhirnya. Kamu lihat gak gaya pakaiannya, norak banget kan. Gitu ngatain desain Mbak Kikan norak, apa gak kebalik tuh ?", omel Rika.


"Iya, kesel banget aku denger omongan dan gayanya itu. Untung saja aku masih punya stock sabar banyak jadi gak ku marahin tuh orang", ucap Amel.


"Hehehe .... pantesan mukamu tadi kok aneh gitu, kamu lagi nahan marah rupanya ya ? Hahaha ", ucap Rika disambut tawa cekikikan nya.


"Selamat siang ....", tiba-tiba sebuah suara menghentikan tawa mereka berdua. Rika dan Amel spontan menoleh ke arah suara itu.


"Pak Hendy ...", ucap Rika kaget. Pemilik suara yang tak lain Hendy hanya tersenyum kepada Rika dan Amel.


"Mbak Kikan sedang keluar, Pak ", jawab Amel.


"Iya, Mbak Kikan sedang nganter baju sekalian belanja bahan, Pak", sahut Rika.


"Oh ... gitu, ya sudah kalau gitu saya langsung balik saja. Saya cuma mau ngantar ini, tadi kebetulan baru grand opening", ucap Hendy sambil menyerahkan sekotak kue brownies.


"Loh ... Pak, kami dilarang Mbak Kikan terima pemberian Bapak", kata Amel lagi.


"Kalau gitu, bilang saja kalian yang pesan via online kebetulan lagi promo grand opening ", ucap Hendy lagi. Rika dan Amel saling berpandangan lagi.


"Kalau alasan gitu gak pa-pa ya ?", tanya Rika. Amel hanya mengangkat bahunya.


"Saya pikir Kikan gak akan marah, saya taruh sini ya. Maaf, saya harus kembali ke kantor. Jangan bilang Kikan ya, kalau saya dari sini", ucap Hendy sambil berpamitan dan berlalu. Sedangkan Amel dan Rika hanya mengangguk.


"Gimana ini, Rik ?", tanya Amel.


"Ya ... udah, bilang saja tadi kita beli by online karena ada promo grand opening gitu saja", ucap Rika.

__ADS_1


"Iya deh, gitu saja deh". Amel dan Rika saling mengangguk mengiyakan lalu keduanya menyibukkan diri lagi melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2